
"Sungguh istimewa," ulangku lagi. Aku memundurkan waktu tepat 1 bulan terhitung dari waktuku tiba di kolam air panas, biasanya ketika menjelajah waktu ke masa lalu, aku takkan terlihat dan tak bisa berinteraksi, tepat seperti perjalananku ke kerajaan api. Tapi ternyata tak berlaku saat panggilan waktu, panggilan waktu menghancurkan semua batasan. Aku menatap langit biru yang kini mulai terang sepenuhnya akibat mentari yang mulai muncul perlahan.
"Ayo Balin," satu jawaban berhasil kudapatkan. Aku menjauhi pasar dan berjalan ke arah rumah makan yang tepat berada di seberang pasar. Bangunannya tampak tua, tapi luas dan bertingkat 3. Balin mengikuti di belakangku, "Balin kuingatkan sekali lagi, apapun yang terjadi, tolong kendalikan emosimu."
"Baik, Yang Mulia."
Aku melanjutkan langkahku hingga masuk ke dalam rumah makan, aku melihat hampir semua meja penuh, orang-orang terlihat bercengkrama dengan bebas dan leluasa, dilihat dari pakaian mereka yang sederhana dan beberapa barang dagangan yang mereka bawa, aku menduga mereka adalah para pedagang yang sedang singgah. Mataku beralih menatap tangga yang tepat berada di tengah ruangan, beberapa orang dengan baju yang tak murah terlihat menaiki tangga, tampaknya lantai dua lebih nyaman bagi mereka, jadi ada perbedaan kasta kah di sini? Lalu bagaimana dengan lantai tertinggi?
"Selamat pagi nona muda, mari kami antar ke atas." Seorang laki-laki memakai yang tampaknya pelayan rumah makan ini langsung menunjuk lantai atas. "Mari, nona muda."
"Apakah tidak ada meja kosong di lantai ini?" tanyaku dengan nada sopan.
"Ada nona, tapi tidak untuk wanita." Pelayan itu menjawab dengan nada sopan tapi tegas, "tidak baik jikalau nona duduk diantara banyak lelaki seperti ini, akan lebih nyaman jika nona duduk di lantai atas, selain ruangannya lebih luas, juga terdapat tirai yang bisa diturunkan guna menjaga privasi nona muda."
Aku tersenyum, awalnya aku mengira ada perbedaan kasta yang diterapkan di rumah makan ini, tapi nyatanya jauh lebih mulia dari yang kusangka, mereka hanya ingin menjunjung martabat wanita.
"Baiklah, tolong antarkan kami ke lantai atas."
"Mari," pelayan itu berjalan di depanku dan menuntun kami menaiki tangga kayu yang kokoh, dari tangga ia berbelok ke kanan. Berbeda dengan lantai dasar yang terisi dengan banyak meja dan kursi yang ditata, lantai ini memiliki beberapa ruang yang disekat oleh tirai, walaupun saling berdempetan tapi terlihat lebih menjaga privasi saat tirai diturunkan, walaupun aku melihat ada beberapa orang yang tetap memilih untuk tidak menurunkan tirai, jadi kurasa menurunkan tirai atau tidak adalah sebuah pilihan yang bebas.
"Silahkan nona muda," pelayan itu mempersilahkan kami duduk di salah satu ruangan bertirai yang terletak di pojok ruangan, aku mendudukkan diri, berbeda dengan Balin yang masih berdiri tegak di belakang pelayan, ia tampaknya enggan untuk duduk.
"Balin, tolong duduklah!" perintahku melalui telepati, ia tampak tak setuju tapi aku menatapnya tajam. "Ini perintah Balin!"
__ADS_1
Ketika aku mengeluarkan kata perintah, barulah Balin melangkah dan duduk di hadapanku, ia pun masih duduk dengan sikap sempurna, memerankan pengawal pribadi dengan sangat baik, tapi justru inilah yang selalu membuatku kesal, tidak bisakah ia bersikap santai sekali saja padaku?
"Maaf Nona, sebelumnya saya informasikan peraturan rumah makan ini." Aku menatap pelayan dengan sedikit kaget tak menyangka, baru kali ini aku menemukan rumah makan dengan aturan. "Tidak boleh melakukan kontak fisik selama berada dalam rumah makan ini, saya mohon agar nona menepatinya dengan bijak."
Aku melongo saking kagetnya, kontak fisik? Apa dia mengingatkanku karena aku datang dengan Balin hanya berdua saja? Wah, pelayan ini sungguh lugas.
"Berapa banyak orang yang telah mencaci maki anda ketika anda mengatakan aturan ini, tuan?" tanyaku penasaran.
"Tidaklah penting berapa banyak caci maki yang saya dapatkan, yang terpenting adalah saya telah berusaha menjaga martabat pelanggan wanita yang datang."
Aku tersenyum mendengar jawaban bijaknya, "kenapa anda hanya berbicara pada saya, bukan pada teman saya?"
"Karena kami mendahulukan wanita, nona. Kami ingin setiap wanita menyadari bahwa mereka dihormati dan dihargai di rumah makan ini."
"Pasti banyak laki-laki yang tersinggung dengan cara anda memperlakukan wanita yang datang bersama mereka," kataku lagi menimpali.
Pelayan itu menjentikkan jari dan muncullah daftar menu yang melayang diantara aku dan Balin. Aku menggunakan telepati karena Balin tampak diam dan tak memperhatikan menu yang ada. "Balin, apa yang ingin kau pesan?"
"Tidak ada Yang Mulia," jawaban Balin yang diutarakan lewat telepati membuatku menghela nafas panjang.
Aku beralih menatap pelayan, "tolong sajikan kami makanan yang paling sering dipesan, trimakasih sebelumnya."
Pelayan itu kembali menjentikkan jari, daftar menu hilang seketika. "Baik nona, silahkan menunggu sebentar," pelayan itu lalu undur diri dan menghilang dari pandanganku.
__ADS_1
Melihat Balin yang masih bersikap sempurna duduk di hadapanku dengan membisu, aku merasa malas mengajaknya bicara, aku enggan membuat diriku kesal karena jawaban Balin yang singkat, ia hanya akan menjawabku panjang lebar jika mengenai sesuatu yang penting dan berhubungan dengan pekerjaannya, selain itu yang kuterima hanyalah jawaban satu dua kata.
Aku memejamkan mata, seketika suara-suara perbincangan orang-orang di rumah makan ini menyeruak masuk ke dalam telingaku.
"Aku takut ketika mencari herbal saat malam, hutan tampak gelap gulita. Tapi aku tak ada pilihan karena harus bekerja di pagi hari," suara seorang wanita yang terdengar sedang mengeluh.
"Kau tahu, aku bahkan harus pergi ke kerajaan tetangga hanya karena istriku yang sedang hamil menginginkan daging. Harga daging sangat mahal ketika bukan waktu perburuan, aku tidak punya pilihan lain."
Aku terus fokus mencoba memilah keluhan-keluhan dari semua pembicaraan yang ada di rumah makan ini.
"Apa kau sudah melihat keadaan Tuan Han hari ini? Aku selalu khawatir karena Tuan Han tinggal seorang diri, ia adalah orang yang baik tapi menyedihkan melihatnya hidup kesepian."
"Anaknya terlalu sibuk di ibu kota, dan ia terlalu murah hati karena membebas tugaskan seluruh pelayannya, mungkin hidup sendiri adalah pilihannya."
"Aku ingin bekerja dan mendapatkan uang yang banyak, tapi aku tak tega meninggalkan orang tuaku."
"Aku sedih mendengar keadaan Putri Lia yang semakin hari semakin memburuk, untung saja tuan muda Liam setia mendampingi di sampingnya."
Tuan Putri Lia? Liam? Dua nama ini tak asing bagiku, aku ingat pernah mendengarnya baru-baru ini. Aku bertahan dan mencoba mendengar percakapan ini lebih lama.
"Untunglah Putri Lia mendapatkan laki-laki yang setia seperti tuan muda Liam, aku tak bisa membayangkan di tengah sakitnya ia harus ditinggalkan orang yang ia cintai, jika saja waktu itu Putri tidak memiliki keberanian untuk tetap memilih bersama tuan muda Liam dan meninggalkan segalanya."
"Putri mengorbankan segalanya demi bersama tuan muda Liam, dan sekarang tampaknya tuan muda Liam membalas semua cinta Putri Lia dengan tetap setia berada di sampingnya."
__ADS_1
"Jangan lupakan jasa Pangeran Ken, karena Pangeran lah mereka bisa tetap bersama hingga hari ini."
Siapa lagi pangeran Ken?