
"Varen kenapa kau diam saja? Bukankah harusnya kamu membantuku membujuk permaisuri?" aku berkata dengan sedikit merengek, tidak seharusnya Varen hanya diam melihat cincin pusaka keluarganya bertengger di jari manis tangan kiriku.
"Kalau sudah diberikan maka tak boleh dikembalikan," jawab Varen sama persis seperti ucapan Permaisuri padaku pagi tadi.
"Varen tolong berpikirlah, mereka salah sangka terhadap hubungan kita. Bagaimana kalau mereka sampai menikahkan kita? Apa kamu mau menikah tanpa cinta?" sungutku sebal padanya.
"Jadi, kau tidak mencintaiku?" Varen menatapku dengan sepasang mata birunya.
Aku mendengus kesal, bagaimana bisa dia mengembalikan pertanyaan padaku? Dasar menyebalkan! "Apa ada yang bisa mencintai secepat itu? Kita bahkan baru bertemu kemarin! Kau bahkan tidak tahu asal-usulku, begitupun sebaliknya, aku tidak tahu bagaimana sifat dan kebiasaanmu, bagaimana bisa mencintai?"
Varen melangkah mendekatiku, hingga jarak kami hanya dua jengkal. "Kalau sudah cinta, ya cinta saja! Tidak butuh banyak alasan," aku sedikit mengangkat kepalaku, karena Varen lebih tinggi dariku. Aku tidak bisa membaca matanya, sontak aku semakin kesal dan mundur beberapa langkah, mencoba menjauh darinya.
Aku hendak kembali melontarkan protesku ketika terdengar suara seseorang berlari mendekat, "Hormat hamba Yang Mulia."
Seseorang yang berpakaian perang lengkap dengan jubah panjang berlambang singa emas, membungkukkan badannya ke arah Varen. "Ada apa jendral?"
Sang Jendral menatap ragu dan melihat sekilas ke arahku. Varen menangkap tatapan itu, tiba- tiba ia berjalan ke arahku dan menggandeng tangan kiriku. "Bicaralah!"
__ADS_1
Sang Jendral menatap tanganku yang digenggam Varen, ia tampak sedikit terkejut. Aku risih dan berusaha melepas genggaman tangan Varen, tapi semakin aku berusaha, maka semakin kuat ia menggenggam, entah dari mana kekuatan yang ia dapatkan, kalau aku tidak berhenti, mungkin tulangku bisa hancur olehnya. Pada akhirnya aku hanya bisa pasrah.
"Lapor Yang Mulia, pengamanan sudah dilakukan sesuai perintah Yang Mulia." Jendral itu menghentikan kata-katanya, ada kekhawatiran yang jelas terpancar dari wajahnya. "Saya masih khawatir jika kali ini masih belum cukup juga, Yang Mulia," Jendral itu berkata jujur, aura merahnya terlihat kuat.
"Katakan Drew apa yang membuatmu khawatir!" Varen menatap jendralnya, aura dinginnya mulai terasa menguat.
"Ramalan itu," sang jenderal balik menatap Varen. "Hamba rasa kita harus bersiap, jika ramalan itu benar terjadi," Ucap Jendral Drew penuh keberanian.
"Maaf, ramalan apa yang anda bicarakan?" aku tahu kalau aku tidak sopan untuk menyela pembicaraan keduanya, tapi rasa penasaranku tak tertahankan.
Hawa dingin Varen menguar keluar dari tubuhnya, aku menyalurkan beberapa aura emas dari genggaman tanganku, mencoba menghangatkannya dan menghangatkan diriku sendiri, aku harap emosinya terkendali.
"Banyak makna yang bisa didapat dari ramalan itu, tak ada salahnya bersiap untuk kemungkinan terburuk, selagi masih ada lapisan pelindung mungkin kita bisa sedikit lega," kataku menyalurkan pemikiran.
"Lapisan pelindung?" tanya keduanya bersamaan.
Oh astaga aku lupa kalau aku sedang tidak berada di tiga kekaisaran! Aku menatap Varen dan Jendral Drew bergantian, "bukankah pencegahan teraman adalah membuat lapisan pelindung?"
__ADS_1
"Lapisan pelindung tidak mudah dibuat, harus ada banyak orang berbakat ahli untuk membuatnya, tidak bisa sembarangan." Aku melongo mendengar kata-kata Varen, kalau begitu seberapa banyak orang berbakat yang membuat lapisan pelindung ketiga kekaisaran? Tunggu hukankah lapisan pelindung naga api hanya dibuat oleh kakek dan nenek? Seberapa hebatnya mereka berdua? Tapi bukankah aku pernah membuatnya sebelumnya? walaupun kalau dipikir-pikir skalanya kecil, tapi tak lama kemudian aku kembali patah semangat karena teringat kalau auraku masih tersegel.
"Kalau begitu bagaimana dengan barrier pelindung?" Mungkin tidak sesempurna lapisan pelindung yang dapat melindungi dari segala arah, tapi setidaknya bisa melindungi dari dua arah. Mataku berbinar bagai menemukan jarum di tumpukkan jerami, "bukankah kita bisa membuatnya?"
"Usul yang bagus Nona, tapi jika kekuatan dari orang-orang berbakat dihabiskan untuk membuat barrier, maka pada acara nanti malam kita hanya bisa bergantung pada kekuatan fisik, tanpa sihir sama sekali." Jendral Drew menganalisa pendapatku, aku sedikit mengernyit. Menghabiskan kekuatan? selama ini aku membuat banyak barrier pelindung tanpa mengalami efek samping yang berat, kecuali saat peristiwa petir suci. Aku penasaran , apakah aku masih bisa membuatnya dengan aura pelangiku yang masih tersegel?
Aku berpikir dalam diam, Jendral Drew dan Varen pun tampak hanyut dalam pikiran masing-masing. Seingatku selain aura pelangiku yang tersegel, aku menyerap energi dari matahari, aku punya aura emas. Aku juga masih menyimpan aura putih suci milik ibu Varen, selain itu ada aura biru yang sangat kuat yang kudapat tadi pagi dari cincin pusaka keluarga Varen.
Rasa penasaranku kembali tak terbendung. Aku melepas genggaman Varen kali ini ia melepaskan tanpa perlawanan, aku melangkah menuruni gazebo meninggalkan Varen dan Jendral Drew yang masih hanyut dalam pemikiran mereka. Varen hanya mengikutiku dengan ekor matanya, membiarkan aku melakukan yang kumau. Aku berjalan menjauhi mereka menapaki jalan setapak yang dihiasi taman bunga di sekelilingnya, hingga mendekati tembok istana di ujung taman belakang. Beberapa puluh meter dari Gazebo tempat Varen dan Jendral Drew berdiri.
Aku mencoba fokus, menggabungkan tiga aura yang kumiliki dan kembali menyerap energi sinar mentari yang tiada batasnya menyinari siang ini. Kukibaskan tangan kananku dan ku arahkan ke tembok istana.
"Duar!" Ledakkan aura keluar dari tangan kananku menciptakan barrier transparan yang berwarna ungu emas, mungkin campuran dari tiga aura yang kuserap, barrier itu terus tercipta hingga sempurna mengelilingi istana. Memanfaatkan momentum yang ada, aku memfokuskan ketiga aura, menutup kedua mataku dan mengharapkan kemustahilan. Kugerakkan kedua tanganku ke langit, menyerap aura mentari sebanyak yang kubisa, mencampurnya dengan 2 aura yang ada dalam diriku, lalu ku kembalikan ke langit.
"DUAAAARRRR!!!" Ledakan dahsyat terdengar memekakkan telinga, tiga aura yang kupunya terasa tersedot habis keluar dari tubuhku. Aku membuka mataku, menatap langit. Aku tersenyum, syukurlah aku melihat sebuah lapisan pelindung berwarna ungu emas senada dengan barrier pelindung yang kubuat, melingkupi langit kekaisaran perak. Tipis dan tidak sesempurna lapisan pelindung naga api tapi setidaknya aku berharap bisa memberi sedikit bantuan untuk Varen dan keluarganya. Mereka telah memperlakukan aku dengan sangat baik, maka aku sedikit puas, aku tidak memiliki apapun untuk berterima kasih, setidaknya barrier dan lapisan pelindung bisa membuat hatiku sedikit tenang.
Pandanganku mulai tak fokus, rasanya lemas dan pusing. Aku berusaha kembali menyerap aura mentari, tapi tampaknya aku sedikit kelelahan. Tubuhku limbung dan hampir jatuh ke tanah saat sepasang tangan pucat nan dingin menangkapku. Sapasang tangan itu menggendong tubuhku dalam pelukannya.
__ADS_1