Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
67. Pilihan


__ADS_3

Malam telah tiba, aku merebahkan diriku di kursi panjang yang kosong di atap, menyelimuti diriku sendiri dengan selimut yang ditinggalkan Ken untukku. Mataku memandang langit yang kini tampak penuh dengan bintang, sungguh tak sama dengan mimpiku bersamanya. Apakah kami hidup di bawah langit yang berbeda?


Aku menghela nafas panjang, banyak hal yang harus kuselesaikan. "Balin, tolong belikan aku tanah yang luas di pusat kota, setidaknya bisa menampung ribuan orang."


Balin menampakkan dirinya dan bersimpuh di hadapanku, aku mengulurkan kantong merah berlambang matahari emas padanya. Balin menerima kantong itu dan menyimpannya, ia memberi hormat dan menghilang bagai lenyap di telan bumi.


Angin malam berhembus menerbangkan rambut perak panjangku yang kubiarkan tergerai, aku menaikkan selimutku.


"Nona, apa yang anda lakukan di sini?"


Lia berjalan ke arahku dengan tubuh yang sedikit bergetar, "oh ya ampun, bukankah dingin?"


Aku beranjak ke arah Lia dan membungkus tubuhnya dengan selimut yang tadi kupakai. Aku menjentikkan jari, barrier-barrier penghangat muncul seketika membuat dinding tak kasat mata di atap, udara menjadi lebih hangat dari sebelumnya.


"Bolehkah saya berbaring di sana?" tanya Lia menunjuk kursi panjang di samping kursi yang ku pakai tadi. Aku mengangguk memberinya jawaban, ia pun segera melangkahkan kaki dan berbaring.


Aku mengikutinya, aku duduk di kursiku dan menatap Lia yang membaringkan tubuhnya di sampingku.Tanganku bergerak menggeser selimut agar menutupi tubuhnya, meski barrier penghangat telah kupasang, aku masih takut kalau-kalau ia kedinginan.


"Lia, hari ini aku menemui beberapa orang." Lia menatapku dengan mata indahnya, ia diam tapi menyimak dengan baik. "Dari mereka aku mengetahui kalau rasa sakit yang kau rasakan setiap hari, kemungkinan besar berasal dari auramu yang tersegel. Aura itu harusnya teraktifasi saat usiamu menginjak tujuh belas tahun, tapi karena bertolak belakang dengan aura lahirmu maka kau merasakan kesakitan yang luar biasa."


Mata Lia menampakkan ketertarikan, aku melanjutkan kata-kataku sambil mengingat bahwa tak ada yang terlewat. "Tabib yang datang padamu waktu itu, memilih jalan menyegel auramu, mungkin ia berniat melepaskan segel ketika kau telah siap menahan sakitnya, tapi sayang ia meninggal dan tak dapat menuntaskannya."


"Jadi maksud nona, sakitku akan sembuh jika segel auraku terlepas?" tanya Lia bersemangat.


Aku menggeleng lemah, "ketika segel aura dilepaskan, kau akan merasakan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit yang seharusnya kau tanggung di usiamu yang ke tujuh belas."


"Apa yang kalian bicarakan?"


Aku menghela nafas panjang, aku tahu cepat atau lambat Ken pasti akan mengetahuinya, Lia tampak terkejut mendapati kakaknya muncul secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Kuulangi lagi pertanyaanku, apa yang kalian bicarakan?" tanya Ken yang kini tepat berada di hadapanku dan Lia, matanya menatap tajam ke arahku, auranya terasa menguar kuat.


"Aku tidak ingin menjelaskannya satu per satu, jadi keluarlah Liam!"


Liam keluar dari arah tangga, langkahnya tampak terhuyung. Lia kembali terkejut mendapati suami yang ia kira tengah tertidur lelap ternyata bersembunyi di tangga.


Aku menjentikkan jari dan menciptakan dua kursi yang saling berhadapan di antara aku dan Lia. Tanpa kusuruh Ken dan Liam langsung mendudukkan diri, mereka menatapku penuh harap.


"Aku tidak akan mengulangi kata-kataku dari awal karena aku yakin kalian telah mendengarnya dengan jelas," melihat dari ekspresi keduanya aku yakin mereka telah menguping jauh bahkan sebelum pembicaraan dimulai.


"Ketika segel dilepaskan, Lia akan merasakan rasa sakit yang luar biasa, jauh berkali-kali lipat dari apa yang dirasakannya sekarang, rasa sakit yang harusnya Lia tanggung saat menginjak usia ke tujuh belas, jadi Lia apakah kau sanggup dan yakin bisa menanggungnya?"


"Apakah anda peenah merasakannya? Kenapa anda dengan gampangnya menanyakan hal itu? Kenapa anda mendesak istri saya?" Liam menatapku tidak suka.


"Bukankah anda terlampau tidak sopan, tuan Liam?"


Aku menoleh dan mendapati Aciel menatap tajam ke arah Liam, ia mendekat ke arahku dan mendudukkan diri di sampingku, di kursi panjangku, membuat Aciel berada tepat diantara aku dan Ken.


"Aku tidak akan pergi dari sini, jadi anggap saja aku tak ada."


Aku menghela nafas panjang, dan membiarkan Aciel bertingkah.


"Maaf jika aku terlalu mendesakmu, Lia. Maaf karena aku tak paham apa yang kau rasakan."


Aciel melirik ke arahku, "apa maksudmu? Kau bahkan merasakan berkali-kalimmmmpppffff." Aku membungkam mulut Aciel sambil meperingatkannya.


"Diam, atau pergi!" Ancamku pada Aciel yang membuatnya memilih untuk diam.


Lia tampak meremas ujung selimut yang dipegangnya, "ingatan akan rasa sakit itu masih jelas, saya ragu saya bisa menahannya."

__ADS_1


"Apa ada cara lain?" Ken menatapku penuh harap.


"Membaginya," ucapku meniru kata-kata ibunda.


"Apa maksudmu nona?" Ken tampak tak sabar.


"Lia perlu membagi rasa sakitnya, jika aura lahir Lia adalah aura tembaga maka jika dilihat dari garis keturunan keluarga kemungkinan besar aura yang tersegel adalah aura tanah atau aura hijau penumbuh, maka kita perlu orang dengan aura tersebut."


"Aku memiliki keduanya," Ken menatapku yakin.


"Saya juga memiliki aura tanah," sahut Liam yang kini tampak menggenggam tangan Lia.


"Tapi membaginya pun, tidak akan menjamin keselamatan nona Lia," Aciel kembali bersuara. Kali ini aku mengangguk, aku setuju dengan kata-kata Aciel, mungkinkah Aciel menerobos masuk karena tahu aku tak bisa menyampaikan kabar buruk?


"Membagi rasa sakit tidak berarti menghilangkan rasa sakit dari sumber utama, nona Lia tetaplah menjadi sumber utama penanggung rasa sakit, dan orang yang rela berbagi hanya bisa menanggung sedikit dari rasa sakit yang nona Lia rasakan, selain itu kalianpun bisa mentransfer energi untuk menopang nona Lia, tapi kuulangi, semua itu tetaplah tidak menjamin keselamatan nona Lia." Aciel terdengar serius, ia menekankan poin penting yang menyakitkan.


"Jadi intinya, kalian tidak bisa memindahkan rasa sakit Lia sepenuhnya?" Liam bertanya dengan nada yang lebih halus dari sebelumnya.


"Ya," aku dan Aciel mengangguk bersamaan.


"Kemungkinan terburuk pun tak dapat dihindari, benarkah?" Kali ini Ken menatapku sendu.


Aku memberinya anggukan, "aku tahu ini berat tapi bukankah lebih baik berusaha semampu kita agar tidak menyesal di kemudian hari?" Tatapanku tertuju pada Lia, "apapun hasilnya, setidaknya kita tahu bahwa kita telah berusaha semaksimal mungkin, melakukan segala upaya yang bisa kita lakukan, hingga tak ada penyesalan."


"Apakah keabadiannya tak berpengaruh sama sekali?" Ken memotong kata-kataku.


"Orang yang kutemui mengatakan bahwa keabadiannya telah terkikis akibat segel auranya yang tidaklah alami, dan orang itu memintaku untuk memberikan hak pada Lia untuk memilih," tatapanku kembali tertuju pada mata cantik Lia yang kini terlihat gusar. "Ia memintaku untuk memberi Lia hak sepenuhnya untuk memutuskan, karena Lia berhak memilih jalan hidupnya, dan kita wajib mendukung pilihan yang ia pilih."


Aku menatap tepat di mata Lia yang kini tampak berkaca-kaca, "aku berjanji akan mendukung apapun keputusanmu, maka pikirkanlah baik-baik."

__ADS_1


Aku menatap langit, "aku berharap semua orang di sekelilingku bisa hidup bahagia tanpa penyesalan."


Seketika serbuk emas turun dengan derasnya bagaikan hujan di malam yang penuh bintang, memberi berkah bagi orang-orang yang berarti bagiku.


__ADS_2