Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
75. Sekolah


__ADS_3

"Bukankah kau harus membereskan semua ini?"


Aku melihat semua teman-temanku bagaikan patung, waktu masih terhenti hingga angin pun tak bertiup sama sekali.


"Kenapa aku? Bukan aku yang melakukannya," Varen mengedikkan bahu menatapku heran.


"Apa? Kalau bukan kau siapa lagi?"


Varen menatapku lurus, "kau, Aira."


"Aku?" ulangku tak percaya.


Varen mengangguk, lalu ia menatap ke arah langit. "Kau menjelajah waktu menggunakan kekuatanmu, membawa beberapa orang dari masa depan ke masa lalu, walaupun selisih jarak waktu hanya dalam hitungan bulan, tapi tetap akan merubah masa lalu, maka ketika kau pingsan dan kehilangan kekuatanmu, maka pengaruhmu di dunia ini pun tergganggu, membuat bingung sang waktu, maka waktu pun berhenti menunggumu."


"Tapi kau sama sekali tak terpengaruh," keluhku lirih.


Varen tersenyum dan memandangku dengan matanya yang kini tampak cerah. "Kita adalah belahan jiwa, jadi aku sama denganmu dan kau sama denganku."


Aku melongo, "maksudmu kau juga pengendali waktu?"


Varen menggeleng, "bukan pengendali waktu, tapi aku sama sepertimu."


"Aira," Varen meraih kedua tanganku dan menyatukannya dalam genggamannya. Aku sedikit menengadah menatap wajahnya, menunggunya berbicara.


"Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, dan tampaknya kau pun begitu." Varen mencium kedua punggung tanganku lembut, "aku akan segera kembali, ingat jangan lakukan hal-hal berbahaya tanpaku, apa kau janji?"


Aku tersenyum lalu mengangguk, "tentu!"


"Baiklah, jaga diri baik-baik!" Varen melepas genggamannya dan masuk ke dalam portal esnya, aku sempat bertanya-tanya, apakah portalnya dingin seperti wujudnya?


Aku menghela nafas panjang, dan menjentikkan jari, angin malam kembali berhembus menerbangkan ujung rambutku. Tampaknya sewaktu bangun tadi, Varen membuat ilusi sinar mentari untuk selalu menghangatkanku karena ia tak bisa mengubah waktu yang terhenti di malam hari, kini aku sadar bahwa semua kembali tepat pada saat aku berhasil membangkitkan Aura Lia.


Mataku tertuju pada Lia yang kini terang bercahaya, ketiga auranya terbangkitkan dengan sempurna. Liam memeluk dan mencium Lia berulang kali, mereka tampak sangat bahagia.

__ADS_1


"Yang Mulia, apa anda baik saja?" Balin menghampiriku dengan tergesa, ia mengecek seluruh tubuhku dengan matanya yang tajam.


"Lin, aku baik saja." Aku tersenyum padanya, panggilanku pada Balin bertujuan agar ia ingat untuk tidak memanggilku Yang Mulia di sini.


"Apa kau baik saja?"


"Apa kau baik saja?"


Ken dan Aciel bertanya hampir bersamaan, mereka datang ke arahku dan Balin, dengan tatapan khawatir.


"Nona Rara bahkan terlihat sangat segar seperti baru mendapat asupan energi, apa yang perlu dikhawatirkan?" tanya Joana bingung pada ketiga pria yang menatapku dengan khawatir.


Aku menggandeng lengan Joana, "betul aku juga bingung, ini adalah saat yang bahagia untuk merayakan bangkitnya aura Lia, maka mari berpesta!"


"Tentu, sebagai ucapan terimakasihku biar aku yang memgurusnya!" Ken menjentikkan jari dan seketika atap berubahbmenjadi meriah dengan lampu hias dan makanan-makanan lezat yang tertata rapi di meja-meja panjang, minuman beraneka macam tampak tersedia di seberangnya.


Lia menghampiriku dan memelukku erat, "trimakasih nona, akan kuberikan apapun yang kau minta sebagai rasa terimakasihku."


Lia melepas pelukannya dan mengangguk mantap.


"Anda telah menyembuhkan istri saya, bahkan ketiga auranya bersinar sangat terang, maka saya pun akan mengabulkan satu permintaan untuk anda, nona Rara." Liam merangkul pundak Lia, dan tersenyum hangat.


Ken ikut mendekat, "aku pun akan melakukan hal yang sama."


"Ah sepertinya keberuntungan kembali berpihak padaku kali ini," aku tersenyum penuh makna. "Sebenarnya aku punya satu hal lagi yang harus kuselesaikan tapi aku kewalahan karena membutuhkan banyak ijin dari pihak kerajaan dan kekaisaran, apakah kalian masih mau mewujudkannya?"


Ken, Lia dan Liam mengangguk mantap, tampaknya mereka takkan mengingkari ucapan mereka sendiri, aku pun bahagia bukan main.


"Aku ingin mendirikan sekolah di pusat kota, karena susah mendapat tanah kosong di sana, maka akhirnya aku membeli beberapa bangunan beserta tananahnya, tak masalah sama sekali untuk melakukan pembangunan, tapi aku butuh ijin sebelum melakukannya."


"Sekolah katamu?" Aciel ikut bergabung meninggalkan Joana dan Balin yang tampak lahap mencicipi makanan yang ada, aku sampai heran dibuatnya, baru kali ini aku melihat Balin makan sebanyak itu tanpa was-was.


Aku mengangguk, "bagaimanapun sejak menginjakkan kaki di kerajaan ini, aku sadar bahwa kebanyakan yang tinggal adalah anak-anak kecil, dan orang tua, sementara anak-anak muda memilih pergi ke pusat kekaisaran untuk mendapatkan pendidikan atau pekerjaan. Hal ini menggangguku, karena bagaimanapun berkumpul dengan keluarga adalah suatu berkah yang membawa kebahagiaan, maka aku berpikir jika membangun sekolah adalah salah satu solusinya."

__ADS_1


Kening Ken tampak berkerut, "tapi pola pikir rakyat yang tertanam saat ini adalah mengirim putra putri mereka ke sekolah terbaik yang ada di kekaisaran, meskipun mereka harus berpisah."


"Membangun sekolah baru mungkin akan sedikit sulit," Liam menambahkan.


"Aku sadar akan pola pikir itu, biar aku yang memecahkannya nanti, yang terpenting sekarang adalah tolong bantu aku untuk mendapatkan ijin melakukan pembangunannya."


Lia menatapku dengan tatapan khawatir, "tapi jika ini tak berjalan lancar, saya takut nona akan sedih dan kecewa."


Aku tersenyum membalas tatapan Lia, "oh ayolah tolong bantu aku, aku tidak akan gagal!"


"Apa kau yakin?" Aciel kini ikut bertanya.


Aku mengangguk, "tentu saja, aku punya solusi yang bagus!"


"Kalau begitu aku akan membantumu mendapatkan ijin dari kekaisaran," ucap Aciel mantap sambil mengerling padaku, tentu saja ia hanya membual karena ingin Ken, Lia, dan Liam membantuku tanpa ragu, karena ijin kekaisaran bisa kudapatkan sendiri nanti.


"Baiklah akan kuusahan untuk mendiskusikannya di rapat," ucap Ken padaku.


"Aku juga akan memastikan untuk datang dan mendukung usulan anda di rapat nanti, semakin banyak dukungan, semakin baik bukan?" Lia kini menampakkan senyum cantiknya, wajahnya berbinar menambah kecantikan yang selama ini terhias rasa sakit, aku bersyukur kini bisa melihat wajah cantiknya yang teramat sempurna.


"Terimakasih, kunantikan kabar baik dari kalian."


"Oh ya ampun apa yang kalian bicarakan di sana? Tuan-tuan dan Nona-nona kemarilah!" Joana berteriak dengan suara lantangnya, kami pun bergerak mendekat ke arah Joana dan Balin.


Joana dan Balin memberikan kami masing-masing segelas wine dengan bergiliran.


"Untuk Kejayaan Peternakan dan Budidaya Tanaman Obat Rara, bersulang!" Joana memimpin, kami pun bersulang lalu meneguk sedikit wine. Rasa yang unik mendominasi mulutku, membuatku tersenyum.


"Maaf Rara, bisakah kita bicara sebentar?"


Ken meminta ijin dengan sopan padaku, apakah ia masih ingin membahas tentang sekolah?


"Tentu," aku mengangguk dan melangkah ke dalam rumah kaca, menyingkir dari yang lain, lalu mendudukkan diri di sofa, Ken duduk di hadapanku, entah kenapa aku merasa bahwa ia menatapku dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, ataukah ini hanya perasaanku saja?

__ADS_1


__ADS_2