
"Yang Mulia, bolehkah saya masuk?" terdengar suara Vivian dari balik pintu.
"Tentu, masuklah Vivian," jawabku menatap ke arah pintu, tanpa beranjak dari dudukku di depan cermin. Pakaianku telah berganti kembali dengan pakaian yang diberikan oleh ayah saat aku meninggalkan istana, serba hitam dengan tudung yang sama.
Vivian berjalan mendekat ke arahku, "Yang Mulia, saya membawakan benda yang anda minta."
Ia mengulurkan sepasang sarung tangan hitam permintaanku, agar orang-orang yang tidak sengaja terkena sentuhanku tak terluka, walaupun aku tak tahu apa dan seperti apa akibat yang bisa kutimbulkan. Kemarin baik Vivian maupun Tetua sama sekali tidak menceritakannya dengan detail, aku pun enggan untuk bertanya, aku takut mengetahui kebenaran yang mungkin menyakitkan.
"Yang Mulia," Vivian membawaku kembali dari lamunan.
"Terimakasih Vivian," ucapku sambil memakai sapu tangan itu.
"Dengan senang hati Yang Mulia, mari saya antar."
*-*-*-*
Vivian berjalan di sampingku, mengantarku menuju ruang makan untuk sarapan. Setelahnya, aku ingin berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Istana kristal hujan sangat indah, menyejukkan mata. tumbuhan merambat di dindingnya, bunga bermekaran menghiasi setiap ruangan, dindingnya bagaikan kristal tapi tak transparan.
"Yang Mulia jika seperti ini terus, kita akan mengalami kepunahan."
Terdengar suara dari salah satu ruangan yang kulewati, tanpa kusadari aku menghentikan langkahku.
"Maaf Vivian apakah kau mendengar sesuatu?" tanyaku pada Vivian yang terkejut dengan pertanyaanku. "Sepertinya aku mendengar sesuatu dari ruangan itu."
Wajah Vivian terlihat terkejut, "Yang Mulia mendengar sesuatu? Apakah itu?"
__ADS_1
"Aku tidak yakin, tapi kurasa sedang ada diskusi di ruang itu, apa benar?" tanyaku lagi.
Vivian benar-benar berusaha mengatasi keterkejutannya, "benar Yang Mulia, tapi bagaimana mungkin anda mendengarnya? Semua ruangan dilapisi sihir kedap suara."
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mendengarnya, tapi Vivian bolehkah aku bertanya?" tanyaku mencoba mngesampingkan masalah sihir kedap suara yang tidak mempan padaku. Vivian menjawabku dengan anggukan.
"Masalah apa yang sedang kalian hadapi? Apakah aku boleh tahu?" tanyaku hati-hati, aku takut ia tersinggung karena aku menanyakan masalah kerajaannya.
"Yang Mulia, berkenankah Anda mengikuti diskusi di dalam ruangan itu?" Vivian tidak menjawabku, tapi pertanyaan yang ia lontarkan tampak seperti permohonan.
"Aku mau jika diperkenankan," ucapku memastikan bahwa keputusan Vivian mengajakku ke dalam diskusi, tidak menyalahi aturan kerajaan hutan hujan yang dipimpin Edward.
"Tentu Yang Mulia, silahkan lewat sini."
Aku mengikuti di belakang Vivian yang berjalan dengan sedikit tergesa, sesampainya di depan pintu besar yang ditumbuhi bunga mawar merah, ia menggunakan sihir dan membuka pintu itu. Pintu terbuka, aku dapat melihat seisi ruangan, bukan ini bukan ruangan biasa, ini balai pertemuan kerajaan. Ada 20-an orang berkumpul, termasuk Edward dan Tetua Mahanta. Mereka mungkin petinggi kerajaan, ada beberapa orang yang kulihat saat pertama kali menginjakkan kaki di istana ini. Aku merasakan sinar pelangiku menerobos keluar, bagaikan ingin menunjukkannya pada mereka, aku tidak bisa menenangkan sinar-sinar itu, alhasil tubuhku terang benderang, sinar pelangi keluar dari tubuhku, tak mau kubendung terasa amat gelisah seakan ingin menyelesaikan sesuatu.
Aku menatap mereka, ada beberapa orang yang mengeluarkan aura abu-abu, belum hitam tapi sudah abu-abu. Apa ini? setelah bersemedi di air terjun keabadian, aku bisa melihat aura orang lain tapi selama di hutan hujan warna mereka cenderung warna-warna yang menenangkan, karena kebanyakan elf sangat sederhana, tidak serakah akan duniawi, mereka pun sangat setia terhadap pasangannya, karena itulah aku tidak pernah menemukan warna gelap, kecuali hari ini.
"Berdirilah," ucapku seraya membuat mereka berdiri bersamaan.
Vivian menghampiri Edward dan Tetua Mahanta yang berdiri berdampingan. Ia menceritakan alasannya mengajakku kemari, Vivian bicara dengan lirih hingga orang lain tak mendengarnya, tapi anehnya aku mendengarnya dengan amat jelas. Edward, Tetua Mahanta dan Vivian menghampiriku, lalu mengarahkanku menuju kursi yang tadi diduduki Edward. Saat aku masuk tadi, aku melihat Edward duduk di kursi tertinggi, di sebelah kanannya ada Tetua Mahanta dan 1 kursi kosong, begitupula di sebelah kirinya ada dua kursi kosong, sementara 25 orang lainnya duduk bersebrangan dengan 5 tempat duduk itu.
Aku tersenyum dan menggeleng ke arah Edward, lalu mendudukkan diriku di tenpat duduk ke 2 di sebelah kanan tempat duduk utama. "Duduklah, ini kerajaanmu maka kaulah yang paling berkuasa."
Mereka paham dengan cepat dan langsung mendudukkan diri, Vivian dan Edward duduk berdampingan, Tetua Mahanta duduk di samping Edward, sementara aku duduk di samping Vivian. Mereka tahu bahwa mereka perlu menjaga wibawa dalam rapat kerajaan seperti ini, agar para petinggi tahu bahwa mereka tidak mudah ditindas.
__ADS_1
"Duduklah," seru Edward yang langsung diikuti oleh semua orang di ruangan itu. "Yang Mulia Putri Aira akan mendampingi rapat kerajaan hari ini, mari kita lanjutkan."
Aku melihat 5 orang beraura abu-abu tampak sedikit gelisah. "Terimakasih Raja dan Ratu telah mengizinkaku ikut dalam rapat ini, dilihat dari raut wajah para petinggi kerajaan di hadapanku, sepertinya ada masalah yang belum terselesaikan, kalau boleh tahu apakah itu Yang Mulia Raja?"
"Yang Mulia sejak 2500 tahun yang lalu, kami belum bisa mendapatkan keturunan. Semua elf hutan hujan gelisah, kalau ini terjadi terus maka kami akan terancam punah." Seorang beraura abu-abu menjawab pertanyaan yang sebenarnya aku tujukan pada Edward, bukankah ini yang disebut lancang? Mataku menyipit mencoba membaca nama yang tertera di mejanya 'Leon'. "Tolong kami Yang Mulia, kami ingin mendapat keturunan murni."
"Keturunan murni?" tanyaku sambil mengahadapkan tubuhku pada Vivian, tapi lagi-lagi Leon yang membuka mulutnya.
"Keturunan murni adalah hasil dari pernikahan sesama Elf, Yang Mulia."
"SUNGGUH LANCANG!" Auraku menyeruak keluar, 25 orang dihadapanku tampak terintimidasi, mereka bersimpuh tak kuasa menahan auraku yang meluap-luap. Ucapan Leon secara tidak langsung menyinggung Vivian yang bukan keturunan murni, bukankah ini lancang? Bagaimana bisa ia berkata seperti itu pada ratunya sendiri? Aku amat kesal!
Edward, Vivian dan Tetua Mahanta tidak terpengaruh auraku, auraku hanya ku arahkan pada 25 orang dihadapanku, bukan mereka bertiga. Mereka diam, memberi ijin penuh padaku, mendukungku dalam diam untuk mendisiplinkan para petinggi.
"Pertanyaan pertama, kutujukan pada Raja Edward. Pertanyaan kedua kutujukan pada Ratu Vivian. Lalu kenapa Anda dengan lancangnya menyerobot memberikan jawaban bahkan tanpa rasa hormat, saudara Leon?" mataku menangkap beberapa petinggi sudah terengah-engah, aku melepaskan pengaruh auraku dari 20 orang petinggi dan menyisakan 5 orang yang beraura abu-abu. "Selain 5 orang, silahkan duduk kembali di tempat masing-masing."
Aku menatap tajam 5 orang yang masih bersimpuh, ibu pernah bercerita bahwa orang yang memiliki kekuatan bisa menggunakan kekuatannya apabila ia fokus. Aku mencoba fokus dan menggerakkan tangan kananku, ke arah 5 orang itu, menggerakkannya lagi ke depan kursiku. Cahaya pelangi terlihat menyeruak mengikuti gerakan tanganku menarik kelimanya, hingga bersimpuh dihadapanku. Cahaya merah tampak membentuk rantai yang saling berkaitan diantara kelimanya, yang kini tampak bagaikan tahanan. Aku mengurangi tekanan auraku pada mereka, setidaknya agar mereka bisa bicara.
"Aku tahu, kalian berlima tidak menghormatiku karena aku terkenal tak memiliki bakat, tapi setidaknya hormatilah Raja dan Ratu kalian!" ancamku lagi, Leon dan empat orang lainnya terlihat bergidik ngeri.
"Ampuni hamba Yang Mulia," ucap seorang paling ujung. "Hamba Darel mohon ampunan Yang Mulia," ia terlihat masih muda tapi mirip dengan Leon, mungkin anaknya.
"Jadi kau elf murni terakhir yang dilahirkan?" tanyaku menyelidik, kalau benar berarti umur Darel 2500 tahun, sama seperti Vivian.
"Benar Yang Mulia," sahut Darel.
__ADS_1
"Lalu kalian bertiga, siapa kalian?"