
Aku menutup mataku erat, tapi tak terjadi apa-apa. Kubuka mataku dan melihat Revan berdiri di depanku, bola aura gelap yang tadi hendak menyerangku kini diam tak bergerak dan telah berubah menjadi bola es, bola es besar yang berasap karena dinginnya. Lalu kembali aku melihat ke arah Vio, barrier es melindunginya dari ular raksasa. Revan masih diam menghadap laki-laki bermata merah, tatapannya tampak mencekam, aura dinginnya menguar bercampur dengan aura gelap, aura gelap seperti milikku. Mungkinkah aura gelap yang kami dapatkan saat ritual di gua batu kini mulai bangkit? Aku menatap langit, matahari semakin tergelincir dari tempatnya, bukankah ini tandanya bulan dewa akan segera muncul?
Aku mencoba mendekati Varen, tapi aura dinginnya benar-benar menusuk kulitku. Bola es mulai retak, tangan kananku menyentuh pundaknya, dingin seketika menusuk tanganku, sakit tapi kutahan. Ku alirkan aura perak yang tadi kudapat dari kaisar pada Varen, aku mencoba membuat tubuhnya kembali hangat, berharap aura perak lebih dominan daripada aura gelapnya.
"Varen, sadarlah!" ucapku mengingatkan. Mata Varen menatapku, aura gelapnya mulai terkendali, ia menarikku dalam pelukannya.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak membahayakan dirimu lagi?" Varen mengomel masih memelukku. Dalam pelukannya aku melihat Kaisar, Permaisuri dan pasukan sihir sedang sibuk membuat lapisan pelindung untuk seluruh kekaisaran perak, mereka ingin melindung rakyat. Aku mengulurkan tangan kananku ke arah mereka, mengalirkan aura mentari yang kuserap dan membuat lapisan pelindung yang juga melindungi mereka di dalamnya. Aneh tapi pelukan Varen seolah memberiku energi tambahan, tubuhku tak terpengaruh sama sekali, padahal aku telah mengeluarkan energi besar untuk membuat lapisan pelindung.
"Varen, aku benci diam menunggu tanpa melakukan apapun, tolong mengertilah. Aku tidak akan meminta maaf untuk hal yang satu ini." Aku melepaskan pelukan Varen, suara retakan es kembali terdengar. Vio berlari ke arah depan kami seolah siaga melindungi kami dari kegelapan. "Varen pernahkah kau berpikir kalau racun dingin sebenarnya adalah sebuah kekuatan yang amat besar jika kau bisa mengendalikannya?"
Mata Varen berkilat, "apa maksudmu?"
Pandanganku berpaling ke arah barrier es dan bola es bersamaan. "Kalau itu hanya racun, tak akan pernah bisa berwujud seperti ini. Kau membendung serangan gelapnya dengan kekuatan es yang merupakan wujud dari hawa dingin yang ada dalam dirimu, mungkin ini bukan kutukan bulan dewa, melainkan berkah jika kamu bisa mengendalikannya Varen."
"Braaakkk....Praaang!"
__ADS_1
Bola es dan barrier es pecah berkeping-keping, menampakkan laki-laki bermata merah yang kini telah kembali menunggangi ular raksasa. Tatapannya tajam mengutuk, aura gelapnya menguar tanpa ampun.
"Menarik, akhirnya kau muncul juga Varen! Hahahaha...." tawanya menggelegar membuatku muak.
"Berhentilah Bedros!" Ucapan Varen membuat laki-laki yang ternyata bernama Bedros itu mengatupkan gigi-giginya yang tajam. "Apa kau datang lebih awal karena takut akan kukungan bulan Dewa?"
Revan memberikan sebuah ejekan pada Bedros, tapi aku merasa bosan. Aku berpura-pura menggamit lengan kiri Varen, mencoba membuat Bedros lengah. Varen menangkap gerak-gerik anehku.
"Kau kira aku takut dengan bulan dewa? Hahahaha.... jangan mimpi!" Bedros menatap Varen tajam. "Tapi benar aku sangat membenci bulan dewa, aku ingin memusnahkannya!"
"Duar!" Panah mencapai tepat di jantung ular raksasa, tubuh ular itu meledak berhamburan.
"AAAAH! TIDAK SEMUDAH ITU KAU MEMBUNUHKU!" Bedros berusaha menahan serangan panah energi kami dengan membuat tameng dari aura gelap, tapi itu tidak cukup! Ia terseret mundur dengan cepat, menabrak pasukannya sendiri.
"DASAR KALIAN MANUSIA SOK SUCI!" Bedros bangkit, tubuhnya berdarah hampir di seluruh bagian, kedua tangannya terangkat ke atas. Varen meraih pinggangku dengan tangan kirinya. Badai gelap terlihat menerbangkan seluruh pasukkannya, mereka bagaikan masuk dalam pusaran angin topan gelap yang mengerikan. Raga ribuan pasukan gelap bagai dimakan pusaran itu tanpa sisa, teriakan terdengar memekakkan telinga. Aku bergidik, Varen mengeratkan tangannya di pinggangku.
__ADS_1
"AKU TIDAK AKAN PERNAH KALAH!" Suara Bedros menggelegar diiringi kilatan petir dari langit, pusaran angin gelap semakin membesar, kini berputar kencang mendekat ke arah kami. Vio mengeluarkan cahaya dari tanduk unicornnya, mencoba menghalau tapi nihil! Angin itu berhasil menembus serangan Vio. Varen menarikku ke belakang dirinya. Ia terlihat fokus dan menggerakkan kedua tangannya ke langit. Hujan es yang lebat turun dari langit, mencoba menembus pusaran angin gelap, pusaran itu tertahan sekejap. Dari belakang Varen, aku melancarkan petir emas, berulang kali ku tembakkan ke arah pusat pusaran. Vio terbang mengelilingi pusaran angin gelap sambil menembakkan energinya sehingga membentuk ikatan cahaya bagaikan tali pengikat. Varen kemudian berusaha membekukan pusaran angin gelap dengan kekuatan dinginnya.
Pusaran itu memberontak, aku menyalurkan energi perak dengan menyentuh pundak Varen. Varen terus mencoba membekukan pusaran angin gelap, aku memicingkan mata, melihat pusaran itu semakin lama semakin melambat. Langit menggelap, matahari terbenam tapi bulan dewa belum menampakkan wajahnya. Vio memutari pusaran angin gelap tanpa henti, auranya bagaikan tali pengikat mencoba mengekang pusaran itu, hampir setengah pusaran kini membeku. Tapi aku merasa ada yang salah, semua terlalu mudah membuatku curiga!
Tiba-tiba dentuman keras membahana dari arah belakang, aku berbalik. ribuan pasukan gelap lain tampak datang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak, seolah ingin memberi bantuan untuk Bedros. Ya ampun, kami terkepung, baru kusadari kalau Bedros hanyalah pancingan agar kami keluar ke permukaan.
"Varen," Varen membalikkan tubuhnya mengikuti arah pandangku. "Apa yang harus kita lakukan?"
Varen tak menjawabku, ia kembali membekukan pusaran angin gelap jelmaan Bedros lalu memecahkannya berkeping-keping, selesai dengan Bedros, ia menggenggam tanganku.
"Kita lakukan semua yang kita bisa, aku ingin melindungi mereka." Varen memandang orang tua dan rakyatnya di bawah sana yang kini terlindungi dua lapisan pelindung. Lapisan dalam tampak kokoh, hasil buatan permaisuri, kaisar dan pasukan sihir, sementara lapisan luar hanya lapisan tipis yang kubuat tergesa dengan tambahan beberapa mantra agar mereka tak bisa terbang menembus keluar, aku tidak ingin melibatkan mereka dalam bahaya. Pertarungan ini menargetkan Varen, tapi jika dinalar bukankah mereka juga menargetkanku? Aku ingin menyelesaikan pertempuran ini bersama Varen.
"Vio, kembalilah." Tanpa menunggu jawaban Vio, aku membuat Vio kembali ke dalam cincin, aku tahu aku egois memaksakan kehendak, tapi aku benar-benar merasa harus fokus. Pasukan gelap semakin mendekat, kini mereka nampak datang dari seluruh penjuru, banyak hewan gelap yang kulihat turut serta, mereka mengerikan membuatku bergidik.
"Lakukan apapun yang kita bisa Aira, setidaknya bertahanlah hingga bulan dewa muncul." Varen menatapku, "apa kau masih ingin bertarung bersamaku?"
__ADS_1
Aku menatap semasang mata biru Varen lekat-lekat, "tentu!"