
"Berhenti," ayah kembali memberi perintah. Seketika layar menghilang, paman Varen kini kembali duduk di kursinya.
"Aira, ayah ingin bertanya." Aku mengangguk menatap ayah.
"Apa kau mencintai Varen?" tanya ayah kemudian.
Aku mengangguk mantap, "ya ayah, aku mencintainya." Aku menatap Varen dan tersenyum bahagia, Varen kembali meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Ayah akan bertanya lagi," tatapanku kembali beralih pada ayah. "Apa kau yakin menerimanya sebagai pendamping hidupmu?"
"Aku yakin ayah," jawabku tanpa ragu.
"Apa kau bersedia menjadi pendamping hidup Varen, di kala sedih maupun senang?"
Aku kembali mengangguk, "aku bersedia ayah."
"Aira putriku, sebagai wanita setinggi apapun pangkat dan jabatanmu di kekaisaran ini, ketika menjadi seorang istri kau tetap harus menghormati suamimu, karena suamimu adalah pemimpin rumah tangga, apa kau sanggup nak?" kali ini ibu yang menanyaiku.
Aku menatap mata Varen, ada cinta yang tulus tergambar jelas di matanya, "ibu, aku akan berjanji menghormati suamiku, dan menjaga kehormatannya."
Ayah dan ibu berdiri mereka melangkah bersama ke arahku dan Varen, ibu membantuku berdiri, sementara ayah mengulurkan tangannya dan membantu Varen, hingga kini ayah dan ibu berhadapan denganku dan Varen.
"Aku Abimanyu Airlangga, Kaisar Kekaisaran Matahari memberi restu kepada Varen Vijendra, Putra Mahkota Kekaisaran Perak." Untuk ketiga kalinya aku melihat aura ayah teraktifasi sempurna dan menyelimuti tubuh Varen.
"Aku Elina Maheswara, Permaisuri Kekaisaran Matahari memberi restu kepada Varen Vijendra, Putra Mahkota Kekaisaran Perak," sama seperti ayah, ibu mengaktifasi penuh auranya dan melingkupi Varen, aura ayah dan ibu terlihat menyatu membungkus tubuh Varen.
"Kami memberi restu kepada putri bungsu kami, Aira Airlangga untuk menikah dengan Varen Vijendra," ayah dan ibu mengucapkannya bersamaan, seketika aura ayah dan ibu yang tadi hanya membungkus Varen kini menarikku, menyatukanku dengan Varen dalam lingkupan aura keduanya.
"Semoga dengan ini restu leluhur menyertai kalian berdua," ayah mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
"Semoga kehidupan rumah tangga kalian penuh berkah hingga maut menjemput," ibu mengulurkan tangan kanannya.
Aku dan Varen melayang, Varen meraih tanganku erat. Auraku dan aura Varen menguar hebat bercampur dengan aura ayah dan ibu serta aura-aura lain yang telah memberi restu, hingga aku merasa aura kami berdua saling terikat. Aku dan Varen saling bertatapan, hingga Varen mendaratkan ciuman di dahiku.
"Semoga kalian bahagia selalu," kata-kata ayah dan ibu membuat kami kembali menapak. Ibu memelukku, dan ayah memeluk Varen, tidak ada kata-kata yang terucap lagi, hanya hati yang berbicara, air mata kami menetes tanpa bisa dibendung lagi.
"Dengan ini aku menyatakan Viren Vijendra sebagai calon Putra Mahkota Kekaisaran Matahari yang sah! Pernikahan keduanya akan diadakan dalam waktu dekat," ayah merangkul Varen dengan senyum yang penuh haru.
"Panjang umur Yang Mulia Kaisar, Panjang umur Yang Mulia Permaisuri, panjang umur Yang Mulia Putri Mahkota, panjang umur calon Yang Mulia Putra Mahkota!"
Kami saling berpelukan, ada perasaan lega tapi entah kenapa aku juga merasakan kesedihan, ayah menjentikkan jari, memindahkan kami berempat ke ruang keluarga.
"Kita perlu bicara mengenai kalian berdua ke depannya," ayah melangkah bersama dengan Varen yang masih ia rangkul, kemudian mereka duduk berdampingan. Ibu dan aku memilih duduk di seberang keduanya.
"Mengingat kalian berdua adalah pewaris, jadi kalian perlu memikirkan baik-baik, di mana kalian akan memilih tinggal untuk ke depannya," ayah memulai pembicaraan.
Ibu menjentikkan jari, seketika teh bunga dan cemilan terhidang di meja, ayah meraih cangkirnya dan meneguk teh hangat bagaikan air putih hingga tak tersisa.
Aku dibuatnya terkejut, membangun kekaisaran sendiri? Oh ya ampun aku berharap Varen tidaklah bercanda, karena ini adalah hal serius yang sangat sensitif, berbeda dengan kedua kakakku yang memilih mengikuti suami mereka, aku yang merupakan putri mahkota tidak bisa dengan gampangnya memberi keputusan, mengingat Varen juga merupakan putra mahkota di kekaisaran perak, jadi hal yang sedang dibahas adalah hal penting yang jauh dari kata sepele.
Berbeda dengan aku yang tampak terkejut, ayah dan ibu malah tampak tersenyum ke arah Varen, apa ini? kenapa mereka terlihat mendukung Varen?
"Apa kau telah memikirkannya masak-masak nak?" Ibu menanyai kesungguhan Varen.
"Tentu Yang Mulia," jawab Varen penuh keyakinan.
"Panggil kami ayah dan ibu mulai sekarang, kau adalah bagian dari keluarga," kata ayah sambil menepuk-nepuk pundak Varen, aku jelas melihat sorot penuh kasih sayang di mata ayah dan Varen tak kelihatan kikuk sama sekali.
"Baik ayah, ibu." Varen memberikan senyum tampannya dan membuat hati ayah dan ibu luluh, tentu saja jantungku berdegup dengan kencangnya.
__ADS_1
"Ehm, apa kau serius ingin membangun kekaisaran sendiri?" tanyaku mengulang pertanyaan.
"Ya, kau ingat gua saat kau memberiku air mata Ryu?" tanya Varen balik.
Aku mengangguk, tentu saja aku ingat, lantas apa hubungannya dengan pertanyaanku?
"Gua itu akan masuk dalam wilayah kekaisaran kita nanti, sejak saat itu aku berhasil menguasai wilayah Gold Ring dan sejak saat itu pula aku terpikirkan untuk membangun kekaisaran bersamamu di sana, Aira."
Aku mengerjap beberapa kali, apa aku tidak salah dengar? Barusan Varen bilang Gold Ring kan? Gold Ring yang terkenal itu?
"Gold Ring wilayah yang amat bagus, dikelilingi pegunungan subur yang membujur bagaikan benteng kokoh dari arah Timur Utara hingga Barat, dan memiliki kekayaan lautan yang luas di bagian Selatannya. Berpotensi besar menjadi negri yang maju jika di kelola dengan baik, tapi juga memiliki bahaya luar biasa, setidaknya kalian harus membuat lapisan pelindung agar rakyat terlindungi dari bencana alam yang mungkin tiba-tiba terjadi," ayah memberkan petuah yang bijak.
"Gold Ring juga terkenal akan kekayaan alamnya, banyak yang bisa kalian lakukan untuk menjadikannya ciri khas, tapi bukankah terkenal juga akan bahayanya? Bagaimana kau bisa menaklukan negeri itu nak?" tanya ibu penasaran.
"Dulu ketika memutuskan untuk membangun kekaisaran sendiri, kami berdua sempat memasukkannya ke tiga pilihan utama, tapi melihat tingkat bahayanya yang tinggi, kami mencoretnya dari daftar. Tak kusangka menantuku memiliki keberanian yang besar, hahahahha..." ayah tertawa gembira.
"Dulu setelah berhasil membangkitkan aura, aura dingin saya masih sulit dikendalikan, hingga saya memutuskan untuk mengembara seraya meningkatkan kemampuan sembari menemukan Aira, tak sengaja saya sampai ke Golden Ring karena mencari tempat berteduh akibat aura dingin yang semakin mendominasi."
Varen tampak mengingat beberapa kejadian di masa lalu, "saat aura dingin menjadi dominan,ata hati saya seolah membeku membuat saya menyerang semua yang ada di depan saya dengan membabi buta tanpa kecuali, hingga akhirnya tenaga saya mulai terkuras dan memutuskan berlindung di dalam gua, hanya dijaga oleh Lionel, hewan suci singa emas yang saya miliki, hingga akhirnya Aira datang menyembuhkan saya dengan air mata Ryu," Varen tersenyum penuh makan padaku.
"Kalau dilihat sekarang tampaknya bukan menyembuhkan, tapi membantumu memegang kendali atas aura dingin yang kau miliki," koreksiku pada Varen, karena memang seperti itulah kenyatannya.
"Ya, berkat dirimu sejak saat itu aku memegang kendali penuh atas aura dinginku, aku bahkan mampu mengolahnya dengan baik sekarang." Varen kembali menatap ayah dan ibu bergantian, mereka masih tenang menyimak Varen, "setelah meyakinkan diri bahwa saya tidak lagi berbahaya untuk orang lain, saya memutuskan keluar dari gua, dan alangkah terkejutnya saya saat itu melihat ribuan makhluk gelap telah binasa, hanya menyisakan aura gelap yang pekat, setelah menyerap semua aura gelap yang ada, mereka terbakar hingga tak tersisa, begitulah awal saya cerita saya menaklukan golden ring, sama sekali tidak disengaja," kata Varen mengakhiri ceritanya.
"Maka itu artinya golden ring memang benar merupakan sarang makhluk gelap?"
Varen sedikit cemberut menatapku, "kau tidak boleh menyebutnya seperti itu lagi, bagaimanapun golden ring akan menjadi masa depan kita."
"Benar Aira," ayah dan ibu tampak mendukung perkataan Varen sepenuhnya hingga aku mulai ragu lagi, bukankah aku anak kandung mereka?kenapa kini mereka tampak selalu berada di pihak Varen?
__ADS_1
Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah.