Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
36. PEMBUNUH


__ADS_3

"Aku pembunuh?" tanyaku balik pada Galen. "Tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Aku rasa baru kali ini kita bertemu, tapi kenapa kau memanggilku pembunuh? Siapa yang kubunuh?"


Paman Ezio menatapku lalu bertanya lewat telepati, "Yang Mulia yakin baru pernah melihatnya?"


Aku mengangguk dan menjawabnya lewat telepati, "aku belum pernah melihat pemuda ini sebelumnya, rambut ikalnya tak mungkin aku lupa jika aku pernah bertemu dia."


"Pemuda berambut ikal?" Paman Ezio bertanya lagi.


Aku mengangguk mantap, "ya, rambut coklat ikal, mata hitam dan mungkin seumuran denganku."


"Fakta bahwa ia bisa melakukan sihir perubah rupa yang tidak bisa saya tembus, sudah merupakan satu bukti kuat bahwa dia berbahaya. Maka berhati-hatilah Yang Mulia, dia bukan Galen yang hamba kenal."


Paman Ezio mengakhiri telepati, aku kembali menatap Galen yang terlihat semakin terpojok karena Balin kini menempelkan pedangnya di bahu Galen.


"Tidak ada pembunuh yang mengaku! Orang-orang kaya sepertimu tidak tahu arti berharganya sebuah nyawa bagi kami! Cuih!" Galen meludah ke arahku, tapi tindakan itu tentu sia-sia. Balin terlihat amat murka, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi seperti hendak mengakhiri hidup pemuda itu dengan satu tebasan.


Aku mengangkat tangan kiriku dan menahan pedang Balin menggunakan auraku. Balin beralih menatapku kaget, "Yang Mulia!"


"Bisakah kita bicara baik-baik?" tanyaku pada Galen.


"Baik-baik? aku mungkin bersedia tapi apa mereka bersedia membiarkanmu berbicara baik-baik denganku?"


Aku tersenyum, "tentu."


"Yang Mulia!" Seru Paman Ezio dan Balin bersamaan.


Aku tidak menghiraukan protes Paman Ezio dan Balin, mataku balik menatap mata hitam pemuda itu.


"Rambut ikal coklatmu sungguh indah dan tampaknya kita seumuran, bukankah lebih baik kita duduk dan bicara baik-baik?" tanyaku menekankan bahwa aku bisa melihat dirinya yang sesungguhnya walaupun ia menggunakan sihir perubah rupa. Galen tampak sedikit terkejut, aku tersenyum dan berkata, "mari silahkan."

__ADS_1


Aku melenggang menembus Paman Ezio, Balin dan beberapa prajurit, lalu kembali duduk di sofa yang tadi ku duduki. Galen terlihat mengamati situasi, ia tampak ragu untuk mendekat.


Aku menggerakkan tangan kananku, auraku menarik tubuh Galen hingga terduduk di sofa persis di hadapanku, lalu aku membuat sihir pembatas transparan.


"Apakah ini cukup?" tanyaku pada Galen. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku benar-benar ingin bicara baik-baik dengannya. Aku ingin membuat Galen bicara tanpa tekanan, jadi aku membuat sihir pembatas. Sihir pembatas yang kubuat terlihat transparan, membatasi Paman Ezio, Balin dan puluhan prajurit dari kami berdua. Mereka tetap bisa melihatku dan Galen, tapi tak bisa menembus sihir pembatas yang kubuat.


"Lumayan," sahut Galen sambil menyandarkan punggungnya di kursi. "Sepertinya tak ada gunanya lagi kupakai sihir ini."


Galen tampak menjentikkan jarinya, mungkin ia melepas sihir perubah rupa yang tadi ia gunakan. Tapi bagiku rupanya sama saja, karena sihir perubah rupa tak mempan padaku.


"Jadi siapa kamu?" aku menjentikkan jari, piring berisi makanan yang tadi tergeletak di meja kini lenyap digantikan dengan minuman dan beberapa cemilan kue yang kusuka.


"Aku anak dari sepasang orang tua yang telah kau bunuh!" Mata hitamnya penuh amarah memandangku. "Sungguh naas orang tuaku, mereka dibunuh oleh anak yang sebaya dengan putra mereka sendiri."


Aku terhenyak, aku ingin percaya bahwa semua yang ia katakan adalah kebohongan belaka, tapi matanya berkata lain.


Galen tertawa terbahak-bahak, "jadi kau mengelak karena tidak ada saksi mata?"


Aku menajamkam pandanganku, tapi mencoba tetap diam. Menyulut emosi hanya akan membuat runyam suasana.


"Apakah kau tahu, karenamu aku tumbuh tanpa kasih sayang orang tua! Belum puaskah kau membunuh orang tuaku hingga kau menyiksaku perlahan seperti ini?" Galen terlihat putus asa, tapi kata-katanya menyayat hatiku. "Karena kau, keluarga bahagia yang kupunya hancur seketika! Karena dirimu, aku mengemban ribuan tugas saat seharusnya bermain! Kau membuatku mengorbankan segalanya!"


Aura Galen meluap-luap karena marah, sebuah bola putih mulai terbentuk di kedua tangan Galen, dia berniat menyerangku.


Aku menyalurkan aura pelangiku ke arah bola putih Galen, menyelimutinya dan mengubahnya menjadi rangkaiam bunga yang kini menggantung di lehernya hingga ke dada, membuat Galen tercengang. Aku sedikit lega, ingatan mengerikan sewaktu di hutan hujan membuatku tak ingin terulang, aku takkan lagi berniat membuat petir suci menyambar ganas.


"ACIEL!"


Aku dan Galen mengalihkan pandangan ke arah pintu yang kini terbuka lebar, semua prajurit termasuk Paman Ezio dan Balin memberi hormat pada ayah dan ibunda, juga seorang wanita muda bergaun putih tampak sangat elegan, mungkin ia seumuran dengan Kak Prisa?

__ADS_1


"ACIEL BERHENTI MAIN-MAIN! CEPATLAH MEMINTA MAAF!" teriak wanita itu dari balik dinding pembatas. Mata hitamnya serupa dengan milik Galen, oh apakah nama pemuda ini yang sebenarnya adalah Aciel?


Aku mengerutkan kening, melihat Aciel dan wanita muda itu bergantian. Mungkinkah mereka kakak beradik?


"Aciel, dengarkan kakak!" Kakak Aciel tampak memohon, suaranya bergetar. "Aciel jangan terpancing dengan omongan orang, jangan masuk ke dalam perangkap! Sadarlah Aciel!"


"Kakak, aku ingin tahu kebenaran dari mulutnya sendiri!" Aciel menatap kakaknya tajam, "jangan menghalangiku kali ini kak!"


"Aciel, ada hal yang lebih baik untuk tidak diketahui sama sekali!" ucap wanita muda itu dari balik sihir pembatas, aku melihat jelas matanya berkaca-kaca dan suaranya mulai bergetar, tampak menahan tangis. Di belakangnya aku melihat ayah dan ibunda tampak sama cemasnya, tapi mereka memilih diam menatapku.


Aciel memalingkan wajah dari kakaknya dan menatapku, "berikan aku jawaban bukan sekedar sanggahan belaka! Aku bersedia mengabdikan diri padamu jika kau bukan pembunuh orang tuaku, tapi berikan aku bukti, bukan kebohongan!"


"Bagaimana aku bisa memberimu bukti kalau aku sama sekali tidak tahu menahu perihal yang kau tuduhkan padaku?" rasanya aku ingin berteriak bahwa aku benar-benar tidak tahu! Tapi tentu tidak akan menyelesaikan masalah.


"Dia mungkin bisa membantumu," Aciel menunjuk tepat satu orang yang berada di balik sihir pembatas, orang yang menatapku tajam menyelidik.


"Apa maksudmu Aciel?" tanyaku bingung.


Aciel menatapku sambil tersenyum angkuh, "pengendali waktu"


Kata-kata Aciel membuatku terdiam, aku menangkap maksud Aciel. Aku terpaku, jika yang diinginkannya adalah hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan, maka kami tidak perlu meminta bantuan orang lain. Bukankah aku sudah cukup untuk melakukannya?


"Kau sungguh menginginkannya?" aku menatap Aciel dengan sedikit khawatir.


"Tentu!" Aciel mengangguk, matanya menyiratkan kebencian yang dalam.


"Kalau begitu ikut aku, aku akan berusaha memenuhi permintaanmu tapi aku tidak menjamin keberhasilannya," ucapku sambil menjentikkan jari, sebuah portal pelangi muncul seketika.


"Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu!"

__ADS_1


__ADS_2