
Aku menatap Balin yang kini tampak berdiri siaga di sampingku, ia tak mau lagi duduk di tempatnya.
"Kenapa sarapanku dikirim ke sini? Apakah kedatanganku tadi adalah sebuah kesalahan besar?" tanyaku penasaran.
"Tidak, Yang Mulia," Balin menghentikan kata-katanya. Ia tampak menerima pesan telepati penting yang memerlukan konsentrasi.
"Pengamanan diperketat, sudah kuatur beberapa prajurit untuk melindungi Yang Mulia Putri Mahkota. Balin, jangan pernah beranjak dari sisi Yang Mulia, aku percaya padamu."
Suara Paman Ezio menggema di kepalaku, mungkin itulah telepati yang diterima Balin. Lagi-lagi aku menembus telepati tanpa kusadari, pertanyaan membuncah di dalam hatiku, ada apa? kenapa?
"Balin?" tegurku pada Balin agar ia melanjutkan kata-katanya.
"Yang Mulia, hamba juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Hamba hanya diperintahkan untuk menjaga Yang Mulia, dan untuk sementara Yang Mulia tidak diperbolehkan keluar dari ruangan ini." Mata Balin tampak jujur, "semua kebutuhan Yang Mulia akan dikirim ke ruangan ini, setidaknya hingga perintah dicabut."
"Tok...tok...tok..." ketukan pintu kembali terdengar, tapi kali ini Balin tidak beranjak dari sampingku, ia malah memposisikan dirinya berdiri di hadapanku seolah siap siaga melindungi.
Beberapa pelayan dan koki masuk lalu mereka menata makanan bagaikan perjamuan. Aku hanya berdua dengan Balin, tidak membutuhkan sarapan sebanyak itu, tunggu.. apakah mereka berpikir aku akan terkurung cukup lama di ruang ini?
Setelah selesai pelayan dan koki keluar dari ruangan, tapi tepat saat mereka hendak menutup pintu aku melihat puluhan prajurit berjaga di depan pintu. Aku memalingkan pandanganku ke jendela yang menghias hampir sepertiga ruangan, jendela-jendela itu menghadap ke arah taman istana yang penuh bunga nan indah, tapi kali ini pemandangan itu tampak tertutup puluhan siluet prajurit yang siap siaga. Tiba-tiba jendela-jendela yang bening kini berubah menjadi gelap hingga aku tak bisa melihat pemandangan apapun dari dalam sini. Aku kembali menatap ke arah Balin, benar saja tampaknya Balin telah menggunakan sihirnya untuk mengubah jendela-jendela itu. Rasa curigaku meningkat pesat, apa yang membuat paman Ezio mengerahkan puluhan prajurit untuk menjagaku di dalam sini?
"Yang Mulia, silahkan sarapan terlebih dulu."
Aku jelas-jelas cemberut, tapi aku tidak bisa berkutik. Balin yang tadi kuajak bicara kini telah berganti menjadi Balin murid Paman Ezio yang tegas.
"Baiklah, mari sarapan bersama." Aku berdiri dari tempat dudukku, aku tahu ada aturan bahwa semua prajurit dilarang makan selagi bertugas, untuk menghindari keracunan makanan serentak. Mereka dibekali pil kecil mirip coklat bulat sebesar biji kelengkeng, pil itu merupakan campuran beberapa makanan yang dipadatkan sehingga memakan 1 butir pil bisa mengenyangkan layaknya makan biasa. Paman Ezio sangat tegas mengenai hal ini, ia bahkan mengajarkan sihir pada seluruh prajurit agar bisa bertahan tanpa makanan di saat-saat darurat. Tapi kali ini aku sungguh berharap Balin bersedia menemaniku sarapan.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia," Balin mengangguk dan mempersilahkan aku untuk mengambil makanan.
Aku berdiri dengan gembira dan berjalan mengambil makanan yang tersusun rapi di meja bagaikan perjamuan, aromanya menggugah selera. Setelah puas, aku kembali duduk di sofa. Balin yang tadinya mengekor di belakangku kini kembali berdiri di hadapanku, tapi tangannya kosong.
"Kau belum ambil makananmu, Balin?"
"Sudah Yang Mulia," Balin menjawab sambil memegang 1 butir pil penunda lapar di tangan kanannya, aku melengos merasa tertipu.
"Kau tadi bilang akan sarapan bersamaku kan?" tanyaku kesal.
"Betul Yang Mulia, tapi hamba tidak pernah mengatakan akan menyantap makanan yang sama dengan Yang Mulia," Balin tersenyum padaku, aku tahu ucapannya tidak ada yang salah, tapi aku kesal serasa telah dibodohi. "Mari sarapan Yang Mulia."
Aku mendengus kesal dan berpura-pura menyuapkan seiris daging ke mulutku, Balin mengikutiku dengan menelan pilnya. Setelah Balin menelan pilnya, aku memuntahkan apa yang kumakan membalutnya dengan tissue dan membuangnya ke tempat sampah. Aku mengelap mulutku dengan tissue, selera makanku hilang seketika, tapi tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalaku.
"Tapi Yang Mulia.."
"BRAAAKKKK!" Pintu terbuka keras dari luar. Paman Ezio berlari ke arahku, matanya terlihat penuh kecemasan, sama seperti yang kulihat di hutan hujan.
"Yang Mulia," Paman Ezio memeriksa wajahku lalu matanya beralih pada piring yang kuletakkan di meja. "Apa Yang Mulia sudah memakan sesuatu?"
Aku mengangguk, "aku makan sepotong daging."
Paman Ezio seketika tampak panik, auranya menguar menyeramkan. "Tapi aku sudah memuntahkannya, karena aku ingin makan pil milik Balin," kataku kemudian.
Ada sedikit kelegaan yang kutangkap di wajah Paman Ezio, tapi auranya masih menguar hebat. "Galen!"
__ADS_1
Seorang pemuda melangkah maju mendekati Paman Ezio, ia tampak masih muda, mungkin seumuran denganku. Rambutnya coklat ikal, pakaiannya putih polos dengan jubah berwarna merah berlambang matahari emas, tapi ini adalah pertama kalinya aku melihat Galen.
"Cepat periksa Yang Mulia!" Paman Ezio berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dariku, ia terus menekan pergelangan tanganku, mungkin ia mengontrol denyut nadiku.
Aku mengamati Galen, ia mendekat ke arahku. Ia mengaktifkan aura putih suci yang mirip dengan aura ibunda Varen, aura penyembuh. Tapi tangannya tiba-tiba terulur, aku kira ia hanya ingin menyalurkan auranya, tapi tangannya terus mendekat hendak menyentuh daguku.
"BERANINYA KAU!" Paman Ezio menangkis tangan Galen dengan keras, aku terkejut. Aku tahu Galen hanya bermaksud memeriksaku, tapi sudah bukan rahasia bagi seluruh prajurit dan pelayan istana bahwa menyentuhku adalah sebuah pantangan, karena akupun tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka.
"Paman, dia hanya ingin memeriksaku. Mungkin ia belum mengetahui aturan istana ini." Aku berdiri dan melangkah mendekati Paman Ezio, di hadapannya Galen masih diam dan menatap Paman Ezio penuh tanya.
"Maaf Galen, apakah kau baru bergabung?" tanyaku sambil berdiri di samping Paman Ezio yang masih mencoba menahan amarahnya. Balin pun tampak bersiaga, ia berdiri di belakangku.
"Apakah menyentuh anda adalah sesuatu yang dilarang?" tanya Galen menatap lurus ke arahku, mata hitamnya seolah penuh kebencian.
Balin maju dengan cepat, "siapa kau? Jawab!"
Paman Ezio meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat, mungkin ia bersiap untuk sesuatu yang buruk. Prajurit yang tadi bersiaga di pintu kini melingkariku dan Paman Ezio, mengarahkan pedang mereka ke arah Galen.
"Aku Galen." Galen menjawab dengan tatapan yang tak teralihkan, matanya masih menatapku.
"SIAPA KAU! Galen yang kukenal tidak akan bertindak bodoh!" Balin mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke leher Galen. "SIAPA KAU? JAWAB!"
Galen tersenyum sinis, tapi masih tidak melawan. "Kenapa kalian memperlakukan aku seperti penjahat? Bukankah seharusnya pembunuh seperti dialah yang harus kalian tangkap?"
Aku bergidik mendengar kata pembunuh keluar dari mulutnya, dari matanya aku tahu kata pembunuh ditujukan padaku. Kenapa dia menyebutku pembunuh? Siapa pula yang aku bunuh?
__ADS_1