
Hari demi hari berlalu, tapi tubuhku masih menolakku, Varen tampak terlelap dalam posisi duduknya. Aku berusaha mendekat dan mencoba menyentuh rambut pendeknya dengan hati-hati, tapi belum sampai aku menyentuh satu helai rambut Varen, tiba-tiba buku pusaka keluar dari cincin penyimpananku dan membuka halamannya sendiri.
"Cinta yang sempurna adalah cinta yang saling berbalas dan saling melengkapi."
Lalu buku pusaka kembali membalik halamannya sendiri.
"Janji yang paling mulia dan penuh berkah adalah Pernikahan."
Seolah ingin aku terus terfokus, buku pusaka lagi-lagi membalik halamannya.
"Anugerah terindah adalah buah hati yang sehat, sempurna dan bahagia."
Buku pusaka lama tak muncul di hadapanku, kenapa ia hampir sama dengan Varen yang tiba-tiba menjadi cerewet? Kenapa pula ia membuka halamannya hanya untuk membahas cinta, pernikahan dan anak?
Seolah menjawab pertanyaan di benakku, buku pusaka kembali membuka halamannya.
"Tugas utama seorang pewaris adalah melahirkan keturunan yang mulia."
Aku melongo dibuatnya, bagaimana tidak? Buku pusaka benar-benar sedang menceramahiku sekarang.
"Apapun yang tertulis di lembar bukumu yang berharga, tetap tak dapat kulakukan jika tubuhku terus menolakku kembali," ucapku pada buku pusaka, lebih tampak seperti sebuah gurauan yang takkan berbalas.
"Berikanlah jawaban, maka kau akan kembali."
Buku pusaka menjawabku dengan tulisan yang tercetak di lembarnya, aku mulai berpikir. Berikan jawaban? Aku melirik ke arah Varen dan mengingat kata-katanya beberapa hari lalu sewaktu aku baru saja kehilangan kesadaran.
Varen pernah berkata, "kalau kuingat lagi, sepertinya sampai saat ini kau belum pernah mengatakan kalau kau mencintaiku, selalu aku yang mengatakannya lebih dulu, jadi apakah kau mencintaiku, Aira?"
Pertanyaan di ujung kata-katanya selalu terngiang di benakku, aku menerimanya sebagai tunanganku, tapi kala itu aku masih menganggapnya sebagai seorang sahabat. Perpisahan kami membuatku sadar akan rasa rindu, tanpa kusadari ketika aku tak bisa menemukannya, perasaan khawatir terasa membuncah. Ada kalanya aku menangis karena rindu di bawah langit malam, terkadang aku mengingat kebersamaanku dengan Varen di kekaisaran perak yang singkat tapi membuatku bahagia. Apakah ini yang dinamakan cinta? Kalau benar ini cinta, bisakah aku mengakuinya dan hidup dengannya hingga akhir hayat?
"Mmmmhhhhh...." Varen menggeliat terbangun dari tidurnya, ia mulai membuka mata dan mengerjap beberapa kali karena sinar mentari yang mulai menyusup di balik tirai.
Varen melangkah menuju jendela dan membuka tirai hingga sinar mentari menyeruak masuk mengusir gelap di dalam kamar. Wajah Varen terlihat bersinar tertimpa cahaya, ketampanannya tak perlu dipertanyakan lagi. Tubuhnya yang menjulang tinggi dengan otot yang kekar membuat bayangan yang teramat besar di lantai, aku melangkah mendekatinya, hingga kakiku seolah menginjak bayangan yang dibuatnya.
__ADS_1
Aku berusaha berjinjit dan mendekati telinganya, walau kutahu dia tak bisa mendengarku, setidaknya aku ingin menjawabnya dengan cara yang benar.
"Aku mencintaimu Varen Vijendra," ucapku lirih seolah berbisik di telinga kanannya.
Varen tampak kaget dan menatap tubuhku yang masih terbaring, ia seolah bingung dan tampak seolah mendengar kata-kata yang barusan kuucapkan.
Aku penasaran dan ingin membuktikan, apakah ia benar-benar bisa mendengarku. Aku kembali berjinjit, "baiklah mari memiliki sepasang anak kembar yang lucu, semoga Yang Kuasa mengabulkan keinginan kita."
Kali ini Varen berlari ke arah tubuhku, ia memeriksaku dengan teliti, "kau masih tidur begitu lelap, tapi kenapa aku mendengar suaramu? Apa aku mulai gila?"
Mata Varen tampak mulai berkaca-kaca, nafasnya mulai berat, kesedihan terlihat jelas menerpanya.
Aku kembali melangkah mendekatinya, kuberanikan diri menyentuh wajahnya dengan menangkupkan kedua tanganku di pipinya, aku mulai mendekat dan mencium bibirnya.
"Aku mencintaimu, terimakasih karena telah mencintaiku begitu tulus." Air mataku jatuh menetes di pipiku, Varen membuka mata dan menatap ke arahku, bukan ke arah tubuhku yang terbaring, ia tampak kaget dan hendak meraihku ketika pusaran angin tiba-tiba menyeret jiwaku dan menarikku kembali ke dalam tubuhku yang terbaring.
"Aira," Varen memanggil namaku. Ia memegang pundakku, "Aira tolong bangunlah, jangan membuatku takut!"
"Aku baik-baik saja, Varen."
Varen menatapku tampak tak menyangka, ia meraba wajahku, "kau sudah bangun?"
Aku mengangguk, aku bisa merasakan auraku kembali, tapi tubuhku masih terasa sangat lemah.
"Kau ini benar-benar.." Varen tak melanjutkan kata-katanya, ia langsung menarikku hingga terduduk lalu memelukku erat.
"Aku mohon jangan pernah membahayakan dirimu lagi, aku tidak akan melarangmu menolong orang lain, tapi mulai saat ini ijinkan aku ikut serta."
Varen melepas pelukannya dan menatap sepasang mataku serius, "maukah kau melakukannya?"
Aku tersenyum lalu mengangguk padanya, "tentu."
Varen tersenyum tapi masih terlihat kesedihan di sana, "Varen aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Varen."
Aku mengulangi kata-kataku karena Varen tampak diam membeku, aura dinginnya menguar tiba-tiba membuat bulu kudukku berdiri karena dingin menerpa.
"Kau bilang apa?" Varen bertanya seolah ia salah mendengar apa yang kukatakan.
Kali ini aku menarik wajahnya dan menciumnya dengan penuh kasih, aku ingin dia tahu bahwa aku juga mencintai dan menyayanginya.
Aku melepas ciumanku dan menatap mata Varen dari jarak yang teramat dekat, "aku mencintaimu, Varen Vijendra."
Mata Varen berkaca-kaca, "aku juga mencintaimu Aira, sangat-sangat mencintaimu!"
Varen mencium dahiku lalu menatap mataku seolah meminta persetujuan, ketika ia menangkap isyaratku, ia merengkuhku dan mencium bibirku dalam, ia bahkan tak memberiku ruang untuk bernafas. Aku terhanyut dalam ciumannya yang penuh makna, Varen seolah ingin menyatakan bahwa aku tak dapat menarik ucapanku, dan mulai hari ini aku miliknya seorang.
"Ah!" Seruku dengan suara yang sedikit meninggi, ketika Varen mencium leherku tiba-tiba.
"Apa sakit?" Varen menatapku dengan tatapan bersalah, nafasnya sedikit tersengal akibat ciuman yang lama dan bergairah.
"Kita harus berhenti Varen," tanganku membelai wajah putihnya yang kini tampak memerah. "Belum saatnya," ucapku singkat karena masih kewalahan mengatur nafas.
Ada kekecewaan di matanya, tapi Varen menampakkan senyum di wajahnya. "Baiklah, kita masih punya banyak waktu, tapi aku harap kita bisa segera menikah, aku tak bisa menahannya lebih lama lagi."
"Kenapa tak bisa? Kau bahkan bisa menahan rindu selama berbulan-bulan, kenapa sekarang bilang tak bisa?"
Varen menghela nafas panjang, "karena kau bagaikan candu!"
Varen terlihat berusaha menenangkan diri, "jangan menggodaku lagi, atau jangan salahkan aku jika hilang kendali."
Aku berdecak, "menggodamu? tunggu bukankah kau harus mengoreksi kata-katamu? Kapan aku menggodamu?"
Varen menarik tanganku hingga tubuh dan wajah kami teramat dekat, "aku bahkan tidak tertarik dengan wanita lain, tapi denganmu sangatlah berbeda. Walaupun kau hanya diam, di mataku kau selalu terlihat sangat menarik."
Sebelum terlambat, aku segera melepaskan tangan dari genggaman Varen, lau meraih bantal dan memukulkannya berulangkali pada Varen. "Oh ya ampun, sadarlah Varen! Iblis apa yang tengah merasukimu kali ini????"
__ADS_1