Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
50. Percakapan Hangat


__ADS_3

"Apa itu artinya kakek dan nenek akan menghilangkannya untukku?" mataku berbinar penuh semangat.


Kakek menggenggam kedua tanganku, "Aira terkadang kita tidak mengetahui nilai sesuatu yang kita miliki sebelum orang lain memberitahukannya," Kakek tersenyum menatapku. "Lapisan pelindung yang terbentuk di tubuhmu sejak lahir adalah bukti perlindungan yang terbentuk dari cinta kasih yang tulus, mereka yang menyalurkan energi untuk ibumu saat masih mengandung, adalah orang-orang yang sangat ingin melihatmu lahir sehat dan selamat ke dunia ini, karena kau sangat berharga bagi mereka."


Kakek menjentikkan jarinya di telapak tanganku, seketika lapisan pelindung di seluruh tubuhku berpendar terang, bagaikan lapisan kulit yang tebal tapi memancarkan cahaya.


"Luar biasa bukan?" Nenek mengulurkan secangkir teh hangat pada kakek, kakek menerimanya lalu meneguknya pelan.


"Selain merupakan wujud cinta kasih, lqpisan pelindungmu ini memiliki cara kerja yang sama dengan lapisan pelindung naga api." Aku beralih memandang mata nenek yang tampak menatapku hangat, "ya lapisan naga api yang kami ciptakan saat dirimu lahir, adalah lapisan pelindung yang bertujuan untuk melindungi kalian dari marabahaya dan setiap niat serta kekuatan jahat yang mengancam, petir api siap mencabut nyawa setiap makhluk yang melanggarnya. Begitupun dengan lapisan pelindung yang kau miliki, sayang."


Aku masih diam mendengarkan nenek, "bedanya adalah, lapisan naga api bereaksi dengan mengeluarkan petir suci, sedangkan lapisan pelindungmu bereaksi dengan mengeluarkan api suci."


Mendengar api suci keluar dari mulut nenek, membuatku teringat api yang membakar ayah Aciel. Nenek mengusap lembut rambut panjang perakku, membuatku kembali tenang dan nyaman.


"Sudah waktunya kami meluruskan semua hal yang terjadi waktu itu," Kakek meletakkan cangkir teh yang telah kosong di meja, ia kembali membuka mulutnya. "Lapisan pelindungmu bereaksi mengeluarkan api suci yang membakar Mahes, tapi ingat! Mahes tidak terbunuh karena api suci yang kau keluarkan, melainkan karena petir suci yang menyambarnya." Kakek kembali menatapku, kali ini tatapannya tajam dan serius. "Saat itu Mahes telah dirasuki oleh energi jahat sepenuhnya, energi gelapnya sudah menguasai Mahes hingga ke jiwa, tidak dapat dipisahkan lagi, karena itulah lapisan pelindungmu menganggapnya sebagai musuh yang berbahaya, karena ia mengancam keselamatanmu."


"Jadi apa yang ingin kami tekankan adalah fakta bahwa kau sama sekali tidak bersalah Aira," Nenek menekankan kata-katanya. "Kau boleh menjadikannya pengingat, tapi tidak boleh terus menghukum dirimu dengan perasaan berdosa atas sesuatu yang sama sekali bukan salahmu! Itu adalah sebuah tindakan perlindungan diri ketika seseorang mengancam hendak mengambil nyawamu, kalau kau tak punya lapisan pelindung, nenek tak sanggup membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi padamu."

__ADS_1


Nenek terlihat sedih, "berjanjilah pada nenek untuk menyayangi dirimu sendiri serta semua yang melekat pada dirimu, syukurilah semua hal yang ada sebagai berkah yang tak terkira, karena tanpa kau sadari, banyak orang yang ingin menjadi sepertimu tapi tak bisa, maka kau harus bersyukur, menerima, menghargai dan menyayangi dirimu sendiri."


Aku menatap lapisan pelindungku yang masih berpendar dengan indahnya, "maaf selama ini aku selalu menginginkanmu tak ada," air mataku mengalir. "Aku bahkan selalu menyalahkanmu, padahal kau berniat baik menjagaku, terlebih lagi kau adalah wujud cinta kasih dari orang-orang yang sangat kusayangi, maaf.. maafkan aku." Aku menangis tersedu, "terimakasih atas segalanya, mulai hari ini aku merasa beruntung memilikimu, kau bukan kekuranganku tapi kau adalah berkah yang teramat berharga, terima kasih."


Pyar! Tepat setelah aku selesai dengan kata-kataku, cahaya pelindungku berpendar berkali-kali lipat lebih terang hingga menyilaukan mata.


"Hahahaha, lihatlah dia sudah tak sedih lagi sekarang!" Kakek tertawa bahagia melihat terangnya lapisan pelindungku, ia kembali menjentikkan jarinya, "tolong lindungi cucuku dengan baik ya!" kini lapisanku kembali tak terlihat, pendar cahayanya menghilang tanpa bekas.


Nenek merangkul pundakku dan menepuk-nepuk ringan, "sekarang ayo kita bahas mengenai perjalanan waktu yang kau lakukan, sayang!"


"Benar," kakek menjawab dengan pasti. "Kau memang bukan sekedar pengendali waktu sayang, kau bisa menghentikan, menjeda, mengulang, memulai bahkan menghilangkan bagian dari waktu."


Aku menatap kakek bingung, "apa bedanya dengan pengendali waktu kek?"


"Ehm," kakek tampak berpikir untuk menjelaskan padaku dengan mudah. "Pengendali waktu memiliki batasan tertentu setiap mereka melakukan perjalanan waktu, salah satu contohnya adalah mereka harus menghentikan waktu di tempat asal sebelum melakukan perjalanan waktu agar mereka bisa kembali di saat yang sama saat mereka memulai. Berbeda denganmu, kau tidak perlu melakukannya karena kau bisa memilih waktu yang kau inginkan untuk kembali di dunia asal."


Aku kaget mendengar penuturan kakek, "kakek ada beberapa waktu di saat aku melakukan perjalanan waktu yang bukan kehendakku sendiri, tiba-tiba saat sadar aku telah berpindah dimensi."

__ADS_1


Nenek tampak menikmati secangkir teh di tangannya sambil mendengarkan pembicaraanku dan kakek, sementara kakek tampak menatapku dengan semangat.


"Itulah yang dinamakan panggilan waktu, Aira. Waktu akan memanggilmu tepat di saat kau dibutuhkan," kakek memandang ke ladang bunga lavender yang tampak indah menenangkan. "Ke depannya, akan ada lebih sering terjadi panggilan waktu untukmu dan kau tak bisa mengontrolnya, hanya bisa menjeda beberapa saat untuk melakukan persiapan, tapi diperlukan energi yang lumayan untuk menjedanya."


Kakek menjentikkan jarinya, sebuah kantong berukuran sedang berwarna lavender muncul di tangan kakek, ia mengulurkannya padaku. "Masukkanlah ke dalam cincin penyimpananmu, ini akan sangat membantumu agar tak perlu menjeda panggilan waktu, karena kau butuh menggunakan energimu untuk sesuatu yang lain."


Aku menuruti perintah kakek dan memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan tanpa membukanya sedikit pun. Entah kenapa tiba-tiba aku memikirkan sesuatu, "Kakek aku bertemu Varen untuk pertama kalinya adalah saat menjelajah waktu, dan yang kedua kalinya adalah saat melakukan ritual penyatuan, mungkin yang kedua adalah panggilan waktu. Kalau begitu apakah mungkin?"


Pertanyaanku menggantung begitu saja, satu kemungkinan besar muncul dalam pikiranku, dan aku menemukan secercah harapan.


Nenek menaruh cangkirnya, dan meraih tangan kiriku, ia mengalihkan perhatianku dari kakek. "Dengarlah Nak, apapun yang terjadi saat kau melakukan perjalanan waktu, kau harus menyadari bahwa kehidupan utamamu ada di masa sekarang, bukan masa lalu ataupun masa depan, jangan pernah membiarkan dirimu hanyut dalam keduanya. Ingat ini baik-baik sayang," nenek menatap tajam mataku seolah ingin aku benar-benar memahaminya.


"Tapi bagaimana kalau Varen ternyata bukan berasal dari masa sekarang?" mataku mulai berkaca-kaca.


"Jangan lupa fakta bahwa dirimu adalah seorang wanita sayang, laki-laki boleh memilih dan wanita boleh menolak. Seorang laki-laki yang mencintaimu dengan sepenuh hati, pasti akan melakukan segalanya untukmu, hal ini berlaku juga untuknya. Kalau dia benar mencintaimu dengan tulus sepenuh hati maka ia akan melakukan segala cara untuk menemukanmu, atau mungkin waktu memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan kalian."


Mataku membuka lebar, kata-kata nenek apa artinya? Apakah benar Varen bukan berasal dari masaku? Apa ini artinya aku harus menunggu Varen untuk menemukanku? Apa maksud dari 'waktu memiliki caranya sendiri'?

__ADS_1


__ADS_2