Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
22. Keluar dari raga


__ADS_3

"Cepat panggil ibunda Drew!" suara teriakan Varen mengagetkanku.


Aku berdiri menatap Varen berlari membopong tubuhku masuk ke dalam istana, ia terlihat amat tergesa. Aku melihat ke arah kaki dan tangan, oh tidak semuanya transparan! Aku segera berlari mengikuti dibelakang Varen yang membopong ragaku.


Apalagi ini? Kenapa banyak sekali kejutan akhir-akhir ini? Aku merasa hampir menangis. Kenapa bisa raga dan jiwaku terpisah? Apa aku sudah mati? Aku mati karena membuat lapisan pelindung? Oh ya ampuun Kak Prisa pasti akan menertawaiku! Kak Prisa bahkan bisa membuat bangunan pengobatan hanya dengan mengibaskan tangan, ia bisa membuat 3 bangunan dalam sehari tanpa pingsan! Oh ya ampuun, bagaimana kalau ini benar-benar akhir hidupku?


Ayah ibu, aku bahkan belum bertemu kalian. Aku rindu ayah, ibu. Aku menangis tapi tak ada air mata yang keluar. Kaki ku terus berlari mengikuti Varen yang kini membawa ragaku masuk ke dalam kamar yang tadi malam kutempati, ia menidurkan ragaku di ranjang. Varen menyelimutiku, lalu duduk di samping ranjangku.


Kuamati lekat-lekat tubuhku. Ada air mata terlihat diujung kedua mataku, jadi apa yang kurasakan masih berefek pada ragaku walau kami terpisah? Maka itu artinya kami masih terhubung!


Varen meraih tangan kiriku dan menggenggamnya, "apa yang kau pikirkan ketika menghabiskan seluruh energi penopang hidupmu untuk membuat lapisan pelindung? Berhentilah berbuat sesuka hatimu Aira! Kau selalu menyiksaku!"


Varen mendekatkan tangan kiriku ke bibirnya, ia tampak mencium ringan tanganku. Aku melongo, di tiga kekaisaran aku belum pernah menjumpai seseorang yang memperlakukanku seperti itu, mencium tangan seorang wanita biasanya hanya dilakukan oleh sepasang kekasih, bukan sesama teman. Tapi mungkinkah kebiasaan di kekaisaran ini berbeda? Seperti budaya yang beraneka ragam seperti yang sering ibunda ceritakan, mungkin ini adalah sebuah budaya mereka untuk menghormati wanita, mungkin saja.


Rasa penasaran mulai kembali menggodaku, aku mendekati ragaku dan mulai menyentuhnya. "Aw!" Rasanya sakit, seperti ada aliran listrik yang menghalangiku menyentuh ragaku sendiri. Aku mendudukkan diri di lantai dan mulai menangis, apakah mungkin kalau aku benar-benar mati? Aku terus menangis, banyak hal yang masih ingin kulakukan tapi kenapa aku mati begitu cepat? Berbagai penyesalan terlintas di benakku.


"Oh Aira sayangku! Apa yang terjadi Varen?"


Tangisku berhenti, aku melihat Permaisuri datang diikuti Jendral Drew di belakangnya. Ia mendekat dan duduk di samping kananku, bersebrangan dengan Varen. Ia menyentuh tangan kananku, lalu menggenggamnya erat. Cahaya putih suci milik permaisuri mulai menyelimuti tubuhku. "Jelaskan!"


Rasa hangat mulai kurasakan mengisi jiwaku, permaisuri mentransfer energinya tanpa henti. Sementara itu, mata permaisuri masih menatap Varen meminta penjelasan.


Tiba-tiba suara langkah tergesa terdengar mendekat, ia melewati Drew yang berdiri di pintu. "Pelindung itu, siapa yang membuat lapisan pelindung itu?"


Kaisar datang tapi kata-katanya terhenti ketika melihatku terbaring di ranjang. Kaisar menatap permaisuri dan Varen bergantian.


"Aira yang membuatnya, Aira membuat barrier dan lapisan pelindung." Varen menggenggam tangan kiriku dengan kedua tangannya, "energi intinya masih tersegel sama sepertiku, tapi dia menggunakan seluruh energi penopang hidupnya hanya untuk membuat pelindung."

__ADS_1


Mata Varen terlihat berkaca-kaca, ia memandang ragaku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Permaisuri masih menyalurkan energinya, mengisi ruang-ruang kosong di raga dan jiwaku, ia membelai rambutku lembut.


"Keluarlah jendral, tolong tutup pintunya. Jangan biarkan seorang pun masuk!" Kaisar memerintahkan Drew, tanpa satu kata pun Jendral Drew langsung melakukan apa yang diperintahkan.


"Kau bilang aura intinya tersegel sama sepertimu?" Kaisar berdiri di samping permaisuri dan menatap putranya.


"Ya ayah, dia melakukan ritual yang sama denganku di gua batu. Saat aku menemukannya, ia sedang melawan energi gelap di atas meja batu."


Kaisar menatap mata kedua putranya, "aku kira kau bertemu dengannya di perjalanan." Mata kaisar beralih menatap wajahku, "kalau ia melakukan ritual yang sama, dan terlebih lagi ia bahkan bisa menciptakan lapisan pelindung sendirian, maka tak diragukan lagi." Kaisar menyentuh pundak permaisuri, cahaya keperakan terlihat mengalir keluar dari tangan kaisar, melalui tubuh permaisuri dan masuk bersama aura putih permaisuri ke dalam tubuhku.


"Aira adalah pewaris, tapi pewaris dari kekaisaran mana? bagaimana ia bisa sampai di gua batu?" Kaisar terlihat melontarkan kebingungannya.


"Sayang, aku benar-benar tak peduli dengan asal-usulnya, aku telah mantap memilihnya menjadi menantu." Permaisuri menimpali Kaisar. "Aku menyayanginya," ucap permaisuri kemudian.


Jiwaku bergetar mendengar ucapan permaisuri, seketika sesuatu menyedotku masuk ke dalam raga. Raga yang kini tak lagi menolakku, dan terasa hangat terisi dua energi.


"Syukurlah, sayangku telah kembali!" permaisuri kembali menciumku dan memelukku, ia memelukku erat. "Jangan lagi-lagi membuatku khawatir sayang, apa ada yang sakit?"


Aku menatap permaisuri dan tersenyum, "tidak ada, terimakasih Yang Mulia. Maaf membuat kalian khawatir."


"Kami yang seharusnya berterimakasih, berkat bantuanmu kekaisaran perak kini terlindungi lapisan pelindung," ucap kaisar menyela.


"Maaf tapi buatanku tidaklah sempurna Yang Mulia," aku merasa sedih. "Maaf tidak bisa membuatnya sempurna," mataku kembali berkaca-kaca, rasanya ingin menangis. Aku takut kalau lapisan pelindung yang kubuat tidaklah bisa melindungi mereka.


"Hey bagaimana kau bisa bilang tidak sempurna! Butuh lebih dari 10 orang untuk membuatnya, tapi kau melakukannya sendirian! Berhentilah merendah!" Omel Varen memeriahkan suasana, mulutnya mengomel tapi pandangan matanya seolah berkata lain.


"Varen, Aira baru bangun jangan diomelin dong!" Permaisuri menengahi sambil berdecak. "Padahal tadi cemasnya minta ampun, sekarang udah bangun malah diomelin, persis kayak ayahmu!"

__ADS_1


"Lho kok ayah yang disalahin?"


Aku tersenyum melihat mereka, rasanya seperti berada dalam sebuah keluarga yang hangat, tanpa tipu daya. Tapi canda tawa kami tiba-tiba sirna, pintu kamar terbuka lebar menampakkan jendral Drew dengan wajah khawatirnya.


"Ampun yang Mulia, maaf hamba menerobos masuk, ada keadaan genting yang harus hamba laporkan," Jendral Drew menghadap kaisar. "Musuh telah mengepung lapisan pelindung, mereka bergerak lebih cepat dari yang kita duga."


"Dung..Dung...Dung..." genderang peringatan terdengar membahana, tanda bahaya!


Kaisar beranjak ke arah pintu yang menuju balkon kamarku. Ia membukanya lebar, Varen membantuku berdiri, kami mengikuti Kaisar. Tubuhku tak lagi lemas, seperti bangun tidur, rasanya kembali mendapatkan energi bahkan terasa lebih segar dari sebelumnya. Tapi Varen, tak mau melepaskan tangannya yang memegang erat pundakku, seolah sangat takut aku terjatuh, kami berjalan bersama.


Aku terhenyak kaget dan menghentikan langkahku, bukan aku saja tapi kaisar dan permaisuri juga menghentikan langkah mereka. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, mungkin jumlahnya ribuan atau jutaan? Entahlah, makhluk-makhluk mengerikan benar-benar mengepung lapisan pelindung, mereka mendesak mencoba menembus lapisan pelindung. Aneh, barrier yang dulu kubuat sewaktu di istana hutan hujan menghilang ketika aku pingsan, tapi barrier dan lapisan pelindung yang kubuat kali ini tetap berada di tempatnya walaupun aku sempat pingsan.


"Jadi merekalah musuh yang dimaksud selama ini? Tapi apa yang mereka incar?" tanyaku ke arah Varen.


"Mereka menginginkan aku," Varen menatap kedua mataku. "Mereka ingin membunuhku untuk membinasakan kekuatan bulan Dewa," tatapan dan kata-kata Varen membuatku merinding.


"Apa hubungannya kekuatan bulan dewa denganmu, Varen?"


"Aku lahir saat bulan dewa bersinar, 17 tahun lalu." Kaisar, Permaisuri dan Jendral Drew mengamati lapisan pelindung dalam diam, membiarkan Varen menjelaskan padaku. Tunggu bukankah aku juga lahir saat bulan dewa? Ramalan buku pusaka, ucapan tetua Mahanta terngiang di kepalaku. Jadi benar bukan hanya aku yang lahir saat bulan dewa 17 tahun lalu? Varen dan aku lahir di saat yang sama?


"Bulan dewa memberikan kekuatannya untuk memberkahi kelahiran, hingga saat itu bulan Dewa melemah, Bulan Dewa kehilangan kekuatan untuk menekan semua aura gelap, hingga semua makhluk itu percaya bahwa membunuhku adalah jalan satu-satunya untuk menghilangkan kekuatan bulan dewa yang tersisa. Mereka ingin terbebas dari belenggu bulan dewa agar tak lagi bersembunyi."


Aku melongo, kalau begitu hal ini bukankah berlaku juga untukku. "Varen, tapi aku..."


"Kretek... Kretek..." suara retakan terdengar menggema. Ucapanku menggantung, aku ingin memberitahu Varen bahwa aku juga lahir saat bulan dewa, sama dengannya, tapi sepertinya niatku harus kuurungkan.


Lapisan pelindung mulai retak, aku panik. Apa yang harus kulakukan? Varen mempererat tangannya di pundakku.

__ADS_1


__ADS_2