Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
62. Hujan


__ADS_3

"Lin, tolong antarkan mereka memilih kamar." Aciel berkata ke arah pintu depan gedung.


Aku menatap arah pandang Aciel dan melihat Balin yang berdiri dengan tegap di depan pintu, Balin tampak mengangguk, "baik tuan Aciel."


"Silahkan mengikuti Lin dan memilih kamar di lantai atas, kalian bisa beristirahat hari ini dan mulai bekerja besok pagi. Selain tempat tinggal kami juga menyiapkan makanan untuk kalian setiap harinya, semoga kalian merasa nyaman bekerja di sini."


Lia dan Liam berdiri dan membungkuk ke arahku dan Aciel, "terimakasih tuan dan nona kami akan bekerja keras untuk membalas kebaikan kalian berdua."


"Terimakasih kembali, silahkan." Aciel mempersilahkan keduanya untuk mengikuti Balin. Mereka mengangguk dan beranjak mengikuti Balin dengan langkah yang tampak gembira.


Air mataku jatuh tak terbendung, aku menangis tersedu. Aku tahu kalau Liam adalah anak haram, tapi dia tetaplah putra raja, sedangkan Lia? Dia adalah putri bungsu dari keluarga kerajaan Green, dan aku tahu Ken sangat menyayanginya. Tapi bagaimana bisa mereka datang seperti ini?


Aciel menarikku ke dalam pelukannya, aku terkejut atas tindakan Aciel, tapi aku benar-benar membutuhkan tempat bersandar untuk menangis. Aku menangis dalam pelukan Aciel, sementara Aciel memelukku dan menepuk-nepuk punggungku pelan.


"Apa yang membuatmu sedih hingga menangis seperti ini? Kau mengenal keduanya?"


Aku melepas pelukan Aciel, menyeka air mata yang membasahi pipi, lalu menarik nafas panjang. Bukan hakku mengungkap identitas mereka, aku benar-benar merasa jika menceritakan identitas mereka yang sebenarnya pada Aciel merupakan suatu kesalahan besar yang akan aku sesali nantinya, mereka pasti akan mengungkap semuanya ketika mereka siap, maka selama mereka belum siap aku harus tetap diam.


Aku menatap Aciel dan berusaha membelokkan pembicaraan, "aku menangis karena kau marah padaku!"


"Masih bisa berbohong? Maka sepertinya kau sudah baik-baik saja." Aciel berjalan ke arah kotak yang tadi pagi dibawa Joana, ia membawanya ke ladang budidaya, aku mengekor di belakang Aciel. "Selesaikan sarapanmu lebih dulu," Aciel menatap ke arah meja yang kini tinggal menyisakan piringku yang masih penuh makanan.

__ADS_1


Aku tak punya pilihan lain selain menuruti perintah Aciel, aku tak mau dia marah lagi. Aku segera duduk dan mulai memasukkan makanan ke mulutku, walaupun tak berselera. Mataku masih mengikuti Aciel yang kini bergerak memasuki ladang budi daya, ia meletakkan kotak di tanah, ia lalu mengeluarkan beberapa alat berkeb[n dari dalam cincin penyimpanannya.


"Kenapa tidak menggunakan sihir?" aku bertanya pada Aciel yang kini mulai mencangkul tanah, otot-otot lengannya tampak jelas meski ia memakai kaos lengan pendek.


"Kadang melakukannya dengan manual memberi kepuasan tersendiri," jawab Aciel tanpa memandangku, ia terus menerus mencangkul tanah.


"Aciel, menurutmu apa itu cinta?" aku bosan dengan makananku, maka mengajak Aciel bicara adalah salah satu cara agar pikiranku teralihkan sembari makan.


Burung-burung berterbangan bergerombol di atas kami, kabut mulai menyingkir dan matahari mulai menampakkan penuh dirinya.


Aciel sempat menghentikan aktifitasnya beberapa saat, ia tampak memperhatikan tanah-tanah yang telah berhasil ia cangkul sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya.


"Bagiku, cinta selalu memiliki dua muka, tapi hanya memiliki satu nyawa."


"Aciel, apa artinya?" tanyaku sambil berlari mendekat ke arah Aciel yang tampaknya telah mencangkul 1/3 bagian lahan. Aku menyerahkan sebotol air yang tadi kubawa dari dapur, setelah mencuci piring.


Aciel menerimanya dan menenggaknya hingga habis, ia lalu mengulurkannya kembali padaku. "Bagiku cinta selalu diiringi oleh kebahagiaan dan kesedihan, tapi hanya satu hal yang bisa membuatnya bertahan."


Aku menerima botol kosong yang diulurkan Aciel, "apa itu?"


Aciel menatap tepat kedua mataku, "kesetiaan."

__ADS_1


Angin berhembus ringan, suara hewan di kandang belakang mulai menambah ramainya suasana. "Kesetiaan?" tanyaku lagi.


"Bagiku kesetiaan adalah nyawa dari cinta yang akan selalu diiringi oleh kebahagiaan dan kesedihan, karena kesetiaan adalah wujud dari pengorbanan, ketulusan, keterbukaan, kebesaran hati dan cinta itu sendiri." Aciel tiba-tiba tersenyum singkat, "jadi apakah kau bisa memberikan kesetiaanmu padanya?"


Pertanyaan Aciel membuat jantungku berdetak kencang, kesetiaan? dan Aciel bertanya apakah aku bisa memberikan kesetiaanku pada Varen?


Ini adalah pertanyaan ke dua yang Aciel lontarkan padaku mengenai Varen, "jika menunggunya adalah bentuk dari kesetiaan, maka berarti ya, aku bisa memberi kesetiaan padanya."


Aciel tersenyum simpul, ia kembali menatap tajam kedua mataku, "apakah kau benar-benar menunggunya dengan segenap hatimu, ataukah menunggunya hanya karena kewajiban sebagai seorang tunangan?"


Deg! Aciel kembali membuatku kaget, ia tampak tak membutuhkan jawabanku karena kembali mencangkul, sedangkan aku masih tak bisa bergerak, otak dan hatiku tak sejalan. Pertanyaan yang sama kembali muncul di benakku, 'apakah aku mencintai Varen?'


Tiba-tiba langit tampak mendung, awan berarak, petir menyambar. Aku mengangkat tanganku dan merasakan tetesan air mulai jatuh, angin berhembus dengan cepat dan tampaknya matahari memilih bersembunyi.


"Ayo!" Aciel menarik tangan kananku, ia tampak menyelesaikan tugasnya tepat waktu dan telah memasukkan semua peralatannya kembali ke dalam cincin penyimpanan. Aku menatap Aciel lalu menggeleng padanya, aku menginginkan tubuhku basah karena hujan, aku ingin merasakan hantaman tetesan air yang menggelitik, aku melepas tangan Aciel.


"Aku ingin sendiri," kataku pada Aciel yang masih berdiri di hadapanku. Tanah yang dicangkul Aciel kini mulai basah, bunyi tetesan air yang jatuh bagaikan alunan musik yang indah membuat tubuhku terasa nyaman.


"Aciel!" teriakku ketika Aciel mengangkat tubuhku, ia membopongku dengan paksa. Akibat takut jatuh, aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Aciel membopongku sambil sedikit berlari ke arah gedung utama, tangannya membopongku dengan sekuat tenaga, nafasnya berat dan aku menyadari jarak wajah kami yang teramat sangat dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya, aku pun sadar hembusan nafasku seolah menerpa lehernya yang menghangat.


Setibanya di belakang gedung, Aciel tampak menyihir pintu hingga membuka dengan sendirinya, tapi ia tampak tak berniat menurunkanku, ia tetap menggendongku memasuki gedung menuju ke arah tangga. Ia membopongku menaiki tangga, gerakannya membuatku merasakan detak jantungnya yang teramat cepat, tanganku merasakan kehangatan yang menguar dari tubuhnya, aura Aciel tampak menguar kuat.

__ADS_1


"Mandilah segera," Aciel menurunkanku di depan pintu kamar yang menyerupai dinding. Ia langsung berbalik dan tampak menuju kamarnya yang berada dekat dengan kamarku, ia menyihir pintunya lagi hingga terbuka debgan sendirinya, lalu masuk ke dalamnya tanpa menoleh ke arahku, "brak!" pintu kamarnya tertutup dengan kencang.


Telingaku masih menangkap bunyi jatuhnya air hujan, angin pun tampak semakin kencang mengirinya, dan aku masih berdiri menatap pintu yang baru tertutup.


__ADS_2