Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
65. Joana dan Lia


__ADS_3

"Apakah pekerjaanmu telah selesai Joana?" tanyaku pada Joana.


Aku, Joana dan Aciel kini berada di kantor yang terletak di lantai dasar, kami duduk di meja bundar, entah kenapa kini aku melihat ada sedikit rasa takut di mata Joana.


"Betul Nona, hamba menyelesaikannya dengan cepat hari ini, agar hamba bisa segera datang menemui anda," Joana menatapku dengan mata bulatnya yang besar.


"Apakah kau benar ingin bekerja di sini?" tanyaku lagi.


"Ya, benar Nona. Saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Aciel dengan nada sinis.


Aku melirik ke arah Aciel, berusaha memperingatkannya untuk bersikap lebih baik, tapi ia tampak tak peduli dengan peringatanku.


"Apa kau ke sini hanya untuk bisa melihatku setiap hari?" lanjut Aciel masih dengan nada yang tidak mengenakkan hati.


"Ya," aku beralih menatap Joana, di matanya seolah ada api yang membara. "Ya, saya memang ingin bekerja di sini agar saya bisa melihat tuan setiap hari, tapi saya juga punya kemampuan yang bisa saya tawarkan."


Suara Joana terdengar lantang dan menantang, ia menatap berani ke arah Aciel, aku berusaha tetap diam dan tidak ikut campur, situasinya sungguh mirip pertengkaran suami isteri.


"Saya mengenal tanaman obat dengan baik, maka saya bisa membantu anda dalam budidaya tanaman obat," Joana terlihat serius. "Jika anda menerima saya, bukankah anda beruntung?"


Aku menantikan kelanjutan adu mulut keduanya, biasanya awal yang seperti ini akan berakhir dengan cinta yang bersemi, setidaknya itu yang kutangkap dari beberapa buku roman di perpustakaan istana.


"Beruntung? Apa saya tidak salah dengar?" wah Aciel tampak teramat kesal, kata-katanya jelas menyindir Joana.


"Bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai?"


Perubahan ekspresi terlihat jelas di wajah Aciel, ia terlihat seperti disadarkan akan sesuatu, kali ini ia menatap Joana dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.


"Jika anda menerima saya, anda bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai," Joana melanjutkan dengan penuh tekad.


"Brak!" Aciel memukul meja dengan keras, lalu meninggalkan kami berdua. Ia beranjak menaiki tangga dan tak lama kemudian, "Brak!" suara pintu dibanting terdengar jelas menggema di seluruh gedung, aku yakin emosi Aciel tengah memuncak.


"Ehm," aku berdehm untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Saya tidak akan meminta maaf untuk hal yang baru saja saya katakan," Joana kini menunduk dan tak menatapku.


"Tentu saja, itu hakmu," jawabku lugas.


Joana mengangkat wajahnya dan kini menatapku, "bagaimanakah rasanya dicintai?"


Aku terhenyak, pertanyaan Joana teramat tersirat. "Tampaknya kau salah mengartikan sesuatu, Joana."


Joana menggeleng, "tidak, nona." Ia menarik nafas panjang, "saya hidup seorang diri sejak kecil di jalanan, suatu hal ajaib saya bisa bertahan hingga saat ini."


Senyumku menghilang seketika, rasa iba memenuhi hatiku. "Bagaimana bisa? bagaimana bisa kau hidup seorang diri di jalanan? Apalagi di kekaisaran matahari?"


Joana meremas tangannya, ia tampak mengumpulkan keberanian. "Saya bukan berasal dari kekaisaran ini, nona."


Mataku rasanya mau keluar, apa sebenarnya yang hendak ia bicarakan?


"Banyak yang saya pelajari dari kehidupan saya sendiri dan salah satunya adalah tekad yang kuat, jika saya menginginkan sesuatu maka saya harus memiliki tekad yang kuat untuk memilikinya, perlu anda tahu bahwa saya tidak takut untuk tersakiti, karena rasanya tubuh dan hati saya sudah kebal dengan rasa sakit."


Aku tersenyum menatapnya, "kalau begitu, maka bekerjalah mulai besok, aku berharap di sini kau bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang kau lontarkan padaku, Joana."


Joana tampak terkejut, tapi dengan cepat ia mengatasi keterkejutannya, ia berdiri dan meraih uluran tanganku, ia menjabat tanganku erat.


"Saya akan bekerja keras nona, saya tidak pernah melepaskan apa yang saya inginkan."


Aku tersenyum, "kalau begitu berusahalah Joana, semoga kau mendapatkan apa yang kau inginkan dengan jalan yang baik."


"Terimakasih nona," ia melepaskan tanganku dan undur diri. Langkah kakinya yang terdengar menaiki tangga, membuatku menghela nafas panjang.


"Akan banyak pertengkaran kecil yang terjadi," ucapku sambil tersenyum sendiri.


"Nona Rara, bisakah kita bicara?"


Aku terkejut dan menemukan Lia menghampiriku dengan membawa dua gelas cangkir cokelat hangat, aromanya membuatku tenang. Uap panas terlihat jelas di udara yang dingin akibat hujan yang kini telah reda, aku memberikan senyum hangatku padanya.


"Tentu, duduklah."

__ADS_1


Kami duduk bersebrangan, Lia menaruh secangkir cokelat panas di hadapanku, dan satu lagi di hadapannya.


"Saya tahu anda melakukannya karena ingin membantu saya, tapi saya rasa itu tidaklah perlu, nona."


Aku meraih cangkir di hadapanku dan melingkupinya dengan kedua tanganku, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku.


"Maaf jika saya melewati batas," ucapku sambil menatap wajah Lia yang kini tampak pucat.


"Tidak nona, saya hanya tidak ingin nona membuang energi berharga nona untuk sesuatu yang sia-sia."


Lia tampak menunduk menatap lantai, aku bahkan tak bisa melihat wajahnya. "Kami sudah mencoba segala cara, tapi tetap tak ada bedanya."


Aku meraih tangan Lia, "maafkan saya Lia, maaf jika saya terlalu ikut campur, hanya saja saya tidak sanggup melihat anda yang tampak menahan sakit setiap waktu."


"Rasa sakit sudah menjadi makanan sehari-hari saya nona, saya sudah terbiasa."


Aku melepaskan tangannya, "Lia, jika saya meminta ijin untuk mencobanya, apakah anda akan mengijinkan?"


Lia tampak ragu, ia menatapku seolah takut kecewa akan kegagalan yang belum tentu terjadi, "saya memang tidak bisa menjanjikan kesembuhan, tapi setidaknya bukankah lebih baik berusaha?"


"Rasa sakit datang beberapa bulan lalu, saat saya memasuki usia tujuh belas tahun. Awalnya saya merasakan tubuh saya seperti tertusuk ribuan jarum, saya berusaha menahannya tapi semakin lama semakin sakit hingga seorang tabib membuat rasa sakitnya sedikit lebih bisa ditoleransi, tapi sayang hingga kini rasa sakitnya terus muncul berulang, dan tabib itu telah tiada. Puluhan tabib telah mencoba tapi mereka gagal, mereka bilang yang memulai haruslah yang menyelesaikan."


"Lia, apakah sejak kecil anda memiliki aura tembaga?"


Lia mengangguk, "hanya aku yang memiliki aura tembaga di dalam keluarga, aku bahkan sempat mengira bahwa aku bukanlah anak kandung karena auraku yang berbeda."


"Aura apa yang dimiliki anggota keluarga lainnya?" tanyaku sedikit menyelidik.


"Mereka memiliki aura hijau penumbuh dan aura tanah," kata Lia menjawabku cepat. Aku teringat aura Ken yang berpendar hijau terang, apakah mungkin?


"Jadi saat berumur tujuh belas tahun, tidak ada aura lain yang terbuka?"


Lia menggeleng, "tidak, karena aku teramat kesakitan, tabib itu menurunkan tingkat sakitku. Tapi nahas sepulang dari mengobatiku, ia meninggal."


Mungkinkah dugaanku benar?

__ADS_1


__ADS_2