
"IBUUUUU BIBIIIII...BIBIIIIII IBUUUU!"
Suara teriakan bocah laki-laki disertai langkah kaki belasan orang yang berlari membuatku tersadar dari mimpi, tapi aku masih enggan membuka mata, kubiarkan suara-suara itu terdengar meramaikan suasana pagi yang terakhir kali terasa sunyi.
"Agler, ini masih pagi tidak bisakah kau tidak berteriak? Tidak bisakah kau berjalan alih-alih berlari?"
Aku tersenyum, walaupun mataku terpejam dan lama tak bertemu, aku tahu betul bahwa Agam sang kakak sedang menegur adik kembarnya, dan pastinya dengan mimik yang tegas.
"Ah kakak, sejak di perkemahan aku selalu menuruti kata-katamu, sekarang kita sudah pulang, setidaknya biarkan aku menjadi diriku sendiri!" Agler terdengar merajuk.
"Tapi lihatlah, banyak pelayan kelelahan karenamu, Agler!"
Terdengar sunyi beberapa saat, mungkin Agler sedang berpikir mengenai tindakannya.
"IBUUU.. BIBI... AGLER DATANG... IBUU... BIBI....!"
Kali ini aku benar-benar tak bisa menahan tawa, aku menyerah akan tidurku dan membuka mata, seketika aku melihat wajah kak Nala yang rupanya telah terbangun, ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, "bersiaplah sebentar lagi kekacauan akan datang!" ucapnya lalu tertawa bersamaku.
"AGLER!" suara Agam kali ini terdengar bagai peringatan keras.
"Mereka sudah bermalas-malasan selama setahun penuh kak, biarkan mereka berlari agar tetap sehat!"
"Hahahaahaahaa... dengarlah anak siapa mereka itu!" aku tertawa terbahak mendengar teriakan keduanya yang mungkin membahana di seluruh istana.
"Kedamaianku akan berakhir hari ini," ucap Kak Nala bercanda sambil menampilkan mimik memelas.
"BRAAAAK!" Pintu kamarku terbuka dengan keras hingga kedua pintunya membentur dinding.
"IBUUUU BIBIIII, AGLER RINDU KALIAN BERDUA!"
Bocah laki-laki berumur sepuluh tahun berlari masuk ke dalam kamar dengan kecepatan tinggi, ia melepas sendalnya dan naik ke atas ranjang, menciumiku dan kak Nala bergantian lalu berbaring di tengah-tengah, kedua tangannya membuka lebar, aku dan kak Nala tersenyum dan memberinya pelukan hangat. Agler mempunyai mata biru tua Kak Nala, rambut ikal coklat seperti milik ayahnya tampak dibiarkan memanjang sebahu.
"Agam memberi hormat pada Ibunda dan Bibi," suara Agam membuat kami bertiga menoleh ke arahnya, ia tampak bersimpuh dengan gagah memberi hormat pada kami yang masih berpelukan di ranjang. Berbeda dengan Agler, Agam memiliki mata coklat tua kak Aditya dan rambut lurus hitam pekat Kak Nala, sama dengan Agler, rambutnya kini dibiarkan panjang sebahu.
Kami bertiga mendudukkan diri di tepi ranjang, Agler masih menggelanyut memelukku dan Kak Nala.
"Kemarilah Nak, ibu sangat merindukanmu!"
Agam bangkit dan mendekati kak Nala, ia menciumnya lalu memeluknya erat, alhasil kami membentuk lingkaran kecil sambil berpelukan, Agam melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Kak Nala, pagi ini aku menyadari bahwa waktu berlalu dengan cepat, keponakan kembarku tak terasa telah tumbuh begitu besar dan tampan!
"Oh hampir saja lupa!" Agler menepuk keningnya. Kami melepas pelukan dan duduk berderet di tepi ranjang, sementara lewat pintu aku bisa melihat belasan pelayan kelelahan akibat berlari mengejar Agler tadi, banyak dari mereka terlihat susah payah mengatur nafas, ada pula yang sampai terbatuk-batuk kelelahan, aku tersenyum melihatnya, dan kujentikkan jari, serbuk emas turun bagaikan hujan, memberi energi tambahan bagi mereka yang telah setia mengabdi pada keluarga kekaisaran, para pelayan Agam dan Agler tampak terkejut ketika serbuk-serbuk emas menyentuh tubuh mereka, mereka mendongak menatap langit seolah takjub.
"Bibi, semalam sebelum ayah menjemput aku dan Kakak, ada seorang paman tampan yang datang menghampiri." Agler menatapku dengan sepasang mata polosnya, "Paman itu bilang kalau ia mencintai Bibi dan meminta restu kami."
__ADS_1
Aku melongo mendengar penuturan Agler, "lalu apa yang kau lakukan Agler?"
Agler tampak diam dan sedikit menghindar dari pertanyaanku, aku pun beralih menatap Agam yang kini duduk di samping kak Nala.
"Agler meminta Paman itu memetik buah-buahan, berburu hewan dan membuat api unggun, ia bahkan melarang paman itu memakai sihir."
Mendengar jawaban Agam, aku semakin melongo, bagaimana bisa Agler terpikir untuk mengerjai Varen?
"Hahaha... bagus Agler!" Kak Nala dan Agler melakukan toss di depan mataku. "Lalu apa yang kau lakukan pada paman itu, Agam?"
Kali ini Agam memilih diam, sehingga pandanganku dan Kak Nala jatuh pada Agler.
"Aku tidak tahu apa yang kakak lakukan pada paman itu karena sibuk makan, tapi mereka tampak bicara cukup lama, hingga aku melihat kakak memberi paman restu tepat beberapa saat sebelum ayah tiba," Agler menjawab dengan polos.
"Aku meminta kristal aura paman itu, aku bilang padanya jika ia mau restuku maka aku menginginkan kristal aura dalam tubuhnya," Agam menatap mataku.
Kristal aura adalah pusat atau sumber aura yang tertanam di dalam tubuh, jika seseorang memberikan kristal auranya maka ia akan mati karena kehilangan aura secara tiba-tiba, walaupun ada sedikit kasus yang menyatakan bahwa seseorang bisa tetap hidup tanpa aura, tapi meminta kristal aura seseorang sama halnya dengan meminta nyawa pada orang tersebut.
"Paman itu tanpa ragu dan tanpa berpikir, ia langsung menyetujui permintaanku, maka aku memberi restu padanya," Agam masih menatap sepasang mataku dengan tatapan yang penuh makna, "ibu pernah berkata bahwa mencintai seseorang dengan tulus dapat membuat kita rela mengorbankan nyawa kita demi orang yang kita cintai, maka ketika paman itu rela memberikan kristal auranya, aku pikir paman itu benar-benar mencintai bibi."
Agam tampak meraih sesuatu dari cincin penyimpanannya, ia menggenggamnya dengan satu tangan lalu memperlihatkannya.
"Agam!" Kak Nala berteriak saking terkejutnya, dan aku hampir limbung!
Bagaimana tidak? Kukira ia hanya menggertak Varen, tapi kristal aura di tangan Agam membuktikan bahwa Varen benar-benar menyerahkan kristal aura pada Agam.
Sedangkan pandanganku terfokus pada kristal aura yang kini ada di tangan Kak Nala, aura Varen jelas terasa di sana, aroma mint bercampur vanilla membuatku teramat yakin bahwa itu adalah benar kristal aura Varen.
"Apakah benar ini kristal yang diberikan paman itu? Apa ia benar-benar mengeluarkannya dari tubuhnya?"
Agam mengangguk tanpa ragu, "ya, aku melihatnya sendiri bu."
"Waktu datang aura paman itu terlihat sangat terang, tapi ketika berpamitan, aku sama sekali tak bisa melihat auranya." Agler terlihat mengingat apa yang ia lihat tadi malam.
"Aira," Kak Nala memanggilku, tatapannya jelas menyiratkan sesuatu yang serius tengah terjadi. "Pergilah sekarang, sementara aku akan mendisiplinkan mereka berdua," Kak Nala menyerahkan kristal aura Varen padaku, rasa dingin terasa menguar hebat di tanganku.
"Apakah aku melakukan kesalahan bu?" Agam bertanya dengan polosnya.
"Agam, kata-kata ibu menyiratkan bahwa kau harus mencintai dengan tulus tanpa meminta balasan, tanpa perhitungan, tapi apa yang kau lakukan pada paman sama dengan.."
Aku menghentikan kata-kata Kak Nala, karena aku tahu benar kedua keponakanku terutama Agam tak bermaksud menyakiti Varen, mereka hanyalah tak tahu konsekuensi yang mereka lakukan. Aku berjongkok diantara Agam dan Agler dengan menunjukkan kristal aura Varen.
"Lihat baik-baik, mungkin ini kesempatan sekali seumur hidup untuk melihat kristal aura seseorang," ucapku. "Inilah yang dinamakan kristal aura, tempat aura di tubuh kita bersumber."
__ADS_1
"Agler dan Agam juga memilikinya, walaupun kalian kembar, tapi kristal aura kalian juga berbeda, setiap orang memiliki kristal aura sendiri yang berbeda dengan orang lain, maka kristal aura tidak dapat digantikan."
"Apa yang terjadi jika kristal aura dikeluarkan?" Agler tampak penasaran.
Aku berusaha tenang dan memberi penjelasan, aku tidak ingin mereka memiliki kenangan buruk dan rasa bersalah sepertiku. Kenangan tentang ayah Aciel yang terbakar takkan pernah bisa hilang dan aku menyadari kejadian ini bisa membuat kenangan buruk bagi kedua keponakanku, terutama Agam yang cerdas, maka aku pun harus menjelaskannya dengan baik.
"Agam, Agler, jika kristal aura dikeluarkan dari tubuh seseorang, maka tubuh orang itu akan kosong, tak ada lagi aura yang akan bersinar keluar dari dirinya."
"Ha!" Agler terlihat terkejut, Agler menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Apa itu artinya bahwa aku membunuh paman?" Agam menatapku cemas, ada rasa bersalah yang terlihat jelas.
Aku menggeleng, "tidak Agam." Aku membelai pundak Agam, "jika ini terjadi pada orang lain mungkin mereka akan langsung meninggal, tapi bibi yakin paman Varen akan bertahan."
"Bagaimana bibi bisa yakin kalau paman masih hidup?" Agler menyela dengan suaranya yang meninggi, ada rasa keingintahuan yang teramat besar.
"Tentu, karena kami saling mencintai maka kami saling terikat di sini," aku menunjuk hatiku. "Bibi bisa merasakan kalau paman baik-baik saja, dan kita akan segera bertemu."
"Benarkah?" Agam tampak meragukan kata-kataku.
"Tentu saja! Lihatlah, cincin dan kalung ini juga terikat pada paman Varen, kalau sesuatu terjadi pastilah keduanya telah rusak, tapi lihat keduanya baik-baik saja bukan?" tanyaku yang dijawab anggukan keduanya.
"Ah syukurlah," Agler tampak lega.
"Bibi, maafkan aku." Agam tampak mendekat ke arahku sambil menunduk, "aku benar- benar hanya ingin memastikan bahwa paman itu mencintai bibi dengan tulus, karena aku tidak ingin memberi restu ke orang yang salah. Aku tidak tahu kalau akibatnya bisa seburuk itu."
"Oh kemarilah," aku menarik Agam ke dalam pelukanku. "Bibi tahu, paman Varen juga mengetahui maksud baikmu, maka ia setuju untuk memberikannya padamu."
Aku melepas pelukanku dan menatap lurus mata Agam, "paman Varen tidak akan menyerahkan kristal auranya kalau tahu hidupnya akan terancam, karena tujuan paman adalah menikah dan hidup dengan bibi."
Aku tersenyum pada Agam dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya, "harusnya bibi lah yang berterimakasih pada kalian, karena kalian sungguh-sungguh menguji paman Varen, dari ujian yang kalian berikan bibi menyadari bahwa kalian menyayangi bibi, bibi sangat tersentuh, terimakasih anak-anak, kemarilah!"
Agam dan Agler kutarik ke dalam pelukanku, aku mencium pucuk kepala keduanya, "nah sekarang pergilah dengan ibu kalian, bibi harus bersiap untuk pergi."
"Apa bibi akan mencari paman?" tanya Agler yang kini berada dalam rengkuhan Kak Nala, begitu pula Agam.
"Paman baik-baik saja, untuk apa bibi mencarinya?" tanyaku lagi.
"Bagaimana kalau paman sakit?" Agam tampak masih mengkhawatirkan Varen.
"Tidak, percayalah." Aku tersenyum sambil.meyakinkan keduanya. "Bibi berjanji jika nanti bertemu paman, bibi akan langsung menyuruhnya menemui kalian."
"Janji?"
__ADS_1
Agam dan Agler secara bersamaan menunjukkan jari kelingkingnya ke arahku, mereka ingin aku membuat janji. Aku memasukkan kristal aura Varen ke dalam cincin penyimpanan, lalu meraih kedua jari kelingking Agam dan Agler, "bibi berjanji."
Senyum terukir di wajah Agam dan Agler, begitupun dengan Kak Nala yang tampak menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mencoba menampilkan senyum terbaiku padanya, seolah berkata 'aku baik-baik saja'.----