Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
47. Brankas Rahasia


__ADS_3

Sebuah kamar monokrom memenuhi pandanganku, warna hitam dan putih mendominasi di setiap sudut ruangan. Felix mendudukkan dirinya dengan kasar di sebuah sofa besar berwarna hitam, tangan kanannya mengepal kuat, dari matanya tampak ia menahan amarah, aura merah apinya kini dibiarkan tak terkendali, memberi tekanan pada siapa saja yang memiliki kekuatan di bawahnya. Aku berbalik menatap Balin, dan seketika bersyukur bahwa Balin tampak baik-baik saja, tak terpengaruh sedikitpun. Mungkinkah Balin memiliki kekuatan di atas Felix? Pertanyaan ini akan kusimpan untuk nanti.


Aku berjalan mengelilingi kamar Felix, dan tertarik pada sebuah lukisan. Lukisan keluarga yang hangat, tampak Raja Hakan muda duduk berdampingan dengan seorang wanita, keduanya memakai mahkota dan dibelakang keduanya berdiri dua orang anak laki-laki. Kulangkahkan kaki mendekati lukisan itu, karena kedua anak laki-laki itu tampaknya..


"Kakak!"


Aku berbalik dan mencari asal suara, dan oh astaga! Tudung itu jelas kuingat benar bahwa itu adalah tudung yang dipakai Alderik saat menonton turnamen, dan kali ini ia datang ke kamar Felix lalu memanggilnya kakak? Mungkinkah anak laki-laki di lukisan tadi adalah Felix dan Alderik?


Alderik tampak melepaskan tudungnya, aku kembali terkejut melihatnya! Perkiraanku tepat, sama seperti yang tergambar pada lukisan, mereka berdua benar-benar bagai pinang di belah dua, mereka berdua ternyata kembar! Oh astaga, kenyataan ini membuatku menyesal tidak mempelajari sejarah keluarga kerajaan-kerajaan yang ada di kekaisaran matahari dengan seksama!


Alderik memiliki bentuk alis, hidung dab bibir yang sama dengan Felix, yang membedakan hanyalah mata dan rambut mereka. Felix memiliki rambut hitam pendek dan mata coklat, sementara Alderik memiliki rambut coklat panjang dan mata hitam pekat. Felix memiliki pembawaan dingin tak tersentuh, tapi Alderik tampak sedikit lebih bebas dan hangat?


Felix berdiri dari tempat duduknya dan bergegas memeluk Alderik, "anak nakal! Ke mana saja kau selama ini?"


"Melakukan semua yang aku inginkan!" Alderik membalas pelukan Felix sambil tersenyum lebar. "Kakak, apa kau punya uang?"

__ADS_1


Felix melepaskan pelukannya, "tentu!" Felix menjentikkan jarinya hingga muncul sebuah kantong berwarna emas, kantong itu terbang ke arah Alderik. "Ambillah dan lakukan semua yang kau ingkan, tapi ingat! Aku mempercayaimu karena aku tahu kau tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar hukum, norma dan etika. Ketika suatu hari aku mendengar kau melakukan satu saja hal yang melanggar ketiganya, aku tidak segan-segan menghukummu dengan tanganku sendiri!"


Alderik menyahut kantong emas itu dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur Felix. "Tentu Kak, tidak diingatkanpun aku sudah tahu! Aku kan tidak mau membuat ibu sedih," ucap Alderik dengan mimik mirip anak kecil yang merajuk.


"Kakak, bagaimana pendapatmu mengenai Yang Mulia Putri Mahkota?" kali ini Alderik tampak bersemangat hingga mendudukkan dirinya.


Felix berjalan mendekat dan duduk di samping adiknya, "tentu Yang Mulia tampak cantik dan bijaksana, ke-agungannya pun tak dapat dipungkiri."


Aku melihat senyum tipis di wajah Alderik, "kakak, aku rasa aku jatuh cinta pada Yang Mulia Putri Mahkota!"


Aku menghela nafas, kejutan apalagi yang akan kulihat kali ini? Aku mengamati keduanya, kali ini Felix menatap Alderik, tersenyum lalu berkata, "jika kau mencintai Yang Mulia, maka perjuangkanlah cintamu Alderik!"


Alderik memanyunkan bibirnya, "tapi aku tahu kalau ayah pasti akan mengirimkan upeti lamaran atas nama kakak, aku tidak ingin bersaing dengan kakak!"


Felix tampak kembali tersenyum, ia mengusap kasar rambut Alderik. "Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri adalah orang paling bijaksana yang pernah kutahu, dan aku yakin Yang Mulia Putri Mahkota juga akan sama bijaksananya. Cepat atau lambat Yang Mulia pasti akan tahu kalau upeti lamaranku dikirimkan oleh ayah bukan olehku sendiri, maka namaku juga akan tercoret dengan sendirinya."

__ADS_1


Aku sama bijaksananya dengan ayah dan ibu? Hatiku mencelos mendengarnya, 'maaf, sepertinya kalian menilaiku terlalu tinggi.'


"Alderik, jika kau benar-benar mencintai Yang Mulia, maka perjuangkanlah! Jangan menyerah sebelum bertanding! Yang Mulia pasti bisa melihat mana yang sungguh mencintai beliau dan mana yang hanya menginginkan tahta."


Alderik menjatuhkan dirinya hingga terbaring lagi, "tapi aku tak punya apa-apa kak. Apakah Yang Mulia mau denganku yang miskin ini?"


Felix menjitak kepala adiknya sedikit keras, "jangan meragukan Yang Mulia! Lagipula apa yang kau maksud bahwa kau miskin? Kau pangeran kerajaan api, salah satu kerajaan terkaya di kekaisaran matahari! Jadi percaya dirilah, aku akan selalu mendukungmu," Felix ikut berbaring di samping adiknya, ia menatap langit-langit kamar. "Bahkan jika harus menyerahkan tahta padamu, aku akan melakukannya dengan senang hati!"


Alderik tampak terdiam beberapa saat setelah mendengar kata-kata Felix, "apakah kakak tidak memiliki perasaan pada Yang Mulia?"


"Tak usah mengalihkan pembicaraan Al!" Felix tampak memejamkan matanya, "perjuangkanlah dengan sungguh-sungguh, hingga kau merasa tak akan menyesalinya!"


Alderik bangun dari tempat tidur, ia merapikan bajunya dan kembali memakai tudung yang tadi ia lepaskan, kantong emas masih ia genggam di tangan kanannya. "Baiklah Kak, aku akan melakukan apa yang kau katakan! Sampai jumpa Kak, dan oh terimakasih uangnya! Sering-seringlah tersenyum agar ada wanita yang mau denganmu!"


Felix segera bangun, ia tampak menghampiri adiknya dengan kesal, tapi Alderik menghilang dengan cepat, tepat sebelum Felix bisa meraihnya. Felix tampak menghela nafas panjang, ia berjalan pelan ke arah lukisan yang tadi kulihat. Tangan kanannya menekan dinding di belakang lukisan, hingga dinding itu terbuka, menampakkan ruangan rahasia yang penuh dengan lukisan. Aku mengikuti Felix masuk ke dalam ruang itu, sedari masuk mataku disuguhi beberapa lukisan yang terpajang indah di dinding, dimulai dari lukisan pertunangan Raja Hakan dan ibu Felix, pernikahan keduanya, lukisan saat istri Raja Hakan mengandung, potret bayi Felix dan Aldera, hingga berakhir pada lukisan ke empatnya berada di sebuah taman yang indah, tampak seperti sebuah liburan keluarga.

__ADS_1


Selain lukisan, alat dan bahan melukis tertata rapi, aku bahkan seperti merasa berada di sebuah toko alat lukis yang amat lengkap. Felix menggeser lukisan bunga lily putih yang menggantung di tengah dinding, lalu ia memancarkan energinya ke dinding, dinding yang tadinya polos kini menampakkan sebuah brankas yang cukup besar. Ia menjentikkan jarinya dan otomatis brankas itu terbuka, brankas itu lebih tepat jika disebut ruang penyimpanan rahasia, karena ukurannya yang menyerupai ruangan dan dapat dimasuki manusia. Felix memasuki brankas dan kembali menjentikkan jarinya, brankas yang tadinya gelap gulita kini berubah menjadi terang. Lampu-lampu estetik menyerupai lilin yang menempel di dinding, menyala dengan indahnya, membuat brankas itu semakin terang.


Tapi terangnya brankas rahasia Felix membuatku sedikit terhuyung, bagaimana tidak? Brangkas ini berisi penuh lukisan seseorang yang amat kukenal!


__ADS_2