
"Ada masalah apa hingga datang menemuiku dengan wajah kusut seperti itu adikku sayang?" tanya kak Prisa yang menatapku sekilas, lalu ia kembali menyibukkan diri dengan tumpukkan kertas di hadapannya.
"Kak, pernahkan kakak menemukan aura seseorang tersegel walaupun sudah lewat dari usia tujuh belas tahun?" aku mendudukkan diri di hadapan kak Prisa yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Pangeran atau Putri dari kerajaan mana yang kau ceritakan?" tanya kak Prisa tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di hadapannya, tangannya tampak sibuk menulis dengan cepat.
"Putri bungsu Kerajaan Green," jawabku jujur.
Kak Nala menghentikan gerakan tangannya dan menatapku sekilas, "dia menyegelnya secara tak sadar, atau ada orang lain yang menyegelnya?"
"Ada orang lain yang menyegelnya, tapi orang itu telah tiada."
Kak Prisa menatapku serius, "jangan mencoba menyelesaikannya sendiri Aira, karena bisa berakibat fatal. Temuilah ibunda, lebih cepat lebih baik."
Aku mengangguk, "terimakasih kak, sampai jumpa lagi." Aku mendekat pada Kak Prisa dan memeluknya, lalu kembali mengaktifkan portal.
"Tampaknya ada sesuatu yang mengganggu putri bungsu ibu, hingga wajah cantiknya tampak lesu." Ibunda bangkit dari jursi kerjanya dan menyambut kedatanganku dengan pelukan hangat, ia mendudukkanku di sofa.
"Ada apa putriku sayang? Bicaralah," ibunda mengelus rambutku beberapa kali.
"Aku baru saja mendatangi kak Prisa, dan kakak menyuruhku menemui ibunda."
Ibunda tampak menegakkan punggungnya, seolah ia tahu kalau putri keduanya telah mensiratkan ada sesuatu hal yang perlu ditangani dengan serius.
"Aku menemukan aura putri bungsu kerajaan green tersegel, bukan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh orang lain, dan orang itu telah tiada."
Ibunda menyatukan kedua tanganku dan menggenggamnya, "putri bungsu kerajaan Green? Ah, putri Lia yang cantik."
Ibunda tampak tersenyum sambil mengucap nama Lia, "ibu mengenalnya?"
"Tentu, ia sangatlah cantik hingga tak dapat dengan mudah dilupakan."
Ibunda menatap sepasang mataku, "apakah ia kesakitan?"
__ADS_1
Aku mengangguk, "Lia bercerita kalau ia merasakan sakit yang teramat sangat saat usianya menginjak tujuh belas tahun, ada seorang tabib yang berhasil mengurangi rasa sakitnya, tapi nahas tabib itu kini telah tiada, sehingga ia harus menanggung rasa sakit setiap hari."
Ibunda tiba-tiba mencium keningku, "sadarkah kau Aira?" mata ibu terlihat berkaca-kaca. "Ibu bahkan tak sanggup membayangkan rasa sakit yang dulu kau tanggung untuk mengaktifkan aura pelangimu."
Deg! Ingatan akan rasa sakit yang teramat menyiksa kembali berputar di benakku, "apakah Lia juga merasakannya saat ini?"
Ibu mengangguk, "ia benar-benar merasakannya untuk waktu yang lama, mungkin tak sesakit apa yang kau rasakan, tapi pastilah teramat menyiksa."
"Ibu, tolong sembuhkan Lia. Aku tak sanggup melihatnya kesakitan setiap hari, ia bahkan memiliki Liam yang teramat mencintainya, ia berhak bahagia."
"Liam dari kerajaan api?"
Aku kembali mengangguk, tampaknya ibu mengenal banyak orang di kekaisaran ini.
"Ya, mereka telah menikah walaupun aku tak tahu kapan tepatnya."
Ibu menghela nafas panjang, "rasa sakit yang Lia rasakan sekarang adalah akibat dari aura yang tersegel. Jika seseorang memiliki dua aura yang bertolak belakang, maka pengaktifan aura terasa teramat menyakitkan."
Ibu kembali menatapku dengan sedih, ia menggenggam tanganku erat. Mungkin karena aku memiliki banyak aura yang bertolak belakang? Bahkan aku memiliki aura gelap dalam pelangiku.
"Melihat anggota kerajaan Green, maka aura yang tersegel kemungkinan merupakan aura tanah atau aura hijau penumbuh."
Ibu mengernyitkan dahinya, "yang jadi masalah adalah, bisakah ia menahan rasa sakit yang berkali-kali lipat dari apa yang ia rasakan sekarang ketika kita membuka segelnya? Apakah kondisinya memungkinkan?"
Aku sangat tahu, kondisi Lia sangatlah lemah. Mengingat rasa sakit yang pernah kurasakan, aku ragu kalau ia dapat menahannya sekarang. "Ibu, apakah ada cara yang bisa lakukan agar ia dapat menahannya?"
"Membaginya," jawab ibunda singkat.
"Apakah sama seperti apa yang telah dilakukan ketika ibu mengandung hingga melahirkanku?" tanyaku serius.
Ibu mengangguk pelan, "tapi tetap tak bisa menjamin keselamatannya, Aira."
Tubuhku terasa lemas, aku menyenderkan punggungku ke sandaran sofa. "Ibu, aku ingin melihat senyuman cantik Lia setiap hari, aku benar-benar ingin dia bahagia."
__ADS_1
"Keabadiannya telah terkikis akibat segel auranya yang tidaklah alami, biarkan dia membuat pilihan atas hidupnya sendiri, sayang."
Ibu menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu ia mendaratkan ciuman di dahiku.
"Kembalilah sekarang dan tanyakan padanya, beritahu ia dengan segala konsekuensi yang ada, karena ia berhak tahu segala sesuatu tentang hidupnya sendiri."
Ibu mengelus pucuk kepalaku, lalu berdiri dan beranjak pergi dari ruang kerjanya, hingga meninggalkanku duduk sendiri.
Pikiranku masih mencoba mencerna semua kata-kata ibunda, ada satu hal yang mengganjal dari semua perkataan yang diucapkan ibunda. 'Keabadiannya telah terkikis' apakah ini menandakan bahwa Lia sebenarnya makhluk abadi, dan kini keabadiannya terkikis, apakah itu tandanya bahwa kini ia tak lagi abadi? Aku merasa kesal pada diriku sendiri, kenapa terasa sangat sulit untuk membantu Lia? Apakah aku memang tak mampu?
"Sayang, apa kau di dalam?"
Pintu terbuka dan kepala ayah terlihat dari celah pintu, "oh, putriku sayang!"
Ayah berhambur masuk dan menarikku dalam pelukannya, "untung ayah berpapasan dengan ibumu, jadi ayah bisa bertemu denganmu! Oh ayah sangat merindukanmu!"
Aku membalas pelukan ayah yang hangat, "ayah, terimakasih karena telah membuatku lahir dalam keluarga yang penuh cinta ini."
Ayah melepas pelukannya, "apa yang membuatmu mengatakannya, sayang?"
Aku teringat kata-kata Joana, "baru-baru ini seseorang bertanya padaku bagaimana rasanya dicintai. Ayah apakah di luar sana mengerikan? Hingga ada orang yang harus hidup sendirian di jalanan?"
"Ibumu tidak menceritakan hal ini pada ayah, apakah ini hal lain yang mengganggumu?"
Aku mengangguk, ayah menuntunku kembali ke sofa, kami pun duduk berdampingan.
"Ada banyak hal yang tentunya belum kau ketahui nak, dan yang kau utarakan barusan adalah salah satunya." Ayah menyandarkan punggungnha di sandaran kursi, matanya tampak berkelana. "Ayah bahkan selalu menangis ketika melakukan perjalanan keluar dari tiga kekaisaran, banyak hal tidak manusiawi dialami oleh manusia," ucap ayah dengan suara yang sedikit bergetar.
"Maka, jika dia perempuan sayangilah ia seperti saudaramu sendiri. Hidupnya pasti sulit selama ini. Ada yang bilang, orang yang paling sering tersenyum, sebenarnya adalah orang yang paling menderita. Ia sudah terbiasa dengan penderitaan sehingga membuatnya dengan mudah tersenyum."
Ayah kini menatapku dalam, "setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Jangan pernah putus asa, meski hasilnya nanti tak seindah yang kau impikan, ketahuilah setidaknya tidak ada usaha yang sia-sia, putriku."
Ayah mengecup keningku, "ingatlah kalau kau punya keluarga yang akan selalu ada di sampingmu, apapun keadaanmu."
__ADS_1
Air mataku mengalir, kasih sayang ayah amat kurasakan hingga membuatku bergetar. Wajah Lia dan Joana terbayang di benakku, aku ingin memberikan yang terbaik bagi keduanya, benar kata ayah, ada orang lain yang tak seberuntung diriku, maka aku harus memberikan yang terbaik bagi mereka. Setidaknya aku harus memulai usahaku agar aku tahu usahaku tak sia-sia, bukan?
Aku memeluk erat ayah, air mataku terus jatuh membasahi baju kaisar ayah.