
"Sayang, kau di dalam?"
Kutarik pintu hingga terbuka dan menampakkan Varen tersenyum dengan tampannya ke arahku, ia mengulurkan tangan kanannya.
"Mau berkeliling denganku?"
"Tentu," aku meraih tangan Varen. Kami bergandengan dan melangkah bersama ke halaman kediamanku, bunga-bunga mulai bermekaran, dan pohon-pohon mulai berbuah.
"Aciel menyatakan perasaannya," ucapku menghentikan langkah.
Varen ikut berhenti di sampingku, "dan ia tak meminta jawaban?"
Aku mengangguk dan menatap Varen, aku takut Varen marah.
"Maka aku harus berhati-hati, jika aku membuatmu menangis maka Aciel tak akan tinggal diam," Varen tersenyum ke arahku. "Aku tahu Aciel adalah sahabat yang baik untukmu, aku percaya padanya."
Mataku mulai berkaca-kaca, akhir-akhir ini aku sungguh sangat cengeng. Varen melepas genggaman tangannya dan dengan kedua tangannya, ia memegang wajahku. Ia menatapku dalam dan menenangkan, "terlebih lagi aku sangat percaya padamu, sayang. Aku mencintaimu," ucap Varen lalu mendekatkan wajahnya.
Ia menciumku lembut, "aku tahu kau memberinya ruang di hatimu sebagai satu-satunya sahabat yang kau miliki, aku akan menghormati keputusanmu selama tak melewati batasan."
Varen kembali meraihku dan menciumku sedikit lebih kasar dari sebelumnya, kali ini ia tampak ingin melahapku, hingga aku kehabisan nafas.
"Tak bisa kupungkiri kalau aku cemburu," Varen menatapku yang tengah bersusah payah mengatur nafas akibat ciumannya yang sedikit kasar. "Keserakahanku akan dirimu tak bisa kukendalikan lagi, Aira. Aku ingin memilikimu seutuhnya."
Aku menatap Varen yang kini meluapkan perasaannya, "Varen, semakin dekat dengan pernikahan, aku semakin takut."
__ADS_1
"Takut?" Varen mengulangi kata-kataku.
Aku mengangguk pelan, Varen kembali menggandeng tanganku dan menuntunku duduk di sebuah ayunan, kami duduk berhadapan di ayunan yang terayun pelan.
"Apa yang membuatmu takut, Aira?" Varen menyatukan kedua tanganku dan menggenggamnya.
"Kesetiaan," ucapku singkat. "Aku bahkan meragukan diriku sendiri, ketika berkeliling aku melihat banyak keluarga kerajaan yang mengalami masalah akibat tak setia, Varen. Aku takut, kau tergoda wanita lain."
Varen tertawa lebar, "kenapa kau bisa berpikir begitu?"
Aku mulai cemberut karena Varen menanggapiku dengan sedikit bercanda, ia bahkan tersenyum seolah aku menggemaskan, "nanti setelah menikah, ketika aku hamil, badanku akan membesar, ketika aku melahirkan fokuskupun akan terpecah antara dirimu dan anak kita, aku pun akan kehilangan waktu untuk merawat diri, terlebih kau pasti akan merasa terabaikan, aku takut kau tak bisa bertahan dan memilih mendapatkan perhatian dari wanita lain."
Kecemasanku semakin bertambah mendekati hari pernikahan, aku teringat akan banyak raja yang memiliki lebih dari satu istri, "aku ingin memilikimu seutuhnya Varen, aku benar-benar tidak ingin berbagi. Aku juga membenci pengkhianatan," mataku menatap tajam sepasang mata Varen.
"Sayang, bukankah aku telah bersumpah atas nyawaku? Aku bersumpah jika aku akan setia padamu, dan jika aku melanggar maka aku akan mati, karena sumpahku terikat dan tak dapat kucabut." Varen menatapku penuh kasih, "sayang, apapun perubahan yang terjadi padamu, ketahuilah aku pun akan berubah bersamamu, mendampingimu dan mencintaimu selalu, bagiku kau adalah segalanya. Jangan pikirkan hal-hal buruk, oke?"
"Apa yang kau bicarakan Aira? Kenapa kau sangan sensitif hari ini?" Varen tampak bingung melihatku.
"Aku takut tak dapat memenuhi ekspektasimu, karena aku tetaplah wanita biasa Varen, aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai banyak kekurangan, aku takut aku tidak dapat mendampingimu dengan baik dengan segala kekuranganku, sedangkan di luar sana banyak yang lebih pantas untukmu."
"Sayang," Varen menatapku dengan fokus penuh, ia menghentikan waktu, hingga anginpun tak berhembus. "Jadi kau mulai meragukan dirimu sendiri?"
Aku mengangguk, aku lebih meragukanndiriku sendiri daripada meragukan Varen, aku merasa diriku tidaklah sepadan dengannya, Varen memiliki segalanya di mataku, ia tampan, berhati mulia, dan memiliki aura yang teramat kuat, kepemimpinannya pun tak diragukan lagi, tapi aku? Aku hanyalah manusia biasa.
"Tak ada alasan bagimu untuk meragukan dirimu sendiri, apalagi merasa rendah diri, Aira." Varen membelai rambutku. "Semua wanita di empat kekaisan, sangat mengagumimu. Mereka menciptakan tren yang bersumber darimu, para wanita berlomba-lomba memenuhi standar tertinggi yang dibuat berdasarkan dirimu, dan yang paling penting adalah hatimu yang seluas samudera, seberharga alam semesta dan lebih indah dari pelangi, bagaimana bisa wanita paling dikagumi di empat kekaisaran meragukan dirinya seperti ini?"
__ADS_1
Varen mengangkat kedua tanganku dannmencium keduanya, "kekasihku Aira, maukah kau mengunjungi suatu tempat bersamaku?" Varen menarik nafas panjang, "tampaknya kau butuh liburan singkat."
Aku mengangguk, dan aku melihat senyum terlukis di wajah Varen. Varen turun dari ayunan yang masih terhenti di udara, ia lalu meraihku dan menggendongku di depan dadanya.
"Varen," panggilku dengan nada protes, tapi Varen hanya membalasku dengan senyum tampannya. Ia membuka portal yang langsung menampakkan tempat yang dituju, ketika Varen melangkah, kami telah sampai di tempat yang Varen tuju.
Varen menurunkanku perlahan, lalu meraih pinggangku, kami berdiri bersebelahan menatap pemandangan yang menakjubkan. Kakiku terasa sedikit tergelitik akan sensasi tekstur butiran pasir putih yang terhampar luas. Burung-burung berterbangan di atas hamparan laut biru yang berkilau di bawah sinar mentari, ombakpun bergulung seolah menyapa kedatangan kami berdua. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi di tepi pantai, daunnya bergemirisik tertiup angin, rambutkupun seolah menari karenanya.
"Sangat indah, sudah lama aku tak melihat laut." Seketika aku merasakan perubahan emosi dalam diriku, dan membuatku melingkarkan tangan ke pinggang Varen, kedua tangan Varen pun melingkupiku, ia membelai lenganku lembut.
"Jangan pernah bosan, karena di masa depan pemandangan inilah yang akan kita nikmati setiap hari, sayang."
Aku tak menduga kata-kata Varen hingga melepas tanganku darinya, kutatap mata Varen lekat-lekat, "inikah golden ring?"
Varen mencium keningku, "ya, inilah tempat tinggal kita di masa depan." Varen menyisir rambutku dengan tangannya lalu meletakkan beberapa helai di belakang telingaku, "kau bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dari sini, atau," Varen membalikkan tubuhku hingga menghadap arah yang berbeda, "atau memilih salah satu puncak tertinggi.
Aku terkesiap dengan apa yang kulihat, Varen memelukku dari belakang dang melingkarkan kedua tangannya di perutku. Deretan pegunungan yang membentang dari Barat-Utara hingga ke Timur tampak menakjubkan bagaikan benteng tinggi yang tak mudah ditembus, hamparan hutan yang masih asri di depanku membuatku takjub saking cantiknya, banyak bunga-bunga liar di tepi hutan yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya, ini benar-benar sebuah keindahan yang menakjubkan!
Kurasakan ciuman Varen mendarat di pucuk kepalaku, tangannya kini melingkar di leherku. "Apa kau menyukainya?" bisik Varen di telingaku.
"Bukan hanya aku, tapi anak-anak kita nanti pasti juga akan sangat menyukainya," ucapku sambil berbalik hingga kami saling berhadapan. Aku berjinjit dan mencium ringan bibir Varen, "terimakasih karena telah mengerti aku sepenuhnya, Varen."
"Aku berjanji akan terus berusaha membahagiakanmu, Aira." Varen meraih tengkukku dan mulai menciumku, ia memulai dengan kelembutan yang menenangkan dan tampak semakin menggebu hingga akhir. "Aku benar-benar ingin segera memakanmu, kenapa kau bagaikan candu untukku?"
Varen menarikku ke dalam pelukannya, sementara aku masihbkewalahan mengatur nafasku karenanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Aira, sekarang dan selamanya," suara Varen bagaikan angin surga di telingaku, membuat jantungku berdebar kencang, aku pun mempererat pelukanku, aku berharap kebahagiaan ini bertahan selamanya.