Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
34. Bersama Balin


__ADS_3

Aku menceritakan semuanya, seperti apa yang diminta Paman Ezio, hingga akhirnya setelah selesai, aku kembali menyandarkan punggungku pada batang pohon beringin emas dan menutup kedua mataku. Saat menutup mata, indraku terasa lebih peka. Aku tidak merasakan hembusan angin sedikit pun, seperti berada di ruang hampa, tapi energi alam yang kurasakan berlimpah ruah tak terhingga, aku menyerapnya beberapa.


"Tapi paman, sepertinya bukan aku yang melakukan perjalanan waktu karena aku tidak tahu caranya! Aku selalu tersadar ketika sudah berada di tempat yang berbeda, mungkinkah ada orang lain yang mengendalikanku?" tanyaku sambil membuka mata.


"Tidak ada," jawab Paman Ezio dari samping kiriku, ia kembali bersandar seperti aku. "Itulah yang dinamakan panggilan waktu," Paman Ezio menatap lurus terlihat memikirkan sesuatu. "Waktulah yang meminta kehadiran Yang Mulia."


"Apa itu artinya aku bukan pengendali waktu?" tanyaku dengan senang, kalau aku bukan pengendali waktu, maka aku tidak perlu mencemaskan masa lalu dan masa depan yang tidak kuketahui, aku hanya ingin menjadi manusia biasa, batinku.


"Bukan," Paman Ezio tetap menatap udara kosong di depannya. "Yang Mulia lebih dari sekedar pengendali waktu," Paman Ezio tiba-tiba berdiri dan menjentikkan jarinya.


Seketika angin berhembus lembut, daun-daun emas yang tadinya melayang kini berjatuhan menyentuh tanah. Waktu yang tadinya terhenti kini kembali berjalan. Paman Ezio tampaknya sengaja tak ingin menjawab pertanyaanku lebih jauh.


"Hormat saya Jendral Agung."


Suara Balin menyadarkanku, aku segera berdiri dan membersihkan pakaianku. "Yang Mulia," Balin berlari kecil mendekatiku, sementara Paman Ezio telah berjalan menjauh tanpa menengok ke belakang. Aneh, rasanya Paman sengaja menjauh dan meninggalkan aku.


"Balin, apa kau baik-baik saja?"


"Tentu, Yang Mulia. Terimakasih telah menerima sumpah setia hamba," jawab Balin dengan wajah berseri-seri. Tampaknya Balin sama sekali tak ingat kalau ia sempat tak bergerak menyerupai patung tadi.


"Tapi maaf Yang Mulia, kenapa Jendral Agung tiba-tiba muncul? kenapa pula langsung pergi begitu saja?"


Aku mengangkat kedua bahuku, "entahlah Balin." Kulangkahkan kaki perlahan menuju ke istana, aku ingin menunggu ayahanda dan ibunda di ruang makan untuk sarapan pagi ini. Balin berjalan di belakangku dalam diam.

__ADS_1


Lorong demi lorong kulewati, banyak hal dipikiranku. Aku benar-benar ingin membersihkan pikiranku dari semua hal.yang mengganggu, tapi tak bisa jika aku tak menemukan jawaban dari segala rasa penasaranku.


"Balin, apa saja yang kau tahu tentang Paman Ezio?" tanyaku sambil terus berjalan melewati lorong, beberapa pelayan dan prajurit memberi hormat ketika aku lewat, aku membalas sesuai aturan yang ada.


"Jendral Agung adalah petarung yang hebat, belum ada yang bisa mengalahkannya, Yang Mulia."


Aku mengangguk membenarkan perkataan Balin, selama ini tidak ada yang berani menyatakan perang pada kekaisaran matahari, salah satu alasannya adalah karena kami memiliki Paman Ezio. "Ada lagi?"


"Jendral Agung menutup rapat kehidupan pribadinya, tidak ada yang tahu mengenai asal-usul maupun keluarga beliau. Walaupun begitu kami sangat menghormati beliau, tidak ada yang berani mempertanyakannya," jawab Balin jujur.


Aku menghentikan langkahku ketika sampai di ruang makan yang dijaga oleh empat orang pengawal, pintunya yang megah masih tertutup rapat, mungkin koki istana dan para pelayan belum selesai mempersiapkannya, tentu saja karena aku datang 60 menit lebih pagi dari waktu yang seharusnya.


"Ampun Yang Mulia, ruang makan belum siap." Seorang prajurit maju dan memberi hormat padaku, "mohon ampun Yang Mulia, bersediakah Yang Mulia menunggu sebentar?"


"Tentu," ucapku sambil tersenyum. "Maaf aku yang salah telah datang terlalu pagi," aku lupa dengan kenyataan bahwa waktu sempat terhenti atas ijin Paman Ezio.


"Balin, apakah kau pernah merasa bosan hidup di kekaisaran ini?" tanyaku sambil berbelok di lorong, dua prajurit yang menjaga pintu memberi hormat dan mempersilahkan aku masuk.


"Bosan?" tanya Balin mengulangi kata-kataku.


Aku memasuki ruang baca pribadi milikku, ternyata selama aku pergi ibunda mengganti design ruangan favoritku ini. Design ceria khas anak kecil dengan warna-warni cerah, kini berganti menjadi lebih dewasa dengan perpaduan warna emas dan perak, bunga lily pink, putih dan baby breath disihir menjadi dekorasi ruangan yang menambah keindahan, sejenak aku mengagumi selera ibunda.


Aku mendudukkan diri di sofa coklat tua yang terletak di pojok ruangan, sofa baru yang ternyata amat nyaman, mungkin ibunda memilihnya sendiri atau meminta pengrajin membuatkannya? karena tampaknya ini bukan benda sihir.

__ADS_1


"Ya Balin, Bosan." Aku menunjunjuk ke deretan sofa di hadapanku yang juga berwarna coklat tua, sofa-sofa ini ditata membentuk setengah lingkaran, dengan 1 sofa yang kududuki menjadi pusat di tengahnya.


"Duduklah, Balin."


Balin tampak ragu, tapi setelah beberapa saat dia tampak mendudukkan dirinya di kursi paling pojok yang paling dekat denganku, mungkin itu yang ternyaman untuknya karena dengan begitu aku tetap bisa berada dalam jangkauannya jika sesuatu hal terjadi.


"Bukankah seseorang bisa bosan hidup di kekaisaran ini? Tidak ada perang, jarang terjadi konflik, dan semua hal yang diinginkan tampaknya bisa didapatkan." Pikiranku melayang membandingkan kekaisaran matahari dan kekaisaran perak. Berbeda dengan kekaisaran Matahari yang hampir seluruh penduduknya mahir menggunakan sihir, kekaisaran perak justru lebih bergantung pada kemampuan fisik.


"Bukankah seharusnya tingkat kebahagiaan lebih tinggi, Yang Mulia?" Balin tampak berpikir keras, "dengan tidak adanya perang maka kami bisa hidup tenang dan damai tanpa takut nyawa kami direnggut paksa." Balin menengadahkan kepalanya menatapku, "bukannya bosan, kami malah bersyukur bisa hidup dan menjadi rakyat kekaisaran matahari Yang Mulia. Banyak penduduk kekaisaran lain di luar sana yang mendambakan hidup seperti kami."


Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, sebelum melihat kekaisaran perak, aku berpikir bahwa kehidupan kekaisaran Matahari adalah kehidupan standar bagi semua kekaisaran, tapi nyatanya berbeda, apakah mungkin di kekaisaran lain bahkan ada yang lebih menderita?


"Balin, pernahkah kau pergi ke kekaisaran lain selain kekaisaran Matahari, Bulan dan Bintang?" tanyaku penasaran.


"Pernah Yang Mulia, dulu selama menjalani tes dari Jendral Agung, hamba diwajibkan untuk melakukan tugas ke beberapa wilayah kekaisaran lain." Ada sedikit kobaran api menyala di mata Balin, "banyak hal di kekaisaran lain yang membuat saya bersyukur bisa menjadi rakyat kekaisaran Matahari Yang Mulia."


"Apakah itu Balin?" tanyaku penasaran.


"Banyak Yang Mulia, ada kekaisaran yang saling memperebutkan wilayah, adapula petinggi kekaisaran yang tamak memakan hak rakyat, adapula yang dilanda kekeringan berkepanjangan sampai dilanda wabah penyakit yang memilukan."


Aku bergidik mendengar cerita Balin, separah itukah? Kenapa bisa seperti itu? Apa yang terjadi?


"Tok...tok..tok.."

__ADS_1


Balin segera berdiri dan membuka pintu yang tadi diketuk, dari tempatku duduk aku melihat prajurit yang tadi berjaga di depan pintu ruang makan berbicara pada Balin, seusai menyampaikan beberapa kata pada Balin, ia langsung melangkah pergi, mungkin kembali menjaga ruang makan?


Balin bergegas menutup pintu dan berjalan sedikit tergesa ke arahku. "Yang Mulia, sarapan pagi Yang Mulia akan diantarkan ke sini," ucapnya dengan tegas, tampaknya ia tak akan menerima bantahan dariku.


__ADS_2