
Dingin, aku merasakan dinginnya tangan Varen. Kepalaku mengingat cara ibu Varen menyembuhkan lukaku, aku menyerap beberapa aura ibu Varen saat ia menyembuhkanku. Tampak aura putih suci milik ibu Varen keluar dari tangan kananku, perlahan mulai menyelimuti tubuh Varen. Aku mengamati luka di lengannya, tapi nihil! Sama sekali tak ada perubahan yang terjadi.
"Bukan salahmu Aira," Varen melepas genggaman tanganku. "Bukankah aku sudah bilang, ibuku bahkan tak bisa menyembuhkanku," Varen menatapku dengan tersenyum, seolah sudah terbiasa.
"Maaf Yang Mulia," ucapku sambil menunduk. Mataku terasa perih, aku jadi ingat diriku sendiri di masa lalu. Tepatnya saat aku menyadari bahwa aku sama sekali tak memiliki bakat, aku berbeda dari orang lain. Rasanya sakit tapi harus pura-pura baik-baik saja di depan orang lain.
"Ada ramalan yang mengatakan bahwa akan datang waktunya naga perak menyembuhkanku," Varen kembali menatap langit.
Aku hanya bisa diam, auraku tersegel maka aku sama sekali tak bisa memanggil Ryu. Aku juga sudah beberapa kali mencoba memotong rambut dan meneteskan darahku, tapi selalu gagal.
"Pasti dia akan datang, bertahanlah Yang Mulia." Aku mengikutinya menatap langit, "hamba juga mendapatkan banyak keajaiban belakangan ini, banyak ramalan yang mewujud menjadi kenyataan, tak ada yang mustahil Yang Mulia."
Varen mengangguk, tatapannya masih fokus ke arah langit. "Aku tahu kau bukan rakyatku, kau bukan berasal dari kekaisaran perak."
Perkataannya berhasil membuatku menoleh menatap Varen, matanya yang biru masih menatap langit. Rambut peraknya berkilau tertimpa cahaya, kulit putih pucatnya tampak sedikit bersinar.
"Aku datang ke gua batu untuk melakukan ritual turun temurun. Ritual yang harus dilakukan oleh setiap pewaris tahta sebelum beranjak 17 tahun."
Aku masih mengamati wajah Varen, kini ia menutup matanya, kedua tangannya disilangkan di depan dada. Punggungnya bersender di sandaran kursi yang kami duduki. "Ritual itu bertujuan untuk memasukkan aura gelap ke dalam tubuhku, pembelajaran agar aku bisa mengendalikan aura gelap yang kejam."
Tiba-tiba aku teringat aura hitam yang keluar dari kedua kotak yang diberikan ayahanda, aura hitam itu juga masuk ke dalam tubuhku. Aku bergidik ngeri membayangkannya, aura hitam itukah yang dimaksud Varen? Aura yang sampai saat ini masih menyegel auraku.
__ADS_1
"Dari yang kulihat kau juga melakukan ritual yang sama," ucap Varen masih dengan mata yang tertutup. "Jadi siapakah kamu sebenarnya Aira? Tidak ada yang berhak melakukan ritual ini kecuali seorang pewaris, karena aura gelap bisa melahap jiwa-jiwa yang tak terpilih."
Aku menundukkan kepalaku, "aku hanyalah Aira. Aku bukan pewaris, aku bukan putri mahkota seperti Yang Mulia pikirkan, setidaknya aku berkata jujur untuk saat ini. Percaya atau tidak, itu adalah hak Yang Mulia."
Entah kenapa aku tidak bisa memberitahunya lebih banyak, ada keengganan di dalam hatiku. Tapi aku memberitahunya dengan jujur, bahwa memang aku bukanlah putri mahkota, karena ayah sama sekali belum pernah melakukan pengangkatan resmi padaku.
"Untuk sementara aura gelap akan menyegel aura yang kita miliki. Segel akan terlepas dengan sendirinya saat usia pewaris tepat 17 tahun, dan besok adalah hari ulang tahunku."
Varen membuka matanya dan melihat ke arah bulan yang masih tampak bersinar. Bila besok segel Varen terlepas, maka bagaimana denganku? Aku bahkan tidak lagi mengingat hari dan bulan, dan aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya waktu pada Varen.
"Tapi aku berbeda dengan yang lain," Varen menatap ke arahku. "Aku tidak tahu akankah menjadi baik atau buruk bagiku nanti."
Aku menoleh ke arah Varen, "Yang Mulia hamba yakin besok adalah hari yang baik untuk Yang Mulia."
Mataku mengerjap beberapa kali mencoba memikirkan kemungkinan dari apa yang kupikirkan. "Yang Mulia,"
"Panggil aku Varen, Aira."
Aku hendak menolak, tapi kini Varen menatapku tajam. Mata birunya mengatakan bahwa ini adalah perintah, bukan permintaan.
"Ehm, baiklah Varen." Aku memantapkan diriku untuk bertanya, "Varen apakah kau memiliki hewan suci?"
__ADS_1
Varen menegakkan punggungnya, ia tampak mulai tertarik dengan obrolanku. "Belum, aku harus menciptakannya sendiri, nanti saat aku telah berhasil melewati malam ulang tahunku. Aku tidak dapat menciptakan hewan suci ketika auraku masih tersegel."
Aku mengingat cara singa emas yang begitu lugas memberitahukan padaku cara menciptakan Ryu, "apakah caranya adalah dengan memotong beberapa helai rambutmu dan meneteskannya dengan 3 tetes darahmu Varen?"
"Aira, siapa kau sebenarnya? kenapa kau mengetahui rahasia kekaisaranku?" Varen mendekatkan mukanya padaku, matanya menatapku dengan menelisik. Aura dinginnya menguar, membuatku sedikit menggigil.
"Varen, aku tak bisa menjawab tapi ketahuilah aku tak berniat jahat padamu." Aku menatap balik sepasang mata birunya, "sesaat setelah auramu kembali, kau harus bergegas menciptakan hewan sucimu. Ia akan menjagamu dengan setia, maka ingatlah dan berjanjilah untuk melakukannya."
Aku melanjutkan kata-kataku setengah ragu, "jika sesuatu yang buruk terjadi, pergilah berlindung di gua batu, tempat di mana engkau menyelamatkanku."
Varen menyipitkan matanya, "bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?"
Benar, mana mungkin dia mempercayai kata-kataku yang notabene adalah orang yang baru saja ia temui. "Apa yang bisa aku lakukan agar kau menpercayaiku?"
"Bersumpahlah atas nyawaku," Varen mengambil tangan kananku dan meletakkannya di atas kepalanya. Belum pernah aku bersumpah atas nyawa seseorang, aku bahkan tidak berani. Aku menyentuh rambut perak pendeknya yang halus tapi dingin, aku melihat sepasang matanya berharap padaku. Ada keberanian yang kudapat dari tatapan mata Varen.
"Aku bersumpah atas nyawamu, Varen." Cahaya matahari yang kuserap siang tadi kini keluar dari tangan kananku, melingkupi tubuh Varen dan tubuhku bersamaan, seperti mengikat satu sama lain.
Varen kembali menarik tanganku dari kepalanya, kini ia menggenggamnya. "Aku percaya padamu," cahaya emasku kembali terserap, tak berbekas.
"Berjanjilah untuk melakukan apa yang ku katakan Varen. Berjanjilah untuk bertahan, apa pun yang terjadi," aku merasakan sesak di dadaku. Ingatanku penuh dengan gambaran Varen yang terbujur kaku tak berdaya akibat racun dingin. Air mataku tak terbendung lagi, mengalir dengan derasnya. Varen melepas genggaman tangannya, ia menghapus air mataku dengan kedua tangannya. Tapi aku tak bisa berhenti, aku tak kuasa mengingat Varen yang tak berdaya. Tangisku semakin keras dan sesenggukan. Varen menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Berhentilah menangis Aira, aku berjanji." Varen menepuk punggungku pelan, mencoba menenangkanku dalam pelukannya. "Aku berjanji akan mengingat dan melakukan apa yang kau katakan."
Air mataku masih mengalir deras, hingga membasahi baju Varen yang kupeluk. Aku menangis di pundaknya sambil berdoa agar Varen bisa bahagia dan lepas dari racun dingin.