Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
27. Realita


__ADS_3

"Aira bangun!" Suara kak Nala memenuhi telingaku.


Tubuhku terasa sedikit lemas dan mataku rasanya berat untuk kubuka. Aku merasa sangat mengantuk.


"Ya ampun bisa-bisanya kamu tidur saat penyatuan! Bangun Aira!"


Suara Kak Prisa membuatku sedikit membuka mata, "tapi aku ngantuk banget kak." Sahutku lalu kembali memejamkan mata, rasanya sangat mengantuk, seolah energiku habis diperas.


"Duh dasar ni anak, gak ada jalan lain!"


Aku masih memejamkan mata mendengarkan suara kak Prisa, tak lama kemufian aku merasakan jari telunjuk di dahiku, aku menebak itu jari telunjuk kak Prisa. Aliran energi terasa menyegarkan, membangunkan syaraf-syarafku yang kelelahan, memulihkan tenagaku sedikit demi sedikit.


"Udah, cepet bangun!" Omel Kak Prisa lagi, "masa dibanguninnya harus pake sihir segala!"


Aku mengerjap beberapa kali, cahaya lampu menerobos masuk ke mataku. Aku melihat Kak Prisa berdiri di sampingku dengan muka yang cemberut. "Tapi kak beneran aku tuh tadi ngantuk banget, cape juga rasanya kaya abis perang!"


"Iih perang apaan! Mana ada yang abis ritual penyatuan trus bisa tidur lelap kayak orang mati, ya cuma kamu tau!" Kak Prisa kembali mencibirku.


"Penyatuan?" tanyaku bingunh, ada sesuatu yang mengganjal. Rasanya aku melupakan sesuatu, tapi apa?


"Udah-udah ah, kalian ini kalo ketemu mesti ada aja yang bikin berantem!" Kak Nala menengahi.


"Iih bukan berantem kak," sahutku dan kak Prisa bersamaan.

__ADS_1


"Hahaha," Kak Nala tertawa mendengar jawaban kami. "Duduklah Prisa," kak Prisa menurut dan duduk di sampingku. "Aira dengarkan baik-baik."


"Yang baru saja kita lakukan adalah ritual penyatuan. Ritual penyatuan merupakan ritual wajib bagi seorang penerus, dimana inti ritual adalah memasukkan aura gelap ke tubuh penerus, hingga dalam tubuhnya terdapat dua aura yaitu kegelapan dan cahaya."


Aku teringat bahwa aura gelap keluar dari dua kotak yang diberikan ayah padaku untuk diantar pada kak Nala dan kak Prisa. "Jadi ayah hanya menipuku dengan hukuman?"


"Iih bukan menipu!" sungut kak Prisa. Beneran deh dia itu ratu kalo di depan rakyatnya anggun banget, tapi ketika denganku, ya ampuun juteknya minta ampun! Tapi aku tahu hatinya teramat baik, dia selalu ada kapanpun aku butuhkan.


"Benar Aira, ayah tak bermaksud membohongimu," Kak Nala membelai rambut panjangku. Tunggu rambutku berwarna hitam, bukankah memang hitam? kenapa aku terus merasa kalau aku melupakan sesuatu?


"Sebelum ritual penyatuan, setiap pewaris atau penerus harus memiliki kekuatan inti dalam dirinya. Kau tahu kan kalau selama ini auramu tersegel?"


Aku mengangguk, tentu aku tahu, aku bahkan salah mengira kalau aku lahir tanpa bakat. Aku kembali menatap Kak Nala dan bersiap mendengarkan.


"Lagian siapa suruh menyulut emosi ayahanda, bagaimana bisa kamu bersumpah memberikan gelar putri mahkota kepada orang lain?" Kak Prisa bertanya sekaligus menegurku dengan pertanyaannya.


"Diam dulu kak, kak Nala belum selesai." Potongku pada Kak Prisa.


"Kalau dipikir-pikir semua yang terjadi sama persis seperti apa yang dikatakan tetua Mahira," Kak Nala menjeda perkataannya, matanya terlihat menerawang. "Aira apapun yang kau pikirkan tentang ayah dan ibu selama perjalanan adalah tidak benar. Mereka sangat menyayangimu dan amat sangat mengkhawatirkanmu. Mereka bahkan menyuruh kakak-kakakmu ini mengawasimu tanpa kecuali. Alasan ayah dan ibu tidak ikut campur adalah karena mereka ingin melatih kemandirian dan kepercayaan dirimu. Mereka ingin kamu mendapatkan pembelajaran langsung dari kehidupan di luar istana. Walaupun mereka berdua menahan diri, tapi mereka tetap membuat Paman Ezio bersiaga sepanjang waktu."


Aku mengangguk paham, kini aku mengerti kenapa Paman Ezio bisa tiba secepat itu, padahal biasanya ayah menugaskannya keliling benua.


"Jadi jangan lagi berpikir untuk menyerahkan tahta pada orang lain, kau paham Aira? Apa kau paham kalau kata-katamu sudah menyakiti ayah dan ibu?"

__ADS_1


Aku terhenyak mendengar kata-kata Kak Prisa, kini aku menatapnya meminta penjelasan dengan kedua mataku.


"Bayangkan saja, ayah dan ibu mengorbankan banyak hal untuk membangun kekaisaran di daratan ini, hanya demi satu tujuan, yaitu agar kita putri-putrinya aman terlindungi dari semua ancaman. Mereka bersusah payah menghabiskan tenaga untuk membangun kekaisaran yang indah, nyaman, aman dan makmur untuk kita, bahkan kakek dan nenek juga mengorbankan nyawa mereka untuk membuat lapisan pelindung, tapi tiba-tiba pewaris yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang menolak untuk mewarisi kekaisaran. Bukankah itu sama saja kalau kau tidak menghargai seluruh pengorbanan yang diberikan untukmu?"


"Tapi Kak saat itu aku benar-benar merasa tidak mampu, aku saat itu sama sekali tak memiliki bakat, bagaimana aku bisa memimpin kekaisaran?" tanyaku balik ke Kak Prisa.


"Tapi bukankah sekarang berbeda?" Kak Prisa beralih menatap Kak Nala, seolah meminta bantuan untuk menjelaskannya padaku.


Kak Nala menyeruput teh di depannya, setelah meletakkan kembali cangkirnya, ia mulai membuka mulut. "Sebagai pewaris kita memiliki dua aura yang sebenarnya bertolak belakang dalam tubuh kita. Dua aura yang tak bisa ditanggung oleh tubuh orang biasa. Hanya pewaris yang bisa mengendalikan keduanya yang mampu dan diakui sebagai pemimpin, karena seorang pemimpin haruslah bisa membuktikan bahwa ia telah mampu mengendalikan aura gelap dalam dirinya sendiri, bahkan mungkin bisa mengubahnya menjadi kekuatan. Tubuh yang dapat menerima kedua aura, membuktikan bahwa orang tersebut adalah pewaris murni, tidak ada alasan untuk menolak tahta, karena kamu telah dianggap sebagai pemimpin yang sempurna."


Aku melongo, aku pemimpin yang sempurna? Oh ya ampun, apalagi yang harus aku hadapi?


"Tapi kak, aku gak kan gak tau apa-apa."


"Kalau gak tau ya belajar, kalau lemah ya latihan! Apa gunanya tubuh yang sempurna tapi kemauan gak ada?"


Aku menatap Kak Prisa yang kini tampak gemas menghadapiku. "Aku tahu, tapi aku benar-benar takut kalau aku tidak bisa menjadi pemimpin yang hebat seperti kalian. Aku takut mengecewakan rakyat karena ketidakmampuanku."


"Aira, kamu bukan lagi anak kecil!"


Aku kaget, kali ini bukan Kak Prisa tapi Kak Nala. Kak Nala menegurku dengan suara yang agak meninggi.


"Aira, kehebatan didapat dari usaha. Bagian dari usaha tentunya adalah kegagalan, kehebatan dan keberhasilan didapatkan dari segala usaha dan kegagalan yang terus dipelajari tanpa henti hingga akhirnya menemukan jalan terbaik. Jalan terbaik inilah yang bisa terus dilakukan hingga tujuan dapat diraih, kami semua pernah mengalami kegagalan, pernah membuat kesalahan, tidak ada keberhasilan kekal tanpa kegagalan Aira. Jadi tak perlu takut, cobalah berani dan tegakkan badanmu, angkat kepalamu, jangan pernah takut untuk terluka maupun mencoba."

__ADS_1


Kak Prisa menarik nafas panjang, "lagi pula kamu tidak pernah sendirian, ada kami yang selalu di sampingmu. Tentu kamu wajib berusaha sendiri, tapi ada kami yang bisa kamu tanya ketika kebingungan, ada kami yang bisa memberi pelukan ketika kamu kelelahan, setidaknya ayah dan ibu tidak akan bersedih jika kamu bersedia menerima tanggung jawabmu."


__ADS_2