
Saat mengalirkan aura kuning, aku merasakan aura lain yang amat kuat berusaha masuk ke tubuhku. Daun-daun emas tiba-tiba berguguran, aku melepas tangan kananku dari pucuk kepala Balin, lalu menengadahkan kedua tanganku berharap menyentuh salah satu daun emas yang jatuh. Tapi anehnya daun itu berhenti tepat sebelum menyentuh telapak tanganku, diam melayang tak bergerak. Aku melihat berkeliling, daun-daun emas diam melayang seolah waktu berhenti, mataku lalu kembali menatap Balin. Keterkejutanku bertambah seketika melihatnya diam tak bergerak bagaikan patung. Aku bersiaga dan fokus mencari sumber dari aura kuat yang sempat kurasakan tadi.
Kulangkahkan kakiku menuju batang pohon beringin emas, semakin dekat, auranya terasa semakin menguat. Aku mengulurkan tangan kananku hendak menyentuh batang pohon beringin emas yang penuh dengan bekas goresan pedang.
"Aah!" aku refleks menutupi kedua mataku dengan tangan, cahaya emas yang teramat terang keluar dari dalam batang pohon beringin emas, memancar teramat terang. Saking terangnya aku mundur beberapa langkah, mengaktifkan auraku lagi dan menajamkan pandanganku.
"Yang Mulia!"
Aku menurunkan kedua tangan yang tadi kugunakan untuk melindungi mataku. Cahaya emas masih teramat terang, kulihat tampak seperti membelah batang beringin emas menjadi dua bagian, menyerupai pintu yang terbuka. Tapi anehnya seseorang berdiri di tengah-tengah pintu itu, seolah keluar dari dalam batang pohon. Aku mengerjap beberapa kali, mencoba beradaptasi.
"Paman Ezio?" panggilku memastikan, karena cahaya yang teramat terang, aku tak dapat melihat dengan jelas, aku hanya dapat melihat siluet tubuhnya, tinggi, tegap, dengan rambut sebahu yang tergerai dengan bebasnya. Berdasarkan suara yang memanggilku tadi, aku berasumsi bahwa orang yang kulihat tak lain adalah Paman Ezio.
"Yang Mulia!"
Aku kembali menajamkan pandanganku, entah kenapa auraku terasa menyeruak masuk dan menolak untuk kusiagakan. Sosok itu berlari ke arahku, dan seiring dirinya mendekatiku, batang pohon beringin emas mulai menyatu kembali, menyembunyikan cahaya emas menyilaukan di dalamnya, kembali tertutup rapat tanpa bekas.
"Yang Mulia, apa Yang Mulia bisa bergerak? apa kah Yang Mulia bisa berbicara?"
Aku menatap aneh Paman Ezio, wajahnya tersenyum girang bagaikan menemukan berlian! Dia benar-benar aneh, kukira ketika bertemu denganku pagi ini, ia akan bertindak cemberut layaknya anak kecil karena telah kuabaikan kemarin, tapi tak kusangka dia malah tersenyum, tunggu atau lebih tepat jika kubilang menyeringai? Aku bahkan bertemu dengannya dengan cara yang aneh!
"Memangnya aku patung! Tentu saja aku bisa bicara dan bergerak!" jawabku sedikit cemberut.
Paman Ezio berhenti tepat di hadapanku, ia tersenyum tangan kanannya meraih pucuk kepalaku dan mengelusnya beberapa kali. "Bukan itu maksud hamba, lihatlah Yang Mulia." Paman Ezio menunjuk daun emas yang masih diam melayang disampingku.
"Seperti halnya daun yang hanya diam melayang, Balin pun mengalami hal yang sama."
Kali ini aku membalikkan badan dan menemukan Balin yang masih pada posisi semula, diam tak bergerak bahkan tampak tak bernafas. "Paman, sebenarnya apa yang terjadi?"
__ADS_1
Paman Ezio tiba-tiba berjalan ke arah pohon beringin emas, mendudukkan dirinya di tanah dan menyandarkan punggungnya pada batang yang kokoh. Tangan kanan Paman Ezio menepuk tanah di sampingnya, isyarat agar aku segera duduk di sampingnya. Aku mengikuti dan duduk bersila di sampingnya.
"Tidak ada yang terjadi Yang Mulia, ini hanyalah efek sementara." Paman Ezio mulai menjelaskan padaku, tapi ia sama sekali tak menatapku, ia menutup kedua matanya.
"Efek? Efek dari apa?" tanyaku bingung.
"Perjalanan waktu," jawab Paman Ezio dengan suara tegasnya. "Hanya orang yang melakukan perjalanan waktulah, yang tidak terpengaruh oleh efek ini."
"Tapi aku?" pertanyaanku menggantung, aku ingin membantah kalau pernyataan Paman Ezio salah karena aku tidak terpengaruh efek walaupun aku tidak melakukan perjalanan waktu. Tapi ingatanku memberitahu sebaliknya, aku teringat perjalanan waktu saat melihat kelahiranku sendiri, selain itu pertemuanku dengan Varen bukankah bisa disebut perjalanan waktu?
Paman Ezio membuka matanya, menatapku lalu tersenyum dan mengangguk, seolah tahu semua yang kupikirkan. "Ya, ini menandakan bahwa Yang Mulia juga merupakan pengendali waktu."
"Pengendali waktu?" ulangku ingin penjelasan lebih.
Paman Ezio menggeser posisi duduknya, hingga duduk menghadapku dari samping. "Pengendali waktu adalah seseorang yang bisa menghentikan, mempercepat, menjelajah bahkan memanipulasi waktu."
"Tentu tidak semua pengendali waktu bisa melakukan apa yang hamba sebutkan, tetap ada tingkatan, dimana tingkatan terendah hanya menguasai satu kemampuan, dan seperti pada umumnya, semakin tinggi maka semakin banyak kemampuan yang dimiliki." Paman Ezio kembali menatapku, entah kenapa aku semakin merasa bahwa paman bisa mengetahui apa yang aku pikirkan.
"Jadi, apa saja yang telah Yang Mulia lakukan? Ke mana lebih tepatnya?"
Aku menunduk, dan terus menyender malas ke batang pohon beringin emas. "Waktu di saat aku lahir dan saat bertemu Varen." Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah Paman Ezio. "Tapi aku tidak tahu apakah itu bisa disebut perjalanan waktu atau bukan, karena" aku kembali menggantung kata-kataku, aku benar-benar gelisah, aku takut semua yang kuingat hanyalah khayalanku belaka, atau mungkin hanya mimpi!
"Karena?" Paman Ezio memintaku melanjutkan.
Aku menarik nafas panjang, "karena aku takut itu hanyalah khayalan atau mimpi belaka."
"Jika itu hanya khayalan atau mimpi, maka tidak ada kebenaran yang bisa dibuktikan, jadi sekarang mari kita lihat Yang Mulia," mata coklat Paman Ezio menatapku dengan menyelidik. "Saat Yang Mulia lahir apa yang Anda lihat?"
__ADS_1
"Semuanya," aku menggeser posisi dudukku hingga kini duduk bersila di hadapan Paman Ezio. "Itu pertama kalinya aku melihat Tetua Mahira, Kakek Kaisar dan Nenek Permaisuri kelima dan Alejandro," jawabku sambil menerawang.
"Yang Mulia Kaisar terdahulu dan Yang Mulia Permaisuri kelima, apa yang Anda lihat Yang Mulia?"
"Mereka datang menggunakan portal sesaat setelah aku lahir, dan sebelum memutuskan mengorbankan diri membuat lapisan pelindung naga api, mereka sangat rupawan dan itu pertama kalinya aku menyadari bahwa ayah sangat mirip dengan kakek dan kak Prisa mewarisi kecantikan Nenek Permaisuri ke lima, hanya warna rambut saja yang berbeda," aku mencoba mengingat lagi. "Sampai sekarang aku merasa bersalah pada Ibu Asuh Sarala karena suaminya, Alejandro meninggal saat bertarung waktu itu."
"Lalu bagaimana dengan yang lain?" Paman Ezio tampak terburu-buru mengganti topik, tapi aku menurutinya.
"Saat ingin kembali aku mendengar suara minta tolong, dan dari sanalah aku bertemu Varen."
Paman Ezio menatapku lagi, "hamba tidak mengenal siapa Varen, adakah bukti yang bisa Yang Mulia perlihatkan?"
"Ryu!"
Mata Paman Ezio terlihat sedikit membesar sebentar, "Ryu?"
"Ya paman, aku mengobati racun dingin Varen dengan air mata Ryu, lebih tepatnya aku menciptakan Ryu karena ingin menyembuhkan Varen."
"Tunggu Yang Mulia, lalu bagaimana dengan Vio?"
Aku mengulurkan tangan kiriku dan memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisku, "cincin pusaka keluarga Varen, ibunda Varen memberikannya padaku."
"Yang Mulia telah bertunangan?" Wajah Paman Ezio tampak kaget, kali ini Paman tidak menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan baik.
"Ya Paman, secara tidsk langsung aku telah menerima Varen dan karenanya Vio hadir menjadi pelindungku sejak saat itu."
Mata Paman Ezio memberikan kesan aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya, "Apakah Yang Mulia bersedia menceritakan semua tentang Varen?"
__ADS_1