Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
7. RAMALAN YANG DIRAHASIAKAN


__ADS_3

Malam ini langit penuh dengan bintang, angin sejuk bertiup lembut membuat rambut panjangku berterbangan seolah menari. Malam ini aku menginap di istana hutan hujan, atas bujukan Edward dan Vivian. Bajuku telah berganti gaun tidur putih sederhana dengan sulaman daun emas di beberapa sisi.


Entah kenapa aku merindukan ibu asuh Sarala malam ini. Ketika mandi dan berganti pakaian tak ada satupun pelayan yang diperbolehkan menyentuh tubuhku, pelayan-pelayan itu seolah telah diberitahu batasan yang boleh dan tak boleh saat melayaniku. Selama ini, walaupun ayah dan ibu memberiku beberapa pelayan, yang membantuku berpakaian, menyisir rambutku, hanyalah ibu asuh Sarala. Pelayan lain hanya mempersiapkan beberapa keperluan untuk selanjutnya diserahkan pada ibu asuh, sebelum akhirnya ibu asuh Sarala memberikannya padaku. Tapi kali ini aku harus melakukannya sendiri, tanpa ibu asuh. Aku merasa kehilangan sosoknya yang selalu ada di sampingku.


Banyak perubahan yang terjadi dalam waktu singkat, banyak pula pertanyaan di kepalaku, yang hingga kini masih belum terjawab, walaupun seusai makan tadi, Tetua menjelaskan beberapa hal penting. Aku mengingat jelas semua yang dikatakan oleh tetua.


*-*-*-*


"Yang Mulia, sudah saatnya Yang Mulia mengetahui beberapa hal penting," kata Tetua Mahanta, beberapa saat setelah Edward berpamitan pulang ke istananya, sementara Vivian masih duduk bersamaku dan Tetua Mahanta.


Tetua Mahanta mengetukkan bilah tongkatnya 3x dan pohon beringin ditepi danau mulai bereaksi. Pohon itu terlihat membelah, cahaya merah bersinar amat terang. Sebuah buku keluar dari tubuh pohon itu, melayang dan terjatuh tepat di meja, tepat di depan aku mendudukkan diri. Sekejap pohon itu kembali bagaikan pohon beringin biasa, aku merasa 16 tahunku terasa lebih bermakna setelah melihatnya.


"Yang Mulia, ini adalah sebuah pusaka yang teramat berharga. Tetua Mahanta menjaganya hingga tak pernah sekalipun meninggalkan danau keabadian," Vivian menatapku dengan mata berkaca-kaca.


Pusaka yang disebutkan Vivian adalah sebuah buku tua bersampul kayu yang cukup tebal, dengan ukiran 5 orang wanita bermahkota. "Tetua, apa ini?"


"Yang Mulia, bukalah. Yang Mulia akan mengetahui setelah membukanya, karena saya pun tak mengetahui isinya. Tidak ada seorang pun yang bisa membukanya, kecuali seseorang yang menjadi alasan pusaka ini diciptakan."


Apalagi ini, mereka berpikir aku adalah seseorang yang menjadi alasan buku ini diciptakan? Ya ampun! Tapi mereka menatapku penuh harap, aku tak kuasa membantah. Tangan kananku mengusap cover buku, perlahan cahaya pelangi keluar dari tanganku. Ukiran kelima wanita bermahkota mulai bergeser dan menyatu. Noda kusam buku itu kini hilang tak berbekas bagai buku baru, menampakkan ukiran seorang gadis bermahkota yang baru terbentuk.


Cahaya pelangi kini berpendar, bukan dari tanganku, tapi kini dari dalam buku itu. Covernya perlahan terbuka dengan sendirinya, menampakkah sebuah halaman kosong. Aku melongo, kok bisa? tapi kok kosong?


"Maaf tetua, sepertinya bukan saya yang kalian cari," ucapku dengan tatapan menyesal, tapi belum sempat tetua menjawab, halaman kosong itu mulai menampakkan beberapa tulisan, bagaikan ada seseorang yang sedang menulis di atasnya. Aku kembali fokus ke halaman itu, dan mulai membacanya.


'Setelah Lima kesatria, akan lahir Keanggunan disambut bulan kembar, diiringi terciptanya puluhan hewan suci, serta perlindungan lima cahaya.'


Deg! Ini ramalan kuno, menurut cerita tetua sebelum aku bersemedi, ramalan ini jelas berbeda dengan yang diceritakan oleh tetua. Ramalan ini hanya menceritakan tentang kelahiran 'keanggunan' yang berarti wanita. Kelahiran seorang wanita setelah 5 orang ksatria yang mungkin berarti 5 orang pangeran? Tapi intinya ramalan ini meramalkan setelah 5 pangeran, akan lahir seorang putri saat awal bulan kembar.


"Maaf sebelumnya Tetua. Tapi bukankah ramalan ini jelas berbeda dari yang pernah anda sampaikan? Sepertinya ini adalah kebenaran, sedangkan yang pernah anda sampaikan adalah rumor yang dibesar-besarkan," aku mencoba menyampaikan dengan hati-hati.


"Bukan tentang penguasa tapi hanya meramalkan seorang putri yang lahir setelah 5 pangeran." Pikiranku mulai berkelana mengingat satu per satu dongeng pengantar tidur yang pernah ibu ceritakan.


"Ada satu dongeng pengantar tidur ibunda yang menceritakan bahwa di sebuah kekaisaran, selama 5 generasi sang permaisuri hanya bisa melahirkan seorang putra mahkota, hingga mereka berdoa dan muncullah ramalah kuno tentang lahirnya seorang putri," mataku mungkin sekarang tampak berbinar. "Kalau kekaisaran itu adalah Kekaisaran asal ayah, bukankah putri yang dimaksud adalah kak Nala? Pantas saja Kak Nala memang anggun dan sangat berbakat, pas dengan ramalan ini."


Aku menatap Tetua dan Vivian bergantian, tapi tatapan mereka masih menatap buku dihadapanku, seolah masih menunggu sesuatu, dan benar saja! Buku itu membalik halamannya dan perlahan kembali muncul tulisan di halaman kosongnya.


'Bulan baru memberkahi sebuah kecantikan abadi, berhiaskan ratusan bintang, dilindungi lima cahaya.'

__ADS_1


Tunggu, ini menggambarkan Kak Prisa? Jadi jika halaman pertama adalah ramalan kelahiran kak Nala, halaman kedua ramalan kelahiran kak Prisa, maka halaman ke tiga adalah ramalan kelahiranku?


Mataku bergantian menatap ke arah Tetua dan Vivian, tapi mereka hanya tersenyum dan mengangguk, seolah membenarkan apa yang aku pikirkan. Halaman selanjutnya terbuka, jantungku berdegup kencang, akankah sama seperti yang diceritakan Tetua?


"Bulan Dewa melahirkan 5 cahaya, yang akan membawa kemakmuran seluruh makhluk, menyatukan perbedaan dan menjunjung tinggi keadilan."


Aku membacanya dengan suara yang sedikit keras, berbeda dengan ramalan kedua kakakku yang tersisip kiasan, ramalanku terbilang sangat jelas hampir tanpa kiasan. Aku masih mencoba diam dan menunggu buku itu akan membalik halamannya, tapi tak ada pergerakan.


"Yang Mulia terimakasih telah mengizinkan kami melihat isi pusaka," sorot mata Tetua terlihat bagaikan mendapat berlian. "Pusaka ini merupakan pusaka turun temurun yang diberikan kepada setiap permaisuri, namun Yang Mulia Permaisuri ke 5 tidak dapat memberikannya pada Permaisuri Elina karena dapat membahayakan nyawa Yang Mulia Permaisuri Elina, karena itu beliau diam-diam meminta saya menjaganya untuk diberikan pada Anda, Yang Mulia."


"Maksud Tetua, nenek meminta Tetua untuk memberikannya padaku?"


Tetua menatapku bagaikan tatapan seseorang yang telah lama menunggu, "Yang Mulia Permaisuri kelima mengatakan untuk memberikan pusaka ini pada Putri ketiga."


"Terimakasih Tetua, maaf telah membuatmu menunggu lama," entah kenapa hatiku terasa bergetar, ada ketulusan yang terlihat dari pancaran mata Tetua. "Tetua, adakah lagi yang harus kuketahui?"


Tetua tampak sedikit gusar, "Yang Mulia, dimalam saat Anda lahir ke dunia, semua Kesatria dari seluruh penjuru kekaisaran bersiaga memperkuat penjagaan. Kelahiran Anda adalah berkah yang luar biasa, namun mengundang bahaya luar biasa pula."


Tetua menjeda perkataannya, tangannya terlihat mencengkeram kuat bilah tongkatnya, sekilas aku melihat mata naga di bilahnya berkilat hijau seperti hidup, aura tetua terasa menguat.


Tiba-tiba buku itu membalik halamannya, 'Hanya yang Kuat yang bisa melahirkan yang terkuat, Hanya Penguasa yang Bisa Melahirkan Penguasa Selanjutnya, Bulan Bintang dan Matahari memberi restu bagi keduanya.'


Vivian menatapku, "Yang Mulia, saat anda lahir semua entitas memberikan seluruh nyawa mereka untuk melindungi keselamatan Yang Mulia, karena enam orang terkuat berfokus mentransfer energi pada Yang Mulia Permaisuri Elina. Kekaisaran menjadi incaran makhluk rakus saat itu, walaupun Bulan Dewa seharusnya melemahkan kekuatan gelap, namun itu merupakan Bulan Dewa yang langka, Bulan Dewa tampak mengalihkan kekuatannya untuk memberikan kelahiran, banyak orang percaya bukan hanya untuk kelahiran Anda, tapi ada seorang bayi lagi yang lahir di malam itu. Karena pengalihan kekuatan Bulan Dewa, kekuatan gelap tidak melemah, mereka berusaha menyerang dengan kekuatan penuh."


Tetua hanya diam membiarkan Vivian melanjutkan ceritanya padaku. "Yang Mulia, awalnya lapisan pelindung kekaisaran hanya 7 lapis di mana setiap lapisan diciptakan dengan kekuatan penuh seluruh ksatria kekaisaran dan memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Namun ternyata lapisan pelindung tak dapat membendung kekuatan gelap yang meluap-luap malam itu, saat hampir menembus lapisan terakhir, ajaibnya Kaisar dan Permaisuri ke-5 datang dengan puluhan kesatria dan ribuan prajurit, mereka melindungi kekaisaran ini hingga mengorbankan nyawa. Sebelum meninggal, keduanya menghabiskan kekuatan untuk mengembalikan 7 lapisan yang rusak dan menambahkan lapisan pelindung naga api, lapisan pelindung terkuat yang membutuhkan pengorbanan nyawa dari pembuatnya. Berkat pengorbanan keduanya, semua pasukan kekuatan gelap yang hendak menerobos pelindung naga api, hangus terbakar menjadi abu bagaikan disembur naga. Namun kesedihan itu berlalu, ketika suara tangis Yang Mulia menggema ke seluruh penjuru kekaisaran, hujan berkah turun ringan menumbuhkan berbagai tanaman, pohon-pohon berbuah, bunga bermekaran, hewan suci bertambah kekuatan, dan kami merasakan kebahagiaan tak terkira hingga menangis bahagia bersama. Momen itu terpatri jelas dan tak akan pernah bisa saya lupakan."


Vivian menghapus air matanya, "terimakasih telah lahir Yang Mulia."


Aku ikut sedih dan ingin memeluknya, tapi..


"Tetua, apakah aku boleh memeluk Vivian? Aku takut, karena selama ini aku hanya pernah menyentuh keluargaku, paman ezio dan ibu asuh Sarala, apa ada alasan dibaliknya?"


Tetua menghembuskan nafas panjang, "akibat transfer energi yang terus menerus dilakukan sewaktu Yang Mulia dikandungan Permaisuri Elina, kekuatan yang ditransfer sebagian terserap ke dalam tubuh Yang Mulia, dan sebagian lagi membentuk lapisan pelindung di tubuh Yang Mulia."


Mata Tetua terlihat sedikit meredup, "lapisan pelindung itu tidak mengijinkan Yang Mulia disentuh oleh orang lain selain ke-5 orang yang telah mentransfer energi dan Permaisuri Elina yang mengandung anda, begitupun sebaliknya. Yang Mulia tidak dapat menyentuh orang lain selain mereka, kecuali.."


Belum selesai tetua bicara, aku bergidik. Apakah akan terjadi sesuatu bila aku menyentuh mereka? Aku teringat sesuatu dan menyela penjelasan tetua Mahanta, "tapi waktu itu aku menyentuh rubah putih ekor sembilan, apakah terjadi sesuatu padanya?"

__ADS_1


"Awalnya kami mengira berlaku pada semua entitas, tapi melihat sentuhan Yang Mulia tidak berpengaruh pada Fia, hewan suci jendral agung Ezio, maka dapat disimpulkan bahwa hewan suci tidak terpengaruh, bahkan dilihat dari Fia, ia seolah memperoleh energi lebih ketika Yang Mulia berinteraksi dengannya."


Aku merasakan kelegaan yang amat besar, tapi hal ini tidak akan aku biarkan begitu saja, mulai saat ini aku berjanji akan mulai menggunakan pakaian serba panjang dan sarung tangan, untuk mencegah melukai orang lain secara tidak sengaja.


"Tunggu, bukankah aku menyentuhmu Vivian? Ya, aku menyentuhmu saat memasuki portal! Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" aku mengernyit dan mulai memeriksa tubuh Vivian dengan mataku.


"Yang Mulia tenanglah, saya juga tidak terpengaruh," Vivian tersenyum dan menepuk punggung tanganku lembut.


Aku segera menjauhkan tanganku, takut akan menyakitinya. "Jangan ceroboh Vivian, bagaimana kalau pengaruhnya bukan tidak muncul, tapi belum muncul? Bukankah Tetua menyatakan tidak ada yang bisa menyentuhku kecuali 6 orang yang telah disebutkan?"


"Ehm," tetua Mahanta berdehm dan mengetuk bilah tongkatnya sekali. "Tadi Yang Mulia menyela penjelasan saya yang belum selesai," kata Tetua Mahanta mengingatkan.


"Oh maafkan aku, tolong beritahu aku selengkap-lengkapnya, aku tidak ingin menyakiti banyak orang karena aku tidak mengetahui sepenuhnya."


Tetua Mahanta mengangguk, "yang juga tidak terpengaruh selain 6 orang yang telah saya sebutkan adalah, orang-orang yang terikat pernikahan dengan ke-6 orang yang saya sebutkan, juga keturunan langsung dari mereka. Selain itu, mungkin jodoh Yang Mulia juga tidak akan terpengaruh, tapi yang satu ini masih hanya perkiraan saya."


Aku beralih ke Vivian, "jadi siapakah kamu Vivian?"


"Yang Mulia, saya Putri Sarala."


Aku terkejut bukan main, aku tidak pernah mengira kalau Vivian putri Ibu Asuh Sarala karena Vivian adalah seorang Elf, sedangkan yang kutahu ibu Sarala bukanlah Elf.


Seperti tahu kebingunganku, Vivian kembali mengambil tangan kiriku dan membelai punggung tanganku dengan lembut. "Ibu menikah dengan seorang Elf, Alejandro. Ayah sudah lama meninggal, maka ibu bisa mengabdikan seluruh dirinya untuk Yang Mulia."


Air mataku mengalir pelan, "maaf gara-gara aku, kau jadi tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, maafkan aku telah merampasnya darimu."


"Oh Yang Mulia janganlah menangis, hamba bukan anak kecil yang memerlukan gendongan seorang ibu. Kami tetap bisa bertemu ketika rindu, saya malah bahagia karena sejak mengabdikan diri pada anda, ibu menemukan kebahagiaannya lagi."


Hati Vivian seindah hati ibu asuh Sarala, "pasti berat tumbuh tanpa didampingi ibu asuh Sarala setiap waktu."


"Tumbuh?" Vivian dan Tetua Mahanta tertawa keras. "Yang Mulia, hamba berumur 2500 tahun dan sudah menikahi Edward ketika Yang Mulia lahir, jadi jangan penuhi kepala Yang Mulia dengan pikiran-pikiran yang tidak penting tentang hamba."


"Ah, syukurlah. Terimakasih Vivian," ucapku seraya memeluknya erat.


*-*-*-*


Angin malam bertiup sedikit lebih kencang, menyadarkanku dari lamunan. Aku menengadahkan kepala memandang langit yang semakin pekat, dan memutuskan masuk ke kamar. "Sepertinya sudah waktunya untuk tidur."

__ADS_1


__ADS_2