
Aku memasuki portal dan menunggu Aciel yang masih menatapku sambil melotot. Ia kembali memandang sekeliling, "kau juga pengendali waktu?"
Aku menggeleng, "orang yang tadi kau tunjuk mengatakan kalau aku bukan pengendali waktu."
"Tapi kau menghentikan waktu! Lihatlah semua orang diam tak bergerak bagaikan patung," Aciel masih tidak mendekat ke arahku, aku hampir kehilangan kesabaran.
"Yang Mulia! Apa yang hendak Anda lakukan?" Paman Ezio, orang yang tadi Aciel tunjuk bertanya dari balik sihir pembatas, karena ia adalah pengendali waktu maka ia tak terpengaruh jika waktu terhenti. "Yang Mulia tolong jangan gegabah, hamba mohon."
"Cepatlah Aciel!" Aku tak sabar dan berusaha memberi peringatan dengan nada sedikit meninggi. "SEKARANG ATAU TIDAK AKAN PERNAH!"
Aku berteriak marah, kesabaranku menipis. Jika kutunda lagi maka Paman Ezio akan menghancurkan sihir pembatas dan menggagalkan aku pergi, bukan hanya itu. Energiku akan terkuras habis bahkan sebelum masuk ke dalam portal!
Untungnya, bentakanku membuat Aciel bergerak cepat, ia berjalan cepat ke arahku dan masuk ke dalam portal, aku mengaktifkan portal. Portal yang kubuat tampak tenang, aura pelangiku melingkupi tubuhku dan Aciel, menelan dan memindahkan kami ke ruang lain, aku tersadar akan sesuatu dan menghentikan portal. Aciel dan aku melayang dalam aura pelangiku yang penuh warna, "aku tidak tahu apa yang harus dilakukan."
Aciel mendelik menatapku, "apa kau bercanda?"
Aku menggeleng, ingin rasanya aku mengangguk tapi aku memang tidak tahu caranya menjelajah waktu, selama ini aku hanya memakai portal untuk berpindah tempat dan kembali ke masa aku lahir waktu itu bukanlah atas kemampuanku sendiri.
"Apa lagi ini?" Aciel tampak kesal hingga memegang untaian bunga yang menggantung di lehernya, untaian bunga yang tadi kubuat dengan mengubah serangannya menggunakan auraku.
"Jangan dirusak, itu adalah sedikit auraku yang kuberikan untukmu. Kalau kau merusaknya, maka kau akan terlempar dari portal ini." Aku menatap Aciel dengan tatapan memperingatkan, kali ini aku tidak main-main.
"Cara lain karena kau tidak bisa menggandengku?" kali ini pertanyaan Aciel tampak seperti butuh untuk memastikan.
Aku mengangguk, "kau tahu, bukannya orang lain tidak boleh menyentuhku karena aku seorang putri mahkota, melainkan aturan itu dibuat untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya menyentuhku. Aku pun sama sekali tidak tahu bahaya apa yang mungkin terjadi, karena itulah aku di sini bersamamu."
__ADS_1
Saat seseorang memasuki portal yang dibuat orang lain, mereka perlu setidaknya bergandengan tangan atau saling bersentuhan agar bisa sampai bersamaan di tempat yang dituju. Hal ini digunakan agar semua orang yang menaiki portal tidak terlempar ke tempat lain saat portal beroperasi. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi orang-orang berkemampuan tinggi, karena mereka bisa menjaga kestabilan portal mereka hingga mengantarkan tepat sampai ke tujuan tanpa goyah ataupun terpecah di tengah-tengahnya. Sebenarnya mungkin rangkaian bunga itu jugalah yang membuat Aciel tetap sadar dan tidak terkena efek waktu yang kuhentikan, karena pada dasarnya hanya pengendali waktu yang tak akan terkena efeknya.
"Ya, bersamaku dan menjebakku di dalam portalmu! Apa kau sungguh tidak tahu caranya?" Gerutu Aciel yang tampak kesal.
"Aku benar-benar tidak tahu caranya, ini kali pertamaku," ucapku jujur pada Aciel yang kini mungkin sedang menahan amarahnya. "Aku kan sudah bilang kalau aku mau mencobanya, aku ingin tahu kebenaran dari semua hal yang kau tuduhkan."
Aciel mendengus kesal, "bagaimana kau bisa bodoh begini? Bukankah kau putri mahkota?"
Aku cemberut mendengar ucapan Aciel ada benarnya, "mengejekku sekarang tidak akan menyelesaikan masalah." Kucoba fokus akan beberapa hal yang mungkin bisa kulakukan, "kalau memakai portal berpindah tempat biasa, aku harus memikirkan tempat yang kutuju, mungkinkah jika ingin kembali ke masa lalu aku harus tahu kapan waktunya?"
"Hari ini, lima belas tahun yang lalu."
Kata-kata Aciel yang lirih, kutangkap dengan baik dengan indera pendengarku. "lima belas tahun yang lalu," belum selesai kata-kataku, tiba-tiba auraku bergerak dengan cepat menelan kami berdua, rasanya seperti saat menaiki Ryu dengan kecepatan maksimal.
"Aaaaaahhh! Apa kau ingin membunuhku!"
"Dasar gila! Aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi!"
Aku merasa bersalah terhadap Aciel, tapi mengingat semua omelan dan tuduhannya padaku, kali ini aku diam saja. Aku lebih memilih menggunakan energiku untuk hal lain daripada untuk menanggapi ocehannya itu. Berbeda dengan Aciel yang terjerembab, aku berhasil menyeimbangkan tubuhku dan berdiri tegap seolah portalku sempurna, padahal sebenarnya aku mual luar biasa.
"Apa yang kau lakukan suamiku?"
Aku dan Aciel mengalihkan pandangan ke asal suara. Terlihat sepasang suami istri di salah satu pojok gazebo, tunggu tempat ini tampak tak asing. Aku melihat sekeliling, aku dan Aciel kini berdiri di gazebo yang terletak di tengah danau, danau yang cukup luas dengan pemandangan pegunungan di belakangnya, hawa dingin sejuk membuatku sedikit menggigil. Tak salah lagi, ini adalah danau naga, danau naga terletak di dataran tinggi milik kekaisaran matahari yang dikelilingi pegunungan. Aku pernah mendengar bahwa ayah membangun istana Lampion mengelilingi danau ini sebagai hadiah bagi ibunda, karena danau naga adalah tempat kesukaan ibunda.
"Aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku muak denganmu!" Sang suami membentak sang istri dengan suara keras. "Aku muak hidup mengabdikan diri pada kaisar, aku ingin hidup bebas, aku bosan terus memberi hormat!"
__ADS_1
Aciel tampak terperanjat kaget, kedua tangannya mengepal erat. "Suamiku, hidup kita sudah terbilang makmur, Althea dan Aciel pun hidup tanpa kekurangan, semua karena berkah yang diberikan Kaisar dan Permaisuri."
"Aku bosan dan muak setiap kali kau bercerita tentang Kaisar dan Permaisuri! Kau tahu saking muaknya sampai aku akhirnya menerima sebuah tawaran yang bagus! Hahaha.."
Aku merinding melihat sang suami tertawa, tawanya keras dan menyeramkan, seperti kerasukan kekuatan gelap.
"Plak!" satu tamparan keras mendarat di pipi sang suami.
Sang Istri tampak mulai menahan emosi, matanya berkaca-kaca. "Sadarlah suamiku! Jangan pernah bersekutu dengannya atau kau akan menyesal seumur hidup!"
"Kau menamparku?" Sang suami terlihat kalut, tangannya meraih rambut sang istri dan menjambaknya. "Lebih baik aku menyesal daripada terus hidup terbelunggu denganmu di dalam kekaisaran yang membosankan ini!" Sang suami meraih rambut panjang istrinya dan menjambaknya kuat.
"Aaah! Lepaskan!" Sang istri terus berusaha melepaskan rambutnya dari cengkeraman sang suami, tapi suaminya malah menariknya dengan cepat, menyeretnya hingga keluar dari gazebo.
"HENTIKAN! MAHES LEPASKAN SURI SEKARANG JUGA!"
Suara ibunda yang amat ku kenal, membuatku sedikit kaget. Ibunda berjalan tergesa dari pinggir danau sambil menggendong seorang bayi berusia dua tahunan di tangannya, ia mempercepat langkahnya menuju jembatan ke arah sepasang suami istri yang masih bersitegang.
"Yang Mulia, tolong jangan mendekat, berbahaya bagi Yang Mulia." Sang istri memohon pada ibunda sambil menangis di bawah cengkraman suaminya. Bagaimana bisa di saat kesakitan seperti itu, ia bahkan masih memedulikan keselamatan ibunda? Miris, rasanya aku ingin menangis melihat ketulusan sang istri.
"HAHAHA... Sepertinya keberuntungan berpihak padaku kali ini!"
Sang suami tertawa terbahak, ia memandang ke arah ibunda dengan tatapan mencibir. "Baiklah permaisuri yang terhormat, sesuai perintahmu aku akan melepaskannya!"
Sang suami yang ternyata bernama Mahes, terus menjambak sang istri, menariknya keras hingga berdiri, dengan aura gelapnya ia mengangkat istrinya hingga berada di atas air danau, dan menatap ibuku dengan seringai lalu ia melepaskan cengkeramannya.
__ADS_1
"BYUUUUR!"