
Aciel tampak gusar, "bisakah kau membawaku mendekat ke sana?" Aciel menunjuk tepi danau di mana Althea berada.
"Kau bisa berjalan sendiri Aciel, kau bisa melakukan apapun di sini kecuali hal-hal yang bisa merubah masa lalu. Satu hal lagi, mereka tidak bisa melihat kita, jadi bersikaplah bijak."
Aciel tidak menatapku, ia langsung melangkah pergi meninggalkan aku yang terbengong melihat tingkahnya. Ia berjalan keluar dari gazebo menyusuri jembatan, ia berhenti di samping mayat kedua orang tuanya. Lama ia menatap keduanya dalam diam, kali ini tak ada air mata yang membasahi pipinya.
Tiba-tiba Paman Ezio membuat sihir pelindung yang menyatukan dan melindungi keduanya, tak hanya itu, aku melihat Paman Ezio memasukkan keduanya ke dalam sebuah peti yang besar, peti itu memiliki lebar dua kali dari peti biasa, berwarna putih bersih tanpa noda. Aciel menatap mayat kedua orang tuanya yang secara hati-hati dipindahkan oleh sihir Paman Ezio ke dalam peti, Paman meletakkan keduanya berdampingan, seperti posisi tidur. Ayah yang menggendong bayi, menyihir sebuah rangakaian bunga, ia lalu berjalan menembus lapisan pelindung, dan meraih tangan mungil si bayi.
"Apa yang kau genggam di tangan kananmu Aira? Bukalah sayang, ayo kita letakkan rangkaian bunga untuk paman dan bibi," ucap ayah sambil meminta tangan kanan si bayi, tapi bayi itu menggeleng, tak mau membuka tangan kanannya, ia malah mengulurkan tangan kirinya dan berusaha ikut memegang karangan bunga dengan tangan kirinya.
"Putriku, tidaklah sopan jika memakai tangan kiri," tegur ayah yang diikuti tatapan memelas si bayi, tapi kali ini bayi itu mengulurkan tangan kanannya yang mengepal erat, ia berusaha memegang karangan bunga dengan kedua tangannya, tentu tangan kanannya masih belum mau ia buka.
Ayah tampak menggeleng tapi tak lagi menegur tingkah laku putrinya itu, ia mendekati peti dan memasukkan karangan bunga bernuansa putih ke dalam peti itu, tangan mungil si bayi mengikuti gerakan ayahnya.
"Mahes dan Suri sahabatku, tak ada kata yang bisa mewakili kesedihanku hari ini, apapun yang terjadi, kalian tetaplah sahabatku hingga akhir, pergilah dengan tenang. Kami berjanji akan menjaga Althea dan Aciel, maafkan kami yang terlambat mengetahui apa yang kalian inginkan hingga akhir, pergilah dengan tenang sahabatku."
Bayi kecil digendongan ayah mendekapnya erat, ayah membalas dekapannya, ia pun mengangguk pada Paman Ezio. Paman Ezio menangkap anggukan ayah, ia lalu menutup peti itu perlahan. Di atas peti tertulis nama Mahes dan Suri dengan lambang sepasang merpati putih.
"Ayah, bu..bu....ibuu...." ucap si bayi sambil menggerakkan tangan kirinya menunjuk ke arah ibu yang bersama Althea di pinggir danau.
"Kau mau menghampiri ibumu?" tanya ayah sambil menatap sepasang mata si bayi, bayi itu mengangguk.
"Ezio, jagalah mereka sebentar. Sepertinya Aira ingin menghampiri ibunya," ucap ayah yang diikuti anggukan Paman Ezio.
Ayah terbang ke arah ibu, Aciel mengikuti mereka sambil berlari. Aciel tampak tak ingin kehilangan satu momen pun, mungkin ia ingin melihat semua yang terjadi tanpa terlewat. Berbeda dengan Aciel, aku tak beranjak dari gazebo, aku mengamati naga Mahanta yang masih terbang di atas danau di dekat peti Mahes dan Suri, ia dan paman Ezio tampak menundukkan kepala dalam hening, keduanya tampak berduka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, Althea?" suara ayah dari tepi danau tertangkap inderaku yang tajam, aku kembali memusatkan perhatian ke pinggir danau, tapi entah kenapa aku masih enggan untuk mendekat, aku merasa cukup untuk mengamati dari gazebo.
"Sudah kuminta untuk berdiri, tapi ia tetap tak mau," ucap ibu dengan tatapan sedih. "Althea apa yang bisa kami lakukan hingga engkau mau berdiri?"
"Hamba memiliki satu permintaan sebagai seorang anak, Yang Mulia."
Ibu menatap ayah, ayahpun berkata, "apakah itu?"
"Tolong jangan pisahkan keduanya, hamba mohon semayamkanlah keduanya bersama, jangan pisahkan jasad mereka," Althea memohon sembari menangis, air matanya mengalir deras, sementara bayi dalam gendongannya kini pun ikut menangis.
"Berdirilah Althea, aku pun sependapat denganmu, lihatlah." Ayah menunjuk peti putih yang masih dijaga Paman Ezio dan Naga Mahanta.
Althea melihatnya dan berusaha berdiri, ibu membantu Althea berdiri, ia berhenti menangis, begitu pula bayi dalam gendongannya.
Kepala naga yang tadinya tertunduk kini sedikit terangkat, perlahan ia berubah wujud menjadi sosok manusia, dan aku terkesiap!
Bagaimana tidak? Naga itu berubah wujud menjadi tetua Mahanta! Ya, tetua Mahanta yang ku kenal.
"Demi permohonan tulus seorang anak, maka mewakili danau ini hamba menerima keduanya, Yang Mulia."
Ibu merangkul pundak Althea, "terimakasih paman." Althea berucap lirih, ia mempererat gendongannya.
"Atas pengorbananmu, kuanegerahkan danau keabadian bagimu, Mahanta."
Tetua Mahanta bersimpuh ke arah ayah, "terimakasih Yang Mulia."
__ADS_1
Paman Ezio mengangkat peti putih itu, sementara tetua Mahanta mengulurkan tangannya hingga menyentuh air danau. Danau itu kembali membelah, bersiap menerima. Ibu menjentikkan jarinya, hingga kelopak bunga mawar putih mulai berjatuhan bagaikan hujan, angin berhembus pelan, keheningan menyelimuti danau naga. Perlahan peti putih itu masuk ke dalam celah air danau yang terbentuk, terus masuk hingga tak terlihat, tak lama kemudian air danau kembali bersatu, kembali menjadi air danau yang tenang.
Hujan kelopak bunga pun berhenti, tapi alangkah terkejutnya aku, bunga teratai putih berdaun hitam mulai tumbuh menutupi permukaan danau naga dengan cepat.
"Bu..bu...ibuuu...." suara bayi di gendongan ayah memecah keheningan. Ibu menoleh menatapnya, "ada apa Aira?"
"Sedari tadi ia tampak menggenggam sesuatu di tangan kanannya," ayah menjelaskan pada ibu.
Tangan kanan bayi itu terulur ke arah ibu, "ieeel...ibu tolong iel.."
"Untuk Aciel?" tanya ibu memastikan dan dijawab anggukan oleh si bayi di gendongan ayah.
Ibu meraih tangan kanan si bayi, bayi itu melepaskan genggamannya, hingga sebuah kalung jatuh ke tangan ibunda. Seketika suasana tampak kembali haru, sebuah kalung dengan sebuah cincin menggantung dan sebuah liontin berbentuk love kini berada di tangan ibunda. Noda darah terlihat jelas di kalung itu, sekilas dari sini aku melihat tangan si bayi berlumuran darah.
Ibu mengangkat kalung itu dan memakaikannya pada bayi yang di gendong Althea, "Aciel, Aira membawakannya untukmu."
Bayi di gendongan Althea menyentuh liontin love yang kini menggantung di lehernya, liontin itu terbuka dan menampakkan sebuah potret keluarga.
"Oh tidak, tangan Putri Aira berdarah!" Althea terlihat terkejut, tapi bayi di gendongan ayah malah tersenyum lalu menyatukan kedua tangannya tampak seperti menyembunyikan.
"Tampaknya Aira berkata tidak apa-apa, Althea."
Ibu dan ayah menatap Althea sambil tersenyum, mereka seolah mengatakan bahwa bayi mereka baik-baik saja. Jujur hatiku sakit, aku menangis dalam diam. Perilaku Althea sungguh mirip dengan perilaku ibunya, mereka selalu mengkhawatirkan orang lain sebelum diru mereka sendiri. Saat ini juga aku berjanji pada diriku sendiri untuk memperlakukan mereka dengan baik.
Aku mengangkat kedua tanganku dan mengamatinya, ada bekas goresan yang hampir tak terlihat di telapak tangan kananku, selama ini aku bertanya-tanya tentangnya, tapi kini aku mendapat jawaban yang tak terduga.
__ADS_1