
"Sayang bangunlah," bisik lembut suara seorang wanita di telingaku.
Aku membuka pelan kedua mataku, aneh tapi tubuhku sama sekali tak merasa sakit, bahkan terasa lebih ringan. Aku terbaring beratapkan langit yang indah, warna biru tanpa batas yang jelas. Aku mencoba mendudukkan diri.
"Cucu kita sangatlah cantik,"
Aku menatap asal suara, seorang wanita muda bergaun putih. Bukan hanya satu tapi ada 5. Masing-masing mengenakan gaun yang berbeda warna, putih, kuning, merah, biru dan hijau. Semuanya sangat cantik bak sang dewi.
"Selamat datang cucuku sayang," ucap wanita bergaun putih padaku, seraya tersenyum. "Terimakasih telah lahir sebagai pewaris kami, hatimu sangat indah, tak heran banyak orang tulus menyayangi dan menjagamu."
Wanita bergaun putih kini berjalan mendekat, ia menaruh tangan kanannya di atas kepalaku, "Cucuku, milikilah hati putih bersih yang suci. Jangan sampai keserakahan membutakan hatimu. Kuanugerahkan kebijaksanaan padamu, gunakanlah dengan baik," ucapnya merdu seraya mencium keningku dan menghilang menjadi cahaya putih transparan yang masuk ke dalam tubuhku.
Kini wanita bergaun kuning giliran melakukan hal yang sama, ia menaruh tangan kanan di atas kepalaku. "Wahai penerusku, jadilah terang seterang cahaya, melawan kegelapan dengan lantang, memberi kehangatan pada semua insan. Kuturunkan cahaya kebenaran padamu, untuk melindungi kaummu," selesai mengucapkan kata-katanya, ia kini menatapku sambil tersenyum, mencium keningku dan memelukku singkat sebelum akhirnya menghilang meninggalkan cahaya kuning terang, yang mengelilingiku hingga akhirnya merasuk masuk ku tubuhku.
"Sayang, senang bisa melihatmu," ucap wanita bergaun merah sambil meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku. "Jadilah merah yang berani membela yang benar, tangguh menghadapi segala ancaman, dan api yang membawa kemanfaatan. Padamu aku wariskan api yang berani," ia mencium keningku dan menjadi warna merah yang kembali masuk ke dalam ragaku, tubuhku terasa semakin penuh, tapi tak menyakitkan, justru perasaan hangat amat terasa, seolah membuatku terbuai dalam kenyamanan.
Kembali kurasakan sentuhan tangan di atas kepalaku, "Cucu cantikku, terimalah angin sejuk yang membawa kedamaian, biru sebiru langit, luas seluas lautan, jadilah penguasa yang luas pengetahuan, akal dan pintu maaf. Berkahilah mereka dengan harapan indah yang membahagiakan, hiduplah dalam kedamaian," kembali kurasakan kecupan di keningku dan perasaan hangat yang kembali merasuk kedalam raga dan jiwaku.
Kini tersisa satu orang bergaun hijau, wanita itu mendekatiku dengan mata berkaca-kaca, memelukku dan menangis lirih. Ia melepas pelukannya dan menatap mataku.
"Cucuku Aira, terimakasih telah lahir dan tumbuh menjadi putri yang luar biasa. Kerendahan hatimu membuat semua membisu, tapi kumohon buanglah jauh-jauh sikapmu yang selalu merendahkan dirimu sendiri. Sudah saatnya kamu percaya akan kemampuanmu sendiri, banyak makhluk yang mempercayakan hidup mereka padamu, maka jadilah penguasa yang bisa mereka andalkan. Berdirilah dengan gagah memberi naungan bagi mereka."
Kedua tangannya menyentuh kedua pipiku, "Oh cucuku sayang, maafkan nenek yang tak punya kesempatan menggendongmu, maafkan nenek yang tak bisa melindungi orangtuamu dulu."
Entah kenapa aku merasa tak punya kemampuan bicara, aku hanya bisa menatap sepasang mata yang berkaca-kaca. Tangan kanannya kini menyentuh kepalaku, "Aku wariskan segala bakat yang kupunya, segala kemampuan terbaik untuk pewaris yang terpilih. Kuwariskan kemampuan yang bisa menciptakan, menumbuhkan bahkan membinasakan. Aku curahkan segala bakat yang menguatkan, mengagungkan dan mewujudkanmu menjadi pewaris utama. Dengan ini, aku Carmelia Cassanov, Ratu ke Lima beserta Ke empat ratu terdahulu, mewariskan segala bakat dan kemampuan, serta mengangkatmu secara sah menjadi Pewaris Agung, Penguasa semesta."
__ADS_1
Ia menciumku, memelukku erat hingga warnanya masuk sepenuhnya kedalam tubuhku. Aku melihat tubuhku bersinar teramat terang, warna pelangi menyeruak keluar dari tubuhku, indah sangat indah.
***
Aku merasakan kembali air terjun yang jatuh bebas menghantam tubuhku, tapi kali ini bukan rasa sakit melainkan rasa aneh yang menggelitik. Butiran-butiran air terasa menari-nari di tubuhku, udara terasa beraroma manis di hidungku, pelan aku membuka mata.
Masih ditempat yang sama, sama saat pertama kali Tetua Mahanta memintaku bersemedi. Tiba-tiba rasa aneh menyeruak dari dalam diriku, sesuatu menerobos ingin keluar dari mulutku.
"Huek..huek.." aku memuntahkan darah hitam pekat ke danau.
"Yang Mulia," aku melihat Vivian dengan tatapan cemas terbang ke arahku diikuti Edward dan Tetua Mahanta. Aku segera membersihkan bibirku dan membilasnya dengan air danau.
Darah yang tadi kumuntahkan kini menjelma menjadi mawar air berbunga hitam. Aneh, aku tak merasakan sakit sedikitpun, tubuhku bahkan terasa lebih ringan dan amat sangat sehat.
Vivian dan Erdward terlihat lega mendengar ucapan Tetua Mahanta, "Selamat Yang Mulia" ucap mereka bersamaan.
"Terima kasih," ucapku seraya berdiri. "Berapa lama waktu yang kuhabiskan di sini?"
"Satu bulan penuh, Yang Mulia," jawab Vivian jujur.
"Apa?" aku kaget mendengarnya, bagaimana tidak? aku kira hanya 30 menit, tapi ini 1 bulan? "Oh tidak, aku melalaikan tugas hukuman dari ayahanda," sesalku lirih.
"Tidak Yang Mulia, bukankah Yang Mulia Kaisar tidak memberikan tenggat waktu?" Tetua Mahanta mencoba menenangkanku.
'Benar, ayah tak memberiku tenggat waktu. Tapi darimana tetua Mahanta tau?'
__ADS_1
"Benar juga," ucapanku diiringi dengan suara leroncongan perut yang cukup keras. Aku tersenyum canggung, "ternyata aku kelaparan."
Edward, Vivian dan Tetua tetawa melihat tingkahku, mereka membuka jalan ke tepi danau yang kini telah dipenuhi makanan. Aromanya sangat menggugah selera.
"Wah terimakasih, maaf aku selalu merepotkan kalian," mataku mungkin sudah berbinar melihat berbagai makanan terhidang dengan indahnya.
"Silahkan dinikmati, Yang Mulia," Vivian mempersilahkanku.
Aku mengangguk lalu tersenyum, kulihat ke arah Tetua Mahanta. Tapi Tetua Mahanta masih tidak menggerakkan tangannya untuk mulai makan, perutku kembali menggelora tapi demi kesopanan aku harus menunggu yang tertua untuk mengambil makanan terlebih dulu. Ibu mengajarkan tata krama di meja makan, aku harus mempersilahkan yang tertua mengambil makanan terlebih dahulu, suapan pertama dilakukan sesuai urutan usia demi menghormati yang lebih tua.
"Yang Mulia, ada apa? Apakah makanan ini tidak sesuai selera Yang Mulia?" Edward menanyaiku dengan cemas.
Aku menggeleng, "aku menunggu Tetua Mahanta untuk mengambil makanan terlebih dulu. Ibu selalu mengingatkanku tentang table manner."
"Ampun Yang Mulia, kami bertiga menghormati Yang Mulia, maka table manner yang biasa tidaklah berlaku, justru Yang Mulia lah yang harus memulainya."
Tetua Mahanta seolah memberi tahu aku bahwa jabatanku lebih tinggi dari mereka, maka akulah yang harus memulai lebih dulu, aku menarik nafas panjang.
"Tidak, aku akan tetap menghormati kalian. Kalian adalah orang tua yang seharusnya ku hormati dan hargai, kalianlah yang telah membantuku selama ini. Dengan ini aku akan memberlakukan table manner yang ibuku ajarkan, aku mohon."
Aneh, mereka malah berkaca-kaca dan serempak menatapku dengan tatapan seolah aku hanya satu di dunia ini, oh ya ampun! Apalagi ini.
"Tetua, silahkan."
Ucapanku menyadarkan Tetua Mahanta, maka ia menuruti ucapanku dan mulai mengambil makanan yang disajikan, diikuti Edward, Vivian dan tentu aku menyusul dengan senangnya. Aku melahap makanan itu tanpa ampun, hehehe...
__ADS_1