
"Silahkan Yang Mulia," kata Balin menempatkan sepiring penuh lauk beraneka rupa lengkap dengan sendok dan garpu.
Aku sungguh pasrah melihat Balin tampak mengacuhkan permintaanku, tanpa mengucap terima kasih, aku menyendok penuh makanan dan memasukkannya ke mulut. Mataku melirik ke arah Aciel diam-diam, ia tampak mulai makan setelah aku menyendokkan makanan ke mulut, dan Balin memulai setelah Aciel mulai menyantap makanannya. Aciel masih memilih untuk diam, rasa makanan yang harusnya terasa lezat menjadi hambar begitu saja.
"Aciel, maafkan aku. Apa kau masih marah padaku?" tanyaku setelah berhasil menelan makanan.
Aciel tampak masih fokus terhadap makanannya dan tak berniat menjawabku, aku melirik ke arah Balin kembali meminta bantuan, Balin mengangguk beberapa kali.
"Tidak baik berbicara saat makan, Yang Mulia."
Aku melongo menatap Balin, kenapa kali ini ia sama sekali tidak bisa tepat membaca isyaratku? Aku menghela nafas panjang dan mengaduk makanan tanpa selera.
"Tok..tok..tok.. Maaf permisi, apakah ada orang?"
Suara laki-laki terdengar dari halaman depan gedung, aku yang memang tak tahan langsung berdiri dan melangkah dengan cepat menghampiri asal suara.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sambil membuka pintu. Aku terkesiap melihat sepasang wanita dan laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu gedung, mereka tampak saling bergandengan dengan erat.
Aku mengamati wajah wanita yang sempat beberapa kali terbayang di benakku pagi ini, tubuhnya terlihat lebih bersih dan terawat, menampakkan wajah cantiknya yang dulu tertutup asap pembakaran, tapi aura tembaganya terlihat semakin meredup dari kali terakhir aku melihatnya.
"Oh maaf, mari silahkan duduk."
Mereka beranjak dan duduk di tempat duduk yang ada di depan gedung, tempat duduk yang tadi diduduki Joana. Aku tersenyum melihat sang laki-laki membantu sang wanita untuk duduk, ia tampak memperlakukan wanitanya dengan baik kali ini. Ku dudukkan diriku di hadapan mereka, dan kutepuk tanganku satu kali, tiga cangkir cokelat panas terhidang di meja kami dengan uap yang mengepul.
__ADS_1
"Silahkan, seseorang memberitahu saya bahwa menikmati coklat panas di pagi hari bisa menghangatkan tubuh karena pagi di sini cenderung dingin."
"Terimakasih, saya sangat menyukai coklat panas." Sang wanita mengangkat cangkirnya dan meneguknya pelan, ia lalu memberikan senyuman lembut padaku, wajah cantiknya kini tampak sedikit lebih berwarna. Angin dingin berhembus menerpa, dengan sigap sang laki-laki membetulkan sweeter rajut tebal yang dikenakan sang wanita, tak lupa ia mendekatkan diri dan merangkul pundak sang wanita.
"Ah maaf, kami lupa memperkenalkan diri." Sang wanita mengulurkan tangan kanannya padaku, aku terdiam beberapa saat melihat uluran tangannya.
"Ehm!" Aciel tiba-tiba muncul dan mendudukkan diri di sampingku.
Tak mau Aciel bertambah marah karena aku ragu menjabat tangan sang wanita, dengan segera aku menerima uluran tangannya. Aku terkesiap, auraku menjalar ke dalam tubuh sang wanita tanpa kuperintah, mereka tampak menuju ke suatu tempat di dalam tubuh wanita di hadapanku.
"Perkenalkan aku Lia, nona." Lia memandangku dengan senyum cantiknya, aku membalas senyumnya, tapi masih enggan melepas uluran tangannya, aku butuh sedikit waktu.
"Anda sangatlah cantik nona, sungguh beruntung bisa bertemu dengan wanita secantik anda," aku menatap tepat di mata biru Lia.
Lia mengulurkan tangan kirinya ke atas tanganku yang sedang menjabat tangannya, ia kini menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Auraku mengalir lebih cepat karenanya, aku merasakan ada sesuatu yang tersegel di dalam tubuh Lia, sesuatu yang meronta untuk dilepaskan hingga menyerap aura tembaga yang merupakan aura utamanya.
"Sepertinya anda mendengar dari orang yang salah, nona Lia." Ucapku sambil tertawa lebar, "oh perkenalkan namaku Rara, senang bisa berkenalan dengan anda." Aku menarik semua auraku dan melepas genggaman tangannya, lalu aku mengamati kedua tangan Lia dengan seksama, ah syukurlah dia baik saja dan tak terbakar.
"Aciel," Aciel mengulurkan tangan ke arah sang laki-laki.
Laki-laki berkulit coklat itu menyambut uluran tangan Aciel dengan senyum mengembang, "suami Lia, Liam."
"Jadi apa yang membuat sepasang suami isteri yang tampak sangat harmonis ini datang kemari?" tanyaku dengan sopan.
__ADS_1
"Kami melamar pekerjaan, sekiranya tuan Aciel dan nona Rara berkenan mempekerjakan kami."
Jujur aku terkejut dengan apa yang dikatakan Liam, bagaimana bisa pangeran dan putri melamar pekerjaan di peternakan? Apakah mereka sedang bercanda denganku? Apa Ken mengirim mereka menjadi mata-mata? Aku hanyut dalam pikiranku sendiri.
"Kemampuan apa yang akan anda tawarkan pada kami, tuan dan nona?" Aciel tampak serius bertanya.
"Saya mempunyai aura api dan tanah, bisa membantu membuat pot tanaman, menyuburkan tanah dan bisa pula membersihkan kandang dengan kekuatan yang saya miliki." Liam menatap Aciel dengan tatapan bersemangat, seolah iya sangat ingin mendapatkan pekerjaan ini.
"Saya memiliki aura tembaga, mungkin tidak banyak berguna, tapi saya mampu untuk merawat hewan dan tanaman, saya akan berusaha keras untuk belajar." Lia menatapku dan Aciel bergantian, "kami mohon kiranya tuan dan nona mau mempekerjakan kami, kami sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Aku terdiam, rasanya tak bisa dipercaya seorang adik yang amat disayang oleh kakaknya yang merupakan seorang pangeran mahkota, kini berada dihadapanku meminta dengan sukarela untuk melakukan pekerjaan kasar. Aku hanya bisa menatap Lia tanpa bisa berkata-kata, Aciel tampaknya menyadari perubahan sikapku. Aciel merangkul pundakku dan menepuknya beberapa kali, seolah memberiku dukungan.
"Ada banyak pekerjaan di luar sana, kalau boleh saya tahu kenapa kalian memilih datang ke tempat ini?" Aciel bertanya dengan tangan yang masih merangkul pundakku.
"Karena kami dengar, jika tuan dan nona memberikan tempat tinggal bagi para pekerja. Kami tidak memiliki rumah, jadi kami berpikir ini adalah kesempatan yang baik."
Lagi-lagi aku terperanjat kaget, Liam berkata bahwa ia tidak memiliki rumah? Jelas-jelas aku melihat rumah megahnya di kerajaan api, bahkan dengan kemampuan luar biasanya sebagai pengrajin, aku yakin bahwa dia bisa mendapatkan uang dengan mudah, tapi kenapa ia malah memilih datang ke tempat ini?
Aku mengaktifkan mata dewaku dan menelisik keduanya, aura keduanya berpendar murni tanpa warna gelap, hanya aura Lia yang makin meredup, itu tandanya mereka berkata dengan jujur. Aku semakin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada keduanya?
"Apakah aku boleh mengambil keputusan?" Aciel menatapku dan bertanya.
Aku menatap Lia dan Liam bergantian, lalu menatap Aciel dan mengangguk padanya. Tenggorokanku terasa tercekat, tak berdaya untuk mengeluarkan kata-kata, jadi aku memilih untuk diam dan menyerahkan semuanya pada Aciel.
__ADS_1
"Baiklah, kami menerima kalian."
Aku melongo menatap Aciel, aku memang tak sempat memikirkan jawaban Aciel tapi mendengar jawabannya membuatku kaget sendiri. Apa yang terjadi kalau Ken tahu bahwa aku mempekerjakan adik tersayangnya dan membiarkannya melakukan pekerjaan kasar? Aku kembali menatap Aciel, kali ini Aciel tersenyum menatapku dan terus menepuk pundakku seolah berkata, 'bukankah aku telah membuat keputusan yang tepat?'