
"Berdirilah tuan muda, bagaimanapun saya yang bersalah karena memasuki wilayah pribadi tanpa ijin," tapi pemuda di hadapanku masih bersimpuh tak juga berdiri.
"Kakak, kenapa kau bersimpuh di hadapannya?" pemuda di hadapan Balin tampak menatap dengan protes.
Balin tampak berdiri dan hendak menghampiri pemuda di hadapannya, tapi belum sempat Balin melangkah, pemuda di hadapanku tampak membuka mulutnya.
"Bersimpuhlah Kai, beri hormat pada Yang Mulia Putri Mahkota."
Kai, pemuda di hadapan Balin segera menuruti perintah kakaknya tanpa membantah sedikitpun. Ia bersimpuh dan menundukkan kepala padaku, "mohon ampun Yang Mulia."
Melihat mereka berdua membuatku merindukan kakak-kakakku, aku tersenyum menatap keduanya, tapi Balin tampak masih menahan amarah, auranya masih terlihat menguar.
"Aku mohon berdirilah," keduanya kali ini tampak langsung mengikuti permohonanku. "Sebelumnya aku dan Balin meminta maaf karena memasuki wilayah pribadi ini tanpa ijin," ucapku pada kakak Kai yang ada di hadapanku, pemuda pertama yang menolak memberikan namanya padaku.
"Yang Mulia," Balin kembali memprotes karena aku meminta maaf.
"Balin, tolong kendalikan emosimu." Aku menatap Balin dan mengingatkannya dengan suara yang pelan, "jika ada orang yang tiba-tiba memasuki wilayah pribadiku, aku pun akan melakukan hal yang sama dengan mereka, bahkan mungkin aku akan lebih marah dari mereka, Balin."
Balin menatapku masih dengan tatapan tak setuju, "hamba tidak masalah jika mereka menegur orang lain, tapi menyebut Yang Mulia memasuki wilayah pribadi mereka tanpa ijin adalah sesuatu yang tidak bisa hamba terima. Semua wilayah, tumbuhan serta hewan suci yang ada di kekaisaran Matahari adalah murni hasil ciptaan Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri, tanpa campur tangan orang lain." Tatapan Balin tampak bertambah menyeramkan, "karena kebaikan dan kemurahan hati, Yang Mulia Kaisar membagi wilayah kekaisaran matahari menjadi tujuh kerajaan besar dan menunjuk beberapa orang menjadi raja agar rakyat tak terbengkalai. Tapi lihatlah betapa lancangnya mereka mengatakan bahwa ini adalah wilayah pribadi mereka di hadapan Yang Mulia! Ia bahkan tak memalingkan badan saat Yang Mulia mandi!"
__ADS_1
Balin menunjuk Kai yang kini tampak pucat pasi, aura api Balin menguar hebat, aku yakin Kai merasakan hawa panas akibat aura Balin yang tak terkendali. Kai dan kakaknya kembali bersimpuh, mereka tampak menyesal.
Aku menghela nafas panjang, perkataan Balin ada benarnya tapi mereka juga tak bisa sepenuhnya di salahkan karena mereka awalnya tak mengetahui identitasku, apalagi kemunculanku sangat tiba-tiba, mereka pasti tak menduganya sama sekali.
Balin kembali menatapku, seolah tahu apa yang kupikirkan, dia berkata, "dan lagi mereka tidak mengenali Yang Mulia sama sekali, bukankah bagi pangeran kerajaan sudah wajib hukumnya mengetahui silsilah kekaisaran, apalagi Yang Mulia sudah diperkenalkan secara resmi beberapa bulan yang lalu. Dia barulah mengenali Yang Mulia ketika Yang Mulia berbicara mengenai panggilan waktu!" Balin menunjuk pemuda di hadapanku yang masih bersimpuh.
"Kami siap menerima hukuman, Yang Mulia," seru keduanya bersamaan, tak ada bantahan sama sekali terhadap kata-kata Balin.
Tiba-tiba Balin menggerakkan kedua tangannya, kedua kakak beradik itu seketika tergantung terbalik di pohon besar yang terletak tepat di samping kolam air panas. Aku menghela nafas panjang, begitulah akibatnya jika menyulut amarah Balin. Sang jendral api takkan pernah melepas mangsanya dengan mudah, apalagi kalau mereka melakukan kesalahan terhadapku walaupun sedikit. Balin memiliki pangkat di bawah Jendral Agung, Paman Ezio, ia adalah orang ke-2 yang paling ditakuti diantara para prajurit kekaisaran, bahkan keluarga kerajaan kekaisaran matarahari tak berkutik di hadapan Balin, konon katanya Balin pernah meluluh lantahkan satu negri hanya dalam beberapa menit, tapi aku belum pernah bertanya langsung pada Balin mengenai hal ini.
Balin menjentikkan jarinya, api biru menyala liar di telapak tangan kanannya. "Balin, cukup!"
Mataku kembali menatap ke arah Balin yang tampak kembali tenang, "terimakasih karena telah melindungiku Balin, tapi memberi hukuman yang berlebihan tetaplah tidak bisa dibenarkan."
Balin tampak diam, aku tahu kalau ia tak akan meminta maaf karena ia meyakini bahwa melindungiku dan mengangkat tinggi derajatku adalah tugas utamanya. "Aku sudah menghapus ingatan mereka tentang kita, sekarang mari kita pergi mencari tahu apa yang terjadi hingga waktu memanggilku ke sini."
Aku mengaktifkan portal untuk menjelajah pusat kota dari kerajaan ini, ah tapi aku lupa sesuatu. "Balin, apa kau tahu di mana kita berada saat ini?"
"Kerajaan Green Yang Mulia," Balin mengatakan dengan yakin.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita pergi." Aku berjalan seraya menjentikkan jari, mengembalikan semuanya seperti semula, dan menghapus kedatanganku dan Balin dari catatan waktu.
Aku dan Balin memasuki portal, aku merasa semakin lama portalku semakin kuat dan stabil, sambil mrnunggu tiba, aku mempersiapkan lapisan pelindung diri transparan yang melekat di seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak terkecuali kedua tanganku, lapisan ini melekat layaknya kulit terluar, melindungi dengan sempurna setiap orang dari sentuhanku.
Fakta bahwa kedua pangeran tadi menyadari keberadaanku dan Balin adalah salah satu tanda bahwa kali ini panggilan waktu memanggilku di masa sekarang. Tapi tunggu, bukankah Varen juga menyadari keberadaanku di gua batu? Tapi aku tak dapat menemukannya di masa sekarang, aku menghela nafas panjang, mungkin aku harus banyak belajar dari panggilan waktu yang akan sering terjadi, sesuai kata kakek dan nenek.
"Yang Mulia," panggilan Balin menyadarkanku, aku melihat pasar tradisional yang ramai. "Pasar ini adalah pusat kota Green Yang Mulia," aku dan Balin berada tepat di depan gerbang pasar tradisional, orang-orang berlalu-lalang dengan langkah mereka yang cepat.
"Jadi perdagangan adalah pusat pendapatan kerajaan Green?" aku bertanya pada Balin, ya memang aku telah membacanya dalam buku kekaisaran, tapi aku ingin mendengar langsung dari Balin, secara tidak langsung, aku ingin mendengar cara pandangan Balin terhadap kerajaan Green.
"Betul Yang Mulia, wilayah kerajaan Green sebagian besar merupakan dataran tinggi perbukitan dan pegunungan yang teramat subur, rakyat memanfaatkannya dengan sangat baik untuk menanam sayuran dan buah. Kerajaan Green merupakan pemasok utama buah dan sayur di kekaisaran Matahari, karena kualitasnya yang bagus. Pasar ini bukan hanya merupakan pusat perdagangan kerajaan Green, tapi pusat perdagangan kekaisaran perak, karena pembeli bukan hanya berasal dari dalam kerajaan green, tapi juga dari seluruh kekaisaran, bahkan Yang Mulia bisa menemukan perwakilan kekaisaran lain yang datang untuk memasok kebutuhan kekaisaran mereka."
Aku tersenyum, sudut pandang Balin lumayan bagus tentang kerajaan ini. Kerajaan ini lebih ramai dari kerajaan api, tidak sebersih kerajaan api dan tampak jauh lebih sederhana, rakyatnya terlihat berpenampilan sederhana, otot-otot tangan mereka memperlihatkan bahwa sebagian besar dari mereka adalah pekerja keras. Hawa dingin kurasakan berhembus pelan menerpa kulitku, "Ah!" ucapku refleks saat seorang gadis menabrakku.
"Maafkan saya nona muda, saya tidak sengaja." Gadis itu menatapku dengan tatapan bersalah, ucapannya tulus, kedua tangannya penuh dengan belanjaan, dan dia tampak tergesa.
"Tentu, tidak apa-apa," aku tersenyum padanya.
"Terimakasih," ucapnya lalu berjalan pergi dengan langkah yang cepat.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang, "Balin, ternyata panggilan waktu sangatlah istimewa."