Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
72. Melepas Segel Mempertaruhkan Nyawa


__ADS_3

"Yang Mulia," Balin bersimpuh memberi hormat. "Tuan Muda Aciel meminta kita kembali secepatnya," wajah Balin tampak cemas, Aciel mungkin menghubunginya lewat telepati.


"Pergilah," ucap Kak Nala dengan Agam dan Agler di dalam rengkuhannya. "Hati-hati dan cepatlah kembali."


Aku mengangguk dan mengaktifkan portal, Balin berdiri dan melangkah mendekatiku.


"Wah portal bibi seperti pelangi!" Agler tampak takjub, tangan Kak Nala menahan badan Agler yang tampak ingin mendekati portal.


"Hati-hati Bibi," ucap Agam dengan wajahnya yang kembali serius, aku bersyukur setidaknya Agam tak menjadikan peristiwa tadi sebagai pusat rasa bersalahnya.


"Tentu, sampai juga lagi. Daaaah!" Aku memasuki portal diikuti Balin, sambil melambaikan tangan ke arah Agam, Agler dan Kak Nala hingga portal melahap kami sepenuhnya.


"Apa yang Aciel katakan?" tanyaku pada Balin ketika portal mulai berjalan.


"Keadaan Putri Lia tampaknya semakin memburuk, Yang Mulia."


Aku mengangguk tanda mengerti, sejak tadi malam aku sudah menduga bahwa cepat atau lambat situasi ini pasti akan terjadi.


"Balin, jika sesuatu terjadi padaku." Aku berbalik menatap Balin yang berdiri di belakangku, "beralihlah menjadi pengawal Agam dan Agler," kataku sambil tersenyum lalu kembali menghadap ke arah depan.


"Tak ku sangka mereka begitu cerdas," aku tersenyum senang mengingat tindakan kedua keponakanku terhadap Varen, tindakan mereka mencerminkan kasih sayang mereka padaku. Agam meminta kristal aura Varen karena ia menginginkan pasanganku mencintaiku dengan tulus hingga mau mengorbankan nyawa. Agler meminta Varen memetik buah, berburu dan membuat api unggun, itu tandanya Agler ingin aku mendapatkan pasangan yang bisa memenuhi kebutuhanku, ia tak ingin bibinya hidup kelaparan dan kedinginan, hatiku terasa hangat, memang benar bahwa orang dewasa kadang harus belajar dari anak-anak.


Di sisi lain aku memang mencemaskan Varen, tapi menilai dari sikap Vio yang tampak tenang, aku berasumsi bahwa Varen baik-baik saja, ia mungkin kehilangan kristal auranya, tapi ia mendapatkan beberapa aura sebagai tanda restu, semoga ia bisa menggunakan semua aura yang ia dapat untuk bertahan.


"Nona Rara," suara Lia menyapaku.


Aku kaget dan baru menyadari bahwa kami telah sampai, aku berada di balkon sekarang dan masih mengenakan piyama, aku tak sempat berganti pakaian tadi. Aku mencari Balin dan menemukannya telah menyembunyikan aura dan keberadaannya, siapapun tak dapat mendeteksi keberadaannya.


"Lia, apa kau baik saja?" tanyaku seraya menghampiri Lia yang tengah duduk di kursi panjang sembari menyesap coklat hangat.


Lia mengangguk, tapi wajah pucatnya tak dapat berbohong kalau sebenarnya ia tak baik-baik saja. "Di mana Liam?"


"Menyiapkan sarapan bersama yang lain," jawab Lia sambil tersenyum.


Aku duduk di kursi yang terletak tepat di samping kursi Lia, "apa yang kai lakukan pagi-pagi di sini?" aku tahu mereka pasti melarang Lia bergabung di dapur.


"Menunggu Nona," mata Lia bertemu dengan mataku.


"Nona, saya ingin melakukannya." Lia menggenggam cangkirnya erat, "nona benar, setidaknya saya harus mengumpulkan keberanian untuk menahan rasa sakit, saya ingin hidup bahagia dengan orang-orang yang saya cintai."

__ADS_1


Aku menatap serius Lia, "bagaimana jika hal buruk terjadi? Apakah kau sudah memikirkannya?"


Lia mengangguk, "lebih baik hal buruk terjadi setelah saya berusaha, daripada hal buruk terjadi ketika saya tidak melakukan apa-apa."


Kata-kata Lia seolah mengisyaratkan bahwa ia lebih baik mati saat mencoba melepas segel daripada mati karena menyerah dan takut mencoba, ia pasti sadar bahwa semakin hari dirinya semakin tak berdaya.


"Kalau begitu, lebih baik beritahu suami dan keluargamu lebih dulu, Lia."


Lia menggeleng, "tidak nona, saya ingin melakukannya sekarang, tanpa mereka. Saya tidak ingin mereka melihat saya kesakitan, tolong nona."


Aku benar-benar tak tega melihat tatapan mata Lia yang tampak putus asa, perasaan yang dimiliki Lia sekarang membuatku mengingat diriku sendiri.


"Balin, berjagalah. Jika sesuatu terjadi padaku, jangan membuat keributan, cukup bawa aku kembali pada ayah dan ibu," ucapku lewat telepati.


"Baik Yang Mulia."


Aku menarik nafas panjang, aku mengingat kata-kata Ken. 'Aura gelap untuk melepas segel dan aura cahaya untuk membangkitkan aura yang lama tersegel.'


"Baiklah, kita akan memulainya sekarang."


Lia meletakkan cangkirnya, "apa yang harus saya lakukan?"


Lia menuruti perkataanku, ia memejamkan tampak berkonsentrasi penuh, auranya yang redup kini mulai terfokus.


"Aku akan memulai ketika kau siap," kataku seraya memfokuskan aura. Aura pelangiku menguar, memberi tekanan dahsyat bagi siapa saja yang berada di sekitarku, Balin tampak menciptakan barrier pelindung agar auraku tak menyakiti makhluk hidup yang ada di sekitar gedung.


"Saya siap nona," ucap Lia.


"Apapun yang terjadi, berjanjilah untuk bertahan hingga akhir tanpa lehilangan fokus, atau semuanya sia-sia."


Lia mengangguk mengerti, aku mulai memusatkan energi, kuletakkan kedua telapak tanganku di punggung Lia sambil memejamkan mata. Kutahan aura cahayaku, dan kulepaskan aura gelapku.


Langit terdengar bergemuruh, petir mulai menyambar dan hujan turun dengan derasnya seolah tak merestui tindakanku. Aura gelap tersalur dari tanganku ke dalam tubuh Lia.


"AAAAAAAHHHHHHH!" Jeritan Lia terdengar memekakkan telinga, diikuti suara beberapa orang berlari mendekat.


"Aku akan berusaha melakukannya dengan cepat, bertahanlah!"


Ku erahkan semua aura gelap yang ada dalam tubuhku tanpa tersisa, aura gelapku merambat bagaikan tumbahan bersalur, yang terus masuk ke tubuh Lia, menjalar ke bagian terdalam hingga aku merasakan aura gelapku menemukan gemboknya. Aku berusaha fokus dan melingkupi gembok yang terpasang, energiku terasa tersedot dengan brutal.

__ADS_1


"AAAAAAAAAHHHHHHHH!"


Suara teriakan Lia kembali terdengar menyayat hati, aku tak tega maka kulepaskan sedikit aura cahaya ke arah tubuh Lia dan memindahkan rasa sakit ke tubuhku, seketika tubuhku terasa bagaikan tertusuk ribuan jarum, tersayat ribuat pisau dan tertindih batu yang teramat besar.


Sedikit lagi! Lia tak lagi berteriak kesakitan, aku mendorong keras aura gelapku hingga membabi buta guna merusak gembok yang akhirnya terbuka paksa, gemboknya rusak berkeping-keping, aura yang tersegel mulai menyeruak tak tentu arah, aku berusaha mengendalikannya, tapi terasa teramat kuat karena energiku telah terkuras untuk membuka segel.


"Uhuk..uhuk.." aku terbatuk, darah segar keluar dari mulutku.


"Yang Mulia!" Suara Balin terdengar bahkan bukan lewat telepati, aku tidak menggubrisnya.


Gembok telah terbuka maka ku alirkan semua aura cahaya yang ku miliki, aliran deras auraku terasa sangat nyata, mengalir dari tubuhku menuju ke dalam jiwa Lia, menyusup dalam darah dan membangkitkan aura yang lama tersegel, mengendalikan aura Lia, mengumpulkannya menjadi satu, menyatukannya dengan aura logam yang bertolak belakang.


"AAAAH, uhuk..uhuk..." Darah mengalir keluar dari mulutku, tapi aku berusaha bertahan. Senyum cantik Lia terbayang di benakku, hingga tak ada alasan bagiku untuk menyerah.


Energiku mulai melemah, disertai rasa sakit yang tak kunjung pergi, membuatku menyimpulkan bahwa aku harus menyelesaikannya dengan cepat!


"Sedikit lagi, bertahanlah Lia!"


Tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu yang tak beres, aura yang tersegel menyedot aura cahaya dan energiku secara tak terkendali, aku ingin membuat batasan tapi tak akan baik bagi Lia jika auranya tak bangkit sepenuhnya, maka aku memilih untuk membiarkannya dan menahan rasa sakit yang kian lama kian menyiksa.


Cahaya hijau dan coklat mulai berpendar keluar dari tubuh Lia bergabung dengan aura tembaganya. Jadi aura yang tersegel ada dua? bukan satu? Itukah alasannya aura dan energiku tersedot tak terkendali?


"AAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH!" aku berteriak sekencang-kencangnya, tubuhku terasa diperas, dililit dan dihujam berkali-kali.


"Duar...Duaar...." dua kali suara ledakan terdengar, membuatku terpental.


"Braak!" tubuhku menghantam pagar pembatas, "uhuk...uhuk..." aku kembali memuntahkan darah segar, rasa sakit mulai terangkat, tapi tubuhku terasa lemas dan kebas.


Aku menyeka darah di mulutku dengan bajuku, kubuka mata dan melihat aura Lia terpancar dengan indahnya, Liam menghampiri Lia dan memeluknya erat, air mata tampak di pelupuk matanya.


"Syukurlah," kataku seraya berusaha berdiri tapi ternyata kakiku tak kuat menopang.


"Yang Mulia!"


Balin tampak berlari dengan cepat ke arahku, tubuhku limbung, aku hendak memejamkan mata ketika sepasang tangan menangkap tubuhku, mendahului Balin.


"Kenapa kau selalu membuatku khawatir?"


Aku tersenyum dan mengeluarkan kristal auranya dari cincin penyimpanan, "kukembalikan apa yang Agam minta darimu."

__ADS_1


Aku menekan kristal aura ke dada Varen, kristal itu menghilang menembus tubuh Varen, masuk ke dalam jiwanya, aura Varen kembali bersinar dengan terangnya, dan aku kembali mencium aroma mint vanilla dari tubuhnya. Air mata Varen jatuh di pipinya, tanganku ingin menggapai wajahnya dan menghapus air mata itu, tapi rupanya tubuhku tak mampu, gelap menerpaku tak memberiku ruang untuk melakukannya.


__ADS_2