
Ibu dan ayah menatapku bersamaan, aku tahu mereka ingin bersuara membelaku, tapi sepertinya mereka terhalang karena nyatanya aku adalah putri mahkota yang bertanggung jawab melahirkan penerus. Berbeda dengan Kak Nala dan Kak Prisa, mereka menikah di usia yang mereka mau, walaupun tentunya mereka punya cara tersendiri untuk menyeleksi dengan ketat calon suami mereka saat itu, tapi tidak ada desakkan seperti apa yang saat ini terjadi padaku.
"Yang Mulia Putri Mahkota, melahirkan penerus merupakan salah satu dari tanggung jawab yang wajib Yang Mulia penuhi." Kak Althea yang menghadiri rapat sebagai ketua klan Nirwana mulai mengemukakan pendapat, tutur katanya yang sopan membuatku diam mendengarkan. "Tanggung jawab itulah yang ingin kami bantu wujudkan, kami di sini siap membantu Yang Mulia, tentunya dengan mengutamakan pendapat pribadi Yang Mulia, karena bagaimanapun Yang Mulia Putri Mahkota-lah yang berhak memutuskan."
Kata-kata Kak Althea menyiratkan bahwa aku tidak bisa mengelak dari pernikahan ini, ia juga tampak menegaskan bagi semua orang yang hadir bahwa keputusan akhir tetap berada di tanganku, mereka hanya berhak membantuku dalam prosesnya.
Aku menyentuh cincin yang masih betengger di jari manisku, saat itu tepat di hari ulang tahunku, aku sudah mengatakan semuanya pada keluargaku, tapi mungkin keluargaku pun tak bisa berkutik karena pada kenyataannya Varen tak juga muncul, bahkan tampaknya ayah telah menyelidiki tentang kekaisaran perak dan tak menemukan hasil yang memuaskan, sedangkan desakan tampak semakin tak bisa dibendung.
"Bagaimanapun aku menyadari bahwa ini adalah tanggung jawabku, tapi bukankah belum tepat satu tahun aku menjadi putri mahkota? Apa tidak terlalu cepat untuk memulai pembicaraan ini?" aku mencoba mengulur waktu sambil terus memikirkan jalan keluar yang tepat.
"Lapor Yang Mulia, dalam kurun waktu kurang dari setahun setelah Yang Mulia resmi diangkat, kami mendapatkan lamaran dari hampir seluruh kesatria di penjuru negeri," seorang wanita bertubuh langsing dengan nama yang tertera di meja bertuliskan Keiko, tampak menjentikkan jari dan cuplikan keadaan kantor sekertariat kekaisaran tampak menyesakkan mata, beraneka macam kotak berukiran mewah menumpuk hingga ke halaman saking tak muatnya di ruangan mereka, padahal sekertariat kekaisaran matahari mempunyai wilayah bangunan yang luas dan bahkan memiliki tiga tingkat. Keiko gadis mungil, langsing nan cantik itu kembali menjentikkan jari dan dengan mimik memelas dia berkata sambil menatap ke arahku, "mohon tolong kami Yang Mulia, kami sudah tidak tahu lagi harus menampung semua upeti lamaran yang terus berdatangan, bahkan gudang dimensi sekertariat sudah tak mampu lagi menampungnya."
"Ehm," Ayahanda dan ibunda berdehm bersamaan, aku menoleh melihat keduanya dan sedikit sebal karena keduanya tampak berdehm untuk menahan tawa. Bagaimana bisa mereka tertawa ketika aku sedang bingung? Aku menggerutu dalam hati.
Mataku menyisir ruangan, aura mereka tampak terpancar dengan normal, tidak ada aura yang gelap, tandanya mereka tulus menginginkanku menikah semata-mata demi menjalankan kewajibanku pada kekaisaran.
"Jadi usul apakah yang kalian miliki untuk menyelesaikan perkara ini?" tanyaku setelah yakin bahwa tidak ada sedikit pun aura gelap yang menyusup di balai pertuan kali ini.
__ADS_1
"Yang Mulia, saya mengusulkan untuk segera merencanakan pemilihan putra mahkota." Tetua Mahira tampak menyuarakan pendapatnya dengan hati-hati, "Yang Mulia perlu membentuk kepanitiaan resmi serta rancangan yang tepat untuk menyeleksi calon putra mahkota yang Yang Mulia kehendaki."
"Ataupun mungkin dengan cara lain yang diinginkan Yang Mulia," Paman Ezio menyahut tiba-tiba.
Mataku bertemu dengan mata Paman Ezio, tampaknya ia hendak menyampaikan sesuatu lewat telepati. "Yang Mulia, jadikan metode Yang Mulia Permaisuri Nala dan Yang Mulia Permaisuri Prisa sebagai contoh, keduanya memegang penuh kendali hingga akhirnya menemukan seseorang yang benar-benar diinginkan, tanpa pengaruh dan kendali dari pihak manapun."
Suara Paman Ezio menggema di kepalaku, "paman, tapi aku telah bertunangan."
Paman Ezio menatapku dalam, "kalau begitu temukanlah cara agar Yang Mulia dapat membawanya kemari."
Aku menarik nafas panjang, mengakhiri telepatiku dengan Paman Ezio. Pikiranku melayang mengingat apa yang pernah dilakukan Kak Nala dan Kak Prisa dulu.
Ah, kunjungan rahasia! Mataku berbinar penuh semangat, akhirnya aku menemukan sebuah jawaban, kunjungan rahasia adalah tugas ayah sebagai kaisar, ini merupakan kunjungan resmi yang biasa ayah lakukan setahun sekali. Ayah biasanya melakukan kunjungan ke seluruh wilayah kekaisaran dengan rahasia, kadang juga dengan menyamar, dengan cara seperti itu ayah bisa mengetahui keadaan nyata rakyat, dan juga mengawasi para tetua dan petinggi kekaisaran tanpa ada tipu daya, ayah akan muncul tiba-tiba jika ada hal mendesak yang membuatnya murka, tapi kadang juga ia akan menyampaikannya di balai pertemuan secara resmi.
Aku melirik ke arah ayah, menatap matanya dan melakukan telepati. "Ayah apakah ayah sudah melakukan kunjungan rahasia tahun ini?"
Ayah balas menatap mataku dan menjawabku melalui telepati, "belum, ayah terlalu sibuk mengawasimu akhir-akhir ini."
__ADS_1
Aku tersenyum gembira, "ayah bolehkah aku ambil alih?"
Ayah diam mengamatiku beberapa saat, lalu suaranya mulai terdengar di kepalaku. "Boleh, asal Balin selalu ikut bersamamu."
Aku mengangguk mantap dan mengakhiri telepatiku, lalu menatap balai pertemua dengan senyuman mennghias wajahku. "Baiklah, tapi aku memiliki metodeku sendiri. Setidaknya aku butuh waktu untuk menyeleksi setiap orang yang mengirimkan upeti lamaran padaku."
"Berapa lama waktu yang anda inginkan, Yang Mulia?" kali ini seorang laki-laki paruh baya dengan mahkota membuka suara, mejanya bertuliskan Raja Hakan, kerajaan api.
Aku jadi ingat keinginanku saat terbang bersama Ryu di atas kerajaan api, aku bertekad untuk mengunjungi negeri pusat seniman kekaisaran Matahari, yang terkenal akan kerajaan seribu senimannya. Sepenuh hati kusunggingkan senyum pada sang raja negeri api, "setidaknya aku butuh waktu sampai sebelum bulan merah."
"Super blood moon?" tanya paman Ezio mengulangi kata-kataku.
"Ya," jawabku masih dengan mengembangkan senyum. Setidaknya aku punya waktu lebih dari enam bulan jika ini mendapat persetujuan.
"Bolehkah kami mengetahui metode yang akan Yang Mulia terapkan?" kali ini tetua Mahanta ikut ambil suara.
"Seperti kunjungan rahasia Yang Mulia Kaisar, bolehkah aku merahasiakan metodeku tetua Mahanta?"
__ADS_1
Tetua Mahanta tidak menjawab, ia tampak mengerutkan kening, para tetua dan petinggi kerajaan tampaknya melakukan telepati massal, tentu saja aku dapat menembusnya. Mereka tampak melakukan voting untuk mendapatkan keputusan memberi ijin atau tidak padaku, sebagian ingin tetap mengetahui metodeku tapi sebagian lain menganggap bahwa cara yang dilakukan ayah selama ini cukup efektif, mereka berpikiran melakukannya dengan rahasia akan lebih menguntungkan bagiku.
"Jadi, apakah kalian sudah memutuskan?" ayah memecah keheningan.