Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
17. Penolong


__ADS_3

"AAAAAHHHHH!" Rasa sakitku semakin lama semakin menyakitkan, rasanya hampir menyerah, aku benar-benar tak tahan lagi. Bau anyir darah semakin kuat dan aku masih tidak bisa membuka mataku.


"Duuaaar!" Suara ledakan kembali terdengar di telingaku, perlahan aku merasa cahaya mulai masuk melahap sedikit demi sedikit kegelapan yang ada. Tapi bukan hanya cahaya, hawa dingin pun terasa mulai menusuk kulitku.


"Bertahanlah!"


Aku menajamkan indera pendengaranku. Suara seorang laki-laki, aku mencoba sekeras tenaga menyerap cahaya yang masuk ke dalam ruang itu. Berhasil! Tubuhku mulai menyingkirkan rasa sakit sedikit demi sedikit, walaupun aura hitam sudah menyebar dalam tubuhku, tapi cahaya yang kuserap sedikit mengembalikan kendali atas tubuhku sendiri.


Kubuka mataku sekuat tenaga saat kurasakan hawa dingin menyentuh pucuk kepalaku, seperti tangan seseorang. Aku membuka mata, kulihat seorang pria sedang mentransfer energinya padaku, tapi kondisinya hanya sedikit lebih baik dariku. Banyak luka berdarah di tubuhnya, dan tangannya yang menyentuhku amatlah dingin! Oh tidak, dia tidak boleh menyentuhku! Sampai saat ini aku bahkan tidak tau efek samping seseorang yang kusentuh atau menyentuhku!


"Menjauhlah! Hentikan!" teriakku sekuat tenaga, tubuhku masih lemah, aku tidak tahu lagi harus bagaimana jika laki-laki di hadapanku ini malah terluka karena menyentuhku.


"Aku hanya ingin menolongmu, kenapa kau begitu kasar!"


Aku mendudukkan diriku yang sebelumnya terbaring di atas batu! Oh ya ampun apakah ini perjalanan waktu lagi? Aku kembali fokus menatap laki-laki di hadapanku, pemuda di hadapanku tampak tak asing.


Mataku mengerjap beberapa kali, pemuda ini di mana aku bertemu dengannya? Aku merasakan perih di seluruh tubuhku, pandanganku beralih ke tubuhku sendiri. Bajuku compang camping memperlihatkan kulit yang berdarah di mana-mana, ternyata bau anyir darah yang kucium berasal dari diriku dan pemuda itu, ia mengalami hal yang sama denganku dan di tempat yang sama pula, tapi ia bisa menolongku dan bertahan lebih dulu, jadi siapa dia?

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku." Aku kembali menatap pemuda berambut perak dan berkulit pucat itu, oh ya ampun aku ingat! Singa emas! Dia adalah pemuda yang kutolong selagi menjelajah waktu! Tapi aneh, ia tampak lebih muda dan seumuran denganku, berbeda dengan waktu itu, hawa dinginnya juga masih ada, bukankah dulu aku telah memberinya air mata Ryu?


"Apa anda baik-baik saja?" tanyaku sambil menelisik tangan kanannya yang tadi menyentuh pucuk kepalaku.


"Apa kau buta! Dilihat saja aku sudah tidak baik-baik saja!" Pemuda itu menjawabku dengan ketus, mungkinkah dia marah karena tadi aku berteriak.


"Maaf apa tanganmu yang tadi menyentuhku baik-baik saja?" tanyaku lebih detail. Pemuda itu mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan padaku, tak ada luka! Jadi berhubungan dengan siapakah pemuda ini dari ke 6 orang itu?


"Syukurlah," aku menghela nafas lega. "Terimakasih telah menolongku, aku benar-benar hampir menyerah."


Aku memandang berkeliling, tempat ini gelap! Ada beberapa lubang, mungkin akibat ledakan yang kudengar tadi, ledakan itu membuat lubang yang cukup besar, sehingga cahaya bisa menyeruak masuk. Cahaya yang masuk menampakkan dinding yang penuh dengan batu, bahkan lantai dan atapnyapun terbuat dari batu, kusam dan tak terawat. Mungkinkah ini adalah sebuah gua batu?


"Aku tidak ingat, awalnya aku hanya menjalankan sebuah misi, lalu aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri, dan anda menolongku," jawabku jujur sambil menatap balik kedua mata pemuda itu.


"Terimakasih," ucapku lagi sambil sedikit menundukkan kepalaku, aku tahu tidak seharusnya aku menundukkan kepalaku pada sembarang orang seperti kata tetua Mahanta, tapi dia telah menolongku, bukankah ini wajar?


"Berdirilah, ikuti aku keluar." Pemuda itu langsung membalikkan badannya dan berjalan mulai meninggalkanku. Aku menyerap lebih banyak cahaya, dan berusaha turun dari atas batu, menahan rasa sakit dan perih yang memenuhi tubuhku, beberapa luka bahkan masih menyisakan darah segar dengan bau anyir yang menyengat hidungku. Pemuda itu sama sekali tidak menoleh ke belakang! Oh ya ampun, mungkinkah dia masih marah karena pertolongannya kubalas dengan teriakan?

__ADS_1


Aku berjalan pelan dan tertatih, sementara pemuda sudah berjalan jauh di depanku, kakinya yang panjang mungkin membantunya berjalan lebih cepat dariku, karena aku yakin, dilihat dari luka yang dia punya, dia pasti merasakan rasa sakit yang sama denganku.


Aku menghentikan langkahku dan berpegangan pada dinding gua yang kasar, menarik nafas panjang dan kembali menyerap cahaya agar memiliki tenaga untuk kembali berjalan. Walaupun tertatih aku mengikuti pemuda itu dari belakang seraya bertumpu pada dinding gua. Setelah melewati lorong gua yang lumayan gelap dan panjang, aku bisa melihat cahaya! Tubuh pemuda itu kini mulai terlihat jelas diterpa cahaya, cahaya dengan leluasa masuk melalui sebuah lubang menyerupai pintu di ujung lorong. Aku juga merasakan kehadiran orang lain, bukan hanya satu, mungkin ratusan? atau ribuan? suara mereka terdengar jelas di telingaku, tapi karena kekuatanku masih lemah, aku tak bisa memilah dan menangkap informasi.


Pemuda itu terus melangkah hingga berhenti di pintu, sontak gemuruh suka cita terdengar memenuhi telingaku. Semua orang di luar sana bersorak sorai setelah melihat pemuda itu.


"Selamat Yang Mulia Putra Mahkota! Panjang Umur Yang Mulia Putra Mahkota!" seseorang memulai sorakan, lalu diikuti suara ribuan orang bersama-sama.


Putra Mahkota? Oh tidak, aku menghentikan langkahku. Tidak ada putra mahkota di kekaisaran matahari, bintang dan bulan! Sebutan untuk penerus kerajaan di wilayah ketiga kekaisaran juga bukan 'putra mahkota' melainkan 'pangeran mahkota'. Gelar putra mahkota hanya akan diberikan kepada ahli waris sebuah kekaisaran, bukan kerajaan. Jadi, apa mungkin ini bukan kekaisaran matahari, bintang dan bulan?


Pikiranku mulai kalut, kalau ini bukan wilayah tiga kekaisaran maka tidak ada lapisan pelindung, tidak ada petir suci, dan mungkin tidak ada satupun orang yang kukenal. Oh tunggu, tapi tadi dia menyentuhku dan tangannya tak terluka, bukankah masih ada harapan bahwa ia memiliki hubungan dengan 6 orang yang bisa menyentuhku? Baiklah, aku akan berpegang pada satu peluang itu!


"Sedang apa kau? Apa kau ingin membusuk di sini?" suara pemuda itu sebenarnya hanyalah bisikan yang tidak mungkin di dengar orang lain, ia mengecilkan suaranya dari pintu, tapi di telingaku itu terdengar seperti bentakan. Aku mempercepat langkahku menuju pintu.


Cahaya yang hangat menerpa tubuhku, dan seketika pemuda itu menggandeng tangan kananku. Ia menggandengku keluar dari pintu. Aku terkesiap dari sini aku melihat ribuan orang berdiri menengadah ke arah kami. Jadi gua ini berada di tempat yang tinggi, ada beberapa prajurit menjaga pintu gua yang tadi kami lewati, dari tempat yang tinggi ini aku bisa melihat banyaknya orang berkumpul di bawah sana. Aku menatap pemuda di sampingku, wajahnya yang tadi tampak datar kini menampakkan senyuman, dan dia mengangkat kedua tangan kami yang masih saling terkait, ya dia masih menggenggam tangan kananku dan mengangkatnya ke atas.


Ada rasa menyengat di pipiku, mungkin pipiku sudah tampak merah karena malu. Ini pertama kalinya seorang pemuda menggenggam tanganku! Oh tidak ribuan orang yang melihat terus bersiul dan bersorak gembira.

__ADS_1


__ADS_2