Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
57. Restu Ibunda


__ADS_3

Aku memberikan acungan jempol pada Balin ketika ia muncul di hadapanku, "wah, tak kusangka kau guru yang hebat!"


Balin menunduk malu, pujian adalah salah satu kekurangannya. "Tidak Yang Mulia, saya hanya menjalankan perintah Jendral Agung."


Aku tersenyum menggodanya, "ah baiklah terserah apa katamu Balin, aku hanya ingin kau tahu bahwa kau sangatlah hebat! Terimakasih telah memilih berada di sampingku."


Aku berjalan cepat menuju ke kandang, meninggalkan Balin yang tampak tersenyum riang mendengar kata-kataku, aku tahu ia malu jika dipuji tapi ia akan tampak sangat bahagia ketika sendirian. Senyumku mengembang, suara binatang terdengar indah di telingaku, Liu memasukkan binatang tepat dalam kandang yang telah kusiapkan, ada sepasang ayam, sapi dan domba, tapi di sisi lain Liu tampak mengikat dua ekor kuda di pohon apel liar yang tumbuh kokoh di tengah lahan.


"Rakyat tidak makan daging kuda, kenapa muridmu membawanya ke sini?" tanyaku pada Balin yang berjalan mendekat.


"Maaf Yang Mulia, tampaknya belas kasihnya tak terelakkan. Ia takut kuda akan punah karena banyak ditangkap dan digunakan sebagai alat transportasi."


Aku memgangguk, "ah jadi dia memiliki belas kasih melebihi gurunya."


Aku melihat ekspresi Balin yang tak senang, tapi dia diam, aku menjentikkan jari dan membuat kandang kuda, lalu memindahkan sepasang kuda ke dalam kandang dengan sihir. Aku kembali memberi mereka makan dengan sihirku.


"Kita harus secepatnya menemukan orang yang bisa dipercaya untuk mengelola semua ini, Yang Mulia."


"Ya, tapi setidaknya aku telah menemukan beberapa." Aku menatap langit, waktu tampak cepat berlalu. "Balin, jaga tempat ini selagi aku pergi."


"Yang Mulia," nada tidak senang Balin terdengar samar ketika portal memindahkanku.


"Yang Mulia, ada apa mengunjungi hamba tiba-tiba begini?" Aciel menatapku kaget, kuas lukisnya mengambang di udara.


Aku tersenyum, "karena aku sangat merindukan kawanku!"

__ADS_1


Aciel membatukkan dirinya, "bantuan apa kiranya Yang Mulia butuhkan?"


Aku berdehm, "ehm.. kenapa kau selalu tahu isi pikiranku?"


Aciel tampak menggelengkan kepala beberapa kali, "jika tidak tergesa ijinkan hamba menyelesaikan lukisan ini terlebih dahulu, karena matahari mulai tergelincir."


Aku melihat lukisan panorama alam yang hampir selesai di hadapan Aciel, aku mengangguk dan memilih duduk di samping Aciel, diam takut mengganggu konsentrasinya. Aciel menggoreskan kuas lukisnya dengan mahir, memberi goresan keindahan yang tampak alami. Burung-burung tampak mulai berterbangan menuju sarang mereka, matahari mulai tergelincir dan awan mulai berarak mengiringi kepergian matahari.


Aku memejamkan mataku sekejap, merasakan hembusan angin sambil menyerap beberapa energi alam, tak sengaja aku merasakan aura Aciel yang tampaknya semakin kuat, tunggu.


Aku membuka mata, Aciel telah menyelesaikan lukisannya, kini ia sibuk mengemasi peralatan lukisnya. "Aciel, kenapa aku merasakan aura ibunda padamu?"


Aciel menghentikan gerakannya seketika, beberapa kuas terjatuh menggelinding menyentuh tanah. Aku beranjak dan mencoba memungut beberapa kuas yang jatuh.


"Yang Mulia Permaisuri memberiku restu," kata Aciel pelan. Tanganku yang hendak memungut kuas kini terhenti melayang di udara kosong, kekagetanku tak terelakkan. "Yang Mulia Permaisuri memberiku restu untuk meminang anda, Yang Mulia Putri Mahkota."


"Yang Mulia, hamba tahu dan menyadari kalau Yang Mulia menganggap hamba sebagai teman, jadi hamba tidak mengirimkan upeti lamaran."


Aku berdiri dan menatap Aciel yang kini tengah menyibukkan diri menggulung tikar, "aku memang menganggapmu teman, tapi bagaimana denganmu sendiri, Aciel?"


Tangan Aciel tampak terhenti, ia tidak menatapku tapi terlihat tersenyum sekejap lalu kembali menggulung tikarnya. "Akhirnya selesai, jadi bantuan apa kiranya yang anda butuhkan Yang Mulia?"


"Kau belum menjawab pertanyaanku!"


Aku sedikit kesal karena pengabaian Aciel, aku ingin Aciel menjawab pertanyaanku agar aku bisa menentukan sikap untuk menghadapinya.

__ADS_1


"Bukankah pertanyaan Yang Mulia tidak perlu hamba jawab? Bukankah keputusan hamba untuk tidak mengirimkan upeti lamaran sudah merupakan jawaban itu sendiri?" Aciel kini berdiri menatap mataku, dengan satu tangan terisi penuh perlengkapan lukis.


Aku kembali berjongkok dan mengambil beberapa kuas yang tadi menggelinding jatuh, lalu menyerahkan padanya. "Maaf telah membuatmu tidak nyaman karena restu yang ibunda berikan, kau berhak memilih wanita yang kau cintai Aciel, aku berjanji tidak akan menghalangi jalanmu."


"Tentu," Aciel menerima uluran kuas dariku, dan menyimpannya bersama peralatan lukis lainnya ke dalam cincin penyimpanan. "Tampaknya hal ini tak perlu dibahas lagi, bukankah ada sesuatu yang lebih penting?"


"Ah benar!" Aku menepuk jidatku sendiri, "aku membutuhkan bantuanmu untuk mengelola sebuah peternakan dan budidaya tanaman obat karena aku tahu kau mahir dalam kedua bidang itu."


Aciel tampak mengerutkan kening, "sesuatu seperti yang ada di kerajaan Green?"


"Kau mendengarnya?" tanyaku kaget.


"Tentu, orang-orang dalam bidang yang sama pasti telah mendengar kehebatan mereka, mereka telah memecahkan permasalahan sekaligus memberi solusi yang brilian bagi kerajaan green." Aciel menatapku, "kenapa tidak meminta bantuan mereka?"


"Tidak ada mereka, yang ada adalah kita," ucapku seraya tersenyum. Aciel tampak bingung, akupun menjelaskan semua padanya. "Aku janji akan mengembalikanmu ke waktu yang sama, walaupun aku belum pernah mencoba memanipulasi waktu tapi bukankah sangat bagus untuk mencobanya?"


Aciel menghela nafas panjang, "kenapa aku selalu ikut dalam percobaan perjalanan waktu Yang Mulia?"


Aku nyengir kuda dan menjawabnya dengan asal, "mungkin sudah takdir, hahahaha."


Aku tertawa riang seraya mengaktifkan portal, tanpa mengelak candaanku, Aciel masuk ke dalam portal, aku tak perlu khawatir karena gelang pemberianku tak pernah Aciel lepas dari tangannya, maka ia akan stabil berada dalam portalku, walaupun aku sadar auranya telah meningkat pesat.


"Apakah Yang Mulia sudah menemukannya?" Aciel tampak bertanya sambil memejamkan mata.


Aku menghela nafas panjang, "pertemuan kami adalah panggilan waktu, kebersamaan kami adalah perjalanan waktu yang singkat, dan keberedaannya adalah misteri waktu, tak ada yang mudah tapi bukankah sesuatu yang istimewa selalu tak mudah untuk didapat?" aku mencoba tersenyum.dan menghibur diriku sendiri.

__ADS_1


"Jika superblood moon tiba dan ia tak juga datang, apa yang akan Yang Mulia lakukan?" Aciel membuka mata dan menatapku. Mata kami saling bertemu untuk beberapa saat aku merasa tenggelam dalam keheningan, hanya ada aku dan Aciel. Pertanyaan Aciel bagaikan tamparan keras yang menyadarkanku dari harapan kosong yang selama ini ku genggam.


"Jika super blood moon tiba dan ia tak juga datang, apa yang akan aku lakukan?" aku mengulang kata-kata Aciel, mataku terasa panas dan air mata jatuh tanpa bisa kubendung. Hatiku terasa sakit, otakku serasa tak bekerja, jika penantianku hanyalah harapan kosong, lalu apa yang akan aku lakukan?


__ADS_2