
Lama kelamaan portal itu membuka, sepasang suami istri paruh baya bergandengan keluar dari portal. Keduanya memakai mahkota khas pemimpin, auranya menguar di udara, jubah keagungan biru langit yang mereka kenakan tampak sangat indah.
"Hormat pada Kaisar dan Permaisuri ke lima," ucap semua orang dalam ruangan itu bersamaan, kecuali keluargaku.
Aku menatap mereka dengan seksama, jika mereka Kaisar dan Permaisuri ke Lima, maka mereka adalah kakek dan nenekku dari ayah. Kakek terlihat seperti ayah masa kini, mereka sangat mirip bagaikan pinang di belah dua, mata coklat tua, rambut hitam gelap tanpa uban dan kulit yang sedikit menggelap terkena sinar matahari, mungkin sama seperti ayah, kakek sepertinya mempunyai kebiasaan menyatu dengan rakyat. Sedangkan nenek menggelung rambut peraknya, mata biru gelap yang menawan dengan kulit putih susu, kecantikan yang sepertinya menurun pada kak Prisa, bedanya kak Prisa berambut coklat gelap seperti ibunda. Nenek benar-benar terlihat seperti wanita bergaun hijau yang muncul saat aku bersemedi di danau keabadian, hanya warna gaunnya saja yang berbeda.
"Kalian semua keluarlah bantu seluruh pasukan untuk bertahan, kecuali kalian bertiga." Ucap kakek tertuju pada paman Ezio, Ibu asuh Sarala dan Mahira.
Tetua Mahanta, Alejandro dan beberapa kesatria lain mengikuti perintah dan keluar dari ruangan. Sementara keluargaku, masih diam tanpa memberikan sambutan pada kakek dan nenek. Kakek mengibaskan tangan kanannya, pelindung berlapis berwarna biru langit kini terlihat mendominasi ruangan.
"Anakku, maafkan kami yang tak berdaya melindungi kalian. Kami datang untuk meminta maaf, kami tahu kami tidak berhak menggendong dan memeluk cucu-cucu kami, tapi ketahuilah kami sangat menyayangi kalian, kami berusaha melindungi kalian walaupun sangat menyakitkan," Nenek menggenggam erat tangan kakek sambil menangis tersedu-sedu.
"Ibumu benar, kami memang bersalah. Tak apa kalau kalian tak ingin memaafkan, tapi setidaknya dengarkanlah kata-kataku, mungkin ini yang terakhir kami mengganggumu," Kakek masih berdiri di tempatnya tapi tatapannya tertuju pada ayah dan ibu. Ibu memberikanku yang masih bayi pada ibu asuh Sarala untuk digendong. Sementara ayah memeluk Kak Nala dan Kak Prisa dengan eratnya. Paman Ezio, Ibu asuh Sarala dan Mahira berdiri di belakang ranjang ibu, ibu mendudukkan dirinya di ranjang dan menatap kakek dan nenek.
"Maafkan kami yang pergi tanpa pamit, bahkan tak pernah berkunjung sampai putri-putri kami tak mengenali kakek nenek mereka," kata ibu dengan suara yang masih lemah. Kak Nala beranjak dari pelukan ayah dan duduk di samping ibunda, ia merangkul tubuh ibunda.
Nenek terisak, "jangan meminta maaf, kamilah yang tak pernah mencegah kalian pergi. Kami bahkan tak pernah bisa memberikan tempat untuk berlindung hingga kalian perlu mendirikan perlindungan kalian sendiri."
Kakek menenangkan nenek, "tak akan ada habisnya jika bicara tentang masa lalu. Kedatangan kami ke sini hanyalah ingin melaksanakan tugas sebagai orang tua, tugas yang selama ini kami lalaikan. Nak, ingat baik-baik!"
__ADS_1
Kakek menatap ayah masih dari tempatnya berdiri. Wajah dan tatapannya terlihat amat serius, "kegelapan akan selalu mengincar cahaya. Kekuasaan akan binasa tanpa kekuatan. Keluargamu adalah wujud dari doa ke-4 permaisuri sebelumnya, dan juga doa ibumu."
Ayah yang tadinya membuang muka, kini balik menatap kakek, "akan selalu ada ketenangan sebelum badai. Akan selalu ada kegelapan sebelum cahaya. Bertahanlah, jaga keluarga kalian, dan bersiaplah."
"Gawat, kenapa kekuatan mereka tidak melemah? Ada apa dengan bulan dewa?" Mahira terlihat cemas, matanya terbuka tapi terlihat menerawang ke arah lain. Kata-katanya menyerobot perhatian semua orang di ruangan.
"Apa yang kau lihat Mahira? Katakan!" Kakek tak sabar mendengar penjelasan Mahira.
"Pasukan kegelapan benar-benar tidak melemah, mereka tidak terpengaruh oleh bulan dewa seperti biasanya. Ramalan itu benar, bulan dewa kali ini kehilangan kekuatannya untuk memberikan kelahiran hingga tak dapat menekan kekuatan gelap, saya rasa pasukan kita butuh bantuan."
Aku melihat Mahira yang benar-benar sudah tak tenang, "Yang Mulia sudah tidak bisa ditunda lagi, bukan hanya pasukan kekaisaran matahari yang kewalahan, tapi ribuan pasukan anda pun mengalami hal yang sama."
Ayah dan kakek terlihat sama terkejutnya, "aku akan keluar!" Ayah melepas pelukan kak Prisa, ia melangkahkan kakinya hendak keluar, tapi sebuah barrier terbentuk di sekeliling ranjang.
Ibu pun berurai air mata, Kak Nala dan Kak Prisa kini berada di pelukannya. "Ingatlah, tadi adalah kakek dan nenek kalian."
"ROOOAAAAARRR!" Suara naga yang amat keras menggelegar di seluruh penjuru kekaisaran, amat keras hingga menggetarkan langit dan bumi.
"Pelindung Naga Api," Mahira kini terduduk di lantai, wajahnya tampak amat sangat sedih. Mahira memandang ke arah ayah, ibu, dan Ibu asuh Sarala bergantian. "Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri Kelima, juga Alejandro telah gugur."
__ADS_1
Ayah dan ibu menangis, air mata keduanya tak terbendung. Sementara ibu asuh Sarala mempererat gendongannya, ia menatap aku yang masih bayi dengan tatapan kosong.
"Sarala, menangislah jika kau ingin menangis. Berikan putri ketiga padaku jika kau ingin menenangkan diri." Mahira mendekati Sarala sambil mengusap punggung Sarala, mencoba menenangkan.
"Tidak, Alejandro memberikan seluruh hidupnya untuk melindungi putri ketiga, maka aku pun bersumpah akan memberikan seluruh hidupku untuk melindungi putri ketiga."
Tak terasa air mataku ikut mengalir dengan derasnya, teenyata saat aku lahir banyak irang mengirbankan nyawa mereka, termasuk kakek nenek dan juga Alejandro, oh ya ampun aku benar-benar bersalah! Aku kembali melihat ke arah ibu asuh Sarala.
Tatapan Ibu Asuh Sarala kini tampak berbeda, ia membelai pipi merah bayiku yang gembul. "Yang Mulia, saya berjanji akan melindungi Yang Mulia dengan seluruh nyawa."
"Eaaa....Eaaa...!" Tangisanku pecah membahana, cahaya pelangiku semakin cerah menembus barrier pelindung. Seketika turun hujan, bukan, lebih tepatnya serbuk emas berguguran dari langit, bunga-bunga bermekaran, pohon-pohon berbuah, diikuti kelahiran hewan suci.
"Yang Mulia Putri Ketiga memberikan berkah yang Agung," Mahira menatap takjub ke arahku yang masih berdiri mematung di ujung ruangan. Barrier pelindung yang tadi dibuat disekeliling ranjang dan ruangan ibunda, kini perlahan menghilang, diikuti hilangnya cahaya pelangi yang tadi teramat terang. Cahaya pelangi itu menyeruak masuk kembali ke dalam tubuhku yang masih bayi, tanpa tersisa. Kini hanya ada bayi gembul biasa tanpa aura apapun, di gendongan ibu asuh Sarala.
"Apa yang terjadi? Apakah putri ketiga baik-baik saja?" Ayah kini berdiri dibantu paman Ezio dan kembali mendekat ke ranjang ibunda. Sementara Ibu Asuh Sarala mengembalikanku ke dalam gendongan ibunda.
"Barrier yang dibuat oleh Kaisar dan Permaisuri Ke-5 ikut terserap ke dalam tubuh Putri Ke-3 dan menyegel auranya. Mungkin ini adalah perlindungan yang sengaja diberikan oleh Kaisar dan Permaisuri kelima untuk putri ketiga," Mahira melihatku yang masih bayi, lalu beralih melihatku yang masih berdiri di pojok ruangan.
"Pelindung ini bukan hanya menyamarkan, tapi juga menyegel aura putri bungsuku. Maka dengan kata lain ia akan tumbuh seperti manusia biasa, tanpa bakat apapun. Apakah ini tidak terlalu berbahaya untuknya? Ia akan sulit melindungi dirinya sendiri kelak," ayah bertanya pada Mahira dengan gusar.
__ADS_1
Mahira masih menatap ke arahku, ya ke arahku yang bahkan tidak terlihat oleh orang-orang di ruangan ini. Dia benar-benar bisa melihatku. "Tenanglah Yang Mulia, segel akan hilang ketika Putri Aira beranjak dewasa, tepatnya 16 tahun lebih 7 bulan, melalui sebuah perjalanan melewati hutan hujan."
Aku terhenyak, apakah Mahira melihatku lalu mengetahui umurku dengan tepat? saat berangkat memulai hukuman usiaku 16 tahun 6 bulan, karena bersemedi 1 bulan, maka benar usiaku sekarang 16 tahun 7 bulan. Aku baru tau ada bakat hebat seperti Mahira, aku belum pernah melihatnya selama ini. Ia bahkan tahu aku melakukan perjalanan lewat hutan hujan!