Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
56. Apa itu Cinta?


__ADS_3

"Tampaknya anda tipe yang tidak terlalu sabar," Ken tampak melihat lahan luas yang masih tak berbentuk. "Bagaimana saya membantu memenuhi permintaan yang kedua jika lahan masih seperti ini? Bukankah sebaiknya anda mempersiapkannya lebih dulu?"


"Anda benar pangeran," ucapku lalu betepuk tangan tiga kali, lahan yang tadinya tak berbentuk kini tampak menjadi sebuah bangunan lengkap. Sihirku membangun dengan cepat, aku membangun pagar dari rangkaian bambu dan menghiasnya dengan bunga-bunga sulur yang indah. Pintu gerbang sederhana yang juga dari rangkaian bambu tampak alami, setelah itu aku membangun sebuah bangunan menyerupai gedung bertingkat dua, dengan bagian depan tertata layaknya kios-kios untuk berjualan, aku berencana untuk menjual daging dan tanaman obat di bagian depan bangunan, sementara bangunan itu sendiri akan digunakan sebagai kantor di lantai dasar dan tempat istirahat pegawai di lantai atas. Di belakang gedung aku menata ladang dengan tanah-tanah yang digemburkan, lalu membuat pagar yang sama, aku menyisihkan sedikit lahan di pinggir ladang sebagai jalan menuju peternakan yang kubangun du belakang ladang budidaya tanaman obat. Aku membangun banyak kandang dengan pembagian lahan yang menyesuaikan ukuran binatang, aku juga membangun sebuah bangunan kecil untuk penjaga dan gudang untuk peralatan, lahan sisanya masih cukup luas, bisa digunakan untuk melepas hewan ternak sesekali agar mereka dapat bergerak bebas, tak harus dikandang terus menerus, tentu sisa lahan kupagar keliling dengan aman dan cantik. Aku kembali menghias bagian depan dengan taman bunga agar tampak cantik. Setelah itu aku membuat papan besar bertuliskan "Peternakan dan Budidaya Tanaman Obat RARA"


"Uhh, selesai!" ucapku girang, energiku sedikit terkuras tapi aku cukup bahagia melihat hasilnya. "Jadi sekarang bisakah anda memberikan bantuan yang kedua?"


"Rupanya anda menyembunyikan aura anda selama ini, nona." Ken tampak terkejut melihat apa yang baru saja kulakukan, ia menatapku menelisik. "Saya akui bahwa saya cukup kagum dengan kemampuan anda," Ken lalu bersiul.


Tampaknya siulan Ken adalah caranya memanggil seseorang, dan benar saja seorang prajurit yang tadi terlihat mendampingi Ken di rumah makan Pelayan Tang kini kembali muncul di hadapanku. "Balin, apa kau mengenalnya?" tanyaku lewat telepati.


"Tentu Yang Mulia, dia adik Liu pengawal pribadi Pangeran Ken."


Aku mengangguk mendengar jawaban Balin, dan segera mencari Balin untuk mencari tahu lebih banyak, tapi nihil aku tidak menemukannya.


"Di mana kau Balin?" tanyaku lagi lewat telepati.


"Hamba harus bersembunyi Yang Mulia, Jendral Agung pernah menugaskan hamba sebagai mentor adik Liu, jika hamba muncul pastilah ia mengenali hamba dan mengetahui identitas Yang Mulia."


Aku terdiam, "tapi bukankah dari tadi ia telah mengamati kita dari jauh?"


"Tidak Yang Mulia, ia baru muncul ketika Pangeran Ken bersiul, sebelumnya hamba sama sekali tidak merasakan keberadaannya."


"Nona?" Ken tampak menatapku dengan bingung. "Apakah anda baik-baik saja? Apakah anda kelelahan?"


Aku memiringkan kepala tak mengerti arah pertanyaan Ken.


"Saya memanggil nona beberapa kali tapi nona tak merespon."

__ADS_1


"Aah maafkan saya pangeran, saya sedang memikirkan hal lain," ucapku sambil sedikit menundukkan kepala.


"Liu, tolong nona Rara dan bawakan apa yang ia minta," Ken memberi perintah pada Liu.


"Maaf nona, apakah yang bisa saya bawakan untuk anda?" tanya Liu bertanya dengan nada dan sikap yang sopan, tampaknya didikan Bapin cukup berhasil.


"Tolong bawakan sepasang hewan dari setiap hewan yang dagingnya dikonsumsi oleh rakyat," jawabku lugas.


"Baik, saya undur diri."


Tanpa bertele-tele Liu langsung menghilang dari pandangan, waah di benar-benar anak didik Balin, berbicara seperlunya dan lakukan tugas sepenuhnya. Aku menggeleng kepala beberapa kali, "pasti anda pernah beberapa kali merasa kesal terhadapnya."


Ken tampak tersenyum sambil menapakkan deretan giginya yang rapi, "tentu, nona." Jawaban singkat Ken membuatku paham bahwa ia juga merasakan kekesalan yang sama denganku, tapi kekesalan itu bagaikan setitik noda jika dibandingkan dengan keberuntungan memiliki seseorang yang setia dan dapat dipercaya sepenuhnya. Ia tak bisa melanjutkan keluhannya, karena ia merasakan bahwa rasa syukurnya memiliki Liu lebih besar dari kekesalan yang ia rasakan karena kekakuan Liu padanya.


"Semuanya pasti berakar dari Paman," gumamku lirih mengingat Paman Ezio yang merupakan guru Balin.


"Maaf, anda mengatakan sesuatu?"


Ken berjalan ke arah bangku yang terletak tepat di samping taman bunga, ia mendudukka. diri dengan tenang. "Tentang apa yang nona tanyakan tadi, apakah nona masih menginginkan jawaban?"


Otakku berputar mengingat pertanyaan apa yang Ken maksud, apakah pertanyaanku sewaktu di portal?


"Ya, tentu jika Pangeran tak keberatan."


Ken tampak memandangi bunga-bunga berwarna-warni yang menghiasi taman. "Restu untuk meminang Yang Mulia Putri Mahkota," Ken kini menatap mataku. Aku membelalak kaget, apa yang Ken maksud? Kenapa ayah memberikan restu padanya untuk meminangku? Ayah tak pernah mengatakan apapum padaku tentang hal ini. Kenapa juga Ken menatapku seperti ini? Apakah dari awal dia tahu kalau aku putri mahkota? Tidak, tidak aku yakin telah menghapus ingatannya di kol air panas!


"Balin, apakah ada nama Ken dalam upeti lamaran? Tolong cek apakah ada orang yang mengirimkan upeti lamaran dari kerajaan Green!" Perintahku pada Balin lewat telepati.

__ADS_1


"Tidak ada Yang Mulia, Pangeran Ken tidak mengirimkan upeti lamaran, tapi namanya ada dalam upeti lamaran yang dikirimkan Tuan Liam," Balin menjawab dengan hati-hati.


Aku balik menatap Ken penuh tanya, "kalau begitu kenapa anda tidak mengirimkan upeti lamaran?"


"Dari mana anda tahu?" mata hitam Ken tampak kembali menyelidik.


Aku berusaha tenang dan menghirup nafas panjang, "maaf saya mendengar pembicaraan anda sewaktu di rumah makan tadi."


Ken tampak menyandarkan punggungnya dan menatap langit dengan matahari yang meninggi, "saya tidak tahu apa itu cinta, tapi sejak melihat adik saya yang rela meninggalkan segalanya demi orang yang ia cintai, membuat saya benar-benar ingin merasakan cinta."


Angin dingin khas pegunungan berhembus ringan, menerbangkan rambut panjang perakku yang tergerai. Aku mengamati Ken yang tampak mempesona dengan pembawaannya yang tenang, suaranya yang berat terdengar menenangkan.


"Saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai, memberikan diri saya seutuhnya untuk membahagiakan dan melindunginya sampai takdir memisahkan."


Aku menghela nafas, kata-kata Ken terdengar???? sangat romantis sekaligus ironi bagiku. "Apa itu cinta?" gumamku pelan.


Cinta? Varen haruslah satu-satunya orang yang kucintai karena ia tunanganku, tapi jika kami saling mencintai, kenapa kami dipisahkan? Apakah cinta begitu kejam hingga harus diiringi air mata dan kerinduan? Apakah cinta harus memilih jarak untuk memisahkan?


"Di mana saya harus melepas hewan yang anda minta, Nona?"


Suara Liu membuyarkan lamunanku, aku menatap kosong Liu karena kaget. "Ah, tolong lepaskan mereka di kandang, aku menunjuk ke arah kandang yang berada di belakang ladang."


Liu mengangguk dan pergi dengan kemampuan terbangnya, tak berapa lama aku mendengar suara beberapa hewan memenuhi telingaku.


"Untuk permintaan ketiga, aku tak bisa memberikannya hari ini."


Ken kini berdiri di hadapanku, tak berapa lama Liu kembali dan menghampiri Ken. "Saya akan kembali untuk mngecek beberapa kali, maaf saya harus pergi sekarang."

__ADS_1


Ken dan Liu tampak terbang dengan kecepatan tinggi, mereka tidak menggunakan portal, tapi memilih terbang tanpa hewan suci. Mereka tampaknya menguasai sihir peringan tubuh.


"Balin keluarlah sekarang!"


__ADS_2