
Portal membuka dan kegelapan menyeruak menghampiriku dan Aciel. Aciel memilih diam, tampaknya ia memberiku ruang untuk menenangkan diri, aku mencoba menguasai diri dan mengikat semua emosi yang hendak meluap tak terkendali. Kutarik nafas panjang dan berusaha fokus pada kenyataan yang ada di depan mata. Aku menghapus air mata di pipiku, dan mencabut sehelai rambut perakku yang panjang, kali ini rasa sakitnya tak kurasakan. Sehelai rambut perak yang berhasil kucabut, kubiarkan melayang di udara, selanjutnya kugigit dengan keras jari telunjukku hingga berdarah, aku meneteskan tiga tetes darahku pada sehelai rambut perakku yang melayang, lalu kujentikkan jari dan kuncullah api biru. Kubakar rambut perak berlumur darah itu dengan api yang kuciptakan, Aciel bekerja sama dengan tetap diam sehingga konsentrasiku tak terpecah, aku memfokuskan pikiran dan dalam sekejap, segerombolan besar kunang-kunang tercipta menerangi kegelapan hutan yang tadinya amat kelam.
"Tolong bantu aku menerangi hutan ini, berkembang biaklah sebanyak-banyaknya, dan kabarkan padaku jika terjadi sesuatu hal yang tak biasa," kataku pada mereka. "Pergilah," mereka mengikuti ucapanku dan pergi menerangi hutan.
Aku mendongak menatap langit yang sepi, "tampaknya kita tak perlu berlama-lama menunggunya," aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Kupalingkan pandanganku ke asal suara.
"Siapa?" tanya Aciel mengikuti arah pandangku.
Seorang gadis yang menabrakku di pasar pagi tadi muncul dari balik rimbunnya semak-semak diiringi beberapa kunang-kunang yang memberinya cahaya. "Wah sejak kapan ada kunang-kunang? Tampaknya ada yang mengabulkan doaku, syukurlah!"
Aku tersenyum melihat wajahnya yang tampak bahagia dari temaram cahaya kunang-kunang, "maaf nona, bolehkah saya meminta bantuan?"
"Oh astaga! Anda mengagetkanku!" Gadis itu tampak terkejut, satu tangannya mengusap dadanya berulang.
"Maaf, maafkan saya."
Gadis itu melihat ke arahku dan Aciel, beberapa kunang-kunang datang memberi kami cahaya. "Kalian bukan hantu kan?"
__ADS_1
Aciel tertawa lirih, dan aku pun tersenyum. "Untuk tahu kami hantu atau bukan, tolong datanglah ke sana besok pagi, nona."
Aku menunjuk ke arah lahan yang kini tampak gemerlap karena cahaya lampu, tampaknya Balin bekerja keras hari ini. Gadis itu mengikuti arah yang kutunjuk, "sejak kapan ada bangunan di sana?"
"Sejak hari ini, datanglah dengan membawa semua herbal yang nona temukan malam ini, kami akan membelinya." Aku menatap wajahnya, "kami membutuhkan bantuan nona, kami tunggu kedatangannya besok pagi, trimakasih sampai ketemu besok nona!"
Aku sedikit menundukkan kepalaku padanya dan beranjak pergi, Aciel mengikutiku, sementara gadis itu tampak mengamati kami dari jauh. Aku melangkah menghampiri gemerlapnya cahaya lampu yang tak jau dari gerbang hutan.
"Wah, bukankah ini terlalu megah untuk dikatakan sebagai peternakan?" Aciel menatap hasil karyaku dengan takjub. Ia membaca papan nama yang terpasang kokoh di baguan depan, "Rara?"
"Ya, itu aku! Kau harus memanggilku Rara dan memanggil Balin dengan Lin di sini, ingat tanpa embel-embel apa pun!"
"Lalu bagaimana denganku Yang... ehm Rara?" tanya Aciel yang terbata hampir menyebutku dengan Yang Mulia, aku senang mendengar Aciel memanggilku Rara, rasanya kami benar-benar menjadi teman!
"Selamat datang kembali Nona," Balin menyapaku dengan penuh hormat, lalu ia menghadap ke arah Aciel, "selamat datang Tuan Muda Aciel."
"Hey Lin, lama tak jumpa!" Aciel menarik Balin dalam pelukannya, mereka memang tampak akrab, bahkan Balin tak tampak kaku jika bersama Aciel. "Rara memintaku memanggilmu Lin, lalu menurutmu panggilan apa yang pantas untukku Lin?" Aciel merangkul pundak Balin dengan akrab.
__ADS_1
"Tuan muda Aciel," jawab Balin tanpa ragu.
"Waah ternyata Lin teramat pintar!" Aku mengacungkan jempol pada Balin, aku memang tak berniat membuat nama samaran untuk Aciel, aku ingin Aciel dikenal dengan namanya bukan nama samaran. Selama ini aku menyadari betapa berbakatnya Aciel, tapi entah kenapa ia tampak menutup diri dan memilih menyimpan semua bakat dan kemampuannya dari publik, ia tampak seperti bersembunyi dari sesuatu. Kali ini adalah kesempatan yang tepat untuk membuatnya menyalurkan bakat yang selama ini ia sembunyikan, sehingga aku memutuskan untuk membuatnya dikenal sebagai dirinya sendiri.
"Tapi itu kan nama asliku? Kenapa kau tidak memberiku nama samaran? Bukankah ini tidak adil?" Aciel tampak kesal tapi aku lega karena ia cepat beradaptasi, ia memanggilku tanpa embel-embel.
"Karena mulai malam ini kau adalah pemimpin tempat ini, Aciel. Kuserahkan padamu, semoga kau berhasil!" Aku melangkah menuju bangunan utama, "Balin, tolong ajak Aciel berkeliling."
"Lalu mau kemana kau Ra?" Aciel bertanya sambil sedikit berteriak karena aku yang semakin berjalan menjauh.
"Tidur, aku sangat lelah hari ini. Sampai jumpa besok pagi," ucapku tanpa berbalik.
Aku terus melangkah hingga berada di depan pintu gedung utama, aku membuka pintu melewati ruangan yang telah ditata sempurna oleh Balin menjadi sebuah kantor yang cukup luas dan lengkap, perlu kuakui bahwa selera Balin cukup bagus. Kunaiki tangga satu per satu hingga tiba di lantai atas, ada sekitar sepuluh kamar yang saling berhadapan, tentu cukup luas bahkan jika dihuni oleh dua orang. Tapi aku merasa ada yang kurang, aku menjentikkan jari dan menambah 1 lantai paling atas. Aku melangkah dan kembali menaiki tangga menuju ke lantai paling atas, kubiarkan lantai ini terbuka setengahnya, setengahnya lagi kuberi atap layaknya taman atap yang bisa digunakan bersantai sambil melihat pemandangan yang indah. Kubuat pagar besi mengelilingi lantai ini, tak lupa kutambahkan sentuhan bunga yang kurambatkan menghiasi pagar. Aku menata sofa dan dapur bersih di ruangan yang beratap dan menata beberapa kursi anti air di ruangan tak beratap, aku melengkapinya dengan beberapa parasol untuk melindungi dari sinar mentari di kala siang. Beberapa lampu taman ku tanam di dinding agar lebih hangat dan terang.
"Sejak kapan kau mengubahnya menjadi istana?"
Tanpa menoleh pun aku tau siapa pemilik suara ini, aku berjalan menuju sebuah kursi panjang di bawah naungan parasol, aku mendudukkan tubuhku, lebih tepatnya membaringkan tubuhku di kursi yang panjang. "Baru saja aku menyadari bahwa terlalu sayang jika tak bisa melihat pemandangan."
__ADS_1
Aku memejamkan mata, rasa lelah mulai menyapa. Perlahan kurasakan ia duduk di kurai sampingku dan ikut membaringkan tubuhnya di sana. "Terimakasih telah memperdulikan rakyatku Ra," kata-katanya terdengar lirih tapi teramat tulus.
"Bukan aku, tapi waktulah yang memanggilku Ken." Aku tak kuasa menahan kantuk, aku mendengar suara Ken tapi aku tak tahu apa yang ia bicarakan karena lelah menyergapku ke dalam dimensi mimpi yang menenangkan. Tempatku bisa melepas semua kekhawatiran, tanggung jawab, dan kesedihan yang selama beberapa waktu terus melingkupi tanpa henti.