
"Ayah," aku membungkuk memberi hormat.
"Oh kemarilah nak, perkenalkan ini Raja Keenan dari Kerajaan Green," ayah memperkenalkan seorang laki-laki paruh baya yang penuh kharisma, mengingatkanku pada Ken, mereka tampak mirip.
"Hormat saya Yang Mulia Putri Mahkota," ucap sang Raja sambil membungkuk.
Aku ingin bilang tak perlu memberiku hormat, tapi tak sanggup karena ada ayah, aku takut ayah akan memarahiku jadi aku menerimanya dengan kikuk. "Yang Mulia Raja Keenan, maaf seharusnya sayalah yang memberi hormat."
"Duduklah, Aira." Ayah tampak sengaja menyela pembicaraanku dengan Raja Keenan, membuatku langsung diam dan memilih duduk di sampingnya, pagi ini sebelum rapat ayah mengundangku minum teh bersama di gazebo istana.
"Aira, pagi ini Tuan Keenan menemui ayah untuk membahas sesuatu yang menarik, ayah memanggilmu untuk bersama-sama mendengar dan meminta pendapatmu sebelum diungkap dalam rapat nanti," ayah menyeruput teh bunga yang masih hangat di cangkirnya.
"Terimakasih karena telah memperbolehkan saya ikut serta, kalau boleh saya tahu, hal apakah yang bisa menarik perhatian Yang Mulia Kaisar?" tanyaku pada Raja Keenan dengan sopan.
"Mohon maaf Yang Mulia, sepertinya kita harus menunggu sebentar karena.." kata-kata Raja Keenan terputus ketika arah matanya menangkap seseorang yang yang datang.
"Hormat saya Yang Mulia Kaisar, Hormat saya Yang Mulia Putri Mahkota," aku terperanjat suara familiar Ken memenuhi telingaku, aku sama sekali tak menyangka hal ini akan terjadi.
"Oh selamat datang Pengeran Ken, kemari dan duduklah," ayah tersenyum lebar ke arah Ken, sementara aku masih memalingkan wajahku dan menutupinya dengan rambut panjangku yang kubiarkan tergerai, dan berharap bisa menyembunyikannya dari Ken.
"Aira kenalkan, ini adalah Pangeran Ken dari Kerajaan Green," Ayah terdengar penuh semangat. "Kenapa kau menutupi wajahmu? Apa kau sakit?" tanya ayah yang melihat tingkah anehku.
"Ehm, tidak ayah aku baik-baik saja." Aku menghirup nafas panjang, memberanikan diri untuk bertanggung jawab atas kekacauan yang kutimbulkan sendiri. Aku menyingkirkan rambutku dengan menyisirnya menggunakan jari-jari tanganku dan menariknya ke belakang telinga.
__ADS_1
"Senang bertemu dengan anda, Pangeran Ken."
Aku berusaha terdengar tenang dan memberanikan diri menatap ke arah Ken, terlihat jelas kekagetan di wajah sang pangeran, Ken pasti sangat terkejut melihatku diperkenalkan sebagai putri mahkota. Rasa bersalah menjalar di seluruh tubuhku, andai saat itu aku memakai penyamaran, maka ini takkan terjadi, tapi nasi telah menjadi bubur, maka yang bisa kulakukan adalah menghadapinya dan berharap agar Ken tak membenciku.
"Ken, baru saja Yang Mulia Putri Mahkota bertanya mengenai hal yang ingin kau sampaikan," Raja Keenan tampak berusaha menyadarkan anaknya yang tampak melamun.
Aku menatap khawatir ke arah Ken, aku benar-benar takut bahwa Ken akan salah paham terhadapku.
"Sebulan yang lalu kami kedatangan tamu seorang gadis bernama Rara, saat bertemu dengannya ia mengutarakan ketidak sepemahamannya mengenai perburuan di kerajaan Green yang mengakibatkan harga daging yang sangat tinggi di luar waktu perburuan dan ajaibnya ia berhasil memberikan solusi yang tepat."
"Sulosi apa yang ia berikan?" tanya ayah penasaran, membuatku sedikit tersipu, aku tidak terbiasa mendengar orang membicarakanku.
"Ia mendirikan peternakan dan budidaya tanaman obat, solusi ini menjadi sangat efektif melihat hasil produksi yang tinggi dan dapat memenuhi permintaan rakyat, terlebih lagi harga yang terjangkau membuat rakyat semakin puas."
Ayah mengangguk-angguk tanda ia sangat tertarik, sementara Raja Keenan memilih menyimak dalam diam.
"Tidak Yang Mulia, ia dibantu oleh Tuan Muda Aciel, dan bekerja dalam tim."
Aku ikut mengangguk menyetujui jawab Ken yang bijaksana, tanpa sadar aku tersenyum ke arah Ken, tapi Ken tampak tegas dan tak menggubrisku, seolah ia tidak mengenalku.
"Tunggu, Aciel?" ayah menatapku sambil bertanya. Ayah bertanya ke arahku karena ayah tahu betul kalau Aciel tak suka pergi berkelana, Aciel lebih suka memperkaya dan melatih diri di lingkungan yang ia kenal, Aciel tak suka menginjakkan kaki di tempat baru karena ia merasa tak nyaman akan hal itu, dan ini sudah menjadi rahasia umum, maka jika Aciel ada di kerajaan Green maka tentunya ada seseorang yang teramat dikenal Aciel hingga bisa membuatnya tinggal.
"Saya pun mendapat kejutan pagi ini, saya tak menyangka jika nona Rara yang saya kenal sebenarnya merupakan Yang Mulia Putri Mahkota," ucap Ken membuat tiga pasang mata tertuju ke arahku.
__ADS_1
"Ah maaf, maafkan saya. Semua yang saya lakukan tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa bantuan Pangeran Ken dan Raja Keenan, saya sangat berterimakasih karena kalian sangat bijaksana," aku hanya bisa meminta maaf sambil memandang ke arah Ken dan Raja Keenan bergantian.
"Kami merasa terhormat, Yang Mulia," Ken dan ayahnya membungkuk bersamaan, membuatku semakin merasa tak enak.
Kini aku memandang ayah dengan sedikit takut, "maafkan saya Yang Mulia."
Ayah meraih tangan kananku dan menepuk penggung tanganku berulang, "terimakasih nak."
Aku menatap ayah yang tanpa kuduga kini tengah tersenyum lebar menatapku dengan matanya yang berbinar, "terima kasih telah memberikan solusi yang tepat, jadi apa idemu selanjutnya hingga membuat Raja Keenan dan Pangeran Ken datang menemuiku?"
Aku menelan salivaku sendiri, "aku ingin mendirikan sekolah di seluruh kerajaan, dan memulainya dari kerajaan Green, ayah."
Tiga pasang mata kembali menatap ke arahku, bahkan Ken pun tampak terkejut mendengarku mengatakannya.
"Awalnya ketika menginjakkan kaki di kerajaan Green, aku sadar bahwa para pemuda baik laki-laki maupun perempuan meninggalkan kerajaan Green ke pusat kekaisaran untuk menuntut ilmu atau bekerja, hingga tinggallah anak-anak kecil dan orang tua. Walaupun semua berawal dari tujuan yang sangat mulia, tapi sedih rasanya melihat keluarga yang terpisah dan saling merindukan satu sama lain, karena itulah terpikir untuk membangun sekolah."
"Jadi awalnya kau hanya ingin membangun sekolah di kerajaan Green?" ayah menatapku dan aku memberinya anggukan atas pertanyaan yang ia lontarkan. "Lantas kenapa sekarang ingin membangun sekolah di seluruh kerajaan?"
"Alasan yang pertama adalah keadilan, jika rakyat di kerajaan Green mendapat kemudahan atas sekolah di kerajaan mereka, bagaimana dengan kerajaan lain?"
Aku tersenyum dan melanjutkan, "alasan kedua, jika hanya mendirikan satu sekolah maka hanya akan mengatasi satu persoalan, yaitu mendekatkan anak-anak muda yang tadinya ingin bersekolah di pusat kekaisaran pada keluarga mereka tapi tidak menyelesaikan masalah anak-anak muda yang pergi ke pusat kekaisaran untuk bekerja."
"Maka saya mengusulkan untuk mendirikan sekolah di seluruh kerajaan dengan sistem terintegrasi, sekolah yang berada di kekaisaran akan menjadi pusatnya sehingga semua sekolah di seluruh kerajaan memiliki guru utama yang sama dengan sekolah di pusat kekaisaran, tentunya para guru akan kewalahan, maka diperlukan adanya tambahan guru yang menjadi wakil dari para guru utama, guru utama akan berkeliling memberikan pengajaran di seluruh sekolah secara bergantian, dan saat guru utama tak datang, maka wakil guru di sekolah itulah yang akan mengajar tentunya para wakil guru utama haruslah memiliki standar ilmu yang tinggi, lebih baik lagi jika diambil dari para murid yang telah menamatkan pendidikan mereka di pusat kekaisaran, dengan begitu otomatis akan membuka peluang pekerjaan yang cukup besar mengingat sekolah didirikan di seluruh kerajaan yang ada."
__ADS_1
"Jadi inikah yang membuat Yang Mulia meminta kami hadir?"
Aku menoleh ke arah sumber suara, dua orang guru yang teramat kuhormati telah hadir dengan senyuman yang mengembang di wajah mereka.