
Aku menatap Varen, tangannya amat dingin hingga menusuk kulitku. Aku berusaha mengeluarkan energi cahayaku tapi tak bisa, serasa tubuhku kini hanya dipenuhi energi gelap. Aku mengalihkan pandanganku ke bawah, kekaisaran perak masih aman dalam perlindungan lapisan pelindung yang kubuat, walaupun terlihat Kaisar, permaisuri serta rakyat bersiaga, tapi aku lega aku telah memberi mantra yang kupelajari dari Paman Ezio, aku bersyukur paman Ezio mengajarkan aku banyak hal sejak aku kecil, walaupun saat itu aku tak memiliki bakat.
"Kenapa?"
Aku kembali menatap Varen, matanya menyelidik. "Kenapa aku tak bisa menggunakan energi cahaya? Kenapa malah energi gelap serasa meluap-luap dalam tubuhku?"
"Sama, hal yang sama juga kurasakan." Varen menatap ke arah bulan Dewa, "hanya bulan Dewa yang tahu apa yang akan terjadi."
"Dua berkah Bulan Dewa yang dipertemukan, awal dari perpisahan yang menguatkan. Gelap yang angkuh membaur dalam pelangi, Gelap yang kejam membaur dalam perak yang dingin." Aku mengulang ramalan yang pernah dikatakan Jendral Drew. "Varen, mungkinkah artinya bila kegelapan akan menyatu dengan kita? Tapi bagaimana dengan perpisahan?"
"Aura gelap menjadi bagian dariku sejak ritual gua batu, kalau yang diinginkan bulan dewa menyatukan kekuatan kegelapan dengan tubuhku, bukankah artinya aku akan menjadi makhluk gelap? Makhluk gelap didominasi oleh kekuatan gelap yang mengerikan, tapi aku merasakan auraku tak menyakitkan, malah makin terasa menenangkan."
Aku terus mendengarkan dalam diam, "ketika kekuatan gelap berusaha menguasai seorang makhluk, maka makhluk itu akan kehilangan kendali atas dirinya untuk beberapa waktu, hingga semua fikiran dan tindakannya dipenuhi oleh energi gelap. Tapi kita berbeda, kita memang merasa amat kesakitan saat ritual gua batu, tapi hari ini bukankah kau juga merasakan kendali atas kekuatan gelap dalam dirimu?"
Aku mengangguk membenarkan kata-kata Varen, aku memang merasakan kendali atas kekuatan gelap diriku, tapi karena belum terbiasa, aku sering terkejut sendiri dengan efek serangan yang terjadi.
Tiba-tiba angin menderu kencang, mengiringi bulan Dewa yang muncul perlahan. Semakin lama suara angin semakin keras, layaknya ombak di lautan, aku melihat ombak hitam dari segala arah, datang ke arahku dan Varen.
"Makhluk gelap keluar dari persembunyian," Varen berbicara pelan. Bulan Dewa muncul dengan sinarnya yang amat menyilaukan, "Duar!" ledakan keras memisahkan genggamanku dan Varen, kami terpental ke arah yang berbeda. Otakku mulai berpikir, perpisahan dalam ramalan itu, apa maksudnya?
__ADS_1
Walaupun terpental tapi aku tak terluka sedikitpun, tubuhku dan Varen terangkat mendekati bulan Dewa, aura hitam dari ombak hitam yang tadi kulihat mulai mendekati kami berdua, terserap kedalam tubuh kami masing-masing. Rasanya penuh, semakin lama semakin penuh hingga terjadi ledakan besar yang amat memekakkan telinga. Seolah mengembalikan energi gelap berkali-kali lipat ke arah ombak hitam yang ternyata adalah kumpulan dari jutaan makhluk gelap! Mereka mendapatkan kekuatan gelap dari ledakan auraku dan Varen, anehnya lagi mereka duduk bersimpuh memberi hormat ke arah kami. Tubuhku masih melayang, aura gelap mulai menari-nari melingkupiku. Kali ini di dalam tubuhku terasa bergemuruh hebat, rasanya panas dan menggelitik. Tiba-tiba cahaya yang amat terang datang bagaikan petir dari arah bulan dewa ke arah aku dan Varen menyambar kami tanpa henti, hingga kurasakan aura pelangiku menguar keluar dari tubuhku, rasanya amat berbeda dari sebelumnya, aku merasakan aura cahayaku membuncah, bahkan lebih mendominasi aura gelap yang sebelumnya meledak.
Aku menyipitkan mata karena tak kuasa menahan terangnya auraku sendiri. Kini aku berada dalam sebuah pusaran, dimana energi cahaya dan energi gelap milikku berusaha membaur layaknya pusaran angin topan, aura pelangiku tampak lebih indah dengan hitam diantaranya, bukan hanya hitam, ada banyak warna baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tubuhku terasa diaduk-aduk, sedikit mual tapi lambat laun rasa itu semakin tak terasa, seiring semua warna mulai membaur menjadi layaknya pelangi, rasa tidak nyaman yang ada kini berubah, aku merasa tubuhku menjadi lebih kuat dengan energi yang membuncah. Kulitku lebih bersih dan mulus, dan oh tidak! Rambut panjangku kini berubah menjadi perak, seperak rambut nenek permaisuri ke-5!
Aku mengulurkan tangan, ingin rasanya menyentuh auraku sendiri. Aura yang kusentuh kini menjadi bola pelangi kecil lengkap dengan warna hitam membaur di dalamnya. Auraku yang tadinya membentuk pusaran, kini kembali menerobos masuk ke dalam tubuhku. Tak berhenti di situ, setelah meresap masuk, kini auraku berpendar hebat di seluruh tubuhku, membuatku tampak bercahaya terang dengan indahnya.
Aku mencoba mencari Varen, tapi aku terkejut, berbeda denganku, Varen tampak kesakitan. Kulihat ratusan es tajam menghujam tubuhnya, aura gelap membentuk pusaran bersama aura perak, putih dan biru, tapi aku melihat aura gelapnya masih mendominasi. Apa yang terjadi?
"Varen?" tanyaku mencoba memanggil namanya sambil berusaha terbang mendekat. Aku terus terbang mendekat hingga pusaran energi Varen berada hanya beberapa jengkal di hadapanku. "Varen?" panggilku lagi, lama kutunggu tapi tak ada jawaban. Wajahnya jelas memperlihatkan bahawa ia sedang menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Entah kenapa hatiku rasanya sakit, aku mencoba mengulurkan tangan kananku. Aku ingin menyentuh pusaran energinya, aku ingin membebaskannya, tapi tiba-tiba
"AAAAAH!" aku terpental jauh seolah pusaran energi itu menolakku. Bukan hanya terpental, pusaran itu seolah melindunginya dari apapun. Ada suatu proses penting yang tak boleh diusik. Aku mengumpulkan semua energiku, membuatnya menguar keluar dan berpendar di seluruh tubuhku. Aku kembali menyentuh auraku, kuambil sedikit dan menambahkannya pada bola pelangi yang masih ada di tangan kiriku, membuatnya menjadi sebesar kepalan tanganku.
Tiba-tiba bulan dewa mengeluarkan petir cahaya, tapi kini bukan dua, tapi hanya satu dan terarah pada Varen. Petir cahaya itu menyambar Varen berkali-kali, meninggalkan bekas cahaya di pusaran aura Varen, lalu..
Aku hendak terbang menjauh tapi tidak sempat, "DDDUUUUUUUUUUAAAAAAAR!" ledakan yang amat dahsyat tak bisa dihindari, ajaibnya aku tidak terpental tapi jatuh terduduk, auraku memberiku perlindungan. Aku melihat pusaran energi Varen telah hilang, pusaran itu menjelma menjadi aura yang kini menguar di sekujur tubuhnya, tapi walaupun ratusan es tajam kini tak terlihat lagi, aku malah merasakan dingin yang tak terkira keluar dari tubuhnya. Auranya di dominasi aura gelap, kecuali perak, putih, biru dan kulihat ada tambahan warna ungu.
Aku melihat sekeliling, makhluk gelap yang tadinya bersimpuh padaku dan Varen kini menghilang tanpa bekas. Aku menatap ke bawah, dan melongo saking terkejutnya! Lapisan pelindung yang kubuat untuk kekaisaran perak, kini hilang tak berbekas. Terlihat Rombongan permaisuri, kaisar dan beberapa prajurit termasuk Jendral Drew, terbang ke arah kami.
__ADS_1
Aku kembali menatap ke arah Varen, "Varen!"
Varen mulai merespon panggilanku, matanya mulai terbuka perlahan. Aku menatapnya lekat-lekat, tapi tiba-tiba petir cahaya bulan dewa menyambarku tanpa henti, aku tidak merasakan sakit kali ini, tapi tubuhku mulai berubah transparan.
"Aira!"
Aku melihat ke arah Varen yang kini telah sepenuhnya sadar, bola matanya yang tadinya berwarna biru kini berubah menjadi hitam pekat, tapi rambutnya tetap perak bahkan terlihat lebih pucat. Ia terbang mendekatiku dengan cepat, tapi saat ia mengulurkan tangan hendak menyentuh tanganku yang mulai transparan, petir cahaya menyambarnya hingga terpental menjauh.
Tanpa putus asa, ia kembali terbang mendekatiku dengan cepat. "Varen berhenti! Dengarkan kata-kataku."
Wajahnya menampakkan mimik seolah tak setuju dengan permintaanku, tapi dia menurut untuk berhenti, ia diam berdiri beberapa jengkal dariku. Kakiku kini mulai menghilang, bagaikan ditelan cahaya, petir cahaya masih terus menyambarku tanpa henti.
"Aku telah memenuhi janjiku, jadi kali ini kau harus memenuhi janjimu. Ingatkah kau akan janjimu Varen?" tanyaku padanya yang kini memandangku dengan mata hitam pekatnya, rasanya asing tapi juga familiar di waktu yang sama.
Varen mengangguk lemah, tatapannya tak beralih sedikitpun dariku, kini tubuhku mulai menghilang sampai perut. "Ciptakanlah segera Varen, ia akan melindungimu dan menuntunmu untuk dapat bertemu denganku kembali."
"Jangan katakan hal-hal bodoh! Ramalan itu hanya omong kosong!" Varen terbang dengan kecepatan tinggi mencoba meraih tubuhku yang semakin menghilang, tapi ia kembali terlempar jauh.
Hatiku sakit, rasa sedih memenuhi diriku. "Varen, ingatlah untuk bertahan. Walaupun dingin yang ada pada dirimu adalah berkah tapi masih akan tetap menyiksamu, sampai air mata naga perak membantumu memegang kendali atasnya."
__ADS_1
Kini tubuhku mulai kembali menghilang sampai dada. "Penuhilah janjimu Varen, terimakasih untuk segalanya."
Varen kembali terbang mendekat tapi kini ia berhenti beberapa jengkal dariku. "Sampai jumpa lagi Varen," ucapku sambil menitikkan air mata. Petir yang amat dahsyat menyambarku hebat, aku merasa tersedot oleh cahaya yang amat terang hingga kesadaranku mulai menghilang, terakhir yang kundengar hanyalah teriakkan Varen memanggil namaku.