
"Oh hampir lupa!" segera setelah mendarat aku membentuk lapisan pelindung, agar orang lain tidak dapat mendeteksi keberadaanku dan Balin.
Balin berhasil mendarat dengan stabil, kini ia menatapku bingung karena aku membuat lapisan pelindung.
"Aku lupa belum memakai sarung tangan dan pelindung tubuh, tunggu sebentar."
Balin mengangguk dan menunggu dalam diam, sementara aku menjentikkan jari, sepasang sarung tangan terpasang pas di kedua tanganku, aku menyihirnya hingga tak terlihat, orang lain tak akan tahu kalau aku memakai sarung tangan. Tapi sebentar, aku melihat jalanan kota utama kerajaan api yang amat ramai, banyak orang berjalan dengan bebas. Bahaya kalau kalau ada seseorang yang menyenggolku secara tidak sengaja, sejak melakukan perjalanan waktu dengan Aciel, gambaran ayah Aciel yang terbakar selalu ada dalam benakku, dan sepertinya tak akan pernah bisa hilang. Ingatan itu membuatku semakin berhati-hati, aku tidak ingin kejadian yang sama terulang pada orang lain. Aku memejamkan mata, auraku mulai menyelimuti tubuhku, membuat sebuah lapisan bagaikan kulit luar, melekat dan mengikuti bentuk dan warna tubuhku dari atas rambut hingga ke ujung kaki.
Kubuka mataku dan memeriksanya kembali, "Balin, bagaimana menurutmu?"
"Sempurna Yang Mulia," Balin menatapku yakin.
Aku tersenyum, "syukurlah! Sekarang saatnya menyembunyikan aura kita."
Balin mengangguk, ia langsung menghilangkan jejak auranya, tentu hal ini bukanlah sesuatu yang asing baginya mengingat ia adalah murid yang amat dipercaya Paman Ezio.
"Baiklah Balin, untuk misi di negara api aku akan memanggilmu dengan Tuan Muda Lin."
Balin tampak canggung, tapi ia tak lagi membantah mengingat ini adalah perintah yang kuberikan, "dan kau bisa memanggilku Rara."
"ehm, baik Yang Mulia.. ehm... Rara."
__ADS_1
Aku tersenyum puas, dan tertawa lepas. "Baik Tuan Muda Lin, mari kita mulai bersama." Aku menerbangkan pelindung hingga ke jalan kecil yang cukup sepi, lalu menjentikkan jari. Pelindungku meletus bagaikan balon air sabun, melepaskan aku dan Balin dari perlindungan.
"Mari, tuan muda."
Balin mulai berjalan di depanku, entah kenapa aku merasa senang, setidaknya aku bisa membalas jasanya walau sedikit. Kami menyusuri jalan-jalan kecil, jauh dari hiruk pikuk jalan utama. Mataku seolah dimanjakan dengan gemerlap emas dan perak yang menghias setiap bangunan di negara api, walaupun kami jauh dari jalan utama, tapi jalan-jalan kecil ini terasa begitu megah dan bersih.
"Tuan Muda Lin, apakah negara api selalu sebersih dan semegah ini?" tanyaku sambil terus berjalan di belakang Balin.
"Betul, negara api adalah salah satu negara yang paling maju di kekaisaran matahari, negara ini selain terkenal akan seribu seniman atau pengrajin, juga terkenal akan kebersihannya."
Aku mengangguk mengerti, kami pun terus menelusuri jalan kecil itu. Rumah-rumah dibangun layaknya istana walaupun berukuran lebih kecil dari istana yang sebenarnya, tapi tak kalah megah sedikit pun, tampaknya sang raja membebaskan rakyatnya untuk berekspresi, karena setiap bangunan memiliki gaya khas tersendiri.
"Tuan Muda, kapan terakhir tuan muda mengunjungi negara ini?" tanyaku sambil berhenti melangkah.
"Apakah ada perubahan sejauh ini?" tanyaku lagi karena aku benar-benar masih tak percaya bahwa ada negara sesempurna ini, sedari tadi berjalan aku tak menemukan satu pun pengemis, bahkan sampah yang tercecer pun tak ada.
"Sejauh ini tampaknya tak ada, kecuali memang rasanya lebih sepi dari biasanya." Aku berpikir, apa hubungannya ledakan dengan pengrajin? Saat hendak melontarkan pertanyaan lagi, aku melihat Balin menatap ke satu arah dengan tatapan siaga.
Aku mengikuti arah tatapan Balin, seorang pria tampak berjalan tergesa ke arah kami. Pria itu berkeringat amat banyak hingga bajunya terlihat basah. Keringat masih menetes dari rambut hitam pendeknya, nafasnya terengah-engah seperti habis berlari jauh. Pria itu terus mendekat ke arah kami, tampaknya ia tak menyadari kehadiran kami. Balin langsung berdiri di hadapanku, ia bersiap melindungiku. Pria itu terus berjalan, tatapannya terlihat jelas ke arah kami, tapi anehnya ia sama sekali tak berhenti di depan Balin, ia terus berjalan dan.. oh ya ampun, dia berjalan menembus tubuhku dan Balin. Pria itu terus berjalan hingga masuk ke salah satu rumah di dekat kami berdiri.
Setelah pria itu masuk ke dalam rumah, aku kembali berbalik dan menatap Balin yang tampak pucat. "Apakah kita sudah mati?"
__ADS_1
Aku juga berpikir keras, kenapa tubuhku dan Balin bisa ditembus begitu saja? Pria itu bahkan tampaknya tak menyadari kehadiran kami. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan memukul dahiku sendiri.
"Ah ya ampun! Maafkan aku Balin, aku melupakan hal yang teramat penting!" Balin menatapku masih dengan wajah pucatnya, "tenanglah kita belum mati."
Balin terlihat menghirup nafas panjang, aku tersenyum melihatnya mempercayai kata-kataku. "Aku lupa kalau kita sedang menjelajah waktu," ujarku sambil menyadari kebodohanku sendiri.
"Perjalanan waktu?" tanya Balin dengan tampang kaget.
"Ya, kita berada di negeri api tepatnya 2 bulan yang lalu." Balin tampak menginginkan penjelasan lebih, "aku berpikir kalau kita melakukan misi ini di masa sekarang, tentunya besar kemungkinan ada kebocoran informasi. Aku tidak ingin melihat kepalsuan yang dibuat hanya karena kita akan berkunjung, aku ingin melihat sisi keseharian yang nyata."
Aku menatap mata Balin, "maaf juga Balin tampaknya penyamaran kita sia-sia kali ini karena jika kita melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, kita hanya bisa menjadi layaknya penonton, kita tak boleh dan tidak bisa mengubah masa lalu, maka kita hanya bisa mengamati. Raga kita tak terlihat dan keberadaan kita tak akan diketahui, kecuali oleh pengendali waktu. Satu hal baru lagi yang baru kuketahui tadi adalah bahwa raga kita transparan dan bisa ditembus."
Aku mengibaskan tanganku, maka seketika kami kembali ke wujud asli. "Maaf, aku bahkan lupa bahwa kita sedang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu," ucapku meminta maaf.
Dalam hati, aku merutuki diri sendiri yang lupa akan fakta-fakta penting. Semangatku untuk bertukar peran dengan Balin, kini hilanglah sudah. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk memberinya perintah penyamaran, karena bukan hanya mereka tidak akan menyadari kehadiran kami, tapi mereka memang tidak akan pernah menganggap kami ada!
"DUAR! DUAR! DUAR!" tiba-tiba suara ledakan bertubi-tubi terdengar amat keras. Asap hitam mengepul di atas rumah yang dimasuki pria tadi.
Aku sangat panik dan kaget, "Balin apakah terjadi sesuatu yang buruk pada pria tadi?"
"Belum tentu Yang Mulia, ingatlah ini adalah negri seribu pengrajin." Balin masih menatap kepulan asap yang membubung.
__ADS_1
"Balin, rasa penasaranku tak dapat dibendung lagi!" Aku berjalan cepat memasuki rumah itu, Balin mengikutiku di belakang.