
"Maaf telah menunggu lama, nona muda." Pelayan tadi kini kembali dengan dua piring nasi berisi beberapa olahan sayur di atasnya, dan dua gelas air putih. Ia menaruh semuanya tepat di hadapanku dan Balin.
"Mengapa tidak ada olahan daging?" tanyaku bingung, rumah makan sebesar ini tidak mungkin tidak menyajikan olahan daging bukan?
"Maaf nona, harga daging sangat mahal ketika bukan waktunya perburuan. Jadi menu daging sangatlah jarang dipesan."
Aku ingat jika aku memesan menu yang paling sering dipesan. "Oh baiklah, terimakasih."
"Jika butuh sesuatu, nona muda bisa memanggil nama saya, pelayan Tang. Selamat menikmati, saya permisi."
Pelayan Tang undur diri dan melangkah menjauh dari meja kami. Aku melihat Balin menyantap makanan dalam diam, ia terlihat menikmati olahan sayur yang langsung disajikan di atas nasi, awalnya aku sempat melihat Balin ragu tapi ternyata tampaknya rasanya tak kalah lezat dengan olahan daging, melihat dari piring dan gelas Balin yang bersih tak tersisa. Sejak insiden Aciel, Balin selalu mencoba makananku terlebih dahulu, ia akan mengijinkanku makan ketika piring dan gelasnya sudah kosong dan tak terjadi reaksi apapun pada dirinya. Aku menduga ia merasa bersalah karena kejadian saat itu, walaupun tanpa sepengetahuannya, sejak saat itu aku selalu memeriksa makananku dengan indera penglihatanku yang tajam, aku bisa membedakan mana makanan beracun dan mana yang tidak. Aku tetap memilih diam merahasiakannya, agar Balin bisa memakan makanan yang seharusnya, buka pil penahan lapar.
"Aman, Yang Mulia."
Balin mengkonfirmasi keamanan makanan dengan yakin, aku meneguk air di gelasku lalu memandang Balin. "Balin, tolong belikan aku tanah yang luas di kerajaan ini, akan lebih baik jika jauh dari pemukiman penduduk tapi dekat dengan hutan."
Aku mengeluarkan kantong merah berlambang matahari emas dari cincin penyimpanan dan mengulurkannya pada Balin. "Tolong beritahu aku jika kau menemukannya, aku akan segera menemui di sana."
"Tapi Yang Mulia," Balin terlihat enggan meninggalkanku sendirian, ia terlihat khawatir.
"Aku hanya ingin makan dengan tenang, tampaknya tempat ini aman. Lagi pula ada petir suci yang melindungiku, pergilah Balin."
"Hamba akan menyelesaikannya secepat yang hamba bisa, hamba mohon undur diri Yang Mulia."
Aku mengangguk, dan Balin bergegas pergi dengan langkah tergesa, ia tampak sangat ingin menyelesaikannya dengan cepat. Tatapanku beralih pada piring yang masih belum ku sentuh. "Tampaknya hari ini akan menjadi hari yang padat dan melelahkan," ucapku sambil menyendok makanan ke mulut.
"Pangeran, anda bahkan memiliki restu Kaisar tapi kenapa pangeran belum juga mengirim upeti lamaran?"
Aku hampir tersedak, mendengar perbincangan yang tiba-tiba kudengar. Aku terbatuk beberapa kali, "Apakah anda baik-baik saja nona?"
__ADS_1
Suara tak asing ini membuatku menatap ke asal suara, oh ya ampun! Aku kembali terbatuk saking terkejutnya! Ia meraih gelasku dan mengulurkannya padaku, aku meneguknya hingga tak tersisa.
"Pelayan Tang," ucapnya dan tak lama pelayan Tang datang membawa satu teko air putih, ia meraihnya dan menuangkannya di gelasku.
"Minumlah, nona."
Aku kembali meneguknya, "trimakasih." Batukku telah reda, tapi keterkejutanku belum.
"Pangeran Ken, apakah ada hal lain yang anda butuhkan?"
Aku melongo mendengar pelayan Tang menyapa pemuda di hadapanku. Pelayan Tang memanggilnya Pangeran Ken? Ia adalah orang yang sama yang kutemui di kolam air panas, pemuda yang merupakan kakak Kei, jadi dialah Pangeran Ken? Pangeran yang diperbincangkan beberapa saat yang lalu.
"Kurasa tidak Pelayan Tang, terimakasih."
Pelayang Tang memberi hormat lalu dengan cepat undur diri. Aku melihat seorang laki-laki yang memakai baju layaknya seorang prajurit berdiri di belakang Pangeran Ken, karena tampak seumuran mungkin aku bisa memanggilnya Ken?
Bibir merah Ken membentuk seulas senyum, "apakah anda baik saja, nona?"
Dia menatapku dan menatap piringku bergantian, aku mengikuti arah tatapannya dan menyadari bahwa gelas dan piring Balin sudah tak ada di tempatnya, mungkin tadi Pelayan Tang sudah membersihkannya ketika aku tersedak.
"Bolehkah saya tahu apa yang membuat anda tersedak?" Ken tampak bertanya dengan hati-hati. "Maaf jika saya terdengar tidak sopan, tapi sangat jarang saya mendengar seseorang tersedak di rumah makan ini."
Aku tersenyum, sepertinya aku memerlukan bantuan agar tugasku cepat selesai. "Saya sedikit terkejut, saya memesan makanan yang sering dipesan di rumah makan ini pada pelayan Tang, tapi tidak pernah saya duga jika ia mengantarkan satu piring penuh olahan sayur tanpa daging sadikitpun."
"Bolehkah saya duduk di sini?" Ken menunjuk ke arah yang tadi ditempati Balin.
"Silahkan Pangeran," jawabku sambil mengangguk.
Ken kini duduk berhadapan, ia memberi isyarat anggukan pada pengawal pribadinya dan aku melihat pengawal itu menjauh pergi.
__ADS_1
"Sepertinya anda bukan berasal dari kerajaan Green." Ken menatapku dengan mata hitamnya, ia tampak menelisik.
"Betul, ini pertama kalinya saya berkunjung ke sini."
Ken tampak menganggukkan kepalanya, "kerajaan kami memiliki aturan yang hanya memperbolehkan perburuan diadakan tiga kali dalam setahun."
"Kenapa hanya tiga kali dalam setahun Pangeran?"
Ken tampak tersenyum dan menjawabku, "karena kami ingin melindungi hewan-hewan yang ada dari kepunahan, dan juga melindungi rakyat dari perburuan yang membabi buta."
"Tapi anak-anak perlu daging untuk tumbuh," ucapku menyangkalnya.
"Ya, karena itulah di luar waktu perburuan kami membeli daging dari kerajaan lain. Keadaan ini yang membuat harga daging melonjak tinggi di luar waktu perburuan, sehingga menu dengan olahan daging jarang dipesan, karena itulah hanya ada olahan sayur di piring anda, nona."
Aku menyenderkan punggungku ke sandaran kursi, "maaf, menurut saya aturan ini kurang tepat." Mataku bertemu dengan mata Ken yang penuh tanya, "anda memang berhasil menurunkan angka perburuan di kerajaan green, tapi dengan membeli daging dari kerajaan lain bukankah sama halnya dengan mendukung perburuan di kerajaan lain? Walaupun jumlahnya kecil, anda tidak bisa mengelak kenyataan ini."
Ken tampak mulai tidak nyaman dengan arah pembicaraan yang kumulai. Ia memilih diam dan memberiku ruang untuk melanjutkan.
"Belum lagi jika rakyat sangat menginginkan daging di luar waktu perburuan, mereka harus membeli dengan harga yang tinggi, bahkan demi menghindari harga yang teramat tinggi, mereka memilih untuk pergi ke kerajaan lain hanya untuk membeli daging dengan harga yang pas di kantong mereka."
"Saya berharap ketika anda memulai pembicaraan ini, anda memiliki solusi untuk diucapkan," Ken menegurku dengan halus.
Aku tersenyum, "tentu Pangeran, tapi solusi yang saya miliki tidak dapat terlaksana tanpa ijin dari Pangeran."
"Ijin apa yang anda maksud nona?"
Aku tersenyum, "maukah Pangeran ikut dengan saya ke suatu tempat? Saya akan menjelaskannya langsung di sana."
"Tentu," jawab Ken tanpa ragu.
__ADS_1
Tampaknya Ken telah lama memikirkan persoalan ini, hingga ia dengan gampangnya mengikuti orang yang tak dikenal sepertiku hanya karena solusi yang kutawarkan.