
'Kelahiran ganda dari sepasang elf yang setia'
Aku diam tak berani mengatakan apa yang terlintas di pikiranku. Ramalan buku pusaka teringat jelas di kepalaku, ada harapan besar bahwa ramalan ini terwujud. Mataku mengamati Mahira yang kini memeriksa denyut nadi Vivian, ia menutup matanya. Perlahan tangan Mahira mengusap perut Vivian.
"Anda benar Yang Mulia, Ratu Vivian dan Raja Edward akan dikaruniai keturunan, bukan hanya satu, tapi dua sekaligus."
Mahira melapor padaku, bibirnya menyunggingkan senyum. Ucapannya seolah tahu apa yang kupikirkan sedari tadi. Lalu kembali menatap Vivian yang masih terkejut, Edward merengkuh Vivian dalam pelukannya.
"Selamat Ratu Vivian, Raja Edward. Semoga keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai kalian," cahaya hijau menerangi Edward dan Vivian tepat setelah Mahira menyelesaikan kalimatnya.
"Terimakasih tetua Mahira," ucap keduanya sambil menunduk memberi hormat pada Mahira.
Aku mencoba menurunkan kaki ku dari ranjang dan mencoba berdiri, ingin mendekati Vivian. Tapi aku salah perhitungan, tubuhku limbung kehilangan keseimbangan. Rasanya kakiku masih tak kuat menahan berat tubuhku. Padahal sebelumnya aku tidak merasakan apa pun. Paman Ezio dengan sigap menangkapku, mencegahku terjatuh.
"Yang Mulia!" teriak semua orang bersamaan ke arahku. Raut khawatir terlihat jelas di wajah mereka. Darel menundukkan wajahnya, ada kesedihan yang menyelimuti tubuhnya.
"Maaf, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin mendekati Vivian," ucapku yang kini berada di gendongan Paman Ezio. Paman Ezio menggendong tubuhku dan kembali menidurkan tubuhku di ranjang. Ia masih diam, gerakannya cepat tapi tetap lembut. Setelah memastikan aku berbaring dengan nyaman, Paman Ezio menyelimutiku hingga leher. Aku kan tidak sedang kedinginan, apa ini?
"Biarkan hamba yang mendekat, Yang Mulia." Vivian berjalan mendekat ke arahku, sementara paman Ezio bergerak memberi ruang untuk Vivian.
"Maafkan aku Vivian, duduklah." Vivian duduk di kursi yang tadi di duduki Paman Ezio. Kulihat perutnya masih datar, mungkin usia kandungannya baru beberapa minggu. Aku hendak mendudukkan diriku, tapi tiba-tiba Paman Ezio menatapku dengan tajam, seolah memberi peringatan padaku untuk tetap berbaring, tubuhku merinding, mau tak mau aku harus mematuhinya!
"Vivian, bolehkah aku memegang tanganmu?" tanpa menjawab, Vivian mengulurkan tangan kanannya, aku menggenggamnya. "Semoga engkau, dan putra putri yang kau kandung selalu dalam keadaan sehat, selamat dan bahagia." Aura pelangiku menjalar keluar dari tanganku, merambat ke seluruh tubuh Vivian. "Dengan ini, Cahaya Pelangi akan memberimu perlindungan. Maaf, hanya ini yang ku bisa lakukan."
Aku memberikan sedikit barrier perlindungan tubuh untuk Vivian, tentu menguras tenagaku yang masih terasa lemah, tapi aku benar-benar ingin melindunginya. Ini adalah kehamilan elf yang pertama di hutan hujan selama 2500 tahun, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, maka aku memberikan sedikit cahayaku pada Vivian.
"Bisakah kalian pergi? Aku ingin bicara berdua dengan Yang Mulia Putri Aira," Mahira bersuara sambil menatap ke arahku.
__ADS_1
Satu per satu mulai meninggalkan kamarku, dimulai dari Darel, Tetua Mahanta, Edward dan Vivian, tapi kulihat Paman Ezio tak beranjak dari tempatnya sedikitpun.
"Hemm, kau sama keras kepalanya seperti Sarala!" Mahira terlihat sedikit kesal.
"Jangan lupa, aku yang memanggilmu ke sini! Maka aku juga berhak untuk mengusirmu kapan pun kumau!" Paman Ezio balik menatap Mahira dengan tatapan tajam.
Apakah mereka tidak akur? Apa yang terjadi?
"Hemm, baiklah akan kubiarkan kau kali ini!" Sungut Mahira sambil duduk di tempat duduk yang tadi di duduki Vivian. "Yang Mulia, apakah anda menciptakan sesuatu sebelumnya? Sesuatu yang bisa menguras tenaga anda sampai seperti ini?"
Mahira menelisik tubuhku dengan tatapannya, ia menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku melihat Paman Ezio yang terdiam di tempatnya, itu artinya Paman Ezio mempercayai Mahira, dan mengizinkan Mahira memeriksa keadaanku. Maka aku oun juga mungkin bisa mempercayainya?
"Ya, aku menciptakan sesuatu." Aku menatap Mahira, "apa yang harus aku lakukan untuk memulihkan tenagaku?"
Mahira masih tak menjawab, ia meraih ujung jariku yang masih meninggalkan bekas luka sayat. Mahira adalah salah satu dari 6 orang yang membantu ibu saat hamil dan melahirkan aku, maka dirinya juga bisa menyentuhku. Mahira mengusapnya, rasa hangat terasa di ujung jariku. Cahaya putih membalut ujung jariku, dan tak lama kemudian aku melihat luka itu tak berbekas. Mahira bukankah auranya hijau? tapi ia mengeluarkan cahaya putih dari ujung jarinya, cahaya penyembuh yang suci.
Tangan Mahira kini menyentuh pucuk kepalaku, "hamba hanya bisa memberi sedikit energi hamba, sebelum Yang Mulia bertemu Permaisuri Prisa." Cahaya putih Mahira menyelimuti seluruh tubuhku, rasa hangat kembali ku rasakan. Cahaya putih Mahira menerobos masuk tanpa tersisa. Tubuhku yang tadinya lemas, kini sedikit lebih bertenaga setidaknya mungkin aku bisa berjalan dan tidak limbung.
"Terimakasih Mahira," ucapku seraya tersenyum padanya. "Apakah Kak Prisa bisa menyembuhkanku?"
Mahira tersenyum misterius, "sebaiknya anda bergegas menyelesaikan hukuman anda, Yang Mulia." Mahira berdiri dari tempat duduknya, lalu bersimpuh, "Hormat hamba Yang Mulia, hamba undur diri."
Aku masih terkesiap, Mahira memang selalu misterius, tubuhnya hilang masuk ke dalam portal. Aku beralih menatap Paman Ezio yang masih berdiri tak beranjak 1 inchi pun.
"Paman, siapa Mahira?"
Paman Ezio sedikit terkejut, kembali sadar dari lamunannya. "Mahira adalah istri Mahanta," Paman Ezio menyebut keduanya tanpa embel-embel tetua, apa mereka seumuran?
__ADS_1
Aku sudah menduga beberapa kali, entah darimana, sudah tak kaget lagi. "Lalu apa yang membuat kalian tak akur?"
"Hanya pertengkaran kecil Yang Mulia, tak perlu dipikirkan," berbeda dengan perkataannya, Paman Ezio tampak sedikit sedih.
Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa diceritakan, aku juga tidak berhak memaksa. Aku mencoba tersenyum dan mengalihkan pembicaraan, "bagaimana dengan keluarga Darel?"
Paman Ezio duduk di samping ranjangku, "Leon meninggal, sisanya sudah dipindahkan ke penjara kekaisaran." Raut sedihnya kini tergantikan dengan amarah, matanya terlihat membara. "Berhati-hatilah Yang Mulia, jangan sampai hal seperti ini terulang kembali. Yang Mulia harus mulai belajar mengendalikan dan memanfaatkan kekuatan Yang Mulia."
Aku mengangguk setuju, kalau petir suci tak muncul waktu itu, mungkin aku sudah terluka parah. "Siapa yang bisa membantuku belajar Paman?"
"Tidak ada Yang Mulia," jawab Paman Ezio lugas. "Tidak ada yang bisa, kecuali Yang Mulia sendiri."
Aku mengerutkan keningku, "kenapa?"
"Karena belum ada yang pernah memiliki cahaya pelangi sebelumnya," tatapan Paman Ezio tampak jujur.
"Kembalilah Paman, pasti Ayah mencari Paman beberapa hari ini." Ada keengganan yang kulihat dari wajah paman Ezio. "Aku akan melanjutkan hukumanku, aku akan meminta bantuan Ryu. Paman tak usah khawatir."
Paman Ezio menghembuskan nafas panjang, "baiklah, Ryu pasti bisa melindungi Yang Mulia."
Aku mengernyit, "tumben paman bisa mempercayai dengan begitu cepat."
Paman Ezio tersenyum, "Naga perak adalah naga yang diceritakan dalam legenda dan ramalan. Jika Yang Mulia sendiri yang meciptakan Ryu, maka saya tak akan lagi meragukannya." Paman Ezio berdiri dari tempat duduknya, "sampai berjumpa lagi Yang Mulia, tetaplah berhati-hati."
"Sampaikan salam rinduku untuk ayah ibu, juga ibu asuh Sarala dan Fia, trimakasih Paman."
Paman Ezio mengangguk, dan berbalik masuk ke dalam portal.
__ADS_1