Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
29. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Aku menatap ke bawah, banyak rakyat menatapku dengan mata berbinar, seolah aku adalah sesuatu yang berharga yang telah mereka nanti-nantikan selama ini. Hatiku mencelos, aku takut mengecewakan semua tatapan itu, bisikan-bisikan mereka terdengar jelas di telingaku sebagai pujian yang amat melebih-lebihkan.


Aku masih terbang melayang dengan pakaian serba hitam yang ayah berikan untuk kupakai di awal perjalanan, rambut hitam panjangku dikuncir kuda, tudungku masih terpasang, Kak Nala memasangkannya untukku tepat saat akan ke luar dari portal tadi. Aku memfokuskan pandanganku pada ribuan rakyat yang berkumpul memenuhi Balai perjamuan agung atau yang biasa disebut aula agung. Aula Agung adalah aula yang didirikan ayah di luar istana. Aula agung merupakan lapangan luas tanpa dinding pagar, hanya ada bangunan inti di salah satu ujungnya dan di depan bangunan biasanya diletakkan beberapa singgasana yang diduduki oleh kaisar dan keluarga. Aula ini biasanya digunakan hanya untuk mengadakan ritual, acara perjamuan, atau acara-acara penting yang perlu melibatkan rakyat. Aula agung dilindungi oleh sihir, ketika tidak digunakan maka aula agung tidak akan terlihat oleh mata telanjang dan tidak akan bisa dimasuki, kecuali atas izin kaisar dan yang tampak oleh orang lain hanyalah hamparan hutan kota yang rimbun. Maka, ketika aula agung ditampakkan pastilah rakyat langsung berkumpul karena mereka memahami akan ada suatu hal penting yang membutuhkan kehadiran mereka.


Aku segera bersimpuh memberi hormat ke arah rakyat, lalu berdiri dan kembali memberi hormat ke arah ayah, ibu dan kakak-kakakku yang duduk di singgasana. Ayah selalu mengajarkan bahwa rakyatlah yang harus menerima penghormatan terlebih dahulu, sebelum beliau maka aku mengingatnya dan melakukannya hari ini, di mana ini adalah hari pertemuan resmi pertamaku dengan rakyat.


"Seluruh rakyat dipersilahkan duduk," suara Paman Ezio menggema di seluruh aula, kursi-kursi emas bermunculan dengan sendirinya, membuat pola yang rapi nan indah, walaupun jumlah rakyat amat banyak hingga membludak memenuhi jalanan, tapi jumlah kursi terus bertambah mengikuti jumlah mereka, tak perlu takut kekurangan tempat duduk. Rakyat pun duduk dengan nyaman dengan pandangan masih tak lepas padaku, sedangkan mereka tampak memasang telinga baik-baik untuk mendengar setiap suara, mereka tampak sangat antusias.


Aku mencari Paman Ezio dengan mataku, dan menemukan ia duduk pada barisan para petinggi kekaisaran, tepatnya satu undakan di bawah singgasana keluarga kaisar, setidaknya ada 50 an petinggi negara yang duduk di sana, termasuk ibu asuh sarala, tetua Mahanta, Vivian dan Edward.


"Acara peringatan ulang tahun Yang Mulia Putri Aira akan segera dimulai seiring dengan terbitnya bulan dewa, mohon untuk menyaksikannya dengan khidmat."


Aku segera menatap langit, seusai mendengar kata-kata paman Ezio. Langit memang sudah tampak gelap tapi berbeda dengan apa yang kualami di kekaisaran perak, lapisan pelindung naga tampak tak terusik, tak ada pasukan perang yang membuat perlindungan berlebihan seperti hendak perang, nampaknya ayah hanya sedang mengadakan acara ulang tahun biasa untuk putrinya, tanpa ada kekhawatiran akan adanya pengacau yang hadir.

__ADS_1


Aku kembali menatap ke bawah, ke arah rakyat yang kini memilih untuk diam menyaksikan dengan khidmat. Beberapa prajurit terlihat bersiaga di antara mereka, tapi masih terlihat wajar, tidak ada yang berlebihan. Tiba-tiba semua cahaya yang ada dimatikan, gelap dan sunyi memenuhi pandanganku, tapi kurasa ini sudah disiapkan karena tak ada kepanikan, baik dari sisi rakyat, maupun dari arah keluargaku, walaupun kini aku tak bisa melihatnya karena teramat gelap.


Tak lama kemudian cahaya yang amat terang mulai muncul menyinari kegelapan yang ada, berkali-kali lipat dari cahaya bulan biasa bahkan setimpal dengan cahaya matahari, bedanya cahaya ini memberikan kehangatan yang lembut bukan panas yang menyengat. Makin lama cahaya itu makin terang, menyebar ke seluruh penjuru, tapi kemudian membentuk layaknya aura di sekitar tubuhku, membuatku melayang lebih tinggi.


Berbeda dengan bulan dewa yang mengeluarkan cambuk cahaya di kekaisaran perak, bulan dewa kali ini benar-benar terasa lebih nyaman dan hangat, memperlakukanku dengan lembut. Cahayanya menyelimutiku hingga aku terpaksa memejamkan mata karena saking terangnya. Rasa hangat menjalar di seluruh tubuhku, mulai menembus masuk hingga memenuhi jiwa dan ragaku.


"Klik" kudengar suara dari dalam tubuhku sendiri, suara yang menyerupai gembok yang terbuka. Kurasakan aura yang teramat besar mulai menguar keluar dari dalam tubuhku, terus menerus lama tak berhenti membuatku seperti berputar beberapa kali. Aku masih memejamkan mata menikmati sensasi yang sama sekali tidak menyakitkan, aku pasrah.


"Panjang umur Yang Mulia Putri Mahkota, Panjang Umur Kaisar, Panjang Umur Permaisuri!"


Saat aku hendak meraba ke atas kepalaku, aku menajamkan pendengaranku pada sorakan rakyat yang masih terus terdengar, mereka memandangku dengan takjub dan berbinar bahagia.


"Panjang umur Yang Mulia Putri Mahkota, Panjang Umur Yang Mulia Kaisar, Panjang Umur Yang Mulia Permaisuri!"

__ADS_1


Kutemukan kata-kata asing yang mereka lontarkan, 'Yang Mulia Putri Mahkota' ? Oke dari kata-kata mereka aku menyimpulkan bahwa sekarang yang bertengger di kepalaku adalah mahkota putri mahkota, tentunya ayah dan ibunda pasti telah melakukan sesuatu hingga aku sama sekali tak menyadari kalau mereka menyematkan mahkota di kepalaku, aku sedikit melirih ke arah singgasana, tapi semua mata tampak fokus ke arahku, seolah mereka juga tak menyangka apa yang mereka lihat sekarang, ayah terlihat menggenggam erat tangan ibunda.


Tiba-tiba aku sedikit terkejut, cahaya biru keunguan keluar dari cincin safir di jari manisku, bersamaan dengan itu aura perak dari pelangiku mulai menjelma sesosok naga perak yang agung.


Ryu dan Vio muncul bersamaan, Ryu di samping kananku dan Vio di samping kiriku, kini mereka diselimuti aura pelangi yang sama denganku, mahkota yang ada di kepala mereka perlahan berubah menjadi mahkota berwarna emas perak dengan kristal berwarna-warni yang mirip dengan aura pelangiku. Tubuh mereka tidak berubah tapi aura mereka kini teramat mirip dengan auraku, apakah mungkin karena mereka adalah hewan suciku maka mereka akan memiliki kekuatan yang aku miliki? Mungkin saja!


"Memberi hormat pada Yang Mulia Putri Mahkota Aira!" Suara Paman Ezio kembali menggema menyadarkan orang-orang yang sempat menghentikan sorakan mereka karena takjub melihat Ryu dan Vio.


"Hormat kami pada Yang Mulia Putri Mahkota Aira!" Aku melihat seluruh rakyat, prajurit bahkan seluruh petinggi kekaisaran bersimpuh memberi hormat ke arahku, sedangkan keluargaku masih duduk di singgasana mereka, menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan, saat ini yang kuinginkan hanyalah cepat-cepat terbang dan memeluk mereka.


"Terimakasih, kuterima penghormatan kalian, silahkan kembali duduk." Aku menjulurkan tangan kananku, serbuk pelangi jatuh bertaburan dari langit, menghujani semua orang.


"Terimakasih telah hadir dan menerimaku sebagai putri mahkota, aku tidak berpengalaman juga tidaklah sehebat anggota keluargaku yang lain, tapi aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan kalian, mohon bantulah aku kedepannya, semoga kita semua dilimpahi kebahagiaan, kesehatan, kakmuran dan kejayaan! Hidup Kekaisaran Matahari!"

__ADS_1


"Hidup Kekaisaran Matahari!" Rakyat bersorak bersamaan dengan riang.


"Hidup Putri Mahkota!"


__ADS_2