Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
68. Memilih Tidak Menua


__ADS_3

"Apa ini?" Liam memandang serbuk emas yang jatuh dengan kagum.


"Sangat indah," sahut Lia menampilkan senyum cantiknya.


"Berkah dewa," Ken menatap serbuk emas yang jatuh. "Kenapa dewa tiba-tiba memberkahi kita?"


"Aku juga heran, padahal baru saja dia diragukan oleh seseorang, kenapa dengan mulianya ia malah memberi berkah?" kata Aciel sinis sambil melirik ke arah Liam.


Aku mencubit lengan Aciel yang menyebabkannya meringis kesakitan, "bagaimana kau tahu kalau ini berkah dewa?"


Ken menatapku, "apakah aku salah?"


Aku tersenyum pada Ken, "bisa saja ini hanyalah sihir yang dilakukan orang biasa bukan? Tak perlu dipikirkan."


Angin malam yang dingin kembali berhembus, walaupun telah kupasang barrier penghangat, rasa khawatirku tak juga mereda. "Lia, pikirkanlah baik-baik dengan hatindan pikiran yang jernih, dan sekarang waktunya untuk beristirahat, masuklah bersama Liam."


Lia menatapku sejenak lalu mengangguk lemah, Liam yang melihat anggukan istrinya, segera mendekati Lia dan memapahnya.


"Apa nona yakin sumber rasa sakit adikku adalah segel auranya?" Ken membuka mulut ketika Lia dan Liam telah menghilang dari pandangan.


"Rara, panggil aku Rara tanpa embel-embel seperti kau memintaku memanggilku," ucapku sedikit mengalihkan pembicaraan yang dimulai Ken.


"Ra, apa kau yakin?" ulang Ken padaku.


Aku mengangguk, "aura yang tersegel terasa meronta luar biasa."


"Kalau begitu hanya Yang Mulia Putri Mahkota lah yang bisa menyembuhkan Lia," kali ini Ken menatap Aciel.


"Putri Mahkota?" Aciel tampak kaget dan menatap balik Ken dengan penuh tanya.


"Ya, bukankah tuan muda adalah sahabat Yang Mulia? bisakah tuan muda mmpertemukan kami?" mata Ken tampak penuh harap.


"Apa yang membuatmu berpikir kalau Putri Mahkota adalah satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan Lia?"

__ADS_1


"Ah maafkan aku Rara, aku tidak bermaksud menyinggung ataupun meragukan kemampuanmu." Ken tampak salah mengartikan pertanyaanku, ia mengira aku tersinggung karena ia tak mempercayaiku mengobati adiknya. "Dulu, setelah menyegel aura Lia, tabib kerajaan pernah berkata bahwa ia menyegel aura cahaya dengan aura gelap yang ia miliki dan untuk membukanya haruslah memakai kedua aura, aura gelap untuk membuka segel dan aura cahaya untuk membangkitkan aura cahaya yang tersegel, dan.."


Ken kini menatap Aciel, "dan haruslah berasal dari satu orang." Ken terus menatap Aciel serius, "tabib kerajaan kami memiliki dua aura itu dalam tubuhnya, tapi ia meninggal tak berapa lama setelah menyegel aura Lia. Maka satu-satunya orang yang memiliki kedua aura dalam tubuhnya di kekaisaran ini hanyalah Yang Mulia Putri Mahkota."


"Seorang tabib kerajaan memiliki aura gelap dan cahaya?" aku bertanya untuk mrmastikan lagi.


Ken mengangguk, "selain merupakan tabib kerajaan, ia juga merupakan petinggi kerajaan Green dan utusan kekaisaran, beliau sangat dekat dengan Yang Mulia Kaisar dan menguasai sihir tingkat tinggi."


Aku dan Aciel berpandangan, lalu berkata "aku harus pergi."


Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengaktifkan portal.


"Ayah!"


Ayah yang sedang menikmati secangkir teh panas di gazebo bersama ibunda tampak terkejut. Aku mendekat ke arah mereka dan langsung duduk di salah satu kursi kosong yang tersisa.


"Ayah, apakah ayah mengenal tabib kerajaan Green yang telah wafat?"


Ayah dan ibu tampak berpandangan sebelum akhirnya tatapan mata ayah jatuh padaku, "tentu nak, kami teman lama. Ada apa?"


Ayah tampak terkejut, "jika tabib itu yang mengatakannya, maka benar adanya putriku."


"Ayah mempercayainya?"


Ayah tersenyum dan mengangguk, "tentu, tapi yang menjadi pertanyaan di sini adalah apakah kau bisa mempercayai orang yang menyampaikan hal ini padamu?"


Deg!


"Kalau kau mempercayainya, kau takkan datang ke sini tiba-tiba." Ibu menyela pembicaraan, tangannya yang hangat meraih kedua tanganku. "Jangan pernah tergesa melakukan sesuatu yang teramat penting, pastikanlah lebih dulu, agar kau bisa mengambil keputusan yang terbaik nak."


Memastikan? Ah benar!


"Terimakasih ayah, ibu! Aku menyayangi kalian."

__ADS_1


Aku kembali mengaktifkan portal dan langsung memasukinya.


"Yang Mulia."


Seorang laki-laki yang memakai baju khas kerajaan green bersimpuh tepat saat aku keluar dari portal.


"Berdirilah Paman, ayah tidak akan senang melihat ini," aku membantunya berdiri.


Paman membersihkan bajunya dan perlahan mengangkat kepalanya menatapku, "Paman!" Aku terkesiap, wajahnya benar-benar mirip dengan Varen sebelum auranya bangkit, mata biru rambut perak dan kulit putih pucat.


"Apakah hamba mengingatkan Yang Mulia pada Varen?" tanya paman tersenyum hangat.


"Paman mengenalnya?" aku benar-benar bersemangat ingin mendengar lebih.


"Tentu, mana ada paman yang tidak mengenal keponakannya sendiri?" Paman tampak mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanan, "Yang Mulia tampaknya Yang Kuasa memang memberi jalan bagi hamba untuk bertemu Yang Mulia secara langsung, maka tolong ijinkanlah hamba memakaikan kalung ini di leher Yang Mulia."


Mataku tertuju pada kalung safir biru di tangan paman tabib, aku merasa aura Vio dalam tubuhku menguat. Aku mengangguk dan membiarkan paman tabib mendekatiku.


Ia dengan cepat dan cekatan memasangkan kalung itu di leherku, "Akhirnya tugas hamba telah selesai."


Aku menatap kosong ke arahnya, "apa yang paman maksud?"


Paman kembali tersenyum, "kalung ini adalah wujud restu yang hamba berikan untuk Yang Mulia, ketika sepasang kalung dan cincin safir biru melekat pada tubuh anda, maka itu akan mempermudah jalan Varen menemukan Yang Mulia."


Aku masih tak paham bagaimana bisa kalung dan cincin safir biru mempermudah Varen menemukanku?


"Saya menyadari bahwa Yang Mulia sangatlah Mulia dan dibutuhkan bukan hanya oleh kekaisaran matahari tapi juga alam semesta, oleh karena itu hamba memilih untuk menguji keponakan hamba, hamba tidak ingin ia mendapatkan Yang Mulia tanpa perjuangan dan tanpa mengerti betapa berharganya Yang Mulia, dan tampaknya teman lama hamba melakukan hal yang sama terhadap Yang Mulia."


Paman tersenyum dan menatapku, "kami hanya menginginkan Yang Mulia dan Varen mengerti bahwa cinta yang sesungguhnya tidaklah mudah didapat, maka tidak mudah pula untuk dipertahankan, tolong jadikan semua ujian ini sebagai panduan agar kelak Yang Mulia dan Varen bisa hidup bahagia."


Ujian? Apakah Varen dan aku sulit bertemu karena paman dan ayah yang sengaja menguji kami? Upeti lamaran itu, apakah itu juga ujian untukku?


"Yang Mulia sungguh teramat pintar," paman memujiku seolah bisa membaca pikiranku. Aku bahkan yakin bahwa ia telah mengetahui kedatanganku sebelum aku tiba.

__ADS_1


"Tapi paman, paman dan ayah bukankah teman lama? Tapi kenapa paman tidak menua?" tanyaku heran.


"Seperti halnya Ezio, hamba memilih tidak menua."


__ADS_2