
Aku menunduk, jujur walaupun aku tahu krnyataan tak bisa kuhindari tapi aku masih ragu akan diriku sendiri. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisku, aku mendongak refleks. Ingatanku kembali memenuhi kepalaku, aku rasa mataku kini berbinar, rasanya lega karena sesuat[ yang kurasa hilang, akhirnya kutemukan.
"Kakak, lihatlah!" Aku menunjuk cincin yang bertabur safir biru di jari manisku dengan mata yang berbinar, lalu memandang Kak Nala dan Kak Prisa bergantian, mereka balik menatapku penuh tanya, lalu mengamati cincin yang bertengger di jari manisku.
Aku bercerita panjang lebar mengenai semua hal yang terjadi mulai dari pertemuanku dengan Varen hingga akhirnya aku terbangun kembali di samping mereka.
"Kalau begitu, buktikan!" Kak Prisa berkata sambil menatap mataku. "Coba panggil unicorn yang bernama Vio itu, jika semua bukan hanya mimpi dan khayalanmu belaka, maka kau bisa memanggilnya, seperti kai memanggil Ryu."
"Benar," Kak Nala mengangguk menimpali.
"Baiklah," aku mencoba memusatkan energi, tapi aku merasakan tubuhku kosong! Bahkan energi Kak Prisa sama sekali tak terserap dalam tubuhku, padahal selama ini aku bahkan bisa menyerap semua energi yang tersalur dalam diriku. Aku panik, "kak aku tidak bisa merasakan energiku sama sekali! Oh tidak, bagaimana ini?"
"Oh ya ampun, aku lupa!" Kak Prisa menepuk jidatnya sendiri seolah kesal akan dirinya sendiri.
"Hahaha, ya ampuun aku juga lupa!" Kak Nala tertawa kecil sambil menatapku. "Setelah ritual penyatuan, auramu akan tersegel. Tapi tenang, segel itu akan terlepas tepat ketika ulang tahunmu yang ke 17."
Tunggu, auraku masih tersegel? Kak Nala bilang auraku masih tersegel, itu berarti bulan dewa belum terbit di tiga kekaisaran!
"Benar Aira, bulan dewa belum terbit di sini." Kak Prisa menangkap kebingunganku, "setidaknya mungkin masih beberapa jam lagi. Kalau semua yang kau ceritakan benar adanya, maka kekaisaran perak memiliki perbedaan waktu dengan kita. Kau bahkan melalui hampir dua hari di sana tapi di sini, aku dan Kak Nala mengwasimu tertidur hanya beberapa jam lamanya."
Kak Nala kembali mengangguk, "biasanya ketika melakukan perjalanan waktu, waktu singkat yang kita singgahi di masa lalu bisa mewujud berhari-hari di kehidupan kita yang sekarang. Tapi yang kau alami adalah sebaliknya."
Masa lalu? Oh tunggu, aku teringat akan perjalanan waktu yang kulalui. Perjalanan ke masa saat aku di lahirkan dan saat aku kembali, aku menempuh jalan lain untuk menyelamatkan Varen. Aku segera menceritakannya pada Kak Nala dan Kak Prisa.
"AAPPAAAA?" tanya mereka berdua bersamaan setelah mendengar seluruh ceritaku, mereka terlihat amat terkejut.
"Aku masih meragukan ceritamu atas cincin safir biru yang kau pakai, tapi cerita yang satu ini aku tak mungkin meragukannya." Kak Prisa menatap mata Kak Nala, mereka tampak menggunakan komunikasi batin.
__ADS_1
"Ryu adalah bukti terkuat jika ceritamu yang satu ini bukanlah mimpi, Aira." Kak Nala kini menatapku dengan tatapan yang aneh, "apa ada lagi yang ingin kau ceritakan pada kami?"
Aku diam mencoba mengingat, sepertinya yang tertinggal bukan cerita tapi sebuah pertanyaan. "Kak, kenapa Ryu dan Vio bisa bicara sedangkan Fia dan hewan-hewan suci hutan hujan tidak bisa?"
"HAHAHHAHAHHAAAA..." kak Prisa tertawa terbahak-bahak. "Dasar anak kecil! Hahhahaha..."
Aku cemberut dan beralih menatap Kak Nala meminta pembelaan, tapi kak Nala malah tersenyum dan menggeleng ke arahku. "Kata siapa Fia tidak bisa bicara?"
Aku melongo, seingatku Fia tak pernah ngobrol denganku, bahkan memanggil namaku saja tidak pernah.
"Semua hewan suci bisa bicara, bahkan tak terkecuali hewan kegelapan. Mereka bisa bicara, hanya saja mereka kadang terlalu malas untuk bicara, atau ada yang lebih suka menggunakan energi untuk hal lain yang lebih bermanfaat daripada untuk bicara. Sebagian besar lebih suka menggunakan telepati untuk menghemat energi," jelas kak Nala sabar.
Aku mengangguk, "jadi mereka menggunakan energi untuk bicara?"
Kak Prisa memotong ucapanku, "analoginya seperti kita, kalau kita banyak bicara bukankah akan lelah sendiri? Begitupun dengan mereka."
"Tok..tok..tok.."
Kami melepas pelukan dan memandang ke arah pintu.
"Masuklah," kata Kak Nala selaku permaisuri di istana ini.
Aku melihat Jendral Go membuka pintu, lalu memberi hormat ke arah kami bertiga. Setelah itu dia berdiri tegak, "maaf mengganggu Yang Mulia, saya hanya ingin mengingatkan bahwa waktunya sudah tiba."
"Oh benarkah? Akhirnya setelah ini aku bisa tidur sepuasnya!" Kak Prisa berjalan ke ujung ruangan, ia tampak membuat portal.
Aku beralih ke kak Nala, tapi Kak Nala kini menatap Jendral Go. "Jaga kekaisaran baik-baik, jika ada suatu hal penting tolong segera laporkan padaku dan Kaisar."
__ADS_1
"Baik Yang Mulia, hamba pamit undur diri." Jendral Go kembali memberi hormat, lalu berjalan ke arah pintu dan menutupnya kembali.
"Apa yang Jendral Go maksud? Di mana Kak Aditya dan Kak Arya?" tanyaku pada Kak Nala yang kini berjalan mendekati Kak Prisa.
"Kemarilah, atau aku dan Kak Nala akan dimarahi ayah dan ibu!" Kak Prisa tampak tak sabar.
Aku berjalan mendekati mereka, portal yang dibuat Kak Prisa hampir siap.
"Kita akan pergi untuk mendapatkan jawaban untukmu, dan kedua kakak iparmu tentu sudah lebih dulu pergi bertemu ayah dan ibu saat kau tertidur tadi."
Kak Nala menggenggam tangan kiriku erat, sementara tangan kanannya melingkar di pinggang kak Prisa. Kami melangkah menuju portal yang telah siap dibuat oleh Kak Nala, berbeda dengan portalku yang sering membuatku mual, portal ini terasa nyaman tanpa efek samping.
"Oh akhirnya aku bisa melihat langsung ketiganya!"
"Ya ampuun mereka teramat cantik!"
"Lihatlah baik-baik, maka kau tidak akan menyesal walau kau mati hari ini!"
"Wah sungguh berkah luar biasa bisa melihat mereka bertiga bersamaan!"
Aku mengerjap beberapa kali dan mengeratkan pegangan tanganku pada kak Nala. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa portal Kak Prisa akan berakhir tepat di atas kerumunan rakyat kekaisaran Matahari. Mereka tampak berkumpul, wajah mereka menampakkan senyuman bahagia, terlihat sangat ramai. Lampu berwarna-warni menghiasi pinggir jalan dan rumah-rumah penduduk, banyak orang berjualan segala pernak-pernik hingga makanan.
"Selamat ulang tahun Aira," Kak Nala melepas kan genggaman tangannya, dan mencium dahiku.
"Selamat ulang tahun adikku," Kak Prisa menghampiriku dan menciumku di dahi, sama seperti yang dilakukan Kak Nala.
Lali mereka berdua berpegangan tangan, mengangguk padaku dan terbang turun. Oh ya ampun ini adalah balai perjamuan agung! Kak Nala dan Kak Prisa terbang turun mendekati ayah, ibu, Kak Aditya dan Kak Arya yang kini duduk di singgasana. Kak Nala dan Kak Prisa memberi hormat pada ayah dan ibu lalu duduk di samping suami mereka masing-masing, meninggalkan aku yang masih melayang sendirian di atas kerumunan rakyat.
__ADS_1