
Aku hanya bisa tertidur 2 jam, entah kenapa rasanya tak bisa terlelap lebih lama. Aku memutuskan untuk mandi dan bersiap sendiri tanpa memanggil pelayan, karena aku tahu kalau memanggil mereka pun, tak akan ada bedanya, malah aku akan semakin waspada, takut menyentuh mereka secara tidak sengaja.
Perjalananku selama ini setidaknya membuatku bersyukur, karena perjalanan itu mengajarkanku agar lebih mandiri. Mungkin perjalanan itu juga bertujuan untuk mempersiapkan diriku untuk hari ini dan hari-hari selanjutnya, hari tanpa ibu asuh Sarala di sampingku.
Aku berjalan mendekat ke arah jendela dan membukanya, matahari masih belum terbit tapi bulan dewa sudah tak nampak lagi. Udara segar sedikit dingin menerpa tubuhku, rambut panjangku yang kini berwarna perak mulai berterbangan tertiup angin. Terlihat banyak prajurit bersiaga di sekitar kediamanku, sepertinya tampak lebih banyak dari sebelumnya. Mataku mulai mencari sosok Balin, tapi tak ketemu. Jujur, aku mulai bosan sejak tak bisa kembali terlelap tidur. Emosiku seperti hendak mencari pelampiasan untuk segera dikeluarkan kalau aku tidak secepatnya mencari pengalihan. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamarku, dan mungkin keluar dari kediamanku.
"Yang Mulia."
Aku kaget setengah mati, bagaimana tidak! Sosok Balin yang tadi tidak kutemukan, kini tiba-tiba berdiri di hadapanku tepat ketika aku membuka pintu.
"Oh astaga Balin! Aku hampir pingsan karenamu!" omelku padanya sambil mengusap dadaku pelan, mencoba mengendalikan detak jantung yang teramat cepat karena keterkejutanku. "Kenapa kau muncul tiba-tiba? tidak bisakah kau memberiku sinyal sebelumnya?" sepertinya amarahku menemukan pelampiasannya, aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya kali ini.
"Mohon ampun Yang Mulia," Balin terlihat menyesal tapi tetap saja tak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Sudahlah, lupakan!" kata-kataku sungguh terdengar angkuh, aku sedikit menyesal mengatakannya. "Kelihatannya jumlah pasukanmu bertambah?" tanyaku mengalihkan topik.
Balin mengangguk, "betul Yang Mulia, ini adalah jumlah standar pengamanan bagi seorang pewaris agung."
Aku melangkahkan kakiku, berjalan dengan santai mengelilingi kediamanku tanpa tujuan. Balin mengikuti di belakangku.
__ADS_1
"Terimakasih Balin, terimakasih telah menghabiskan waktumu untuk menjagaku." Langkahku terhenti di depan pohon beringin berdaun emas. Batang pohon ini berhias banyak bekas goresan pedang, aku maju mendekat dan mengusapnya.
"Sudah kewajiban hamba, Yang Mulia." Balin menjawabku singkat, sepertinya ia tidak berubah.
"Balin, entah kenapa aku merindukan diriku yang dulu." Tanganku mengusap bekas goresan pedang yang samar tapi amat banyak jumlahnya. Aku ingat dulu, setiap kali hatiku tak tenang, aku selalu membabi buta menggoreskan pedangku ke arah batang pohon beringin emas, aku melampiaskan semua emosiku padanya, hingga tubuhku lelah dan tak sanggup melanjutkan. Dulu, bagi Aira yang tak berbakat, hidup sederhana dan bahagia bersama ayah dan ibu adalah satu-satunya keinginan terbesar yang ingin dicapai, Aira yang dulu sama sekali tidak pernah berpikir untuk mewarisi tahta kekaisaran, bahkan keinginan untuk memilikinya pun tak ada, karna aku yang dulu amat sangat sadar bahwa aku tidak akan mampu mengemban tugas dan kewajiban seorang pewaris agung dengan statusku yang notabene makhluk tak berbakat.
Dulu bahkan aku menganggap bahwa hidupkulah yang paling menyedihkan di dunia ini, tapi sekarang ketika mengingatnya kembali justru aku ingin memutar waktu dan kembali ke masa itu. Masa dimana aku hanya perlu menjalani kehidupanku sebagai orang biasa, tanpa beban dan tanpa tuntutan apapun, walaupun terlindungi tapi dulu aku merasakan kebebasan, tidak banyak orang mengenalku karena aku tak pernah muncul secara resmi di publik, aku pun tidak perlu takut melakukan hal-hal yang kusukai, tak perlu memedulikan pandangan orang lain terhadapku, hanya perlu menjadi diriku saja.
"Balin, apa yang pertama kali kau pikirkan ketika kita pertama kali bertemu?"
Tanyaku selagi memandang jauh ke atas, kearah dedaunan emas pohon beringin yang amat rindang, matahari belum menampakkan wujudnya tapi warna emas daun berkilau memantulkan cahaya lampu yang ada.
"Saya ingin melindungi Yang Mulia," jawab Balin singkat.
"Saya ingin melindungi Yang Mulia," ucap Balin kembali mengulangi jawabannya.
Aku menatapnya tak percaya sambil mendesah pelan, rasanya aku ingin menjitak kepalanya karena kesal akan jawaban yang sama untuk kedua kalinya, tapi sekuat tenaga kutahan.
"Pertama kali melihat Yang Mulia di pasar ibu kota, saya berpikir bahwa saya ingin melindungi Yang Mulia, walaupun saat itu saya tidak mengetahui bahwa Yang Mulia adalah putri kaisar," Balin tanpa kusangka melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Pertama kali saya bertemu Yang Mulia, bukanlah di istana saat Jendral Agung Ezio memperkenalkan saya sebagai ketua pengawal kepada Yang Mulia, melainkan di pasar ibu kota, sebelas tahun yang lalu."
Aku menatap mata Balin, aku benar-benar tidak mengingat pertemuanku dengannya sebelas tahun lalu.
"Saat itu saya langsung mendekati Jendral Agung dan menunjuk ke arah seorang gadis kecil dengan hiasan rambut berwarna pink dan berkata padanya 'saya ingin melindunginya, sama seperti yang anda lakukan' dan di sinilah saya sekarang, keinginan saya sebelas tahun lalu kini menjadi kenyataan, saya tak mengira bahwa gadis kecil yang saya tunjuk ternyata merupakan seorang pewaris agung."
Aku melongo, apa aku tidak salah dengar? Melindungiku adalah keinginannya sejak dulu? Apa itu adalah sesuatu yang bisa di cita-citakan? Apakah itu bisa dibanggakan? Seolah bagi Balin menjadi pengawalku adalah mimpi yang mewujud menjadi kenyataan.
"Balin, tidakkah kau memiliki keinginan lain yang ingin kau capai?" tanyaku penasaran.
"Meninggal saat bertugas melindungi Yang Mulia."
Aku menjitak keras kepala Balin, hingga membuatnya menunduk, mungkin sedikit sakit? tapi kali ini ia tak mengeluarkan kalimat minta maaf padaku, bukankah ia sadar bahwa ucapannya barusa sangatlah tidak pantas untuk dikatakan, tapi ia hanya diam, seolah tak menyesali apa yang ia katakan.
"Jangan pernah mengatakannya lagi atau aku akan sangat marah!" Aku menatapnya kesal, "Nyawamu, kebahagiaanmu, sepenuhnya adalah hakmu, Balin! Jangan pernah menjadikanku alasan untuk menyerahkan nyawamu, apapun yang terjadi! Kau berhak sepenuhnya atas nyawamu, jadi jangan pernah lagi mengatakannya ataupun melakukan tindakan yang membahayakan nyawamu hanya demi aku!"
Kuhela nafas panjang mencoba mengontrol emosiku, "aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu, Balin. Aku akan berusaha bertambah kuat agar kau tak perlu membahayakan nyawamu demi aku."
Tiba-tiba Balin bersimpuh di hadapanku, "ijinkan hamba berada di samping Yang Mulia hingga akhir. Hamba berjanji akan setia dan melindungi Yang Mulia, tolong terimalah hamba Yang Mulia."
__ADS_1
Hatiku luluh, aku mengulurkan tangan kananku hingga menyentuh pucuk kepala Balin. "Aku, Aira Airlangga menerima sumpah setiamu. Kuberkahi kau dengan kebahagiaan, keberanian, kekuatan dan kejayaan."
Aura merah dari pelangiku mengalir melalui tanganku lalu menyelimuti seluruh tubuh Balin, menguatkan aura aslinya. Kualirkan lagi aura kuning sebagai berkah atas kesetiaannya padaku.