
Semua dinding brankas Felix dipenuhi dengan lukisan seseorang yang amat kukenal, lukisan ini tampak amat nyata, aku kembali menatap Felix dari belakang, batinku penasaran dengan sosok pangeran mahkota negara api, dan bertanya-tanya 'kiranya rahasia apa lagi yang mungkin ia miliki?'
Felix melangkah menghampiri sebuah lukisan yang diletakkan tepat di tengah ruangan, lukisan itu tertutup kain emas polos. Berbeda dengan lukisan lain yang dipajang di dinding, satu lukisan itu tampak dibiarkan dengan sengaja di tengah ruangan, meninggalkan sensasi sebuah lukisan yang baru diselesaikan.
Felix membuka kain emas penutup lukisan itu, dan melemparnya ke sudut. Aku kembali terkesiap, lukisan itu...
"Balin, bukankah hanya ada satu orang yang diperbolehkan melukis keluarga kekaisaran?" tanyaku pada Balin dengan tatapan masih tertuju pada lukisan Felix.
"Betul Yang Mulia, hanya Sang Guru satu-satunya yang memiliki ijin khusus dari Yang Mulia kaisar untuk melukis keluarga kekaisaran."
Ingatanku mulai berkelebat, sejak aku kecil semua lukisanku sendiri maupun lukisanku bersama keluarga selalu dilukis oleh Sang Guru. Ia selalu melukis dengan pakaian serba hitam, cadar yang menutupi sebagian wajah dan jubah bertudung yang senada. Kalau dipikir-pikir selama ini aku pun belum pernah melihat wajah Sang Guru. Ia terkenal dan dihormati di seluruh kekaisaran matahari karena merupakan satu-satunya pelukis yang diberi hak istimewa oleh kaisar untuk melukis keluarga kekaisaran, hasil lukisannya pun tampak sempurna bagaikan hidup, tak ada satu pun poin inti yang ia lewatkan, karena itulah ia disebut Sang Guru.
"Selain Sang Guru, hukuman mati menanti bagi siapapun yang berani melukis keluarga kekaisaran, Yang Mulia."
Kata-kata Balin tegas dan tajam, menyiratkan hukuman yang menanti Felix, jika ia terbukti bukanlah Sang Guru, karena brankas rahasianya di penuhi oleh lukisan seorang gadis yang amat kukenal, tak bukan dan tak lain adalah lukisan diriku sendiri!
Felix menatap lukisan di hadapannya, lukisan yang menggambarkan sosokku ketika diangkat menjadi putri mahkota. Rambut perak panjang, mahkota di kepala, aura pelangi yang indah serta Ryu dan Vio yang mendampingiku. Langit malam yang menjadi latar belakang dengan bulan dewa yang bersinar terang, tampak membuat lukisan itu lebih nyata dan istimewa, diriku tampak lebih cantik dan mengagumkan di lukisan itu, membuatku terpesona.
__ADS_1
Felix tampak fokus, api biru mulai menyala di telapak tangan kanannya, "maaf Yang Mulia, demi kebahagiaan Al hamba harus memusnahkan segalanya".
Ia memejamkan mata dan menjentikkan jarinya, seketika semua lukisan yang ada di brankas mulai terbakar. "Mulai hari ini hamba berjanji, hamba hanya akan melakukan tugas sebagai Sang Guru tanpa mengagumi Yang Mulia sebagai wanita," Felix berbalik dan meninggalkan brankas tanpa menoleh ke belakang.
Jadi Felix adalah Sang Guru? Tapi bukankah ia terlihat sebaya denganku? Seingatku dulu waktu aku masih kecil, Sang Guru yang melukisku tampak tinggi dan dewasa, walaupun aku tak melihat wajahnya! Apakah ia awet muda? Oh ya ampun, entahlah!
"Siapa yang mengetahui identitas Sang Guru?" aku menatap Balin yang kini terlihat menahan marah, auranya sedikit tak terkontrol.
"Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri dan Jendral Agung Ezio, Yang Mulia."
Aku mengangguk dan menjentikkan jari, berpindah tempat agar Balin tak lepas kendali. Aku menyadari Balin sedikit tersulut karena semua lukisan akan diriku dilukis, disimpan dan dibakar seenaknya, aku memahami Balin yang amat setia dan menghormatiku, maka aku tak mau amarahnya tersulut karena hal ini. Satu hal yang harus kupastikan nanti, adalah mengkonfirmasi identitas Felix yang sebenarnya.
Kali ini aku melihat Alderik yang tampak berbicara menatap langit sore. Aku berpindah tempat karena penasaran terhadap apa yang akan dilakukan adik Felix yang satu ini. Kali ini Alderik tampak berbaring menatap langit, hamparan bunga-bunga liar di sekitarnya terlihat menawan tertiup angin sepoi-sepoi. Burung-burung berterbangan, kupu-kupu hinggap di antara bunga-bunga yang mekar, membuatku menikmati keindahan yang alam berikan.
"Baiklah, saatnya menulis surat untuk Yang Mulia!"
Masih dengan posisi berbaring, Alderik menjentikkan jarinya, muncullah sebuah pena dan selembar kertas polos berwarna pink. Kertas dan pena itu melayang di udara, tepat di atas Alderik yang tampak malas bergerak.
__ADS_1
"Yang Mulia Putri Mahkota Aira, perkenankanlah hamba, Alderik putra Hakan menulis surat lamaran yang bertujuan meminang Yang Mulia untuk kakak hamba, Pangeran Mahkota Felix putra Hakan dari kerajaan api."
Alderik tampak berbicara sambil berpikir, selagi ia berbicara, pena dan kertas saling bertautan satu sama lain, menuliskan semua kata yang diucapkan Alderik.
"Dikarenakan tidak diperbolehkannya mengirimkan upeti lamaran lebih dari satu dengan nama yang sama, maka hamba mengirimkan upeti lamaran ini atas nama hamba, tapi mohon ampun Yang Mulia, hamba ingin menggunakan upeti lamaran ini untuk memberi dukungan bagi kakak hamba yang amat mencintai Yang Mulia, bahkan sebelum Yang Mulia dinobatkan menjadi putri mahkota."
Alderik memiringkan tubuhnya ke kanan, ia menekuk tangan kanannya dan menyenderkan kepalanya, matanya terlihat menerawang menembus hamparan bunga liar yang tertiup angin.
"Dulu, kakak langsung jatuh hati ketika pertama kali bertemu Yang Mulia tanpa sengaja di pasar ibu kota. Sejak saat itu kakak bertekad menjadi yang terbaik agar bisa sering memasuki istana kekaisaran guna menemui Yang Mulia, tapi siapa sangka, menjadi yang terbaik pun belum cukup, kakak tak henti-hentinya mencoba banyak cara, banyak pula kegagalan yang telah ia alami, hingga akhirnya ia berhasil menemukan jalan."
Satu kertas pink yang telah penuh berisi tulisan kini bergerak ke tumpukan paling bawah, meninggalkan kertas pink lai yang masih polos dan siap untuk digunakan.
"Hamba tidak pernah lupa wajahnya yang teramat bahagia setelah berhasil menemui Yang Mulia, senyum mengembang dengan mata yang berbinar, ia tak henti-hentinya menceritakan segala hal mengenai Yang Mulia yang amat ia kagumi. Sejak ibunda meninggal, itulah hari dimana hamba melihat senyumnya kembali, hari itu pula hamba berjanji untuk membuatnya bahagia, dan jawaban dari kebahagiaannya adalah Yang Mulia Putri Mahkota."
Alderik tampak memejamkan mata, "Maka dengan segala hormat, tolong pertimbangkanlah kakak hamba Yang Mulia, tolong lihatlah cinta tulus yang ia miliki untuk Yang Mulia, setidaknya tolong kabulkanlah permohonan dari seorang adik yang tak berdaya ini, Yang Mulia Putri Mahkota Aira."
Alderik menarik nafas panjang, "dari adik Pangeran Mahkota Felix yang mencintai Yang Mulia dengan tulus."
__ADS_1
Aku terdiam meresapi semua kata-kata yang kini tertulis menjadi sebuah tulisan, rupanya kakak beradik satu ini saling menyayangi satu sama lain. "Syukurlah," aku tersenyum memandang raut muka Alderik yang tampaknya kini telah tertidur tanpa sadar.
"Coret ketiganya, Balin!" Aku menatap Balin sambil tersenyum, "kali ini biarkanlah aku menjadi sedikit egois, aku tidak akan membiarkan mereka berkompetisi untuk seseorang sepertiku, aku tidaklah sebanding dengan nilai persaudaraan mereka."