Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
82. Ironi


__ADS_3

Kujentikkan jari agar kehadiranku tak terdeteksi sama sekali, aku melangkah keluar dari portal yang mengantarku ke atap. Angin segar khas dataran tinggi kerajaan Green menyapaku, berbeda dari sebulan lalu, kini aku melihat puluhan pekerja sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka, tampaknya Aciel juga memperluas lahan dan mengubah banyak hal. Aciel memisahkan peternakan dan budidaya tanaman obat, sehingga tampak menjadi dua bagian yang luas dan terpisah, sungguh kemajuan yang pesat, tampaknya aku tak salah memilih orang.


"Tuan muda, silahkan diminum."


Dari kejauhan aku melihat Joana mendekati Aciel yang sedang berkeliling mengontrol tanaman obat, ia membawa segelas susu sapi murni yang tampak hangat dengan uap yang terlihat di tengah udara dingin.


"Terima kasih Joana," ucap Aciel sambil melangkah menghampiri kursi kayu di tepi lahan, ia mendudukkan dirinya dan meneguk susu di gelasnya.


Sikap Joana tampak berubah, aku melihatnya menjadi lebih sopan dan tampak memiliki pengendalian diri yang bagus.


"Apakah ada yang ingin kau sampaikan Joana?" tanya Aciel sembari mengembalikan gelasnya yang telah kosong.


Joana meraih gelas kosong yang diulurkan Aciel, "maaf tuan muda, sudah lama saya tidak bertemu dengan nona Rara, apa boleh saya tahu kapan nona Rara datang?"


Aciel tampak mengalihkan pandangannya jauh ke arah hutan, "kenapa kau menanyakannya?" Aciel bertanya tanpa memandang ke arah Joana.


"Saya merindukan nona Rara," Joana tampak menunduk menatap tanah yang diinjaknya, ia tampak takut salah memberikan jawaban.


Apa yang terjadi hingga Joana bersikap seperti itu? Apakah Aciel terlalu keras padanya?


"Dia mungkin akan datang hari ini," jawab Aciel yang kini terlihat mengamati gelang di tangannya.


"Benarkah tuan muda?" Joana tampak memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar, matanya kini berbinar.


Aciel mengangguk, membuat Joana menampilkan senyum lebarnya.


"Sebegitu bahagianyakah kau mendengar kedatangannya?" Aciel melirik Joana heran.


"Tentu saja, bukankah tuan muda lebih bahagia dan menantikan nona Rara?" Joana membalas lirikan Aciel, "walaupun tuan muda tidak memperlihatkannya, tapi saya tahu bahwa di dalam hati tuan muda merasakannya berkali-kali lipat dari saya."

__ADS_1


"Jangan melewati batas, Joana!"


Berkat teguran Aciel, Joana kembali diam. "Maaf tuan muda, saya permisi." Joana membungkuk memberi hormat lalu berjalan cepat menuju gedung.


Jadi Aciel berhasil membuat batasan? Aku kira mereka akan saling jatuh cinta, tak ku sangka Aciel malah berhasil membuat batasan dengan Joana.


"Tuan muda, tidakkah itu sedikit kasar?" Balin datang dengan rapi dan mendudukkan dirinya di samping Aciel.


"Tidak, batasan diperlukan justru agar ia tak tersakiti." Aciel menyilangkan kedua tangannya di dada, matanya tampak menatap tanaman obat yang tumbuh subur tertata rapi.


"Apakah hari ini Yang Mulia akan datang?" Balin mengikuti arah pandang Aciel.


"Ia berjanji akan menjemputku, dan ia tak pernah ingkar sebelumnya," Aciel meraba gelang persahabatan di tangannya.


"Balin, apa yang membuatmu setia di sampingnya?" Aciel menatap Balin tiba-tiba, aiu melihat ada kegundahan di wajahnya.


Aciel menatap Balin tajam, tapi ia tak mengelak apa yang Balin tuduhkan.


"Maaf jikalau saya tidak sopan, tapi akan ada penyesalan jika tuan muda terus menyembunyikannya." Balin menghela nafas panjang, "saya melakukan pengabdian dengan mewujudkan setiap mimpi saya di samping Yang Mulia, tapi tuan muda berbeda dengan saya karena mimpi anda adalah Yang Mulia."


Aku terhenyak atas perkataan Balin, arah pembicaraannya membuat hatiku tak tenang.


"Bukankah aku menyedihkan?" Aciel menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, ia menarik nafas panjang dan menatap langit yang mulai menampakkan mentari. "Aku bahkan telah mengetahui jika aku tak dapat mewujudkan mimpiku, tak akan pernah bisa membuatnya menjadi nyata walau berusaha sekuat tenaga, bukankah ini ironi yang menyedihkan?"


"Tidak tuan muda," Balin memejamkan matanya seolah-olah tampak tidur. "Yang Mulia menyayangi anda dan menganggap anda sebagai satu-satunya sahabat berharga yang ia miliki, dari sudut pandang saya, anda telah meraih mimpi anda, walaupun dalam artian yang berbeda."


Sepasang mata Aciel tampak berkaca-kaca, ia menundukkan kepala dan menyangganya dengan kedua tangannya yang tak lagi mulus. Kedua tangan Aciel menampakkan semburat otot yang selama ini tak pernah ku lihat sebelumnya, dan tubuhnya menjadi sedikit lebih kecoklatan.


"Tuan muda, kekalahan adalah ketika anda sama sekali tak dapat meraih tujuan dari mimpi anda bukan?" Balin masih memejamkan matanya, tampak relaks menikmati hembusan lembut angin pagi. "Jika anda setuju dengan apa yang saya katakan, maka anda memang tidak menang, tapi anda juga tidaklah kalah."

__ADS_1


Balin membuka matanya, dan tanpa pamit ia melangkah pergi meninggalkan Aciel yang masih tak bergerak di tempatnya. Aku menjentikkan jari hingga tubuhku berpindah duduk di samping Aciel, aku mengamatinya dalam diam.


Aku bukan anak kecil lagi, aku sadar jika semua pembicaraan yang kudengar mengarah pada persoalan hati. Awalnya aku ingin berpura-pura tak mendengar apapun, tapi bukankah jika aku melakukannya maka sama saja aku melarikan diri?


"Kenapa kau menunduk begitu?" tanyaku seraya melepas aura yang kusembunyikan. "Tidakkah kau merindukanku?"


Aciel mulai mengangkat kepalanya dan mata merahnya memandangku. Ia tampak berpikir keras akan sesuatu hingga matanya memancarkan keberanian, ia tampak telah bertekad.


"Bolehkah aku memelukmu, Rara?"


Aku terhenyak kaget bukan hanya karena permintaan Aciel, tapi juga panggilan nama yang sudah lama tak ia ucapkan padaku. Varen tiba-tiba muncul di benakku, tapi kata hatiku membuat kedua tanganku terbuka, Aciel mendekat dan memelukku.


"Aku mencintaimu Ra," ucap Aciel sambil melepas pelukannya.


Aku termangu beberapa saat, ketika mendengar pembicaraan Aciel sebelumnya, aku sudah menduga hal ini akan terjadi dan bersiap untuk menghadapinya, tapi saat mendengarnya langsung dari mulut Aciel, aku mulai gusar, aku takut kehilangan satu-satunya sahabatku yang berharga.


"Aciel," panggilku lirih.


"Tidak Ra," Aciel menggeleng. "Aku tidak membutuhkan jawaban, cukup dengarkan aku saja."


Mataku terbuka lebar, terkejut atas perkataan Aciel? Inikah yang membuatnya menundukan kepala begitu lama? Keputusan inikah yang dibuatnya?


"Aciel," panggilku lagi.


Aciel menatapku, kedua matanya tampak teduh. "Aku mencintaimu tepat saat kau memintaku menjadi sahabatmu. Awalnya pasti kau tahu, jikalau aku sangat membencimu karena salah sangka terhadapmu, tapi jati dirimu yang sesungguhnya membuat hatiku menyerahkan semua tempat yang ada untukmu seorang, hatiku melarang wanita lain untuk memasukinya."


"Aciel," kali ini air mataku jatuh bagaikan aliran sungai di kedua pipiku.


Aciel menghapus air mataku dengan kedua tangannya, "tapi aku sadar, hatimu telah memilih yang lain dan aku takkan mengusiknya. Aku akan diam selama dirimu bahagia."

__ADS_1


__ADS_2