Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
20. Hadiah terindah untuk Varen


__ADS_3

Pagi ini aku bangun dengan mata bengkak, akibat semalaman menangis. Bukan itu saja, aku merasakan rasa menggelitik di seluruh tubuh, hampir mirip seperti saat bersemedi di bawah air terjun keabadian. Rasanya aneh, tapi tidak terlalu mengganggu.


Hari ini adalah hari ulang tahun Varen, semua orang di istana terlihat sangat sibuk. Pesta ulang tahun Varen akan diadakan nanti malam, paginya tentu disibukkan dengan persiapan. Pagi tadi beberapa pelayan mengantarkan dua buah gaun beserta sepatu dan beberapa aksesories padaku, satu gaun berwarna kuning dan satunya lagi berwarna putih. Mereka bilang gaun kuning untuk dipakai di pagi hari dan gaun putih untuk dikenakan saat pesta Putra Mahkota.


Aku telah mengatakan pada Permaisuri bahwa aku terbiasa mendandani diriku sendiri, tak perlu pelayan dan untungnya Permaisuri menghormati pilihanku, padahal di sisi lain aku berusaha meminimalisir kontak fisik dengan orang lain.


Cermin di hadapanku menampilkan aku yang telah memakai gaun kuning, panjangnya selutut dengan lengan pendek berumbai. Bahan polosnya yang jatuh membuat lekuk tubuhku sedikit terlihat lebih indah, sederhana tapi membuatku tampak muda. Aku memakai sepatu warna senada dan mulai memasang anting kecil berhias bunga kecil kuning dengan mutiara di tengahnya, kini hanya tinggal merapikan rambutku, karena aku tak berpengalaman menyentuh make up maka akan lebih baik bila aku membiarkan wajahku polos seperti biasanya.


"Tok..tok..tok.."


Aku beralih menatap pintu, saat hendak berdiri membukanya, permaisuri menampakkan wajahnya.


"Tetaplah duduk nak," ucap Permaisuri menghampiri aku yang masih terduduk di depan cermin. "Sesuai dugaanku, baju ini amatlah cocok untukmu. Bolehkah aku menyisir rambutmu nak?"


"Tapi Yang Mulia, hamba tidak berani." Rambut panjang hitamku mungkin akan sedikit kusut dan susah disisir, mengingat aku melakukan perjalanan panjang tanpa ibu asuh Sarala.


Permaisuri tersenyum tak menghiraukan ucapanku, ia mengambil sebuah sisir dan mulai menyisir rambutku pelan. "Aku sangat ingin melakukan hal ini, bahkan sekali seumur hidup. Nanti malam, ijinkan aku mendandanimu ya nak."


Permaisuri menatap pantulanku melalui cermin, meminta persetujuan. Aku tak mempunyai alasan lagi untuk menolak, takut tidak sopan. "Sungguh suatu kehormatan Yang Mulia, terima kasih."

__ADS_1


Aku mengamati cermin dan melihat senyum yang indah menghias wajah permaisuri. Pagi ini ia juga tampak sederhana dengan gaun panjang berwarna nude, bahan gaunnya sama sepertiku, polos dan jatuh, rambutnya dibiarkan tergerai dan mahkota berhias batu safir biru yang indah bertengger sempurna di kepalanya.


Ia meletakkan sisirnya dan mengambil sedikit rambut di atas telinga kananku, mulai membuat kepangan kecil. "17 tahun yang lalu, aku masih ingat ratusan ribu prajurit dan jutaan rakyat dengan tulus mengorbankan diri, mereka bersiaga membentengi kekaisaran dari ancaman serangan makhluk gelap."


Dari cermin kulihat permaisuri bercerita sambil fokus pada rambutku. "Kelahiran Varen tentu merupakan kebahagian tak terkira, tapi juga merupakan kesedihan bagi kekaisaran. Banyak orang kehilangan nyawa demi melindungi kami. Kami memang terkenal akan kekuatan fisik yang tinggi, tapi kelemahan kami adalah tidak semua rakyat terlahir memiliki bakat. Aura dan sihir yang ada tak mampu membendung kekuatan gelap saat itu."


Gerakan tangan permaisuri di rambutku terasa berhenti, "keputusan bulan dewa untuk menanamkan racun dingin di tubuh Varen mungkin bertujuan untuk mengingatkannya pada rasa sakit orang-orang yang meninggal saat itu. Orang-orang yang meninggal untuk melindunginya." Permaisuri mulai melanjutkan gerakkannya, "Aku tahu kalau selama ini Varen hanyalah hidup demi kami, orang tuanya. Rasanya sangatlah hancur, sebagai ibu aku tidak bisa memberikan kehangatan pada putraku sendiri. Aku bahkan bisa menyembuhkan orang lain, tapi tak bisa menyembuhkan Varen. Suatu saat Varen berkata padaku," permaisuri tampak mengambil nafas panjang.


"Ibu, jika kelahiranku adalah berkah bulan dewa, kenapa aku lahir dengan racun dingin di tubuhku? Bukankah semua berkah itu indah?"


Deg! Jantungku terasa berdetak lebih cepat, kata-kata 'berkah bulan dewa' membuatku gelisah. Mata Permaisuri mulai berkaca-kaca, tapi ia tetap melanjutkan kepangan di rambutku. Ia membuat kepangan dari sedikit rambut di atas telinga kanan dan telinga kiriku, mempertemukan kepangan itu tengah belakang kepalaku.


Permaisuri kini mencondongkan sedikit tubuhnya, tangannya menjulur mengambil jepit rambut kecil berhias bunga berwarna kuning dengan mutiara di tengahnya. Mengikat kepangan yang telah disatukan.


"Ia hanya hidup untuk melakukan tugasnya sebagai putra mahkota, padahal aku tahu kalau ia hanya berpura-pura baik-baik saja." Permaisuri mengambil sisir dan mulai kembali menyisir rambut panjangku yang ia biarkan tergerai di bawah kepangan yang ia buat. "Tapi sejak ia membawamu pulang, aku melihat perubahan di matanya."


Ia meletakkan sisir di meja riasku, lalu memeluk pundakku dari belakang. "Ada kehangatan yang kulihat di matanya. Seolah ia telah menemukan harapan baru dalam hidupnya."


Permaisuri mencium pucuk kepalaku, "terimakasih nak, mungkin kau adalah hadiah terindah yang diberikan Bulan Dewa untuk putraku."

__ADS_1


Permaisuri melangkahkan kakinya, hingga berada persis di samping kiriku yang masih duduk di depan cermin. Ia mengibaskan tangan kanannya, sebuah kotak beludru biru mewah muncul di tangan kanan permaisuri. Aku menggeser posisi dudukku hingga kini menghadap ke arah permaisuri.


Perlahan ia membuka kotak itu, aku terkesiap. sebuah cincin bertabur safir biru tampak sangat indah, mungkin mataku telah bersinar melihatnya. Tampak sederhana tapi aku tahu, nilainya pasti tak terhingga.


Permaisuri mengambil cincin dalam kotak itu lalu tiba-tiba menyematkannya di jari manis tangan kiriku. Aku tercengang, kenapa memaikannya padaku?


"Cincin ini adalah lambang restuku dan restu leluhur."


Aku melongo, mungkinkah permaisuri salah mengira hubunganku dan Varen? Oh ya ampun apa yang harus kulakukan?


"Yang Mulia, ini terlalu berharga untuk hamba." Tanganku refleks berusaha melepas cincin itu, aku tidak nyaman, cincin ini mungkin adalah cincin pusaka keluarga Varen, bagaimana bisa aku menerima benda sepenting ini?


"Jangan lepaskan nak, sekalinya diberikan tidak boleh dikembalikan." Kedua tangan permaisuri melingkupi wajahku, "aku merestuimu dan memberi kepercayaan seutuhnya padamu, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu nak."


Permaisuri mengecup dahiku, cahaya biru keluar dari cincin, menari-nari di seluruh tubuhku hingga akhirnya masuk menembus kulitku, menambah rasa menggelitik yang ada.


"Tapi Yang Mulia, hamba dan Yang Mulia Putra Mahkota hanyalah berteman. Selain itu bukankah hamba tidak layak?" aku berdiri dari kursiku, menjajarkan tubuhku di hadapan permaisuri dan menatap sepasang mata coklatnya.


Permaisuri tersenyum dan menggenggam kedua tanganku, "aku tahu jika dirimu lebih dari layak nak. Bukan hanya aku, tapi Bulan dewa lah yang telah menyatukan kalian lebih dulu."

__ADS_1


__ADS_2