
Setelah perayaan selesai, orang-orang berkumpul di perjamuan makan, suka cita amat terasa malam ini. Semua tampak bahagia, aku melihat ke arah singgasana, dua orang yang amat kurindu masih menatapku tanpa henti. Hatiku bergetar hebat, mataku terasa panas tak bisa menahan air mata. Aku bergegas terbang turun menghampiri keduanya.
"Oh putriku sayang!" Ibunda berlari memelukku, aku merasakan air matanya membasahi pundakku. "Syukurlah nak, syukurlah sayang! Ibu sangat khawatir dan merindukanmu!"
"Kenapa lama sekali, aku juga ingin memeluk putri bungsuku, ayolah gantian denganku!" Ayah mendekatiku dari arah belakang ibunda.
"Gak mau, ayah jahat padaku!" Aku berpura-pura cemberut dan mengeratkan pelukan ibu, tapi ibu malah melepaskan pelukannya dan menatapku kemudian. "Ayah dan ibu tega padaku, aku bahkan sempat berpikir kalo aku hanya anak angkat dan kalian sudah tidak menyayangiku lagi!"
Air mataku mengalir deras, aku menangis keras di hadapan ayah, ibu dan kakak-kakakku.
"Aduh mulai lagi deh ini anak kecil!" Kak Prisa mendekatiku dan mengusap punggungku beberapa kali. "Gak nyangka, putri mahkota yang luar biasa agung berubah seketika jadi gadis cengeng nan manja! Hahahhaha..."
Aku tambah cemberut, "iih adeknya nangis bukannya dihibur malah diejek!"
Mereka semua tertawa terbahak, kurasakan kehangatan keluargaku, rasa bahagia menjalar di seluruh tubuhku. Kebahagiaan ini akan kupertahankan selamanya, rasa cinta yang teramat dalam terasa amat menghangatkan. Ayahanda dan Ibunda memelukku erat. Aku mengusap air mataku dan menggantinya dengan senyuman.
"Aira, bukankah kau berhutang sebuah penjelasan?" suara Kak Nala memecah keharuan yang ada. Mata Kak Nala beralih ke arah belakangku, aku mengikuti pandangan matanya yang ternyata tertuju pada Vio.
"Oh, perkenalkan ini Ryu dan ini Vio." Aku memperkenalkan keduanya. "Aku menciptakan Ryu, sedangkan Vio, aku dianugerahi oleh Permaisuri Kekaisaran Perak."
__ADS_1
"Kekaisaran perak?" kali ini ayah dan ibu bertanya balik ke arahku, tatapan mereka tampak menyelidik.
"Ya ayah, ibu. Permaisuri memberiku cincin ini, dan ternyata cincin ini menghubungkanku dengan Vio." Aku memperlihatkan cincin di jari manis tangan kiriku.
"Itu artinya kau telah menerima lamaran seseorang?" Ibu bertanya, nadanya terdengar sedikit bersemangat. Tapi aku diam, aku bingung bagaimana harus menjelaskan. "Nak, cincin yang kau pakai bukanlah cincin biasa yang bisa dihadiahkan ke sembarang orang. Ada sebuah tradisi kuno yang masih dipertahankan sampai sekarang yaitu memberikan cincin pusaka keluarga yang diturunkan turun temurun kepada seorang wanita yang merupakan permaisuri selanjutnya, wanita yang akan mendampingi kaisar selanjutnya, jika permaisuri kekaisaran perak memberikan cincin itu padamu, maka ia memilihmu untuk menjadi pendamping putranya kelak."
Ibu menatap ayah di sampingnya meminta pendapat, ayah mengangguk. "Ayah sependapat dengan ibumu. Nenekmupun memberikan cincin pusaka padanya, tentu atas permintaan ayah." Ayah merangkul ibu dengan mesra. Aku melirik ke cincin yang ada di tangan kiri ibu, cincin mutiara hitam dengan ukiran naga, seolah mutiara itu adalah bola api hitam yang keluar dari mulut naga. "Jadi siapa yang telah berani merebut putri bungsu ayah?"
Aku mengerjap beberapa kali, lalu memalingkan tubuhku hingga mengahadap ke arah Ryu dan Vio, "beristirahatlah!" Keduanya memberi hormat lalu hilang tak berbekas.
"Wah sudah berani mengabaikan pertanyaan ayah ya?" ayah menatapku dengan mata tajamnya.
*-*-*-*-*-*
Kini kami telah berpindah ke dalam bangunan inti aula perjamuan agung, kami duduk mengelilingi meja makan. Ayah duduk di salah satu ujungnya, di sebelah kanan ayah, duduk ibu dan aku, sementara di sebelah kiri duduk Kak Nala dan Kak Prisa, kedua kakak iparku telah kembali ke istana mereka masing-masing karena ada tanggung jawab yang harus segera dikerjakan, tugas mereka telah tertunda lama akibat mengawasi perjalananku selama ini, maka mereka harus menyelesaikan semua yang tertunda secepat mungkin.
"Ayah ingin melihatnya," ayah memulai topik pembicaraan disaat aku sedang lahap-lahapnya memakan hidangan yang amat kurindukan.
"Sayang, setidaknya biarkan Aira menelan makanannya dulu!" Ibu membelaku, membuatku meneruskan makan tanpa khawatir tidak memberikan jawaban.
__ADS_1
"Ayah jujur, tadinya kupikir Aira hanyalah mengkhayal tentang cincin yang ia pakai akibat ritual penyatuan, tapi begitu melihat Vio yang merupakan bukti nyata, aku jadi ikut penasaran." Kak Nala menyahut kata-kata ayah, terlihat sangat tertarik pada pembicaraan yang ayah mulai. "Ayah bukankah ini sedikit tidak adil?"
Kak Prisa menganggukkan kepalanya, "suamiku dan suami Kak Nala harus melewati tantangan berat dari ayah hanya untuk melamar, tapi Aira menerima lamaran laki-laki dengan begitu gampangnya! Bukankah ayah harus menyelidikinya?"
Aku melotot dan langsung menelan makanan yang ada di dalam mulutku, "ayah aku benar-benar tidak melakukan hal-hal yang dilarang! Aku masih suci!" ucapku dengan nada sedikit tinggi, takut ayah salah paham. Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang dilarang? Aku bahkan hanya menganggap Varen sebagai teman.
"Ibu tidak menerima kebohongan dalam hal ini, Aira." Tatapan ibu berubah tajam menatapku, "ibu membesarkan kalian sepenuh hati, ibu ingin kalian menjadi wanita hebat yang dihargai laki-laki, wanita yang mampu menjaga harga dirinya dan melindungi kesuciannya hingga laki-laki yang tepat berikrar untuk menikah secara resmi, tentu dengan restu orang tua dari kedua belah pihak."
Aku mengangguk mengerti, aku tahu persis maksud kata-kata ibu. Ibunda takut kalau aku telah terkena tipu daya laki-laki, "ini semua hanyalah salah paham!"
Semua mata tertuju padaku, lalu aku menceritakan segalanya dari awal hingga akhir pada mereka. "Jadi intinya aku dan Varen hanyalah teman atau setidaknya sahabat. Aku sama sekali tidak punya pikiran untuk menikah dengannya, aku benar-benar tidak tahu apa itu cinta, bagaimana aku memutuskan untuk menikahinya kalau aku sendiri tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak."
"Tapi kau harus menikahinya," kak Nala menyela kata-kataku. "Walaupun mungkin awalnya Permaisuri kekaisaran perak memberikan cincin itu padamu sebagai haknya karena ia menyukaimu dan menginginkanmu untuk menikah dengan Varen, dan hakmu pula nantinya untuk menerima ataupun menolak, tapi.."
"Tapi kau telah bersumpah atas jawabanmu pada Vio, berdasar pada jawabanmu pada Vio, maka kau telah bersedia untuk menerima Varen dan berjanji untuk mendampinginya kelak!" Kak Prisa menyerobot melanjutkan kata-kata kak Nala.
"Sadar atau tidak, janji yang kau ucapkan pada Vio sama sekali tidak bisa dianggap enteng! Janji itu telah mengikatmu dengan Vio dan mau tidak mau kau harus menerima konsekuensinya! Sekarang kau tidak bisa hanya menganggap Varen sebagai teman atau sahabat, suka atau tidak, Varen sekarang adalah tunanganmu Aira!"
Aku mendelik mendengar kedua ucapan kakakku dan terakhir ucapan ibu yang tajam tanpa cela. Ya, jika jawabanku pada Vio sesaat sebelum melawan Bedros hanyalah kebohongan maka sama halnya aku tidak bijaksana dan hanya menginginkan bantuan kekuatan Vio, aku mencelos. Aku benar-benar merasa bersalah pada Vio dan di dalam hati aku mengutuk diriku sendiri, betapa bodohnya aku kenapa tidak memikirkan akibat dari yang kukatakan.
__ADS_1
"Jadi bawalah segera ia ke sini!" Ayah kini mengeluarkan tatapannya yang paling serius, aku hanya bisa menatapnya sebentar, tubuhku merinding. Aura ayah menguar kuat di udara.