
Aku masih menatap kedua telapak tanganku, ada satu perasaan lega karena setidaknya bekas yang tertinggal di tangan kananku menjadi bukti bahwa aku telah menyelamatkan sebuah kalung untuk Aciel. Tapi di sisi lain, aku merasa berdosa. Bagaimana tidak? Bisa disimpulkan bahwa ayah Aciel terbakar setelah menggendongku, bukankah yang dituduhkan Aciel padaku sepenuhnya benar? Benar bahwa aku pembunuh?
"Aku ingin kembali sekarang, Yang Mulia."
Suara Aciel menyadarkanku dari lamunan, "apa kau yakin?"
Aciel mengangguk, tapi aku ragu. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya, aku ingin meminta maaf tapi bukankah maaf saja tak bisa menebus dosaku padanya?
"Aciel, sebelumnya a.."
"Aku ingin kembali sekarang, Yang Mulia." Aciel memotong kata-kataku dengan tegas, mungkin ia tak ingin membahasnya sekarang? Atau mungkin sikapnya adalah wujud dari kebenciannya padaku?
Aku menjentikkan jari, seketika muncullah portal untuk kembali. Aciel bergegas memasuki portal, aku mengikutinya dari belakang. Kali ini aku lebih berhati-hati dan menjaga jarak, aku sudah memperingatkan diriku sendiri untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain.
"Bawa kami kembali," ucapku pada diri sendiri seolah memberi tahu pada portal yang kubuat. Aura pelangiku mulai menyelimuti tubuhku dan Aciel, kali ini portalku terasa lebih stabil dan mulus, kami tiba dengan cepat di ruang baca yang tadi kami tinggalkan.
"Yang Mulia! Apakah Yang Mulia baik-baik saja?" Paman Ezio berlari mendekatiku dengan wajah khawatirnya, aku melihat sihir pembatasku telah ia hancurkan.
"Aciel apa kau butuh sesuatu?" tanyaku tanpa menjawab kekhawatiran Paman Ezio.
Aciel berjalan mendekat ke arah kak Althea yang masih diam bak patung, "tolong kembalikan waktunya, Yang Mulia."
Sejak permintaannya untuk kembali, Aciel kini memanggilku dengan embel-embel Yang Mulia, yang membuatku merasa tambah berdosa. Aku kembali menjentikkan jari dan waktu kembali berjalan normal.
"Kakak," ucap Aciel di hadapan kakaknya. "Kakak benar, ada kebenaran yang lebih baik untuk tidak diketahui."
Althea menatap sendu Aciel, "syukurlah kalau akhirnya kau menyadarinya. Sekarang meminta maaflah pada Yang Mulia Putri Mahkota, Aciel."
__ADS_1
"Tidak, akulah yang harus meminta maaf!" Aku berjalan ke hadapan Kak Althea dan Aciel lalu bersimpuh di hadapan keduanya.
"Yang Mulia!" Kak Althea ikut bersimpuh, diikuti Aciel. "Kami tidak pantas menerima ini Yang Mulia, tolong bangunlah!"
"Bagaimana aku bisa bangun kalau aku berdosa pada kalian? Apa yang harus kulakukan untuk menebusnya?" aku menangis terisak, hatiku rasanya sakit.
"Apa maksud Yang Mulia? kalau semua ini akibat kata-kata Aciel, hamba mohon ampun Yang Mulia, semua ini hanyalah kesalahpahaman."
Aku terus membenamkan kepalaku, kali ini aku benar-benar bersujud pada keduanya. "Bagaimana bisa kalian tetap baik begini? Bukankah harusnya kalian membenciku? karena api itu, api itu.." aku terbata-bata tak sanggup mengakui bahwa aku seorang pembunuh, aku terisak.
"Ampuni hamba Yang Mulia, hamba telah salah paham sepenuhnya, hamba mohon ampun." Suara Aciel terdengar tegas, aku mengangkat kepalaku dan menatap Aciel yang masih bersimpuh bersama kak Althea di hadapanku. "Harusnya hambalah yang berterima kasih pada Yang Mulia," ia mengeluarkan sebuah kalung yang sedari tadi tertutup baju putihnya, kalung yang sama seperti 15 tahun yang lalu, bahkan noda darahnya pun masih ada. "Noda darah ini membuktikan ketulusan Yang Mulia, darah suci sebagai penghapusan kesalahan, semua yang terjadi adalah takdir, tapi kalung ini adalah bukti ketulusan Yang Mulia, hamba bersedia bersumpah setia pada Yang Mulia Putri Mahkota Aira, sesuai janji hamba."
Tangisku pecah, air mataku mengalir deras. Bagaimana bisa mereka begitu tulus padaku? Bagaimana bisa ada orang sebaik mereka?
"Hamba berjanji tidak akan mengulangi kesalahan mendiang ayah hamba, Yang Mulia." Aciel menambahkan janjinya, aku menatapnya. Tatapan mata Aciel penuh tekad.
"Aku tidak akan menerima sumpah setiamu, aku tidak pantas."
"Jadi apa yang membuatmu merasa berdosa, putriku?" Aku mendudukkan diriku menghadap ayah.
"Ayah, bukankah ayah Aciel meninggal karena aku? Api itu muncul ketika mendiang ayah Aciel menggendongku, bukankah aku pembunuh?"
"Tidak, Yang Mulia! Ayah kami meninggal karena petir suci, bukan karena Yang Mulia." Kak Althea menjawab dengan lantang.
"Saya sependapat dengan Kak Althea, karena begitulah kenyataannya." Aciel menatap ayah lalu menatapku, "maka tidak ada yang perlu kami maafkan, Yang Mulia Putri Mahkota."
Air mataku masih terus mengalir, aku benar-benar tersentuh atas ketulusan Kak Althea dan Aciel. "Ayah, hiks..hikss...."
__ADS_1
Ayah memelukku erat, ia mengusap lembut rambut perak panjangku yang tergerai. "Bukankah kau sudah mendengar kata-kata Althea dan Aciel? Kenapa kau masih menangis seperti bayi?"
"Karena aku baru menyadari bahwa ternyata ada orang yang teramat tulus dan baik hati seperti mereka, ayah."
"Tentu, karena mereka adalah putra dari sahabat kesayangan ayah dan ibunda." Ibunda menyahut kata-kataku. "Sekarang berdirilah Aira, kasihan ayahmu harus duduk di lantai seperti itu."
Aku melepaskan pelukan ayah, dan melihat ayah yang ternyata sedari tadi duduk di lantai, hanya untuk menenangkanku dan memelukku. Ayah adalah seorang kaisar, belum pernah aku melihatnya merendah seperti ini. "Maafkan aku ayah," ucapku sambil menatap mata ayah.
"Kau ini, kenapa terus saja meminta maaf?" ayah menjitak ringan kepalaku, dan tertawa. "Ayo bantu ayah berdiri!"
Aku menggenggam kedua tangan ayah dan membantunya berdiri, lalu aku membantu ayah merapikan pakaiannya. Ayah kembali meraih wajahku dan menghapus air mata yang tersisa, merangkulku dengan erat.
"Althea, Aciel, apapun yang terjadi, ingatlah bahwa ayah dan ibu kalian adalah orang yang amat sangat baik dan hebat, kematian mereka adalah takdir, terlepas dari segalanya." Ayah menatap Kak Althea dan Aciel, "sampai kapanpun mereka adalah sahabatku, tidak ada yang bisa merubahnya."
"Baik, Yang Mulia."
Ibu mencium pucuk kepala Kak Althea dan Aciel bergantian.
"Yang Mulia Putri Mahkota, mengapa Yang Mulia tidak mau menerima sumpah setia hamba?" tanya Aciel memecah keheningan.
"Karena aku ingin menjadi temanmu, Aciel." Aku menatap Aciel, tangan ayah menepuk pundakku lembut, memberikan keberanian yang cukup. "Aciel, maukah kau menerimaku menjadi temanmu?"
Aciel mengangguk, "dengan senang hati Yang Mulia."
"Karena kita berteman, bolehkah kau memanggilku dengan nama saja, seperti aku memanggilmu?" tanyaku hati-hati.
"Ampuni hamba Yang Mulia, hamba tidak berani." Aciel menolak usulanku dengan sopan, "Yang Mulia Putri Mahkota, mohon maklum."
__ADS_1
Aku menjentikkan jariku, untaian bunga yang menggantung di leher Aciel kini berubah menjadi gelang emas yang melingkar di tangan kiri Aciel. Aku melihat ukiran yang jelas tertulis di sana, "Aciel, teman terbaik Aira."
Aciel tersenyim ke arahku, senyum tulus dengan matanya yang tampak berbinar, hatiku menghangat. Aku tahu aku tidak dapat memeluknya, atau memegang pundaknya seperti anak-anak lain yang berteman, tapi setidaknya kami tulus untuk berteman. Aku membalas senyuman Aciel, dalam hati aku sungguh bersyukur bisa bertemu dengannya hari ini, karenanya aku mengetahui rahasia yang mungkin tak pernah kuketahui sebelumnya.