
Sambil berjalan cepat, aku terpikir kata-kata pria yang bernama Liam. Ada satu kata dalam kemarahannya yang membuatku penasaran, "Balin, di mana biasanya diadakan turnamen di negri api?"
"Gold Fire Stadion Yang Mulia," jawab Balin dari belakangku.
Aku menjentikkan jariku, 'Gold Fire Stadion' mengulang kata-kata Balin, dan kami berpindah tempat dengan cepat, ini adalah salah satu trik yang diajarkan Paman Ezio padaku. Ketika menjelajah waktu ke masa lalu dan ingin menuju suatu tempat atau waktu tertentu, tak perlu menggunakan portal, hanya dengan menjentikkan jari dan fokus menyebut tempat atau waktu yang ingin dituju, maka kita akan berpindah dengan cepat. Tentu Balin ikut berpindah bersamaku, berkat ikat kepala yang masih ia pakai.
Aku dan Balin tiba di Gold Fire Stadion, sesuai dengan namanya, simbol api emas terlihat menghiasi gerbang masuk stadion, tampaknya para pengrajin membuatnya dari lelehan emas asli dan memasangnya di atas gerbang masuk, di bawah simbol api emas mereka menambahkan tulisan nama stadion "Gold Fire Stadion" dengan huruf emas yang tampak berkilau tertimpa sinar mentari.
"Waah tak heran kalau jalanan yang kita lewati sepi, tampaknya semua orang berkumpul di dalam sini." Mataku menangkap antrian orang-orang yang berbaris mengular panjang di depan gerbang masuk.
Kemewahan, kebersihan dan ketertiban negara ini memang tak bisa disepelekan, aku mulai berjalan memasuki gerbang yang cukup dijaga ketat oleh prajurit, mereka tampak melakukan pemeriksaan bagi setiap orang yang masuk, mungkinkah ada anggota kerajaan yang hadir?
Aku dan Balin menembus pemeriksaan dan mata kami disuguhkan dengan stadion yang teramat luas, stadion ini memiliki kubah yang bisa dibuka dan ditutup, aku melihat ke atas di mana kubah yang tadinya terbuka kini mulai menutup dengan cepat, memberi keteduhan bagi semua orang yang hadir. Orang-orang yang duduk di bangku penonton tampak menikmati hidangan yang disajikan di tiap meja kecil yang tersambung dengan kursi mereka masing-masing, tampaknya dibagikan secara gratis? Banyak dari mereka yang datang berpasangan, banyak pula yang datang bersama teman atau keluarga, mereka tampak bahagia, aura cerah yang positif melingkupi stadion.
Aku kembali melihat sekeliling, di pusat stadion terdapat lapangan yang luas, ada 3 tungku besar yang terlihat dengan api yang masih menyala, tapi hanya ada dua orang yang duduk di depan tungku mereka masing-masing, tampaknya mereka mengontrol api dengan energi mereka. Satu tungku paling ujung, tampaknya terbengkalai, tapi nyala apinya tampak stabil walaupun tak ada pemiliknya. Mungkinkah itu adalah tungku yang ditinggalkan Liam?
__ADS_1
"Oh lihatlah, pangeran mahkota sungguh sangat tampan! Melihatnya saja sudah membuat energiku meluap-luap."
Seorang gadis remaja yang duduk tak jauh dari tempatku berdiri, tampak antusias bercerita pada temannya, wajahnya tampak bahagia dan merona merah. Aku mengikuti arah tatapannya, dan menemukan tepat jauh di seberang lapangan, terdapat satu bangunan yang tampaknya sengaja dibangun bagi keluarga kerajaan, tempat itu bagaikan panggung kecil yang dibangun lebih tinggi dari tempat duduk penonton lain, disangga oleh 4 pilar kokoh, dengan bendera kerajaan terpampang di dinding depannya.
"Balin, tolong tunjukkan daftar namanya!"
Balin segera menjentikkan jari dan keluarlah selembar kertas berisi tiga nama kandidat yang berasal dari negara api. Aku menunjuk tiga nama itu, tak lama ketiganya menyala hijau dan cahaya yang keluar terbang meninggalkan nama-nama itu, mengelilingi seluruh stadion tampak mencari sesuatu.
Satu cahaya hijau menyebrangi lapangan dan nenyelimuti seseorang yang duduk di tempat duduk keluarga kerajaan, cahaya itu menyelimuti tubuh seorang pemuda yang duduk tepat di samping Raja Hakan, di atas kepala pemuda itu, cahaya hijau membentuk sebuah tulisan 'Pangeran Mahkota Felix'. Persis seperti yang dikatakan gadis tadi, Felix memiliki wajah yang tampan, rambut hitam pendek, alis tebal, hidung mancung, mata coklat yang hangat dan pembawaan yang berkelas, penilaian sekilasku padanya mungkin menggambarkan pemuda tampan tapi tak mudah disentuh? Aura apinya terkontrol dengan baik, itu tandanya ia memiliki tingkat kemampuan jauh di atas rata-rata.
"Di sana, Yang Mulia."
Balin menunjuk ke arah samping kiri di tribun penonton yang paling tinggi. Benar juga, cahaya hijau menyelimuti seseorang yang menggunakan tudung berwarna hijau tua, ia memakai jubah berwarna senada dengan beberapa aksen warna gold. Cahaya itu membentuk nama 'Pangeran Alderik', wajahnya tak bisa kulihat jelas karena tertutup tudung, tapi aku melihat jelas bahwa arah pandangan matanya tepat tertuju pada Raja Hakan dan Felix.
Bukankah cahaya hijau mengatakan kalau ia adalah seorang pangeran? Tapi kenapa ia tidak duduk bersama keluarga kerajaan lainnya?
__ADS_1
"Yang Mulia," suara Balin membuyarkan lamunanku. Balin menatap ke arah laki-laki yang berlari tergesa kembali ke hadapan tungku yang lama dibiarkan tanpa empunya. Aku menelan salivaku sendiri, cahaya hijau terakhir menyelimuti tubuh laki-laki itu, 'Tuan Muda Liam'. Pikiranku teringat potongan kejadian beberapa menit lalu, tak pernah terpikir olehku bahwa ia adalah satu dari tiga kandidat negara api. Bagaimana bisa dia mencalonkan diri padahal ia memiliki kekasih? Apa dia berpikir kalo aku bodoh? Emosiku tersulut, apakah aku terlihat gampangan hingga ia bisa memiliki keberanian yang begitu besar untuk mengirimkan upeti lamaran padahal jelas-jelas tadi kulihat bahwa ia bermesraan dengan kekasihnya! Tanpa pikir panjang lagi aku menunjuk ke arah Liam, seketika cahaya hijau yang menyelimutinya berubah menjadi merah dengan tanda silang yang besar. Begitupun yang terjadi pada catatan Balin, nama Liam otomatis telah dicoret!
Aku menarik nafas panjang mencoba mengendalikan emosiku, setidaknya aku harus berpikir positif, dengan begini hanya tinggal dua orang yang harus kuselidiki. Aku menjentikkan jari dan seketika berpindah tempat, kini aku berada dekat dengan Pangeran Mahkota Felix yang tampak fokus mengamati Liam dari tempat duduknya.
"Setidaknya ia tahu cara untuk menyelesaikan sesuatu yang ia mulai," ucap Raja Hakan dengan nada yang terdengar sedikit mencemooh.
Felix masih menatap Liam dari jauh, "tentu ayah, mungkin ada penghianat tapi tidak ada pengecut dalam keluarga kita."
Aku terkejut dan secara tak sadar mundur beberapa langkah setelah mendengar kata-kata Felix, bagaimana dia bisa berkata seperti itu pada ayahnya? dan lagi apa maksud kata-katanya, apakah Liam juga termasuk keluarga kerajaan api?
"Waktu yang tidak tepat untuk menyulut amarahku!" Raja Hakan menyenderkan punggungnya, ia tampak kurang nyaman.
"Bagaimana rasanya melihat anak haram anda bekerja keras mati-matian di hadapan anda hanya karena ingin mendapat pengakuan dari anda, ayah?" kali ini Felix menatap Raja Hakan dengan tatapan yang dingin. Sang Raja kali ini tampak tak memperdulikan kata-kata putranya, ia bahkan membuang muka ke arah lain.
Apa? Anak Haram? Liam adalah anak haram Raja Hakan? Aku bahkan sampai melongo saking terkejutnya!
__ADS_1
"Selamat menonton, semoga anak haram anda berhasil, Yang Mulia." Felix berdiri dari tempat duduknya dan pergi dari stadion menggunakan portal, aku cepat-cepat menjentikkan jari mengikutinya, Balin dan aku dengan cepat kembali berpindah tempat.